
Berani sekali dia mematikan telponnya. Padahal aku belum seleaai bicara, aku akan bertindak jika dia terus-terusan menolakku, ujar Alvian meras tak terima.
Emosinya semakin memuncak karena merasa tak diperdulikan oleh Rena.
Sementara itu, Rena masih menatap ke arah bunga yang diberikan Alvian padanya. Memang benar dirinya sangat menyukai mawar putih tapi jika itu dari Alvian akan jadi berbeda.
Rena segera mengambil bunga itu dan membuangnya ke tong sampah dan disaat yang bersamaan seorang office girl mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Permisi nyonya, saya mau membersihkan ruangan anda," wanita itu datang dengan membawa peralatan kerjanya.
Rena mempersilakan office girl itu untuk membersihkan ruangannya. Sementara itu Rena mengambil berkasnya yang diletakkan Anastasya dimeja kerjanya kemudian membaca file yang berada didalamnya dan menandatangani file itu satu persatu.
Office girl yang memperhatikan buket bunga yang berada di tong sampah. "Bu, apa bunga itu tidak anda butuhkan?" tanyanya dengan hati-hati.
"Oh bunga itu, kalau kau mau ambil saja," ujar Rena tanpa memperhatikan buket bunga yang dipungut oleh Office girl dari keranjang sampah.
Setelah selesai dengan pekerjaannya office girl itu keluar dari ruangan Rena.
Sementara itu, Alvian yang merasa kesal bergegas menuju ke kantor Rena. Dirinya benar-benar tak sabar ingin bicara dengan Rena. Ingin sekali rasanya dia mengungkapkan perasaannya pada Rena.
***
Kenan baru saja sampai di pintu gerbang sekolah Dhafi dan Belvada. Dia sengaja membuat kejutan untuk dua malaikat kecil Rena. Tidak perlu menunggu lama dua malaikat kecil itu terlihat mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rena.
"Hei anak-anak, sini. Om Kenan yang menjemput kalian hari ini," panggil Kenan pada anak-anak itu.
Dengan mata berbinar dua bocah itu berhamburan memeluk Kenan.
"Om Kenan," teriak dua malaikat kecil itu sambil memeluk Kenan bergantian.
"Bagaimana sekolahnya?"
"Menyenangkan om," ujar kedua anak itu bersamaan.
"Om tumben jemput kita, mama ada di mobil ya?" Belvada masih mencari keberadaan sang mama.
"Ga sayang, om sengaja menjemput kalian sendirian, om mau ngasih kejutan buat mama kalian dengan menjemput kalian saat pulang sekolah,"
Kenan mengajak kedua bocah kecil itu ke dalam mobilnya untuk segera mengantar mereka pulang.
***
__ADS_1
Seorang lelaki baru saja mengetuk pintu ruang kerja milik Rena.
"Masuklah," sahutan dari dalam ruangan itu terdengar.
Lelaki itu segera masuk ke dalam ruangan itu. Dia berdehem untuk menyapa wanita yang masih sibuk dengan dokumen dihadapannya dan belum menatap ke arahnya.
Wanita itu segera membalikkan tubuhnya, tatkala melihat seseorang telah berdiri dihadapanya.
"Kau, mau apa kau kesini?" mata terbelalak lebar saat mengetahui orang yang dihadapannya adalah Alvian.
"Aku ingin bicara serius padamu," lelaki itu menatap dalam netra kecoklatan Rena.
"Tentang apa mas? Bukankah semuanya sudah jelas kalau kau ingin membicarakan masalah rujuk. Aku minta maaf aku udah ga mau lagi kembali sama kamu. Aku udah nyaman dengan hidupku yang sekarang bersama Dhafi dan Belvada," ucap Rena dengan lirihnya.
"Apa kamu yakin, kamu udah bahagia bersama anak-anak kita? Apa kamu ga berpikir untuk menyatukan kembali hubungan kita yang telah lama renggang?" Alvian seakan meminta kepada Rena saat ini.
Wanita itu hanya memijat kepalanya yang tiba-tiba saja teras pusing. Dirinya meletakkan file dokumen yang sedang dipegangnya ke atas meja kemudian berdiri di depan jendela kantornya yang cukup tinggi. Rena menatap jauh ke arah luar dari balik kaca jendela. Kemudian menarik nafas dalam dan membuangnya kembali.
Alvian menatap ke arah Rena yang tengah memunggunginya. Dirinya mencoba mendekati wanita yang kini benar-benar sangat dirindukannya. Alvian melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita yang benar-benar diinginkannya itu.
"Berhenti mas, jangan mendekat. Pergilah dari ruangan ini sekarang juga," pinta Rena sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alvian.
Langkah kaki pria itu terhenti menatap wanita yang berada dihadapannya.
"Mas, cukup! Aku udah ga mau membahas masalah ini," tandas Rena menghentikan ucapan Alvian.
"Kenapa Ren? Aku masih suamimu dan aku tidak pernah menceraikanmu. Jadi aku masih punya hak atas dirimu dan juga anak-anakku," Alvian menekan tiap ucapannya sambil mendekat ke arah Rena.
