
Axelle, Cedereyn, Troy dan Jesica telah sampai di apartemen Rena. Sesuai niat mereka diawal, mereka datang untuk membantu Rena.
“Selamat siang bu Rena, kami datang untuk membantu,” ujar Cedereyn yang menghampirinya.
“Hei kalian, ternyata sudah datang. Maaf ya, harus merepotkan kalian,” Rena merasa tak enak hati karena mereka datang hanya untuk membantunya menyiapkan dekorasi pernikahan.
Memang untuk persiapan pernikahannya Rena bisa saja membuat resepsi pernikahan mewah di gedung pertemuan, hanya saja untuk saat ini Rena hanya ingin membuat acara syukuran di apartemennya, sisanya biar Kenan yang mengatur mau buat acara seperti apa?
“Tidak apa-apa bu, kita memang sudah niat untuk membantu,” ujar Axelle.
“Oh ya, bu Rena ada niatan untuk membuat resepsi besar-besaran gitu?” pancing Jesica.
“Kalau itu mungkin mas Kenan yang akan menentukan,” imbuh Rena.
Tiba-tiba Kenan jadi tergelitik saat Rena memanggilnya dengan sebutan mas Kenan. “Hm, bisa diulangi yang barusan tadi? Kamu panggil aku apa?”
Rena yang tersadar akan ucapannya yang spontan memanggil Kenan dengan sebutan mas itu malah tersenyum geli sambil menundukkan wajahnya.
“Tidak perlu malu begitu bu, sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri. Sudah seharusnya anda memanggil bos Kenan dengan sebutan mas,” Troy memperjelas kembali.
“Benar itu, kalau seterusnya kamu panggil aku mas juga boleh,” goda Kenan dengan senyum nakal pada Rena.
Wanita itu hanya tersenyum malu, tapi Kenan malah memeluknya. Dia sangat bahagia melihat kegugupan Rena, hal itu menggemaskan dimatanya.
Di tengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba Jesica teringat akan janjinya pada Jenita.
“Eh iya, aku lupa hari ini Jenita ada pameran melukis. Kemarin saat di rumah sakit dia mengundangku untuk datang. Sepertinya aku tidak bisa menbantu kalian,” imbuh Jesica merasa tak enak hati karena dirinya harus segera menemui Jenita.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Jes, kehadiranmu saat ini saja sudah membuatku dan mas Kenan cukup bahagia, jangan lupa datang pas hari- H nanti,” pinta Rena padanya.
Mereka memang baru saling mengenal di rumah sakit tapi entah mengapa rasanya mereka itu dejavu. Mungkin karena pribadi Jesica yang hamble ditambah Rena gampang akrab sama orang jadi cocok buat mereka berteman.
“Baiklah bu Rena, saya pergi dulu. Sampai bertemu di acara pernikahan anda,” Jesica segera pergi dari tempat itu.
***
Alvian baru saja sampai di kontrakan Anastasya. Wanita itu segera keluar dari mobil Alvian. Lelaki itu memperhatikan kontrakan kecil milik wanita itu. Ini seperti bukan Ana yang dia kenal, karena mana mungkin Ana mau tinggal di tempat seperti itu.
"Ana, ini benar tempat tinggalmu sekarang?"
"Ya begitulah. Hanya ini yang aku punya setelah mas meninggalkanku," lirih gadis itu padanya.
"Maafkan aku, harus membuatmu jadi menderita," sesal Alvian padanya.
"Sudahlah tidak apa-apa, walau bagaimanapun juga aku tetap bersyukur karena masih bisa tinggal dikontrakan," jelas wanita itu padanya.
"Baiklah, kau masih ingat dengan rencana kitakan?" Alvian mengingatkannya.
"Baguslah kalau begitu, sampai bertemu di acara nanti," tukas lelaki itu padanya kemudian berpamitan pulang dengannya, Anastasya hanya tersenyum menjawabnya.
Dalam perjalanannya pulang Alvian memperhatikan Anastasya dari kaca depan mobilnya. Dia merasa miris saja, karena wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya itu tinggal dirumah sederhana itu. Padahal dulu Anastasya sangat pemilih dalam hidupnya. Jangankan tinggal dikontrakan, makan dipinggir jalan saja dia pasti komplen tapi sekarang dia malah tinggal di kontrakan sederhana.
