Love Betrayal

Love Betrayal
Tentang Alvian


__ADS_3

Rena merasa lega karena Anastasya telah menikah dengan Ryan. Meskipun terasa sedikit mendadak, tapi setidaknya Rena telah melihat kenyamanan dimata Kenan saat ini. Pria itu tidak lagi terlihat ketakutan seperti sebelumnya karena merasa bersalah pada Rena. Sekarang yang terlihat hanya kebahagiaan dimata pria itu. Terlebih lagi dengan kehamilan Rena, dia sangat fokus pada calon bayinya. Sembari mereka mengurus Alvian.


"Dokter, apa ada perkembangan lagi dengan kesembuhan kakak saya?" Kenan memperhatikan kondisi Alvian dari kejauhan.


Lelaki itu tampak sedang menikmati suasana di pagi hari. Sekarang Alvian sudah tidak mengenakan kursi roda lagi karena dirinya perlahan telah membaik. Hanya saja ingatannya yang belum terlalu pulih. Alvian cuma bisa mengingat namanya tanpa bisa mengingat kembali masa lalunya. Mungkin butuh proses yang cukup menyita waktu untuk itu semua.


"Sejauh ini perkembangan dari pak Alvian bisa dikatakan cukup baik, pak Kenan hanya saja untuk mengembalikan memorynya saya tidak bisa menjamin sepenuhnya karena bisa saja beliau akan mengingatnya perlahan, atau mungkin akan ada sebahagian memorynya yang akan terhapus dari ingatannya atau malah dia tidak akan bisa mengingat semuanya," dokter muda bernama Airin itu menjelaskan secara detail tentang keadaan Alvian.


"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter untuk membuatnya bisa lebih baik lagi?" Kenan merasa bingung dengan keadaan sang kakak.


"Dukungan dan keyakinan, hanya itu yang dibutuhkannya, dukungan dengan memberikan semangat membuatnya akan merasa nyama. Sedangkan keyakinan, adalah sumber kekuatan bagi pak Alvian dan orang-orang disekitarnya karena dengan seperti itu dia akan memiliki semangat hidup," jelas dokter Airin kembali.


Kenan mengingat kembali progres yang ditunjukkan oleh Alvian dalam beberapa waktu terakhir ini. Benar yang dikatakan dokter Airin. Dukungan dan keyakinan orang-orang disekitarnya adalah sumber kekuatan bagi pria muda itu. Kenan baru menyadari semenjak Alvian didekatkan dengan dua malaikat kecilnya dia terlihat memiliki semangat hidup. Mungkin itulah yang disebut ikatan batin walau bagaimanapun jauhnya tetap saja terasa dekat. Mungkin saat ini Alvian tidak mengingat tentang dirinya dan hubunganya dengan anak-anaknya, tpai tidak bisa dipungkiri setiap bersama kedua anak itu Alvian semakin membaik.


"Mas, aku pikir yang dikatakan dokter Airin itu benar. Mas lihat sendiri bagaimana mas Alvian begitu bersemangat saat bersama Dhafi dan Belvana, apa kita harus membuat mas Alvian lebih dekat dengan anak-anak? maksudku supaya mas Alvian bisa merasakan dirinya adalah ayah dari kedua malaikat kecilku," Rena menatap sendu pada sang suami.


"Hm, aku rasa kamu benar Rena. Aku setuju dengan pemikiranmu. Mungkin akan lebih baik jika mas Alvian lebih dekat lagi dengan anak-anak. Toh pada dasarnya mas Alvian adalah ayah kandung mereka dan dia juga berhak atas anak-anak kita," pungkas pria muda itu.


Kenan memang telah menyayangi kedua anak Rena selayaknya anak kandungnya bahkan rasa sayangnya pada kedua anak-anak itu telah melekat dengan sangat kuat. Namun, sekuat apapun Kenan ingin mengambil alih karakter sang ayah tetap saja mustahil baginya memisahkan ayah dan anak. Oleh sebab itu dia tidak ingin egois dengan menjauhkan mereka dari dady mereka.


"Sayang, bagaimana setelah ini kita harus lebih mendekatkan mas Alvian sama anak-anak biar mereka yang mengobati dady mereka. Bukankah obat paling mujarab didunia ini adalah kasih sayang?" Kenan begitu pengertian pada keadaan sang kakak.


"Hm, aku mengerti mas. Aku akan membuat anak-anak lebih dekat dengan dadynya lagi," Rena menyetujui perkataan sang suami.


"Pak Alvian, anda sudah datang. Apa kita bisa memulai therapynya?" dokter Ariana memperhatikan Alvian yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Hm tentu dokter," pria itu tampak bersemangat untuk memulihkan dirinya, dengan senyumannya yang memikat pria muda itu cukup menarik perhatian dokter cantik dihadapannya.

__ADS_1


Tidak bisa dibohongi karisma yang terpancar dari raut wajahnya masih tetap melekat. Meskipun dia dalam keadaan yang belum sepenuhnya normal. Itulah Alvian dia memang sangat unik.


***


Ditempat berbeda Jenita sedang mencoba untuk menjauhi Adrian. Dia masih ingat akan ancaman yang diberikan oleh Stevany padanya, wanita itu pasti tidak akan main-main dengan ucapannya. Semenjak saat itu Jenita tidak pernah menghubungi Adrian dan tidak mau menjawab telpon dari Adrian. Membuat lelaki itu menjadi khawatir.


