Love Betrayal

Love Betrayal
Kelicikan Ana


__ADS_3

Setelah selesai membelikan gaun untuk Rena, mereka segera memilih baju untuk dua malaikat kecil yang sedari tadi bersama mereka.


 


"Anak-anak, sekarang saatnya memilih baju yang cocok untuk kalian," Kenan memperhatikan anak-anak yang bersama mereka.


 


"Yeay baju baru ... baju baru ..." Belvina dan Dhafi meloncat kegirangan.


 


Kenan terkekeh memperhatikan tingkah pola anak-anak itu, sementara Rena memilihkan baju untuk para malaikat kecilnya dan ketika diberikan kepada anak-anak itu terlihat sangat bahagia.


“Momy, ini bajunya bagus banget,” ujar Dhafi pada Rena.


“Abang suka bajunya?”


“Hm suka momy, ini bagus,” Dhafi menganggukkan kepalanya.


“Momy kalau baju adek gimana? Cantik ga?” gadis kecil itu berputar memperlihatkan keindahan gaunnya. Dia tak ingin kalah perhatian dari saudaranya.


“Cantik sayang, kamu cantik banget,” puji Rena dan Kenan bersamaan.


“Yeay,” kedua anak kecil itu meloncat kegirangan.


“Lihatlah mereka sangat bahagia, aku sangat optimis mereka pasti akan mendukung pernikahan kita nanti,” ujar Kenan memperhatikan anak-anak itu.


“Makasih ya sayang kamu udah mau mengerti dengan keadaan aku,”


 


Jujur saja saat ini, Rena bahagia sekali karena setelah sekian lama akhirnya mereka dipertemukan kembali. Mungkin ini yang disebut jodoh takkan kemana, buktinya setelah sepuluh tahun terpisah akhirnya mereka dipertemukan kembali untuk dipersatukan dalam satu ikatan sakral yaitu pernikahan.


 


***


Anastasya yang merasa kesal dengan kedekatan Rena dan Kenan, darahnya seketika mendidih mengingat pembicaraan mereka.


 


Akhirnya Anastasya menghubungi seseorang yang saat ini juga merasa kesal dengan kedekatan Rena dan Kenan, dirinya yakin sekali orang itu pasti bisa diajak bekerjasama dengannya.


 


Akhirnya Anastasya menghubungi seseorang untuk melancarkan misinya. Siapa lagi kalau bukan  Alvian?


Gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi kontak yang bernama Alvian disana.


Semoga nomornya masih sama. Harap wanita itu dihatinya. Akhirnya dia mencoba nomornya, setelah tiga panggilan baru panggilan itu terjawab.


“Halo Ana, ada apa tiba-tiba kau menelponku?”


“A ... Alvian itu kau kan?”


“Tentu saja ini aku, ada apa kau menghubungiku?”

__ADS_1


“Apa kau tahu Rena akan segera menikah dengan Kenan?”


“Hm aku tahu, “


Sengaja dia tidak memberikan reaksi apapun karena dia menunggu reaksi dari Anastasya.


“Lantas apa kau telah merelakan Rena untuk adikmu?”


“Kau mau aku berbuat apa? Jika memang mereka saling jatuh cinta, aku bisa apa?”


Alvian sengaja memberikan reaksi setenang mungkin, supaya dia bisa tahu apa yang akan dilakukan Anastasya pada mereka.


“Oh baiklah jika kau sudah tidak mencintainya lagi, mungkin aku salah menilai. Aku kira kau akan menghalangi pernikahan mereka karena setahuku kau masih mencintai mantan istrimu itu,”


 


Sial gadis ini benar-benar ingin memancingnya. Tapi Alvian masih saja berkelit. Padahal Ana telah memancingnya.


“Rena itu sudah jadi mantan istriku jadi dia sudah sepantasnya mendapatkan yang jauh lebih baik dariku?”


Merasa percuma bicara dengan Alvian, dirinya memutuskan pembicaraan mereka.


 


Kesal, itu yang dirasakan Anastasya saat ini karena Alvian tidak seperti yang dia duga. Apa mungkin lelaki itu telah berubah jadi orang baik sepenuhnya? Ini sangat membuatnya penasaran sekaligus merasa ada sesuatu tang disembunyikan lelaki itu darinya, tapi apapun yang terjadi dia tetap ingin pernikahan Kenan dan Rena berantakan. Jika Alvian tidak bisa membantunya, maka dia akan melakukan sendiri dengan caranya.