Alvian mengerjapkan matanya, mengapa dia memikirkan keadaan Ana, bukannya tujuannya adalah Rena? Dia tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Alvian segera melajukan mobilnya kembali ke mansion.
***
"Alvian kau sudah pulang nak? tanya sang ibu padanya.
"Eh momy, aku baru pulang. Momy lagi apa?" lelaki itu mengedarkan padangannya ke sekitar mansion.
"Oh itu, momy tadi mengundang teman-teman sosialita momy. Supaya momy dirumah tidak kesepian jadi kami bertemu di sini," jelas wanita paruh baya itu padanya.
Memang berada dirumah seharian membuat Diandra meras jenuh, ditambah lagi dengan kegiatan yang itu-itu saja setiap waktu.
__ADS_1
"Hm, okay mom aku mau ke atas dulu. Gerah mau mandi dan bersih-bersih dulu," ujarnya pada sang ibu.
Diandra hanya tersenyum memperhatikan punggung anak lelakinya itu yang semakin menghilang saat tiba dikamarnya.
"Hei ayo dilanjutkan dulu main kartunya," ajak Diandra pada teman-temannya.
Nilam menghampiri mereka sambil membawakan cemilan dan mereka.
"silahkan nyonya dimakan dulu kudapannya," Nilam menyajikan makanan yang telah dibuatnya.
Para tamu Diandra juga sangat senang melihatnya. ART yang telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun itu sangat memahami selera majikannya itu. Diandra menghabiskan waktunya bersama teman-teman sosialitanya.
Setelah selesai berkumpul dengan teman-temannya, dia menghampiri Alvian yang sedang bermaim golf.
"Nak, bisa kita bicara sebentar?" pintanya pada putranya.
Alvian yang mendengar suara sang ibu langsung menoleh pada sang ibu dan menghampirinya.
"Momy, sudah selesai pertemuannya?" tanya lelaki itu dengan ramah pada sang ibu.
"Iya, teman-teman momy baru saja pulang. Ini ada hal yang ingin momy bicarakan padamu mengenai Rena," jelas sang ibu padanya.
"Tentang Rena, memangnya kenapa mom?" Alvian merasa penasaran pada sang ibu.
"Begini, beberapa hari yang lalu Kenan membawanya bersama anak-anak ke sini dan momy senang sekali. Tapi saat mereka pergi momy merasa kehilangan," lirih sang ibu padanya.
"Maaf mom, aku belum bisa membahagiakan momy," tukasnya pada sang ibu.
"Bukan begitu maksud momy, momy cuma mau bilang kalau momy itu kangen sama cucu-cucu momy," Diandra menghembuskab nafas berat.
Telah lama sekali dia menahan perasaannya itu, tidak bisa dipungkiri nalurinya sebagai seorang nenek terkadang muncul dan rasa itu hadir kembali saat pertama kalinya dia melihat anak-anak itu telah mulai tumbuh besar.
"Aku mengerti mom. Momy dukung aku untuk meluluhkan hati Rena, aku yakin jika aku bisa mendekati anak-anak, akan mudah bagiku mendapatkan Rena kembali mom," jelasnya lagi pada sang ibu.
Alvian memang sengaja memanfaatkan anak-anaknya sendiri hanya demi kepentingannya sendiri. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan, dengan mengambil perhatian Dhafi dan Belvana.
"Tapi Al, bagaimana dengan Kenan? Dia juga mencintai Rena?"
"Momy tidak perlu khawatir, Kenan pasti bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari pada Rena. Aku yakin itu,"
__ADS_1
Diandra hanya mengusap pelan kepala sang anak. Terkadang dirinya merasa iba pada Alvian dengan obsesinya. Namun disisi lain dirinya juga merasa tidak berlaku adil pada Kenan, karena terlalu memaksakan keinginannya pada anak itu. Padahal Kenan selalu mengikuti tiap perkataannya bahkan kasih sayangnya pada sang ibu juga jauh lebih besar dibanding Alvian.
Diandra menatap dalam mata sang putra dan mencari arti dari apa yang ada dalam mata itu.