
Axelle baru saja selesai memasak nasi goreng buatannya, dengan hati yang begitu gembira dirinya menghampiri Cedereyn dikamar.
"Nasi gorengnya sudah siap, ayo Ced kau harus segera makan supaya ..." tiba-tiba saja ucapannya terhenti saat melihat gadisnya terlelap begitu pulas. Sepertinya Cedereyn benar-benar lelah.
Axelle menatap wajah polos gadis itu, menggemaskan! Dia terlihat menggemaskan bagai putri tidur yang sedang menanti pangeran dalam balutan selimut. Axelle tersenyum tipis sambil meletakkan makanan di nakas. Dia mengusap pelan kepala gadis malang itu dengan sangat lembut. Merasa tak tega untuk membangunkannya dirinya segera beranjak dari ranjang untuk membiarkan gadisnya beristirahat.
"Axe, kaukah itu?" suara serak dari Cedereyn yang baru saja terjaga dari tidurnya.
"Hei, mengapa kau bangun? Tidurlah jika kau masih merasa lelah," langkah kaki Axelle terhenti dirinya terpaku menatap Cedereyn.
"Aku lapar Axe," ucapnya sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk.
"Aku sudah membuatkanmu nasi goreng, apa kau mau mencobanya?" Axelle mengambilkan nasi goreng yang diletakkannya diatas nakas kemudian bersiap untuk menyuapi Cedereyn.
Cedereyn tersenyum sambil menganggukkan kepala, Axelle menyuapkan nasi goreng buatannya untuk Cedereyn. Gadis itu memakannya dengan penuh semangat dan terlihat lahap sekali.
Axelle tersenyum memperhatikannya.
"Kau manis sekali Axe," ucap Cedereyn secara spontan. Entah apa yang membuatnya sangat ingin sekali memuji lelaki yang berada didekatnya itu.
Axelle tersenyum dengan sangat manis, dia begitu bahagia mendengar pujian yang baru saja diucapkan Cedereyn. Secara sadar atau tidak kini wajah mereka menjadi begitu dekat, mata mereka saling beradu bertukar pandang satu sama lain, seolah sedang menyelami makna dari tatapan diantara mereka, tiba-tiba saja kedua bibir mungil itu saling mendekat dan ... suara bel dari luar membuyarkan pikiran mereka.
Kedua anak manusia itu terkesiap dan menjadi saling salah tingkah. Axelle beranjak dari ranjang, meletakkan piring yang berisi makanan itu di nakas.
"Sebentar, sepertinya Troy telah datang. Tadi aku menyuruhnya berbelanja bahan makanan," Axelle segera menuju ke pintu apartemennya.
"Pasti itu Troy," ujar lelaki itu bergegas membukakan pintu apartemen tanpa melihat terlebih dahulu dari intercome.
"Kenapa kau lama sekali Troy?" omelnya sambil membuka pintu dan, "tu ... tuan Kenan?" dirinya terperanjat ketika yang berada di depan pintu apartemennya adalah bosnya.
__ADS_1
"Hei, mengapa kau begitu terkejut melihatku? apa kau pikir aku ini hantu? " Kenan dengan senyuman khasnya terheran melihat Axelle yang terjingkat mendapati dirinya disana.
"Maaf tuan, aku pikir tadi Troy yang datang ternyata anda. Silakan masuk tuan," Axelle sedikit kikuk saat melihat Kenan yang berada didepannya.
Kenan masuk ke dalam apartemen dan duduk di sofa, namun matanya terpaku saat melihat seorang gadis didalam kamar Axelle. Ya, dirinya melihat Cedereyn, gadis DJ yang pernah melakukan one night stand bersamanya.
"Gadis itu? Mengapa dia bersamamu?" tanya Kenan melirik ke arah gadis yang dikenalnya.
"Selamat ... siang tuan Kenan," sapa Cedereyn sedikit canggung pada Kenan.
Kenan hanya membalas sapaannya dengan senyuman khasnya yang selalu membuat wanita yang memandangnya tak ingin berhenti untuk menatapnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Kenan berbasa-basi padanya.
"Su ... sudah tuan," jawab gadis itu singkat.
Mereka pasti kembali teringat akan malam panas yang telah mereka lalui waktu itu. Malam yang begitu menggairahkan dan membuat mereka tidak berhenti berdesah hingga membuat mereka kelelahan hingga pagi menyapa.
