
Setelah menunggu lama akhirnya lampu merah diruangan operasi telah padam, pertanda operasi telah selesai. Seorang dokter muda keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter Jesica, bagaimana keadaan Troy?” Axelle menghampiri sang dokter dengan penuh pengharapan.
“Dia sudah melewati masa kritisnya. Untung saja dia cepat dibawa ke rumah sakit kalau terlambat sedikit saja lukanya akan semakin parah,” jelas Jesica pada Axelle.
“Jesica, kau benar Jesica ?” Kenan tidak percaya dia akan bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu kembali.
“Maaf, anda siapa tuan?” Jesica memperhatikan lelaki yang baru saja menyapanya.
Semenjak berpisah dengan Kenan , Jesica memang belum pernah bertemu dengannya apalagi melihat fotonya. Wajar saja pertemuannya saat ini sangat mengejutkan bagjnya.
“Astaga, aku lupa pasti kau tidak ingat denganku. Terakhir kali kita bertemu ketika kau berumur sepuluh tahun sebelum kau pindah ke Inggris,” Kenan tersenyum mengingat keabsurdannya saat ini.
Setelah sepuluh tahun berpisah bagaimana mungkin gadis kecil itu akan mengingat wajahnya lagi.
“Aku Kenan. Kau ingat tidak sewaktu kecil kau selalu memintaku jadi pangeran dan kau sang putri setiap kali kita bermain?” lelaki itu mengingatkan kembali memory wanita muda dihadapannya.
Jesica berpikir sejenak, pangeran dan putri? Ungkapnya dalam hatinya.
“Oh iya, aku ingat. Kau ... ternyata itu kau? Pantas saja Jenita sangat mengagumimu ternyata kau setampan ini sekarang,” kagum wanita itu padanya.
Sementara Rena hanya bingung menatap keakraban mereka, Jesica ... Jenita ... siapa lagi mereka? Pikirnya dalam hati. Terlalu banyak orang-orang masa lalu yang bermunculan membuat dirinya semakin rumit.
“Kau itu bisa saja Jes, oh iya perkenalkan ini Renata calon istriku,” Kenan yang sedari tadi sibuk dengan reuniannya dan Jesica hampir saja terlupa dengan wanita yang bersamanya.
Untung saja dia cepat menyadari hal itu, jika tidak Rena pasti akan cemburu melihat mereka.
__ADS_1
“Oh iya, perkenalkan aku Jesica kembarannya Jenita,” ucap gadis itu dengan ramah. Tangannyapun kini terulur untuk menjabat tangan Rena.
Rena menyambut uluran tangannya dan tersenyum pada gadis itu.
“Jadi, kamu ini yang akan dijodohkan sama Kenan waktu itu?” ingat Rena kembali.
Dia ingat betul bagaimana Kenan menemuinya dan mengeluhkan soal perjodohan dirinya dengan teman masa kecilnya.
“Oh itu, maaf atas kejadian itu. Sebenarnya yang akan dijodohkan itu adalah Jenita kembaranku tapi karena keluarga Kenan tidak tahu kalau aku punya saudara kembar, mereka pikir aku yang akan dijodohkan,” jelas gadis itu dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Tapi aku sudah menolak perjodohan itu dan aku juga telah bicara dengan Jenita kalau aku sudah melamar Rena, kami telah sepakat untuk hal itu,” pungkas Kenan.
Dirinya tidak ingin kesalahpahaman itu berlarut-larut dan menjelaskan hubungannya dengan Rena.
“Hm, aku tahu itu. Jeni sudah menceritakannya padaku. By the way mengenai Troy, kalian bisa melihatnya kedalam. Aku akan membuatkan resep obat yang harus kalian beli untuknya,” tandas gadis itu mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah, terimakasih Jes. Kau sudah membantu kami,” ujar Kenan padanya lagi.
Gadis itu mengangguk kemudian berlalu dari hadapan mereka. Sementara yang ada disana hanya menatap punggung gadis muda itu hingga menghilang dari pandangan mereka.
Satu persatu mereka masuk ke ruang rawat untuk melihat keadaan Troy. Lelaki itu telah dipindahkan ke ruang rawat, di brankar lelaki muda yang masih tergeletak dengan infus ditangannya itu mengulaskan senyumnya pada mereka.