 


Alvian tersenyum sinis saat Anastasya mematikan telpon karena dia memberikan jawaban datar. Tentu saja aku akan menghentikan pernikahan itu tapi aku ingin melakukannya sendiri dengan caraku. Monolognya dalam hati.


***


"Oh ya Rena, bagaimana kalau hari ini kita bertemu dengan mama?" pinta Kenan pada Rena.


DEG!!!


Wajah Rena seketika menegang? Bertemu dengan mama? Artinya dia akan bertemu dengan nyonya Amanda, apakah itu baik?


"Bertemu mama? Apa mamamu mau bertemu denganku?" Rena sedikit meragu dan takut jika mantan mertuanya itu akan menolak kehadirannya.


"Kita coba dulu sayang, siapa tahu setelah bertemu dan bicara denganmu mama akan nerubah pikiran," imbuh lelaki itu sambil menggenggam tangan Rena untuk menguatkan hati wanita itu.


Ini sangat sulit bagi Rena, karena terakhir kali mereka bertemu, saat dirinya berpisah dengan Alvian dan dia sangat ingat bagaimana mantan mertuanya itu begitu merendahkannya karena menganggap dirinya tidak bisa membahagiakan putranya.


Jantung Rena berdetak kencang seakan ada badai yang hendak menghampirinya. Berbagai pemikiran buruk berkecamuk dalam dadanya. Sungguh Rena tak dapat membayangkan jika mantan mertuanya itu akan berkata kasar didepan anak-anaknya nanti. Pasti anak-anak itu akan terpukul. Semoga saja pikiran buruknya itu tidak benar adanya.


Sesampainya di mansion ...


Kenan dan Rena melangkahkan kakinya ke rumah besar itu, saat melangkahkan kakinya Rena teringat kembali akan Alvian yang pernah mengajaknya ke rumah itu, dimana saat itu dirinya disambut dengan penuh suka cita dan kini untuk kedua kalinya dia menginjakkan kakijya ditempat itu. Dirinya sempat meragu tapi dia harus menguatkan hati untuk bertemu dengan ibunya Kenan.


"Ayo sayang, masuklah," tukas lelaki itu sambil mengulurkan tangannya kepada Rena.


Masih dalam keadaan meragu Rena menyambut tangan Kenan lalu melangkahkan kakinya dan dibelakang mereka juga mengiringi dua malaikat kecil Rena.


Sesampainya diruang tengah, Kenan memanggil sang ibu.


"Mama ... ma, turunlah sebentar ada yang ingin bertemu dengan mama," panggil lelaki itu ditengah ruangan yang cukup luas itu.

__ADS_1


Mendengar suara sang anak yang begitu menggema diruangan tengah, wanita paruh baya itu bergegas menuju ke arah suara itu.


"Kenan anakku, kamu kembali lagi nak?" wajah wanita paruh baya itu begitu berbinar cerah saat putra kesayangannya kembali.


Memang benar sejak Kenan menolak perjodohan waktu itu, dia sempat meninggalkan mansion dalam waktu yang cukup lama dan hal itu sangat menyakitkan bagi Amanda kehilangan salah satu putranya.


Wanita paruh baya itu memeluk erat putranya, terlihat jelas kerinduan yang mendalam dari raut wajah yang mulai menua itu, dirinya memejamkan mata dan menangis haru, tapi saat dirinya membuka matanya dan melihat orang yang dibawa Kenan, matanya menjadi terbelalak. Diapun melepaskan pelukannya dari sang putra, lalu menghampiri wanita yang berada dibelakang Kenan.


"Kau! Berani sekali kau menunjukkan wajahmu dirumahku!" tunjuk wanita itu pada Rena.


Rena yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya tertunduk malu, inilah yang dia takutkan, mantan mertuanya itu pasti akan merendahkannya. Anak-anak Rena yang datang bersamanya, tiba-tiba menciut, kedua bocah kecil itu bersembunyi dibelakang Rena.


"Ma, please jangan seperti itu pada Rena, dia adalah calon menantu mama. Aku pernah bilang pada mama, aku pasti akan membawa Rena ke rumah ini dan mama lihat aku menepati janjiku. Aku tidak hanya membawa Rena tapi juga anak-anaknya, Belvina dan Dhafi," ujar lelaki itu sambil mendekat ke arah Rena dan merangkul kedua malaikat kecil Rena agar sang nenek bisa menatap mereka.


