Love Betrayal

Love Betrayal
Aku Percaya Kamu


__ADS_3

Kenan mengerjapkan matanya ketika pagi telah tiba. Dirinya merasakan berat dibagian belakang kepalanya.


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Rena sambil membawakan secangkir coklat hangat untuk suaminya ke kamar.


"Iya sayang. Kepala aku berat banget rasanya," keluh Kenan pada sang istri.


"Kamu kebanyakan minum ya di pesta?" tanya sang istri padanya.


"Aku ga minum sayang, aku cuma minum jus aja tapi entah kenapa tiba-tiba kepala aku pusing banget dan pas aku sadar aku malah ada di hotel," jelas Kenan pada sang istri sambil mengingat kejadian malam itu.


Rena hanya menatap Kenan heran, dia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan suaminya. Rasanya dia ingin mempertanyakan apa yang terjadi malam itu tapi Rena tidak mau menyinggung perasaan lelaki itu. Dia tetap diam.


"Maafin aku sayang. Aku ga tahu kalau di acara itu ada yang berusaha menjebakku, tapi aku benar-benar ga tahu sama sekali," jelas lelaki itu lagi padanya sambil menggenggam tangan Rena.


Kenan tidak ingin Rena merasa kecewa padanya. Dia tidak ingin Rena kecewa padanya.


"Hm, kalau boleh jujur sebenarnya aku kesal banget sama kamu. Pulang-pulang mabuk dan berantakan begitu tapi kamu ga perlu khawatir. Sejauh ini aku percaya sama kamu mas. Aku ga mau hubungan yang udah kita jaga selama ini hancur begitu saja," jelasnya pada sang suami sambil menatap manik kecoklatan lelaki itu.


Rena mencoba untuk membuat lelaki itu tidak kehilangan harga dirinya dihadapan Rena. Meskipun dia sangat kesal tapi dia mencoba meredam amarahnya.


"Makasih sayang. Aku janji aku akan berhati-hati lagi supaya tidak ada yang mencoba merusak pernikahan kita," pungkasnya penuh penyesalan. Kenan memeluk erat sang istri.


Saat ini yang dia butuhkan hanyalah pengertian dari sang istri dan dia tidak ingin membuat wanita itu menjauhinya. Setelah berjuang begitu keras mendapatkan cinta Rena, Kenan tak mau pernikahannya dirusak begitu saja.


***


Anastasya baru saja sampai dikantor, dia segera menghubungi Alvian.


"*Mas, aku sudah melakukan tugas dengan baik. Aku juga sudah menyiapkan semua foto dengan sangat rapi,"


"Bagus sayang, apa kamu udah mengirimkan foto itu?"


"Pastinya mas. Aku sudah menyuruh kurir mengantarkannya ke rumahmu dan aku bisa memastikan orang dirumahmu akan shock, terutama Rena," Anastasya terkekeh dengan suara yang lepas.


Dia merasa sangat puas karena akan merebut kembali apa yang dimiliki Rena. Begitu juga Alvian, merasa sangat yakin bisa menghancurkan kepercayaan Rena pada Kenan*.


Sementara itu di kediaman Axcelle, Troy baru saja mendengar berita kematian Gloria Hills yang melibatkan nama Adrian disana.


"Apa? wanita itu telah tiada?" gumam lelaki itu sambil mengeraskan volume televisi.

__ADS_1


Axcelle yang mendengar sekilas gumaman Troy merasa penasaran.


"Kau mengenali wanita itu?" tanya Axelle padanya.


"Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku sedang menyelidiki tentang Adrian untuk mengetahui tentang dirinya. Saat itu aku meminta temanku untuk menyelidiki tentang lelaki itu dan dia mempunyai hubungan dengan wanita itu," jelasnya lagi.


Axelle hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya masih penasaran. Sebenarnya ada masalah apa antara Troy dan Adrian.


Tiba-tiba pintu apartemen diketuk oleh seseorang.


"Sebentar, sepertinya ada yang datang aku lihat dulu siapa yang datang," pungkas Axelle sambil berjalan menuju pintu.


"Axelle, Troy ada didalam?" seorang gadis dengan wajah penuh kecemasan berada di depan pintu.


"Jesica, ayo masuk dulu," ajak Axelle padanya. Gadis itu mengikuti perkataan Axelle dan masuk ke dalam apartemen itu.


Sementara Troy yang mendengar suara Jesica langsung menghampirinya.


"Sayang, kenapa kamu sepagi ini datang kemari?" Troy cukup kaget dengan kedatangan Jesica yang begitu mendadak.


"Tolong aku, Jenita mencoba mengakhiri hidupnya saat mengetahui Adrian telah memiliki istri. Terlebih lagi saat dia tahu Adrian memiliki kekasih lain," Jesica terisak menjelaskan pada kekasihnya.


"Aku sudah menelpon ambulance dan sekarang dia berada di rumah sakit. Hanya saja Jenita hanya memanggil nama lelaki itu terus," jelas Jesica yang tampak kebingungan.