Rena tersenyum getir mendengar ucapan mantan suaminya itu. Apakah lelaki itu sudah mulai gila? Dia menganggap Rena masih istrinya? Padahal sudah lama sekali dia meninggalkan Rena tanpa rasa menyesal sedikitpun.
"Kamu egois mas. Apa kamu lupa semenjak kamu meninggalkan aku dan sejak itu pula hubungan antara kamu dan aku sudah berakhir. Aku bukan lagi istrimu mas," jelas Rena sambil menahan rasa sesak didadanya.
"Ga, kamu istriku. Aku ga pernah menceraikanmu Ren. Aku masih berhak untuk kembali padamu kapan saja," Alvian merasa tidak terima dan mencengkram kedua lengan Rena.
"Kamu gila mas, aku bukan istrimu, lepaskan aku jangan berani-berani kamu menyentuhku," Rena menepis tangan lelaki itu.
Namun Alvian tetap mencengkram tangan wanita yang dianggapnya sebagai istrinya, bahkan dia memeluk wanita yang berada dihadapannya dengan sangat erat.
"Lepasin mas, kamu ga boleh berbuat seperti ini padaku," Rena mendorong tubuh Alvian, tapi lelaki itu tidak mau melepaskannya.
Rena berusaha dengan sekuat tenaganya melepaskan pelukan mantan suaminya itu, namun lelaki itu menarik tubuhnya hingga dirinya terhempas ke sofa. Alvian yang benar-benar sudah gelap mata langsung menindihnya dan berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir merah apel milik Rena. Wanita itu mencoba menepis wajah lelaki itu tapi lelaki itu mencekal tangannya dan berusaha memaksanya.
__ADS_1
"Hentikan mas jangan macam-macam, kalau kamu tidak melepaskanku mak ..."
"Maka apa? Apa kau mau berteriak? Berteriaklah sayang, aku sungguh merindukan suaramu," ujarnya dengan seringai jahat dimatanya.
"Lepaskan aku mas!" teriak Rena sambil menyingkirkan tubuh lelaki itu darinya.
Namun lagi-lagi gagal karena tenaga lelaki itu jauh lebih kuat darinya, Alvian semakin menggila, dirinya benar-benar tidak bisa menahan gejolak didadanya dan terus berusaha mencium bibir Rena.
Tiba-tiba saja bunyi ponsel Rena membuyarkan aktifitasnya, Alvian merenggangkan cengkramannya dan saat itu pula kesempatan bagi Rena menyingkirkan tubuh lelaki itu darinya.
Rena segera merapikan bajunya yang sedikit tersingkap karena ulah Alvian, dirinya segera mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja. Satu panggilan dari Kenan dan dirinya segera mengangkat telponnya, tapi Alvian segera melempar ponsel Rena dan meraih tubuh wanita dan mengungkungnya kembali.
"KENAN!!!" teriak Rena ketika Alvian menggendong tubuh rampingnya ke sofa.
Kenan yang mendengar suara gaduh dari ponselnya merasa heran.
*Apa yang terjadi pada Rena? Apa dia baik-baik saja?
"Halo Rena, apa kau mendengarku?"
"Kenan tolong aku?" teriak Rena lagi sambil mendorong Alvian*.
"Berteriaklah sayang, karena setelah Kenan datang maka teriakanmu telah berakhir," ujar Alvian sambil terus menggerayangi tiap inchi tubuh Rena dan menghujamkan ciuman ke bibir Rena yang terus berteriak histeris.
Kenan yang merasa khawatir langsung menancapkan pedal gasnya dan melesatkan mobilnya ke kantor Rena secepatnya. Tidak butuh waktu lama Kenan sampai di parkiran dan dirinya bergegas menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangan Rena bersama kedua malaikat kecilnya.
Sesampainya di ruangan Rena, dirinya membuka pintu ruangan itu dan,
"Lepaskan Rena mas, apa yang kamu lakukan?" Kenan menarik tubuh Alvian yang sedang berada di atas tubuh Rena dan segera mendaratkan pukulan ke wajah Alvian.
"Papa!!!," teriak kedua bocah kecil yang membuat tangan Kenan terhenti untuk memukul wajah Alvian.
Alvian beruntung karena teriakan kedua anaknya membuatnya terhindar dari pukulan Kenan. Alvian hanya menatap tajam pada Kenan dengan raut wajah tak senang.
"Pergilah mas, sebelum aku benar-benar lupa kalau kau adalah kakakku," titah Kenan pada saudaranya.
Alvian menyingkirkan tangan Kenan dari kerah bajunya kemudian merapikan kemeja dan jasnya, untuk meninggalkan ruangan itu.
"Ingat Rena aku akan kembali lagi untuk mendapatkanmu dan anak-anak kita," Alvian memberikan peringatan pada Rena lalu bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa menyapa kedua anaknya.
Dhafi dan Belvada yang melihat kondisi sang mama dalam keadaan tidak baik-baik saja segera memeluk sang mama. Rena yang masih dalam keadaan ketakutan hanya menangis sambil memeluk kedua buah hatinya.
__ADS_1
Kenan yang memperhatikan anak-anak dan ibunya itu langsung merangkul Rena dan menenangkannya.