Cucuku? Deg!! Mendengar perkataan cucu, seketika hati Amanda yang begitu murka berubah menjadi penuh cinta melihat kedua cucunya yang telah tumbuh besar.


"Kalian cucu oma?" Amanda menghampiri dua bocah kecil itu dan ingin memeluknya,tapi kedua anak kecil itu memundurkan langkahnya sambil mendongakkan kepala menatap Rena.


Rena menganggukkan kepala sambil tersenyum, menginsyaratkan jangan takut, wanita itu adalah oma kalian. Melihat sang ibu memberikan kode bahwa mereka akan baik-baik saja sang anak mendekat ke arah sang nenek dan membiarkan tubuh tua itu memeluk dan menciumi dua anak kecil itu.


"Kalian sudah besar sekali, terakhir kali oma melihat kalian, Dhafi masih berumur tiga tahun dan Belvana masih sangat bayi, tapi sekarang kalian telah tumbuh jadi anak yang manis," sang nenek begitu terharu memperhatikan kedua cucunya.


"Iya mam, ini cucu mama yang juga anak mas Alvian dan ini Rena ibu dari kedua malaikat kecil itu," jelas Kenan mempertegas pada sang ibu bahwa mereka itu darah dagingnya Rena, calon istrinya.


Amanda menghela nafas dalam dan memejamkan matanya sejenak, menghirup oksigen sedalam-dalamnya dan menghembuskannya keluar lalu membuka matanya kembali.


"Kenapa kau datang lagi setelah memutuskan hubungan dengan putraku?" Amanda masih belum terima dengan perpisahan Rena dan Alvian.


"Aku tidak memutuskan hubungan dengan mas Alvian ma tapi dia sendiri yang memilih untuk pergi dengan wanita pilihannya," lirih Rena padanya.


"Kau tidak menghargainya sebagai suami, karena itulah dia meninggalkanmu," tuduh wanita paruh baya itu padanya.


"Mam!!! jangan tuduh Rena seperti itu. Mama hanya mendengar sepihak dari mas Alvian, jadi mama berpikir Rena tidak pernah menjadi istri yang baik. Padahal dialah yang menyia-nyiakan istri dan anak-anaknya," bela Kenan pada Rena.


"Cukup Ken, kau telah dibutakan oleh cintamu pada wanita ini sehingga kau tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk," sungut sang ibu tak mau mendengar penjelasan sang anak.


"Mam ..." Kenan ingin melanjutkan ucapannya tapi Rena menggenggam tangannya dan menggelengkan kepalanya. Dirinya memberi kode pada Kenan untuk tidak membantah perkataan sang ibu lagi.


Kenan hanya bisa menahan marahnya dengan sikap arogan sang ibu, akhirnya dia memilih mengajak Rena untuk kembali ke apartemennya.


"Tunggu, jika kau ingin pergi tinggalkan cucu-cucuku disini," suara wanita tua itu mwnghadang mereka.


Sambil membelakangin mereka dia berucap dingin seperti itu.


Rena dan Kenan tersentak. Bagaimana bisa Amanda berkata seperti itu. Rena yang telah berjuang demi anak-anaknya lalu dengan mudahnya sekarang dia menyuruh anak-anak itu tinggal bersamanya.


"Maaf bu, aku tidak bisa. Mereka memang cucu-cucumu tapi mereka anakku dan akulah yang telah merawat mereka. Jadi mereka akan tetap bersamaku," tegas Rena pada sang mantan mertua.


Wanita paruh baya itu membalikkan tubuh menghadap kepada mereka.


"Baiklah kalau begitu aku akan suruh Alvian mengurus perwalian mereka agar bisa bersamanya," ucap wanita itu dingin.


"Mam jangan egois seperti itu, Rena tidak bisa dipisahkan dengan anak-anaknya," tegas Kenan yang merasa kesal dengan sikap ibunya.


Mengapa wanita yang lembut itu tiba-tiba menjadi searogan ini? Dia tak habis pikir dengan sikap sang ibu.


"Aku hanya akan memberikan dua pilihan untukmu, kau tinggalkan putraku dan kau bisa hidup tenang dengan kedua anakmu atau kau tinggalkan mereka disini dan kau bisa menikah dengan putraku," pungkas wanita paruh baya itu padanya.

__ADS_1


DEG!!!


Hati Rena tiba-tiba mencelos. Sungguh pilihan yang dilematis. Mengapa harus seperti itu? Mantan mertua Rena ini sangat ingin mematahkan hati Rena.


__ADS_2