
Antony baru saja ingin melajukan mobilnya, tapi tiba-tiba saja Stevany keluar dari mobil itu.
"Apa yang kau lakukan Stevy? sekarang lagi hujan, mengapa kau malah keluar?" Adrian berusaha mengejar wanita itu.
Stefany tidak menghiraukan ucapan Antony, dia hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas. Rasanya kehidupannya telah berakhir saat Adrian telah mengakhiri hubungan dengan dirinya. Wanita itu terus berjalan tanpa tujuan, sampai di satu titik langkahnya tertahan. Seseorang memegangi tangannya, "kau? lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi !" titahnya pada pria itu tanpa menoleh pada pria itu.
"Antony, aku bilang lepaskan tanganku! apa kau tidak mendengarkanku ?!" teriaknya pada pria itu dan wanita itu membalikkam tubuhnya untuk melihat pria yang berani menyentu tangannya.
"Kau?" Stevany terkejut saat melihat pria yang memegang tangannya itu bukanlah Antony melainkan Adrian.
"Kau mau pergi kemana dalam keadaan hujan seperti ini huh?!" Adrian sengaja mengikutinya ketika Stefany pergi dari mobil Antony.
Awalnya Antony ingin mengikutinya tapi ketika dia melihat Adrian turun dari mobil dan mengejar Stefany, dia mengurungkan niatnya. Dia membiarkan Adrian menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
"Kenapa kau begitu perduli padaku? bukankah kau sudah tidak ingin berhubungan denganku?" cecar wanita itu tanpa mau melihat wajah Adrian. Hatinya sangat terluka saat ini.
Pria itu tidak menggubris perkataan wanita itu, dia langsung membawa Stevany ke dalam mobilnya. "Lepaskan aku. Kau mau membawaku kemana?" Stevany mencoba melepaskan genggaman tangan Adrian tapi lelaki itu malah mempererat genggaman tangannya.
"Aku masih suamimu dan selama kau masih bersamaku kau adalah tanggung jawabku," pungkas lelaki itu sambil tetap membawa Stevany masuk ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan Stefany tidak berkata apapun begitu juga dengan Adrian. Hanya hening tanpa ada satupun yang mau mencairkan suasana sampai mobil itu menuju ke mansion.
Setibanya di mansion, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Dia adalah Zahira, yang merupakan ibu dari Adrian. "Nak kalian dari mana saja? mengapa baju kalian jadi basah kuyup seperti ini?" tanya sang ibu pada kedua orang yang berada dihadapannya.
Adrian dan Stefany tidak bisa mengatakan apapun mereka hanya terpaku dan mematung di tempat.
"Tidak apa-apa ma, mereka hanya kehujanan saat pulang tadi," Antony menengahi pembicaraan mereka.
"Oh ya ampun, mama pikir kalian lagi ada masalah. Ayo cepat ganti pakaian kalian sekarang juga, setelah itu kalian langsung bergabung ke meja makan," tukas sang ibu sambil menatap penuh rasa sayang.
Adrian dan Stefany hanya mengikuti perkataan sang ibu.
"Aku dan Stevy ke kamar dulu ma," pamit Adrian bersama Stevany kepada sang ibu. Mereka langsung masuk ke kamar untuk mengganti pakaian mereka yang basah dengan pakaian baru. Sebelum masuk ke kamar, Antony menemui mereka dan mengatakan sesuatu.
"Aku harap kalian bisa menjaga sikap kalian saat di meja makan nanti. Aku tidak ingin mama melihat kalian dalam keadaan tidak baik," Antony memperingatkan mereka.
Antony sengaja mengatakan itu pada Adrian dan Stevany supaya kedua orang itu supaya kabar tentang perceraian mereka kepada sang ibu demi menjaga perasaan sang ibu. Antony tidak ingin sang ibu shock karena perbuatan mereka
***
Anastasya baru saja melangkahkan kakinya di ruangannya. Tanpa aba-aba, Ryan langsung masuk ke dalam ruangannya dan langsung melemparkan sebuah koran yang baru saja dibacanya pagi itu.
"Kau sudah baca berita pagi ini?" tanya lelaki itu padanya.
__ADS_1
Anastasya yang tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Ryan, mempertanyakannya. "Maksud anda apa pak?"