Adrian memutuskan untuk menyuruh orang kepercayaannya mengawasi keadaan Jenita. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada wanita itu dan bayinya. Adrian segera menelpon orang kepercayaannya.


"*Halo, Rocky aku mau melakukan sesuatu untukku," titahnya pada sang asistennya.


"Apa yang bisa kulakukan untuk anda bos?" tanyanya lagi.


"Aku mau kau siapkan jet pribadiku hari ini juga. Aku ingin menemui Jenita. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau menerima telponku. Bahkan dia seperti sedang menghindariku," jelasnya pada sang asisten.


"Baik pak, aku akan segera menyiapkannya untuk anda," Rocky segera melaksanakan perintah dari bosnya*.


Adrian sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Indonesia. Dia telah merapikan dirinya dan juga membawa persiapan untuk kekasihnya. Adrian telah berencana akan membuat alasan pekerjaan untuk membohongi Stevany. Kebetulan produknya ada yang akan launching di Indonesia jadi Adrian memiliki alasan untuk pergi.


Tidak kehilangan akal Stevany berpura-pura sakit. Dia memulai rencananya dengan memberi hasil diagnosa palsu dari dokter yang telah dibayarnya. Stevany sengaja berdandan pucat supaya terkesan seperti orang sakit sungguhan.


"Sayang, kamu kenapa? aku lihat beberapa hari ini kamu pucat sekali," ujar Adrian merasa cemas dengan keadaan sang istri.


"Aku tidak apa-apa sayang. Aku baik-baik saja," Stevany menunjukkan senyum simpulnya. Dia bersikap seakan-akan tidak ingin menyusahkan suaminya. Padahal dia sangat menunggu perhatian dari Adrian.


"Tapi kamu pucat sekali, apa kita harus ke dokter untuk memeriksa kesehatanmu?" Adrian merasa khawatir. Stevany menggelengkan kepala menolak tapi tanpa sengaja dirinya menyenggol amplop yang terdapat di atas nakas sehingga membuat isi amplop itu berserakan.


"Apa ini sayang?" Adrian melihat kertas yang berserakan diamplop itu, Stevany bergegas merebut kertas itu dari Adrian tapi Adrian menahan dan membaca isinya. Tertulis dalam kertas tersebut bahwa itu adalah surat keterangan laboratorium yang mendiagnosa tentang Stevany yang terkena leukimia.

__ADS_1


Sebenarnya Stevany sengaja membuat Adrian mendapatkan kertas itu dan membacanya. Dia berharap dengan membaca hasil laboratorium yang telah direkayasanya bersama dokter yamg telah dibayarnya itu, wanita itu berharap Adrian akan bersimpatik padanya.


"Apa ini hasil lab mu Stevy?" tanya Adrian penasaran. Wanita itu mwngangguk pelan sambil menundukkan kepala.


"Jujur padaku Stevy, sebenarnya sudah berapa lama kamu sakit? Kenapa kamu tidak memberitahukanku tentang sakitmu selama ini?'' cecar lelaki itu sambil duduk dihadapan sang istri.


"A ... aku hanya tidak ingin membuatmu terkejut dan bersedih. Lagi pula belun tentu diagnosa itu benar, karena aku baru menemui satu dokter," bohongnya pada lelaki itu supaya Adrian tidak merasa bersalah padanya.


"Maafkan aku, aku terlalu egois padamu. Seharusnya aku ada didekatmu dan menemanimu tapi aku malah sibuk dengan urusanku sendiri," Adrian menyesali kelalaiannya. Dia merasa bersalah atas keadaan sang istri.


"Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu ga salah, mungkin ini juga karena salahku sendiri. Aku selalu memaksakan semua keinginanku. Tuhan sedang meghukumku," lirihnya mencari perhatian Adrian.


Adrian yang merasa iba pada wajah sedih sang istri langsung memeluknya erat. Dia merasa sangat bertanggung jawab atas keadaan sang istri. Dengan berat hati dirinya tidak jadi menemui Jenita.


"Aku akan menemanimu disini, menjaga dan merawatmu," pungkas pria itu padanya.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?" sela wanita itu seakan tegar. Dia sengaja memainkan emosi Adrian supaya Adrian tetap bersamanya.


"Aku akan meminta Rocky mengurusnya. Kesehatanmu lebih penting daripada pekerjaanku," ujar pria itu lagi.


Sungguh, inilah yang sangat diharapkan Stevany. Ternyata rencananya untuk membuat Adrian tetap bersamanya berhasil.


"Tapi apa ini tidak merepotkanmu?" wanita itu mencoba memastikan kembali.


"Tidak sayang. Jangan berkata begitu, kamu istriku dan kamu tanggung jawabku. Aku pasti akan menjagamu," ucap Adrian dengan tulus.


Merasa menang Stevany memeluk erat Adrian. Dia sudah menang satu langkah dan dia pasti akan memisahkan suaminya dengan Jenita. Tidak ada tempat untuk wanita itu dihati suaminya. Karena pria itu adalah miliknya.

__ADS_1


__ADS_2