
"Jadi gimana bos? Apa tugas yang anda berikan harus saya laksanakan secepatnya?" Axelle baru saja masuk ke ruangan kerja Kenan.
"Hm, aku sudah tahu siapa gadis itu hanya saja aku merasa ada yang aneh darinya," jelas Kenan pada Axelle.
"Aneh bagaimana bos? Apa ada sesuatu yang anda tidak ketahui mengenai gadis itu?" Axelle penasaran dengan ucapan Kenan.
"Ya gadis itu teman masa kecilku, hanya saja saat melihat fotonya aku merasa ada yang berbeda darinya. Atau mungkin karena dia sudah dewasa jadi perbedaannya begitu jelas?" Kenan memainkan ballpoint yang berada ditangannya.
"Memangnya anda memiliki fotonya?" Axelle mulai penasaran dengan cerita Kenan.
"Ada," Kenan merogoh saku celananya dan menunjukkan foto yang telah diberikan oleh sang ibu padanya.
Axelle mengamati foto gadis yang diberikan Kenan padanya. Dia mengernyitkan dahinya, "bagaimana kalau aku perlihatkan foto ini pada Troy? Mungkin dia bisa membantu kita bos," tukas Kenan.
"Baiklah kau coba tanyakan pada Troy mungkin dia bisa membantu menyelidiki gadis itu,"
***
"Jadi gimana Ryan, rencana proyek kita sama Kenan? Apa sudah ada perkembangan?" Rena sedang sibuk memperhatikan layar monitornya untuk mengecek beberapa laporan yang masuk ke emailnya.
"Sudah kak, 50% proses pengerjaannya sudah dilaksanakan. Proyek pelebaran jalan itu cukup memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan kita kak," jelas Ryan penuh dengan semangat.
"Waw bagus itu, sepertinya itu langkah baik untuk memulihkan perusahaan kita," Rena menghentikan aktifitasnya sejenak kemudian mengulas senyum pada sepupunya.
"Iya kak, setelah sekian lama akhirnya perusahaan ini bisa bangkit kenbali. Aku minta maaf ya kak, karena aku perusahaan ini sempat hampir saja hancur,"
Ryan teringat bagaimana saat perusahaan Zeneca di pegang oleh Alvian. Memang, usaha dan tangan Alvian ikut serta dalam mengembangkan perusahaan keluarga mereka tapi lelaki itu juga yang telah menjatuhkan perusahaan milik Rena.
"Hm, sudahlah Ryan. Kita tidak usah mengingat masa lalu lagi. Aku hanya berharap perusahaan kita akan lebih berkembang diberbagai bidang lagi nantinya," Rena memutuskan tidak ingin membahas tentang Alvian.
__ADS_1
"Tapi aku baru ingat, beberapa hari yang lalu dia ke sini bukan? Mau apa mas Alvian ke sini kak?"
"Oh itu, dia cuma sekedar berkunjung saja," Rena mengalihkan perhatian. Kini tangannya mulai mengambil berkas dimeja seolah-olqh sedang mengecek berkas tersebut.
"Kakak jangan bohong, aku tahu kedatangan mas Alvian bukan sekedar berkunjung. Jangan bilang dia minta balikan sama kakak," Ryan mencoba menebak dan tebakannya itu ternyata sangat tepat.
"Apa yang kau katakan Ryan? Mana mungkin dia memintaku kembali padanya?"
"Kenapa tidak kak? Aku masih ingat bagaimana dia menatapmu saat diacara launching anak perusahaan Gold Star waktu itu. Matanya tidak pernah lepas memperhatikanmu kak,"
Ryan paling pintar menebak ya. Dia tahu sekali bagaimana watak mantan kakak iparnya itu. Meskipun tidak terlalu akrab tapi dengan seringnya mereka bertemu di kantor saat mereka bekerja ditempat yang sama pasti cukup membuatnya dapat mengetahui watak lelaki yang pernah menjadi suami kakaknya itu.
"Ryan! Sudahlah, aku tidak ingin membahas dia lagi,"
"Awas aja kak, kalau sampai dia mau rujuk sama kaka, orang pertama yang bakal menolak terlebih dahulu itu aku kak," ucap Ryan penuh penekanan.