"Kau tidak perlu pura-pura, kau sudah tahu apa yang ku maksud," jelas pria itu sambil menatap ke arah jendela.
Anastasya melihat koran yang ditunjukkan Ryan padanya. Dia cukup terkejut karena berita skandal antara dirinya dan Kenan beredar begitu cepat. Ana tahu pasti kemarahan Ryan saat ini, terlihat dari raut wajahnya begitu kesal saat ini.
"Pak, sa ... saya bisa jelaskan semua ini," ucapnya terbata-bata.
"Aku tidak ingin berbasa-basi Anastasya, sekarang juga cepat kemasi barang-barangmu dan pergilah dari perusahaan ini. Jangan pernah kembali lagi ke sini! " usir pria itu sambil meninggikan nada suaranya.
"Pak aku mohon, jangan pecat aku dari pekerjaan ini. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," pintanya dengan suara bergetar. Anastasya merasa sangat takut akan kemarahan Ryan padanya.
Wanita itu berlutut dan memohon dihadapan Ryan, air matanya berurai menatap pria yang masih saja membuang pandangannya dari dirinya.
"Dengar Ana, aku bukan Rena yang bisa luluh begitu saja saat kau memohon seperti itu padaku, apa kau pikir aku akan menarik kata-kataku?" gertak pria itu lagi yang sukses membuat nyali gadis itu menciut.
"Sa ... saya minta maaf pak, saya tidak bermaksud merusak hubungan bu Rena dan pak Kenan. Ampuni saya pak. Jangan pecat saya dari pekerjaan ini. Saya sangat membutuhkannya," Ana bergetar hebat melihat Ryan tidak bergeming sama sekali oleh perkataannya.
"Pak saya akan melakukan apa saja asal jangan pecat saya dari pekerjaan ini," pintanya lagi.
"Benarkah kau akan melakukan apapun?" tanya Ryan penuh selidik pada wanita itu.
"Tentu pak. Saya akan melakukan apapun pak," ujar wanita itu dengan terbata.
"Kesepakatan ?" tanya wanita itu merasa bingung.
"Aku ingin kau melakukan tiga hal untukku. Pertama, kau harus memknta maaf pada Kenan dan Rena atas insiden dipesta itu, lalu menjelaskan keadaan sebenarnya saat kau bersama Kenan. Kedua, kau lihat disana ada wartawan yang sedang menantikan penjelasan darimu, kau harus memulihkan nama baik kakak iparku dan katakan pada mereka semua itu tidak pernah terjadi," tunjuknya pada wartawan yang sedang menunggu dipintu masuk perusahaan.
Terlihat dari kejauhan para wartawan tengah menuju ke ruangan kerja mereka tapi dihadang oleh security disana.
"Dan yang ketiga?" tanya wanita itu padanya lagi.
"Yang ketiga nanti saja, kau bereskan dulu masalah ini. Nanti yang ketiga semuanya akan kujelaskan lagi," titah pria itu padanya.
Anastasya tidak bisa menolak permintaan Ryan karena dalam hal ini dirinyalah yang bersalah. Sudah tentu Ryan akan marah besar padanya.
"Baiklah pak saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan padaku.
***
Setelah melakukan kesepakatan, merekapun menghadapi wartawan yang telah berdiri di depan pintu masuk.
"Pak, kami telah melarang mereka masuk, tapi mereka memaksa untuk masuk," ujar salah seorang scurity yang sedang menghadang waratawn masuk. Sementara itu wartawan lainnya masih menghadang mereka untuk masuk, tapi salah satu wartawan langsung menghampiri Ana dan Ryan saat mereka melihat keduanya di sana.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja mereka masuk, aku akan mengatasi mereka," pungkas pria itu pada security.
Baru saja security memberikan kebebasan kepada mereka. Wartawan itu langsung menjejal Anastasya dengan berbagai pertanyaan.
"Nona Ana, benarkah anda mempunyai hubungan dengan CEO Gold Star Coorporate?"
"Jelaskan pada kami apa hubungan anda dengan tuan Kenan Manaf?" timpal wartawan satunya lagi.
"Nona, jawab pertanyaan kami mengapa anda diam saja?" desak yang lainnya pada Anastasya, membuatnya merasa bertambah panik dan bingung harus menjawab apa.