“Bro bagaimana keadaanmu?” Axelle yang sedari tadi mengkhawatirkannya langsung menyapa lelaki muda itu.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” Troy memperlihatkan tangannya yang terluka.
“Jangan bergerak dulu, tanganmu baru saja dioperasi,” Cedereyn sedikit panik melihat Troy yang menggerakkan tangannya. Di takut jahitan ditangan Troy bisa terlepas karena gerakan lelaki itu.
__ADS_1
“Bos Kenan, kau disini juga?” sapa lelaki itu ketika melihat Kenan yang muncul di belakang Axelle dan Cedereyn bersama seorang wanita.
“Iya, Axelle mengabariku kalau kalian terlibat baku hantam dengan Grey dan kelompoknya. Akibatnya kau terluka seperti ini,”
“Ah, ini hanya luka kecil bos. Nanti juga akan sembuh,” jelasnya sambil menyapa Rena dengan senyuman.
“Apa itu sakit?” Rena terlihat sedikit ngilu saat menperhatikan tangan Troy yang diperban.
“Ini hal biasa bagiku nona, kami harus melindungi satu sama lain. Jadi mau atau tidak harus ada hal yang kita korbankan,” jelas pemuda itu padanya.
Troy memang sangat melindungi Axelle dan Cedereyn, karena baginya mereka sudah seperti saudaranya sendiri, karena itulah dia akan melakukan apapun untuk melindungi mereka termasuk mengorbankan nyawanya sendiri.
Ditengah-tengah kebersamaan mereka tiba-tiba Jesica menghampiri mereka.
"Hm, apa aku mengganggu kebersamaan kalian?" tanyanya sambil berdehem.
"Hei Jes, kemarilah bergabung bersama kami, lihat Troy sekarang sudah membaik," ajak Kenan padanya.
"Jesica? Kau ada disini juga?" mata Troy tiba-tiba menjadi berbinar ketika melihat gadis yang disukainya ada dihadapannya.
"Iya, Jesica yang telah mengoperasi lenganmu Troy," jelas Rena sambil mempersilahkan Jesica kehadapan Troy.
"Kau dokter rumah sakit ini?" Troy sedikit tercengang dengan penjelasan mereka.
"Hm," Jesica mengangguk sambil tersenyum.
Sungguh, Troy sangat bahagia saat ini. Ternyata gadis yang disukainya itulah yang telah membantu dan merawatnya saat ini. Rasanya Troy tidak ingin cepat sembuh dan ingin berlama-lama ditempat ini supaya selalu bisa memandangi wajah cantik gadisnya.
Axelle dan Cedereyn yang mengetahui pertemuan antara Troy dan Jesica sebelumnya hanya saling bertatapan penuh arti melihat kedua orang yang berada dihadapannya.
"Oh ya Ken, ini resep obat yang harus kalian belikan untuk Troy," tukas Jesica sambil memberikan resep obat pada Kenan.
Kemudian dirinya memeriksa keadaan Troy. Selama proses pemeriksaan Troy hanya memandangi gadis itu penuh dengan rasa kagum. Namun hatinya masih takut kalau nanti Jesica tidak membalas perasaannya, karena sebelumnya dia telah bicara pada Axelle dan dia tahu betul orang yang akan menjadi rivalnya merebut hati sang gadis itu adalah setara Kenan. Ini sungguh persaingan yang teramat berat baginya.
Sesekali Troy melihat ke arah Kenan dengan tatapan nanar. Ini sangat diluar jangkauannya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" selidik Kenan yang merasa diperhatikan Troy.
"Heum, tidak bos. Aku hanya berpikir bagaimana caranya supaya cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini," kilahnya sambil membuang pandangan ke samping.
"Kau tidak perlu khawatir. Soal biaya aku yang akan menanggungnya. Kau hanya perlu berisitirahat saja disini,"tutur Kenan meyakinkan Troy.
__ADS_1
Setelah itu dirinya dan Rena berpamitan keluar ruangan untuk menebus obat dan menyisakan ketiga orang itu (Axelle,Cedereyn dan Troy) didalam sana.