"Oh Cedereyn? Aku sengaja membawanya ke sini supaya aku bisa merawat dan mengawasinya. Kasihan jika dia sendirian dalam keadaannya yang seperti itu, terlebih lagi Grey pasti mengincarnya," jelas Axelle dengan suara lirih.
"Hm, bagaimana keadaannya? Apa dia masih belum bisa berjalan dengan baik?" Kenan mendekati kamar itu kembali mencari tahu keadaan Cedereyn.
"Akibat kecelakaan itu dia mengalami kelumpuhan dan dokter bilang kemungkinan untuk sembuh sangat kecil, tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kesembuhannya," tersirat kesedihan dari sorot mata Axelle.
"Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpanya. Semoga dia cepat pulih, " tukasnya sambil menepuk pelan bahu Axelle. "Lantas Grey apa dia sudah ditangani pihak kepolisian?" timpalnya lagi.
"Mengenai Grey, beberapa hari yang lalu Troy telah memberinya pelajaran. Aku juga tidak tahu apa lelaki itu masih hidup atau tidak," tandas Axelle tak mau perduli tentang keadaan lelaki yang telah membuat Cedereyn celaka.
Kenan hanya manggut-manggut paham, melihat kekesalan diwajah Axelle.
__ADS_1
"Oh ya tuan, ada apa anda tiba-tiba ke sini?" Axelle terlalu terbawa suasana sampai-sampai dia lupa bahwa bosnya sekarang ada didekatnya.
"Aku ada tugas untukmu Axe," Kenan kembali duduk dan bersantai di sofa.
"Tugas apa tuan?" Axelle menaikkan alisnya sehingga wajah tampannya terlihat sangat cool.
"Kemarin ibuku menelponku, dia mendesakku segera menikah dengan wanita pilihannya dan aku ingin kau menyelidiki gadis itu," jelas Kenan sambil menghembuskan nafas berat.
Sontak saja Axelle mengulum senyumnya, ada tawa yang tertahan disana. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi bagaimana bisa seorang cassanova seperti Kenan akan dijodohkan? Hal itu sangat menggelikan baginya.
Kenan memperhatikan Axelle yang menahan tawanya sedari tadi. Dirinya terlihat kesal dengan wajah Axelle yang seakan menertawakan dirinya saat ini. Kalau bukan karena butuh pada lelaki itu, rasanya dia ingin sekali menonjok hidung mancung lelaki itu saat ini juga. Namun, secepatnya dia menetralkan emosinya.
"Kenapa? apa kau ingin menertawakanku?" Kenan menunjukkan wajah tak senangnya sambil menaikkan dagunya membuat Axelle membulatkan matanya seketika.
"Maaf bos, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya merasa aneh mengapa ibu anda tiba-tiba menjodohkanmu dengan seseorang?" Axelle menundukkan kepala merasa tak enak hati. Dirinya menjadi mendadak takut kalau saja Kenan akan memarahinya saat ini juga.
"Itu dia yang menjadi pertanyaan bagiku saat ini. Padahal momy tahu betul saat ini aku belum ingin menjalin hubungan dengan gadis manapun, tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia mendesakku untuk segera menikah," Axelle mengusap pelan wajhnya.
"Lalu bagaimana dengan nyonya Rena? Bukankah anda begitu memuja dan mencintainya?" Axelle sedikit bingung melihat keadaan bosnya.
"Itulah masalahnya, aku ingin sekali menikahi Rena dan secara bersamaan pula, Alvian datang lalu ingin kembali padanya. Lalu sekarang ibuku mendesakku untuk segera menikah dengan gadis pilihannya. Ini benar-benar membuatku gila," Kenan mengusap dagunya sambil berpikir.
"Hm, benar-benar suatu kebetulan yang seperti disengaja," monolog Axelle yang terdengar jelas oleh Kenan.
"Apa maksudmu Axe?"
"Begini tuan, setelah mendengar cerita anda tadi apa anda curiga kalau ini ada kaitannya dengan tuan Alvian?"
"Maksudmu ini semua rencana dari Alvian?"
__ADS_1
"Bisa jadi seperti itu tuan, tapi itu hanya prediksiku saja,"
Kenan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirinya cukup memahami ucapan Axelle. Ada benarnya juga yang dikatakan Axelle, mungkin saja ini semua rencana Alvian dan ibunya untuk menjauhkan dirinya dari Rena. Jika itu benar adanya dia harus segera bertindak.