Dia takut jika Jenita akan mengalami depresi jika tidak bertemu dengan Adrian, karena semenjak mendapatkan kabar tentang Adrian dari Jesica waktu itu dia hanya mengurung diri dikamar dan semua keceriaannya hilang.


***


Di rumah sakit, Adrian telah menemani Jenita. Tampak lelaki itu sedang duduk disisinya sambil memegangi tangan gadis muda yang pandangannya terlihat sayu.


"Adrian, kau bagaiman bisa kau ada disini?" Jesica terlihat sangat terkejut dengan kedatangan pria itu.


Bukan hanya Jesica bahkan Troy dan Axelle juga merasa heran mengapa laki-laki itu ada di rumah sakit?


"Maafkan aku Jes, aku tidak bisa meninggalkan Jenita dalam keadaan seperti ini. Waktu aku mengetahui Jeni mencoba mengakhiri hidupnya aku bergegas memesan tiket pesawat untuk kembali ke Indonesia untuk menemui Jeni," jelas lelaki itu padanya.


"Apa kau tidak mempunyai malu? Setelah menghancurkan perasaan adikku bisa-bisanya kau kembali lagi tanpa rasa bersalah. Kau pikir dia berbuat seperti itu karena siapa?" cecar Jesica padanya.


Jesica benar-benar kesal dengan sikap Adrian yang tidak bertanggung jawab dan tidak tahu malu.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah Jes, tapi aku mempunyai alasan untuk tidak meninggalkan Jenita. Aku mencintainya dari dulu hingga detik ini," jelasnya lagi.


"Cinta macam apa yang kau maksud? Cinta berkedok kebohongan?" tukas Troy yang jengah dengan kebohongan pria itu.


"Aku tidak bohong. Aku bisa jelaskan mengapa aku tidak pernah memberitahu kalian ataupun Jeni perihal pernikahanku," ucap lelaki itu penuh penyesalan.


"Terlambat Adrian, kau tidak hanya melukai Jenita tapi juga kami keluarganya. Sebaiknya kau jangan pernah menunjukkan wajahmu lagk disini!" titah Jesica dengan penuh amarah. Bahkan wanita itu tidak mau melihat wajah Adrian saat ini karena sangat marah.


Adrian cukup tahu diri atas insiden yang terjadi pada Jenita diapun segera beranjak dari tempat itu dan pergi meninggalkan Jenita, tapi gadis itu malah menggenggam tangannya dengan erat sehingga tangan Adrian tertarik satu sama lain dengan tangan gadis itu.


Adrian menatap sendu pada wanita yang dicintainya itu, Jeni tidak berkata apapun hanya air mata yang jatuh membahasahi wajah sayunya dari sudut mata indah itu.


"Jenita, biarkan dia pergi lepaskan lelaki tidak bertanggung jawab itu! " Jesica berusaha keras melepaskan genggaman tangan keduanya. Sungguh Jesica sangat frustasi karena ulah Jeni.


"Jeni, biarkan aku pergi. Aku sudah banyak melakukan kesalahan, aku tak pantas mendapatkan cintamu," bujuk lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.


"Karena kau melakukan kesalahan kau harus mempertanggung jawabkannya," jawab Jeni tanpa menatap mata lelaki itu.


Entah apa maksud perkataan Jenita saat ini. Apa dia sedang menyindiri atau memang sedang berkata yang sebenarnya.


"Apa maksudmu Jen? Aku tidak mengerti," lelaki itu tampak bingung oleh perkataan Jenita.


"Ini, lihatlah olehmu," gadis itu memberikan sebuah benda kecil ditangannya pada pria itu. Masih tak mau menatapnya.


"Testpack?" ujar lelaki itu kebingungan dan dia melihat dua garis merah disana.


"Kau ... kau hamil?" tanyanya terbata-bata.


Jeni mengangguk pelan.


"Oh sungguh ini suatu anugerah. Aku sangat bahagia sayang, aku pasti akan mempertanggung jawabkan ini. Lekaslah sembuh dan kita akan menikah," pungkas lelaki itu penuh kebahagiaan. Dia memeluk erat tubuh Jenita dengan penuh kebahagiaan.


Jesica, tersulut emosi. Dia menarik kerah baju pria itu dan menampar pipi pria itu dengan keras. "Dasar pria brengsek bisa-bisanya kau bahagia setelah merusak kehidupan adikku!"


"Jesi, kendalikan dirimu," tahan Troy pada wanita itu. Baru kali ini Jesica terlihat murka. Sangat menakutkan, tatapannya itu seperti tatapn seorang pembunuh.


"Kau boleh membenciku dan memukulku tapi aku tidak akan meninggalkan Jenita. Aku akan menikahinya," tegas pria itu pada Jesi.


Merasa tidak sanggup menahan semua kekecewaan itu Jesica merasa pusing dan akhirnya pingsan dipelukan Troy.

__ADS_1


__ADS_2