
Troy dan Axelle telah sampai dikediaman Grey. Mereka mengendap-ngendap untuk menemukan Cedereyn.
"Bagaimana menurutmu Axe? Kau siap untuk menghadapi mereka?" Troy telah bersiap dengan senjata api miliknya sambil melihat ke arah Axelle.
"Tentu, kita harus bisa menyelamatkan Cedereyn sebelum mereka bertindak lebih jauh," Axelle juga tak kalah semangatnya untuk segera melepaskan Cedereyn dari Grey.
Mereka segera mendobrak pintu masuk dan menodongkan senjata ke arah Grey dan kawanannya.
"Game it's over Grey!!!" Axelle menembakkan peluru ke arah lelaki yang masih duduk dihadapan Cedereyn.
Nyaris saja peluru itu mengena kepala Grey kalau saja lelaki itu tidak segera merundukkan kepalanya dia pasti telah tiada saat ini.
"****!!! Kill him now! " tunjuknya pada Axelle dan anak buahnya segera menembaki Axelle tapi Troy yang berada dibelakangnya langsung memberondong mereka dengan peluru, alhasil anak buah Grey mati mengenaskan.
Grey yang merasa dirinya terancam menarik Cedereyn dan mencengkram leher gadis itu dengan lengannya, dirinya menodongkan senjatanya pada gadis itu.
“Jangan bergerak, jatuhkan senjata kalian atau aku akan membunuh gadis ini,” ancamnya sambil menarik Cedereyn keluar dari ruangan.
“Jangan sakiti dia!!!” teriak Axelle, dia mengkhawatirkan Cedereyn karena gadis itu belum bisa jalan dengan baik, jika Grey memaksanya berjalan nanti malah akan memperparah keadaan gadis itu.
Troy dan Axelle mengalah agar tidak membahayakan Cedereyn. Setelah melihat kedua orang itu menjatuhkan senjatanya Grey menarik Cedereyn keluar. Troy memberi kode untuk mengambil botol yang ada dimeja yang berada disampingnya, dengan gesit Axelle mengambil botol minuman itu dan melemparnya ke kepala Grey, seketika itu juga Grey meringis kesakitan.
“Arghh!!!” Teriaknya sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit. Cedereyn yang berada didekatnya langsung menginjak kaki Troy sehingga lelaki itu terjingkat kesakitan. Dengan cepat Troy menarik lengan Cedereyn dan membawanya kepada Axelle.
Grey yang masih memegang senjata ingin menembak ke arah Cedereyn dan dengan sigap Troy menghalanginya dengan menghalanginya dengan tubuhnya dan peluru itu mengenai lengannya. Seharusnya lukanya tidak terlalu parah tapi karena Peluru Jacketed Hollow Point, jika mengenai target maka ujung peluru akan memuai dan menjadi semakin besar sehingga menciptakan luka yang lebih parah mengakibatkan Troy terluka parah.
Axelle yang melihat kejadian itu, terpicu amarahnya dan langsung menghujami Grey dengan peluru, lelaki itu akhirnya tewas ditempat itu juga.
“Troy, bangunlah. Buka matamu Troy, kau tidak boleh pergi secepat ini,” Axelle memeluk tubuh Troy yang mulai melemah. Wajahnya semakin pucat dan darah kian banyak mengalir.
“Aku akan telpon ambulance agar dia bisa ditolong secepatnya,” ujar Cedereyn yang langsung menelpon ambulance.
__ADS_1
“Bertahanlah Troy, kita bertiga akan bersama selamanya,” Cedereyn menangis terisak melihat sahabatnya terluka.
Lalu tak berapa lama kemudian ambulance datang dan membawa Troy ke rumah sakit. Dalam perjalanan Axelle dan Cedereyn tak henti-hentinya memegangi Troy yang telah dipasangkan alat bantu peranafasan dan infus didalam ambulance. Berharap Troy akan baik-baik saja.
***
Sementara itu Kenan yang sedang berada di apartemen Rena, baru saja membuka matanya. Setelah bertemu Rena dalam keadaan tidak baik saat di kantor, Rena membawanya ke apartemen miliknya.
“Kau sudah bangun?” sapa Rena yang baru saja menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Maaf aku merepotkanmu. Harusnya aku tidak perlu sampai menginap seperti ini,” Kenan tersenyum tipis. Dirinya merasa sangat malu karena terlihat cengeng dihadapan Rena saat menemuinya pagi itu.
Kenan benar-benar tidak mengerti mengapa dia sampai seputus asa itu, dia takut akan kehilangan Rena.
“Tidak apa-apa, terkadang kita butuh menangis untuk meluapkan semua perasaan kita,” jelas Rena sambil memberikan minuman hangat pada Kenan.
