
Pagi-pagi sekali Kenan telah datang ke apartemen Rena. Rena pasti akan kaget kalau sepagi ini aku sudah disini. Gumam Kenan sambil memperhatikan penampilannya dari kaca mobil. Dia begitu bersemangat untuk segera bertemu dengan Rena.
Lelaki itu menekan tombol lift angka sebelas, agar segera menuju ke apartemen Rena tapi saat pintu lift akan tertutup tiba-tiba saja seorang wanita tergopoh-gopoh masuk ke dalam lift tersebut.
“Maaf, boleh kita satu lift?” pinta wanita itu padanya.
“Silahkan,” ucap Kenan sambil mengizinkan wanita itu masuk ke dalam lift.
Saat didalam lift tidak ada pembicaraan antara mereka hanya tatapan saling penasaran satu sama lain saja yang terlihat dan sampailah mereka di lantai sebelas. Ketika pintu lift dibuka, mereka malah menuju ke tempat yang sama.
“Anda mau ke apartemen bu Rena juga?” tunjuk gadis itu padanya.
“Ya, aku memang ada keperluan dengan Rena,” jelas lelaki itu padanya.
“Kalau begitu kita sama, kenalkan saya Anastasya karyawannya bu Rena,” gadis itu mengajaknya berkenalan.
“Aku Kenan Manaf, calon suaminya Rena,” jawab lelaki itu sambil berkenalan dengan gadis itu.
“Hm, saya ingat anda pimpinan Gold Star Coorp bukan? Anastasya baru menyadari Kenan pernah mengundang mereka di acara launching cabang perusahaannya dulu.
“Hm, benar sekali. Rupanya kamu masih ingat ya,” lelaki itu tersenyum padanya.
“Tentu saja tuan, bagaimana saya bisa lupa anda pernah mengundang saya dan seluruh karyawan Zeneca Grup saat launching perusahaan anda,” tukas gadis itu padanya.
Kenan hanya menjawab dengan senyuman.
Anastasya cukup tercengang, calon suami? Bagaimana bisa secepat itu dia akan menikah dengan Kenan?
Ini tidak bisa dibiarkan aku harus bertindak jika tidak aku bisa kehilangan kesempatan keduaku, batin wanita itu.
Ternyata jiwa pelakornya masih meronta untuk menggagalkan hubungan Rena dengan Kenan, gadis itu ingin sekali merebut apa yang seharusmya didapatkan oleh Rena.
“Oh ya aku duluan ya, aku mau menemui Rena,” ujar Kenan melanjutkan langkahnya.
“Saya juga, saya mau menemui bu Rena untuk mengantarkan dokumen yang harus ditanda tangani bu Rena,” gadis itu segera menyusulnya supaya bisa bersama lelaki itu.
***
Saat di apartemen Rena,
__ADS_1
“Bu, maaf saya datang saat ibu mengambil cuti, karena ada berkas yang harus ditanda tangani,” ujar Anastasya merasa tak enak hati padanya.
“Masuklah Ana, tidak apa-apa. Aku hanya sedang beristirahat saja,” ajaknya pada gadis itu.
Namun, matanya malah tertuju pada sosok yang kini ada dihadapannya.
“Kenan, kau disini?” Rena salah tingkah melihat lelaki itu dihadapannya.
“Iya sayang, aku mau kita mempersiapkan pernikahan kita,” ucapnya sambil mengecup kening Rena.
“Kenpa tidak menelpon dulu?”
“Aku ingin membuat kejutan,”
“Oh manis sekali,” wanita itu tersenyum sambil bersandar ke dada Kenan.
Sedangkan Anastasya tersenyum kecut. Apa-apaan sich mereka lebay banget. Emangnya gue lalat? Gerutunya dihati.
“Oh ya, sampai kelupaan ada kamu disini Ana. Terimakasih sudah mengantarkan dokumen ini, aku akan segera menandatanganinya tapi nanti biar aku minta supir untuk mengantarkannya padamu,” pungkasnya pada gadis itu,”
“Baik bu, kalau begitu saya balik ke kantor dulu,” Anastasya membungkukkan tubuhnya kemudian kembali ke kantor.
“Aku mau mengajakmu ke butique. Kita akan fitting baju pengantin,” ucap Kenan sambil merangkul pinggang Rena.
“Baiklah, apa kita akan pergi sekarang?” tatapnya pada Kenan.
“Hm, tentu. Oh ya, anak-anak juga dibawa biar mereka juga bisa memilih baju yang mereka suka,”
“Baiklah,”
Inilah yang paling disukai Rena dari Kenan, karena apapun yang ingin dia lakukan pada Rena, pasti akan melibatkan anak-anak Rena. Sepertinya lelaki itu tidak hanya menyayangi Rena tapi juga anak-anaknya.