Dia memang benar-benar tidak ingin kakak sepupunya kembali pada Alvian. Ryan tahu persis bagaimana Rena mencoba bangkit dari keterpurukannya juga membesarkan anak-anaknya sendirian. Wanita tangguh, itulah yang dia tahu tentang kakak sepupunya yang ikut berjasa membuatnya jadi lebih baik seperti saat ini.
Terlihat kepala seseorang menyembul dari balik pintu ruangan Rena.
"Kenan," mata Rena berbinar ketika melihat sosok lelaki yang muncul dihadapannya.
Entah mengapa semenjak Kenan membantunya saat itu, Rena selalu merasa tenang jika ada Kenan disisinya. Dirinya merasa dilindungin dan dijaga. Terlebih lagi Kenan sangat perduli pada anak-anaknya. Membuat Rena semakin merasa nyaman bersamanya.
"Pak Kenan masuk saja, kita lagi bicara santai aja ni," sapa Ryan yang memperhatikan kedatangan Kenan.
Kenan masuk kedalam ruangan tersebut sambil memperhatikan Rena. Ryan yang paham akan situasi saat itu, buru-buru keluar ruangan Rena.
"Eh kamu mau kemana? Saya datang kok kamu malah pergi?" Kenan menyadari Ryan yang bergegas keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Ah, tidak pak. Ini masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan. Saya permisi mau ke ruangan dulu," Ryan mempercepat langkahnya untuk keluar dari ruangan Rena.
Kenan dan Rena tersenyum memperhatikan Ryan yang terburu-buru keluar dari ruangan.
"Ken, ada apa kau tiba-tiba menemuiku?" Rena menghampiri Kenan yang sedang duduk santai di sofa.
"Aku ingin mengajakmu pergi makan siang, apa kau ada waktu?"
"Ken, kau tahukan setiap siang aku harus menjemput anak-anak pulang sekolah, "sergah Rena sambil mempersiapkan diri untuk menjemput sang anak.
"Ayolah Re, sekali ini saja aku ingin kita makan siang berdua. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,"
"lalu bagaimana dengan anak-anak?"
"Untuk kali ini bagaimana kalau kau meminta supir yang menjemput mereka?" pinta Kenan sedikit memohon.
Kenan benar-benar ingin pergi bersama Rena saat ini. Ada banyak hal yang ingin disampaikannya pada Rena. Mengenai perasaannya, Alvian dan juga tentang perjodohan yang mendadak. Kenan butuh teman untuk bicara dan satu-satunya orang yang dibutuhkannya saa ini hanya Rena dan dia sangat berharap Rena mau mendengarkannya.
"Hm ... baiklah kalau begitu aku akan telpon pak Halim dulu buat menjemput anak-anak,"
Rena segera mengambil ponselnya didalam tas kemudian menghubungi supir pribadinya untuk menjemput dua malaikat kecilnya. Saar Rena menelpon sang supir, Kenan mengayunkan tinjunya ke udara dengan penuh kegembiraan mengekspresikan rasa senangnya karena Rena mau menerima permintaannya.
Baru saja diterima ajakan makan siang berdua membuat Kenan begitu bahagia. Dirinya tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan yang tak terkira sampai-sampai dirinya memeluk Rena dan mengangkat tubuh rampingnya ke udara.
"Hei, apa yang kau lakukan Ken? Aku bisa terjatuh nanti," tutur Rena sambil meronta melepaskan tangan Kenan dari tubuhnya.
Kenan yang begitu bahagia tidak memperdulikan ucapan Rena dirinya tetap memeluk Rena sambil memutar tubuh wanita itu. Membuat Rena jadi kelabakan. Membuat wajahnya memerah karena malu. Semoga saja tidak ada karyawan atau seseorang yang datang ke ruangan itu, kalau tidak dirinya tidak tahu harus bersembunyi kemana lagi untuk menutupi rasa malunya.
Kenan segera menurunkan Rena supaya bisa berdiri sejajar dengannya dan dirinya mengecup puncak kepala Rena. "Makasih Re," ucapnya dengan raut wajah bahagia yang sulit diartikan.
__ADS_1
Sementara Rena merapikan rambutnya menutupi rasa gugupnya. Karena untuk pertama kalinya Kenan melakukan hal itu padanya dan entah mengapa dirinya menerima begitu saja. Seketika rasa menghangatpun mengalir direlung hatinya.