“Hei, pelan-pelan. Coklatnya masih panas,” Rena mengingatkannya.
Kenan tersenyum dan menyesap minumannya lagi.
“Ini coklat terenak yang pernah ku minum,”
Ucapan Kenan sukses membuat wajah Rena merona. Rena tersipu malu, meskipun pujian Kenan terkesan receh tapi cukup membuatnya menghangat. Ada rasa haru bercampur bahagia yang dirasakannya saat bersama Kenan.
Tiba-tiba saja ponsel Kenan berdering, Kenan mencari-cari ponselnya, tapi Rena mengambilkannya dari jas Kenan yang terletak dikursi. Kemudian memberikannya pada Kenan.
“Ya Axe, ada apa menelpon malam-malam?”
“Maafkan saya tuan. Seharusnya aku tidak menelponmu dalam keadaan seperti ini. Aku butuh bantuanmu tuan,”
“Apa yang terjadi Axe?”
“Troy tertembak dan sekarang aku dan Cedereyn sedang menuju ke rumah sakit,”
__ADS_1
“Apa yang terjadi Axe?”
“Cepatlah kemari tuan, aku akan menjelaskannya nanti,”
Pembicaraan merekapun berakhir setelah itu.
Kenan bergegas memakai jasnya lalu berangkat menuju rumah sakit.
“Ken, apa yang terjadi? Ada apa dengan Troy?” Rena ikut khawatir dengan sikap Kenan.
“Axelle bilang Troy tertembak. Aku harus segera menemuinya ke rumah sakit,” tukas Kenan terburu-buru.
“Aku ikut Ken, aku mau tahu keadaan Troy,” pinta Rena padanya.
Kenan mengangguk dan mengizinkan Rena pergi bersamanya.
Mereka segera menuju ke rumah sakit. Namun perjalanan mereka terhambat karena lampu merah. Kenan merasa kesal dan dirinya mengklakson berulang kali. Membuat orang disekitarnya merasa risih.
"Tenaglah Ken, semuanya akan baik-baik saja. Jangan emosi seperti ini. Tetap fokus pada jalan supaya kita selamat sampai ke rumah sakit," Rena mengusap pelan lengan Kenan untuk menenangkan lelaki itu.
Kenan berusaha meredakan emosinya. Dirinya tidak sabar untuk segera menemui Troy.
Sesampainya di rumah sakit, Kenan dan Rena langsung menemui Axelle dan Cedereyn yang sedang menunggu Troy yang sedang di ruang operasi.
"Apa yang terjadi? Mengapa dia bisa tertembak?" Kenan meminta penjelasan dari Axelle.
Axelle tidak bisa menjawab,tapi Cedereyn yng merasa bersalah langsung memberikan jawaban. "Dia terluka karena aku, anak buah Grey menculikku. Axe dan Troy menyelamatkanku dari lelaki brengsek itu, tapi ..." Cedereyn tak kuasa menahan tangisnya, seketika itu juga tangisnya pecah dihadapan mereka.
Rena yang merasa iba memeluk Cedereyn dan berusaha menenangkannya sambil mengusap kepala gadis muda itu.
"Tapi bagaimana bisa operasinya berlangsung, seharusnya kalian meminta persetujuanku bukan?"
Kenan memang selalu mengurus semua kepentingan Troy dan Axelle karena mereka dibawah tanggung jawabnya, tapi kali ini dirinya merasa sedikit heran mengapa tidak menunggu dirinya terlebih dulu?
"Tadi saat sampai di rumah sakit, Jesica ada di sini. Jadi dialah yang mengurus administrasinya bos," jelas Axelle pada lelaki itu.
"Jesica ada disini?" Kenan mengernyitkan dahinya sambil menatap Rena, mereka sama herannya.
"Iya tuan, nona Jesica adalah dokter bedah di rumah sakit ini, jadi saat melihat Troy terluka parah dia langsung mengurus administrasi untuk Troy dan sekarang dia juga yang sedang mengoperasi Troy didalam sana," jelas Cedereyn sambil menunjuk ruang operasi.
Sungguh saling berkaitan sekali keberadaan mereka? Pertemuan mereka ternyata memang takdir dari Tuhan. Secara tidak langsung insiden yang menimpa Troy mempertemukan Kenan dan Jesica teman masa kecilnya itu.
__ADS_1
Kenan hanya terdiam, dirinya benar-benar terkejut dengan semua kebetulan yang terjadi saat ini. Rena yang paham dengan kebingungan Kenan langsung menggenggam tangan lelaki itu sambil menganggukkan kepala memperhatikannya, memberi kode bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kenan memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali sambil menatap manik mata Rena. Dirinya merasa tenang saat wanita pujaannya itu bersamanya.