
"Jadi bagaimana Axe, apa kau bersedia membantuku untuk menyelidikj tentang wanita yang akan dijodohkan ibuku padaku?" tanya Kenan kembali pada Axelle.
"Tentu saja tuan, saya pasti akan membantu anda,"
Troy baru saja sampai di apartemen dengan membawa begitu banyak barang belanjaan. Baru saja dirinya membuka pintu,
"Apa kau berniat untuk beralih profesi Troy?" ledek Kenan pada lelaki yang baru saja muncul di depan pintu apartemen.
"Ah ini, aku hanya membantunya saja tuan. Axelle bilang bahan makanannya habis sedangkan dia harus menjaga Cedereyn," jelas Troy sambil masuk ke pantry untuk meletakkan bahan makanan yang telah dibelinya.
Kenan hanya tersenyum memperhatikan Troy yang begitu sibuk.
"Axe, aku akan mengabarimu segera," tukas Kenan, kemudian dirinya berpamitan untuk kembali.
"Ada apa tuan Kenan kemari? Troy yang baru saja dari pantry mendapati Kenan sudah tidak bersama Axelle.
"Tuan Kenan hanya ingin memberikan tugas penting untuk kita, "
"Tugas apa?,"
"Katanya dia akan dijodohkan dengan perempuan pilihan ibunya, tapi sepertinya tuan Kenan tidak mengenal gadis itu. Makanya dia meminta kita membantunya mencari informasi tentang wanita itu," jelas Axelle pada Troy.
"Apa kau punya fotonya? atau tuan Kenan memberikan petunjuk padamu?" Troy mulai penasaran.
"Belum, mungkin nanti dia akan mengirimkannya,"
"Aku jadi penasaran secantik apa gadis yang akan dijodohkan dengan tuan Kenan?" Troy mengusap pelan dagunya membayangkan bagaimana wajah gadis itu.
***
Setelah menemui Axelle, Kenan sengaja pergi ke rumah utama. Dirinya ingin bicara dengan sang ibu perihal perjodohannya dengan gadis pilihan sang ibu. Hanya saja, Kenan cukup tercengang saat melihat Alvian yang tengah bersama ibunya saat ini.
"Kenan? Kebetulan sekali kau ada disini nak, kemarilah momy baru saja membicarakan tentang perjodohanmu dengan Alvian," tangan Kenan diapit oleh sang ibu supaya mengikutinya ke sofa.
__ADS_1
"Momy membicarakan perjodohanku dengan mas Alvian? Buat apa mom?" Kenan merasa kurang senang melihat Alvian disana.
"Tentu saja momy akan membicarakannya dengan Alvian, secara dia itu kakakmu. Semenjak papamu tiada, dialah yang bertanggung jawab atas dirimu,"
"Iya aku tahu mom, tapi aku ini bukan anak kecil yang harus diatur-atur mom. Apalagi mengenai pasangan, aku bisa menentukan sendiri mom," Kenan merasa tidak nyaman.
Dirinya semakin curiga, jangan-jangan rencana perjodohan itu memang ada campur tangan Alvian didalamnya.
Alvian tidak menjelaskan apapun, dirinya hanya memperhatikan percakapan antara anak dan ibu itu dengan wajah tenang.
"Apa salahnya Ken? Kau itu sudah sepantasnya menikah, kau sudah tiga puluh tahun, tapi sampai saat ini kau belum memiliki seorang pendamping," keluh sang ibu padanya.
"Aku akan segera menikah mom, tapi aku harus mempersiapkan diriku dulu untuk membuat wanita itu mau datang ke rumah ini," jelas Kenan menenangkan sang ibu.
"Benarkah? kalau begitu kau harus kenalkan dia padaku, apa aku mengenalnya?" selidik sang ibu dengan tatapan ingin tahu pada Kenan
"Tentu mom, ini aku punya foto gadis itu," tunjuk Kenan sambil memperlihatkan foto Rena pada sang ibu.
Jovanka memperhatikan foto yang ditunjukkan Kenan padanya dengan saksama. Dia mencoba mengingat kembali kapan dan dimana dia pernah bertemu sengan wanita itu? Rasanya dia sangat familiar dengan wajah itu.
Wajah Alvian terasa pias saat mendengarkan nama Renata disebutkan oleh sang ibu. Mata Alvian langsung nenyorot tajam pada Kenan.
Sial! beraninya dia mengatakan bahwa dia menyukai Rena. Tidak!!! Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki Rena, termasuk kau Kenan! Gerutu Alvian dalam hatinya. Dirinya benar-benar tidak bisa menerima jika Kenan ingin bersaing dengannya untuk mendapatkan Rena.
"Apa? Jadi kau menyukai Rena?" Alvian terkekeh mengejek Kenan.
"Kenapa? Apa ada yang salah jika aku menyukai Rena? Toh, kalian berdua sudah berpisahkan? Jadi Rena berhak memilih siapapun yang akan menjadi suaminya kelak," Kenan begitu gamblang mengucapkan perkataannya.