Ryan yang sedang bersamanya berdehem, dia megerti akan kepanikan wanita itu. "Dengarkan aku baik-baik, kalian tidak perlu mendengarkan gosip murahan itu. Semua itu tidak benar, karena Anastasya adalah tunanganku," jelas pria itu pada wartawan yang berada disana sambil mengangkat tangan Ana dan tangannya ke udara menunjukkan cincin couple yang sedang mereka pakai.
Memang benar, sebelum menuju ke arah para wartawan yang berada dilantai bawah Ryan merencanakan untuk mengecoh para wartawan dengan pertunangan palsu mereka. Ryan meminta Anastasya untuk memakai cincin yang telah dipersiapkannya sebelum dia menemui Ana, mau tidak mau Anastasya harus mengikuti perkataannya. Jika tidak Ryan pasti akan memecatnya dari perusahaan itu.
"Wah kabar bagus ini, seorang karyawan Zeneca Company akan menikah dengan atasannya, ini berita hangat dan menarik," ujar seorang wartawan yang merasa tertarik dengan apa yang baru saja diungkapkan Ryan. Mereka kini beralih membahas mengenai pertunangan Ryan dan Ana.
Setelah lama memberikan penjelasan pada wartawan, Ryan mengajak Anastasya pergi bersamanya.
"Terimakasih pak, berkat anda aku bisa mengatasi semua ini. Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa kepada nereka jika anda tidak ada disini bersamaku," ujar wanita itu penuh dengan rasa terimakasih.
Dia sangat bersyukur karena ide dadakan yang diberikan Ryan padanya.
"Hm, apa kau pikir sampai sini semua masalah sudah selesai?" Pria itu memberikan tatapan dingin pada Anastasaya yang sukses membuat nyali wanita itu menciut.
"A ... apa maksud anda pak?" tanya wanita itu tidak mengerti maksud dan tujuan Ryan.
"Aku sudah bilang padamu tadikan kalau aku ingin membuat kesepakatan denganmu?" tatap lelaki itu padanya.
Anastasya menjadi takut oleh tatapan mengerikan Ryan padanya. Dirinya menjadi gugup dan salah tingkah.
"Kau sudah lihat bagaimana para wartawan telah mengetahui bahwa kita telah bertunangan dan aku telah menyelamatkanmu dan cecaran mereka. Jadi cepat atau lambat kita akan menikah," jelas pria itu tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Apa? me ... menikah? maksud anda kita melakukan pernikahan palsu?" tanya wanita itu merasa bingung.
"Entahlah, aku harus menyebut ini pernikahan palsu atau pernikahan sungguhan, tapi yang pasti jika kau ingin terlepas dari semua masalah ini, kau harus ikuti perkataanku," jelas pria itu dengan sikap dingin. Dia tidak perduli dengan apa yang dipikirkan wanita itu padanya.
"Apa saya boleh memikirkannya dulu pak? saya harus menceritakan semuanya pada ibu saya terlebih dahulu sebelum saya menyetujui menikah dengan anda," pinta wanita itu dengan sangat gugup.
"Ok deal, aku setuju tapi ingat, kau tidak bisa berkilah. Jika kau coba-coba untuk bermain-main denganku, kau akan menerima akibatnya," ujar pria itu dengan sedikit mengancam.
Dia sengaja sedikit bersikap keras pada Anastasya, karena dia ingin memberi pelajaran pada wanita itu agar tidak selalu mengganggu hubungan saudara sepupunya dan Kenan. Dia ingin Ana tidak mempermainkan perasaan Rena seperti saat dia merebut Alvian dari Rena. Sungguh, Ryan tidak ingin hal itu terjadi lagi pada sang kakak, meskipun sebenarnya dirinya memang mempunyai rasa pada Anastasya tapi dia ingin membuat wanita itu tunduk terlebih dahulu padanya. Sisanya biar waktu yang menjawab dan Tuhan yang menentukannya.
Anastasya hanya terdiam oleh ucapan Ryan. Dia merasa pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya dan Ana tidak akan mungkin bisa menghindar. Dia harus menyelamatakan karirnya jika tidak dia akan kehilangan pekerjaannya.
__ADS_1