Love Betrayal

Love Betrayal
Panggil Aku Dady


__ADS_3

Siang itu Kenan dan Rena baru saja menyelesaikan meeting mereka, semenjak menjalin kerja sama antara perusahaan mereka, Kenan dan Rena lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Lelaki itu merasa sangat beruntung karena telah mendapatkan tambatan hati yang tepat seperti Rena. Dimatanya Rena adalah perempuan tangguh yang patut untuk diperjuangkan.


Hal yang menarik dari Rena dan paling disukai Kenan semenjak dari Rena sekolah dulu adalah sifat keibuannya dan tidak suka dikasihani. Sesulit apapun rintangan yang dihadapi oleh wanita itu dia akan selalu berusaha menemukan jalan terbaik yang mesti dia tempuh.


"Rena, hari ini kita makan siang sama anak-anak ya," ajak Kenan pada Rena yang sedang sibuk merapikan berkas-berkasnya.


"Hm, boleh. Tadi aku juga udah menghubungi Dhafi dan Belvana supaya mereka segera bersiap-siap," jelas Rena sambil mengambil tas tangannya.


"Baguslah kalau begitu, " Kenan mendekat ke arah Rena sambil mengulurkan tangannya pada Rena.


Rena mengangkat dagunya memberi kode pertanyaan, apa maksud Kenan bersikap seperti itu padanya?


"Aduh sayang, kamu tu ga bisa romantis sedikit saja. Pegang dong tangan aku. Kan kamu udah jadi tunangan aku, bentar lagi kita juga mau nikah. Romantis dikit gitu sama calon suami," omel Kenan dengan wajahnya sedikit cemberut.


Wanitanya ini memang tidak paham kode, membuatnya sedikit kesal menghadapi sikap cuek wanitanya. Rena yang memperhatikan sikap Kenan hanya tersenyum lalu dengan cepat dirinya mengapitkan tanganya ke lengan Kenan dan mengajaknya jalan bersama.


"Let's go huby," godanya pada Kenan, yang berhasil membuat mata lelaki itu membulat sempurna oleh ucapan Rena.


Sedikit receh sich gombalannya tapi cukup membuat relung hati si lelaki menghangat dan merasakan nyaman saat mendengarnya. Kini keduanya telah sampai ke sebuah mobil yang terletak diparkiran kantor mereka dan mereka segera bergegas menuju ke sekolah para malaikat kecil.


Selang beberapa lama kemudian, mereka telah sampai dihalaman sekolah. Terlihat dua bocah sedang mencari-cari keberadaan orang yang akan menjemput mereka dan sekelabat kedua anak itu sumringah melihat sepasang insan yang berada tak jauh dari mereka. Kedua anak kecil itu mempercepat langkahnya dan berhamburan ke dalam pelukan sang ibu dan calon papanya.


" Om Kenan ... Mama ... " teriak Dhafi dan Belvana sambil memeluk erat sang mama dan lelaki yang ikut bersama sang mama.


"Malaikat kecilku, mulai sekarang kalian ga boleh panggil om lagi sama aku, tapi panggil aku Dady," pinta Kenan merangkul kedua anak kecil itu sambil mengerlimgkan matanya.


Dhafi dan Belvana cukup tercengang dengan ucapan yang baru saja dikatakan Kenan. "Kenapa kita harus manggil om dengan sebutan Dady? Om kan bukan papa kita," sela Dhafi yang merasa heran.


Anak satu ini memang kritis sekali dengan ucapan orang padanya. Setiap sesuatu yang dianggapnya tidak dia pahami pasti akan dia tanya sampai dia menemukan kejelasan.

__ADS_1


"Iya sayang, sebentar lagi om Kenan bakal jadi Dady kalian, karena ga lama lagi om bakal menikahi mama kalian jadi kalian harus terbiasa panggil aku dady," jelas Kenan pada kedua anak kecil itu.


Dhafi dan Belvana hanya menatap kepada sang ibu, Rena yang mengerti dengan kebingungan sang anak hanya tersenyum sambil memeluk kedua buah hatinya.


"Om Kenan akan menikah sama mama? Artinya kita punya papa baru," celetuk si kecil Belvana.


Gadis kecil itu memang sangat menyukai kehadiran Kenan. Sejak pertama kali bertemu dengan Kenan dirinya mendapatkan kembali sosok ayah yang pernah hilang dari hidupnya.