Tentu saja sangat menohok untuk Alvian, membuatnya tersenyum miring, raut wajahnya berubah memerah dan rahangnya mengeras. Marah! tentu saja Alvian sangat marah saat ini namun, dia mencoba menetralisir keadaan karena saat ini berada di depan momynya. Dirinya harus terlihat setenang mungkin.
"Tentu saja itu masalah Kenan, untuk apa kau menikahi wanita yang pernah bersamaku? Bukankah diluar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik darinya? Apalagi wanita yang akan dijodohkan momy denganmu dia itu masih gadis dan kau pantas mendapatkannya," sergah Alvian, seakan dirinya sedang menasehati sang adik.
Padahal sebenarnya dia sangat tidak rela melihat Kenan bersama wanita yang masih sangat dicintainya dan kini menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kenapa mas? Kenapa aku harus mau dengan perjodohan ini? Jika aku menolak memangnya apa yang akan terjadi?" Kenan benar-benar muak dengan sandiwara Alvian.
Sekarang dia paham, mengapa Alvian tiba-tiba ada dirumah utama. Jadi inilah tujuannya! Membujuk sang ibu untuk menikahkan Kenan dengan gadis lain, agar tidak ada yang menghalanginya untuk kembali pada Rena.
"Kenan !!! Sebaiknya lihat dulu gadis yang akan momy jodohkan padamu. Momy yakin kau pasti akan menyukainya," tukas Jovanka pada anaknya.
"Lihat nak, momy punya fotonya. Gadis itu sangat cantik juga pintar. Dia anak dari rekan bisnis almarhum papamu," Jovanka menunjukkan sebuah foto yang disimpannya untuk diperlihatkan pada Kenan.
"Jesica? Bukankah ini sahabat kecilku dulu?" Kenan mencoba mengingat kembali momen bersama gadis difoto itu.
"Benar Kenan, itu Jesica sahabat kecilmu dulu. Kau ingat tidak? Sewaktu kecil ketika bermain kalian selalu menjadi pasangan pangeran dan putri? Apa kau mengingatnya?" sang ibu mencoba mengingatkan kembali memory masa kecil Kenan dengan gadis itu.
Kenan berusaha mengingatnya, benar sewaktu kecil dia memang mempunyai seorang sahabat perempuan. Anak perempuan itu akan selalu memintanya menjadi pangerannya setiap kali mereka bermain. Sepertinya gadis kecil itu memang sudah menyukai dirinya semenjak mereka masih anak-anak. Apakah itu pertanda mereka berjodoh?
Kenan mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas wajah gadis kecil itu. Memang benar, gadis yang ada difoto itu mirip sekali dengan teman masa kecilnya. Bahkan sekarang gadis itu terlihat sangat cantik, tapi sayangnya hati Kenan telah terisi oleh Rena dan dirinya tak ingin melepaskan wanita pujaannya itu.
"Bagaimana Ken? Sekarang kau masih mau menolaknya? Bukankah Jesica terlihat sangat cantik dan dewasa sekarang?" desak Alvian pada Kenan yang masih terpaku pada foto yang ditangannya sedari tadi.
"Hm, aku tahu Jesica memang sudah jauh berubah, dia memang sangat cantik dan terlihat anggun tapi maaf, aku tidak bisa. Aku hanya mencintai Rena. Dan itu sudah dari sepuluh tahun yang lalu," jelas Kenan pada Alvian dan Momynya.
"Rena ... Rena lagi ! Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau sebutkan selain dia!" Jovanka mulai hilang kesabaran melihat sikap Kenan.
Mengapa anak itu bersikeras untuk tetap bersama Rena? Padahal dia tahu itu mantan istri kakaknya dan juga telah mempunyai dua orang anak. Bagaimana mungkin dia mau dengan wanita yang telah berstatus janda beranak dua seperti itu?
" Aku sudah memilih mom. Aku rasa apa yang kukatakan sudah cukup jelas. Aku akan menikah jika itu dengan Rena dan tidak ada lagi gadis lain yang aku inginkan selain Rena," tandas Kenan dengan penuh keyakinan.
Dirinyapun segera berlalu dari hadapan sang momy dan kakaknya. Tak ingin memperpanjang pembahasan pernikahan.
"Hei Ken, kau mau kemana? Momy belum selesai bicara!" Jovanca merasa sangat kesal melihat Kenan yang pergi begitu saja darinya.
Kenan tak menggubris perkataan sang ibu, dirinya bergegas keluar dari rumah utama tanpa berpamitan.
"Anak itu semakin angkuh saja. Dia pikir karena dia telah menjadi bos besar dia tidak butuh pendapat dari kita lagi?" Hasut Alvian pada sang ibu.
__ADS_1
"Dia sangat keras kepala, aku tidak akan membiarkannya menikahi wanita itu. Alvian, kau harus membantuku mencegah hal itu terjadi," pinta sang ibu pada Alvian.
"Pasti mom. Aku tidak akan membiarkannya menikahi Rena," ucap Alvian sambil memeluk sang ibu untuk menenangkan wanita setengah abad itu.