***
Saat akan kembali ke kantor Anastasya terlihat kesal ketika dirinya menuju mobil.
"Ana? Ngapain kamu disini?" Ryan menghampirinya.
__ADS_1
"Eh, pak Ryan. Saya baru saja memberikan berkas yang harus ditanda tangani oleh bu Rena tadi," pungkas gadis itu.
Dia merubah raut wajahnya setenang mungkin, karena tidak ingin Ryan curiga padanya. Kalau Ryan sampai tahu dia sangat kesal karena merasa tidak suka dengan kebahagiaan kakak sepupu Ryan, pasti lelaki itu akan menyulitkannya.
"Baiklah kalau begitu, apa mau barengan sama aku ke kantor?" lelaki itu berbasa basi padanya.
"Terimakasih, tidak usah pak. Saya menunggu taxi online aja,"
"Kalau kamu menunggu taxi online akan lama. Ayo sama saya saja," ajaknya sambil membukakan pintu mobil.
Merasa tak enak untuk menolak lagi akhirnya dia mengikuti ucapan Ryan. Akhirnya mereka ke kantor bersama.
***
Kenan dan Rena kini berada dibutiqe tempat mereka akan fitting gaun pengantin. Disana ada beberapa gaun yang telah dipilihkan oleh karyawan butique.
"Silahkan bu dicoba dulu bajunya,"
Rena mencoba beberapa baju yang telah diberikan karyawan itu padanya, tapi tidak satupun yang disukai Kenan.
"Kenan, ini sudah gaun ke lima yang aku coba, jangan bilang tidak suka lagi," Rena merasa kesal dengan sikap Kenan.
" Tapi aku tetap tidak suka, pilih gaun yang limited Edition," ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Hah?!" kesal Rena padnanya.
"Ini gaun yang termahal dan limited edition yang butique kami punya pak," tukas karyawan butique itu padanya.
"Hm, coba kamu berdiri sini," pintanya pada Rena
Rena berdiri dihadapannya. Terlihat gaun itu benar-benar cantik dan pas ditubuh mungil Rena. "Ini, bagian dadanya apa ga bisa tidak terlalu terekspouse? Sama bagian punggungnya jangan keliatan seperti ini!" protes lelaki itu yang melihat gaun Rena yang menampakkan bagian dada dan sebagian punggung Rena.
"Sayang, dimana-mana gaun pengantin emang seperti ini. Kalau kamu mau yang tertutup kenapa kamu suruh aku pakai gaun? Kenapa ga pake baju syar'i aja?" Rena merasa kesal dengan kelakuan absurd calon suaminya itu.
"Ya, maksud aku yang lebih tertutup biar sopan gitu," kilahnya pada Rena.
"Ah sudahlah kalau masih ga suka ya udah kita ga usah beli gaun pengantin aja," rajuk Rena ysng merasa lelah karena dari tadi hanya membuang waktu untuk memilih satu gaun saja.
"Jangan ngambek gitu sayang. Aku cuma ga mau kalau kamu pake gaun itu nanti malah jadi pusat perhatian," Kenan beralasan.
"Kalau tidak diperhatikan buat apa dipake?" kesal Rena lagi.
"Maksudķu, aku tidak suka jika lelaki yang menatapmu akan terfokus pada tubuhmu. Aku tidak suka itu. Karena dirimu hanya untukku,"frustasi Kenan yang terpesona pada kecantikan calon istrinya itu.
Harus diakui Gaun yang dipakai Rena sangat cocok ditubuhnya dan dengan kulit putih susu yang dia miliki. Hanya saja Kenan menjadi sedikit paranoid jika pria lain mencuri-curi pandang atas kecantikan Rena. Sungguh dia tidak ingin itu terjadi, karena Rena hanya miliknya seorang.
Rena menepuk keningnya melihat sikap Kenan sambil menggelengkan kepalanya. "Dengar Ken, aku tidak akan mengganti lagi. Kalau kau tidak suka aku tidak akan memilih gaun lagi," rajuk Rena padanya.
"Eh jangan begitu. Aku setuju, kita pilih gaun ini saja ya," bujuknya pada Rena.
"Mbak tolong dibungkus dan hitung harganya," tukas lelaki itu apda karyawan butique yang sedari tadi menunggu mereka.
__ADS_1
Karyawan itu segera membungkuskan gaun itu dan menghitung total belanjaan mereka sambil tersenyum kecil. Memang kelakuan Kenan ini sangat aneh tapi akhirnya dia setuju juga.