Ya, memang benar kedua bocah kecil itu sangat merindukan sosok ayahnya, jika dulu Alvian selalu bisa menemani mereka untuk sekedar mengajak mereka belajar ataupun bermain, tapi semenjak Alvian berpisah dengan Rena nyaris saja kedua malaikat kecil itu kehilangan sayapnya, mereka kehilangan figur ayah dan ketika Kenan hadir semangat itu muncul lagi.


"Bagaimana Kids kalian maukan om jadi dady kalian?" Kenan masih saja mencecar anak-anak itu dan tanpa berpikir panjang dua bocah itu menganggukkan kepala.


"Dady," ucap kedua anak itu sambilm mencium pipi Kena dengan penuh rasa sayang.


***


"Jadi benar kalau Jesica punya saudara kembar?" tanya Axelle yang baru saja duduk didekat Troy.


"Apa? Secepat itukah?" Axelle terkejut merasa tidak percaya.


"Kau lihat saja ini," Troy mengambil foto yang sempat dia jepret tadi saat kedua gadis itu duduk di dekatnya dan meletakkan ponselnya ke wajah Troy.


Axelle memperhatikan foto itu dan benar sekali yang diucapkan oleh Troy.


"Lantas apalagi yang kau ketahui dari mereka?"


"Mereka itu kembar tapi sikap mereka sangat bertolak belakang Jesica begitu penyabar dan feminim, sedangkan Jenita itu sangat cerewet sekali," jelas Troy dengan detail.


"Okay, itu bagus. Aku rasa bos kenan pasti akan terkejut dengan hal ini," ujar Axelle melihat foto itu mencoba mencari celah disana.

__ADS_1


"tapi kita tidak bisa mengatakannya sekarang, karena bos baru saja berbahahia,"


Troy hanya mengangguk tapi saat dia menatap ke arah jendela apartemen itu seperti ada sesuatu yang mencurigakan. Dirinya sedikit menjauh dari jendela itu untuk bersembunyi di balik tembok dari sudut ruangan yang tertutup oleh tirai.


"Ada apa Troy? Mengapa tiba-tiba kau seperti melihat sesuatu?" Axelle mencoba mendekatinya tapi lelaki itu menarik tubuh Axelle untuk bersembunyi dibelakangnya.


"Hati-hati, sepertinya apartemenmu sedang diawasi oleh seseorang," matanya masih saja mengawasi beberapa orang pria yang mondar-mandir disekitaran apartemen mereka.


Para pria itu berpakaian hitam dengan kaca mata hitam dan masker menutupi wajah mereka. Layaknya komplotan yang sedang mengintai mangsanya.


"Apa kau mengenali salah satu dari mereka?"


Troy masih menatap keluar jendela melihat orang-orang diluar sana, "aku tidak yakin dengan pemikiranku hanya saja aku berpikir itu pasti orang-orang suruhannya Grey,"


Insting lelaki itu mulai bekerja, Troy sangat cepat berpikir. Hanya dengan melihat sekilas saja dia bisa memahami apakah itu musuh atau teman?


"Apa? Bagaimana bisa mereka tahu tempat kita? Bukankah apartemen ini tidak begitu banyak yang mengetahui, kecuali hanya orang terdekat kita?" Axelle terlihat bingung dengan yang dikatakan Troy.


"Memang benar yang kau katakan Axe tapi aku yakin pasti mereka telah mencari tahu, mungkin saja mereka menekan anak-anak di club supaya mau buka mulut,"


Troy mulai merasa tidai sabaran dan ingin sekali menghampiri orang-orang itu. Dirinya segera mengambil senjata yang disimpan dilaci kamarnya dan bergegas untuk ke bawah.


"Hei Troy, kau mau kemana?" cegah Axelle padanya.


"Aku akan menghabisi mereka, aku tidak suka mereka mengusik hidup Cedereyn. Kasian gadis malang itu," Troy merasa cukup kesal dan ingin segera turun menghadapi mereka.


"Jangan Troy, akan berbahaya jika kau pergi sekarang. Ini tempat umum dan mereka bisa berbuat nekat, mereka tidak perduli orang lain, jika nanti ada korban bagaimana?"


Langkah Troy terhenti oleh penjelasan Axelle benar sekali yang diucapkan lelaki itu, dirinya memundurkan langkahnya dan mengurungkan niatnya kemudian duduk disofa.

__ADS_1


"Mereka telah pergi, sepertinya mereka belum tahu tentang Cedereyn yang bersama kita saat ini,"


Axelle segera duduk didekat Troy ketika melihat situasi mulai aman dan memastikan sekelompol orang itu benar-benar telah pergi dari sekitaran apartemen


__ADS_2