
Alvian meninggalkan apartemen Rena dengan perasaan jengkel, saat diparkiran dirinya berpapasan dengan Ryan.
"Mas Alvian, tumben ke sini. Ada perlu apa?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan anak-anakku," alasannya pada lelaki itu.
"Apa mas yakin cuma mau bertemu anak-anak?" selidiknya sambil menghampiri Alvian.
“Apa masalahmu hah?, apa aku salah jika aku menemui anak-anakku?” sungut lelaki itu sambil menatap tajam pada Ryan.
“Dulu aku percaya kalau mas masih peduli sama anak-anak, tapi sekarang aku ga yakin. Entah apa tujuan mas Alvian. Awas saja mas kalau sampai acar pernikahan kak Rena,” Ryan memperingatkannya.
Ryan tahu persis watak mantan kakak iparnya itu, lelaki itu pasti selalu akan mencari kesempatan untuk melakukan apapun demi keinginannya.
Merasa tidak terima dengan ucapan Ryan lelaki itu menjadi emosi dan langsung saja dia menghajar wajah lelaki itu dan dengan cepat Ryan menangkis tangan lelaki itu.
"Jangan macam-macam denganku mas, aku masih menghormatimu saat ini jangan sampai aku membalasmu," ujar lelaki itu padanya.
Sementara itu, Cederyn, Axelle, Troy dan Jesica. "Ada apa ini?"
Tanpa menyapa mereka Alvian masuk ke dalam mobilnya agar tidak memperpanjang perdebatan. Kemudian pergi dari tempat itu.
“Siapa itu Ryan?” Jesica yang belum pernah bertemu Alvian merasa penasaran.
“Dia mantan suami kak Rena,” jelas Ryan pada mereka.
“Maksudmu, itu kakaknya Kenan?” tebak gadis itu lagi.
“Iya kau benar Jes,” Ryan membenarkannya.
"Hm... Arogan sekali. Apa kau berdebat dengannya tadi?"
"Ya seperti yang kau lihat, tapi sudahlah lupakan saja kalian ke sini mau bertemu kak Rena bukan?" ujar Ryan lagi.
Mereka mengangguk bersamaan. Ryan segera mengantarkan mereka ke apartemen Rena.
***
Dalam perjalanan pulang, Alvian melihat Anastasya yang sedang berada di parkiran kantor. Dia memberhentikan mobilnya tepat dihadapan Anastasya.
“Kau sedang menunggu siapa?” ucap lelaki itu sambil membuka kaca mobilnya.
Anastasya yang baru saja melihatnya sedikit terkejut.
“Mas Alvian?” sapa gadis itu merasa heran.
__ADS_1
“Tidak usah kaget seperti itu, ayo masuk. Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” ajak lelaki itu padanya.
Bukan tanpa alasan Alvian tiba-tiba ingin mengantarkan wanita itu pulang. Alvian ingin membuat rencana bersama gadis itu. Awalnya wanita itu agak sedikit ragu, mengingat penolakan lelaki itu saat ditelpon padanya tempo hari.
“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku pergi bersamamu? Bukankah sebelumnya kau tidak ingin bekerja sama denganku?” Anastasya menatap intens padanya.
"Hm, setelah kupikir kembali tidak ada salahnya jika kita bekerja sama," ucap lelaki itu padanya.
Anastasya tersenyum licik melihat Alvian. Dia mengerti maksud dari wanita itu.
“Ternyata kau masih sama seperti yang dulu, masih licik dan penuh ingin tahu,” kekeh Alvian padanya.
“Ayolah Alvian, aku tahu betul bagaimana jalan pikiranmu. Pasti saat ini kau ingin mendekati anak-anakmu untuk mendapatkan simpatik dari mereka,” tebak wanita itu padanya.
“Okay, berhubung kau sudah mengerti apa yang aku pikirkan, bagaimana kalau kau membantuku untuk merusak pernikahan mereka?” senyum smirk terlukis dari wajah Alvian.
“Membantumu? Jika aku membantumu apa yang akan aku dapatkan?” wanita itu meliriknya dengan tatapan penuh arti.
“Tentu saja tidak. Tidak ada yang gratis di dunia ini sayang,” ucapnya sambil mencolek dagu Alvian.
“Baiklah, aku tahu saat ini kau sedang menyukai seseorang bukan?” tebak Alvian padanya.
“Ya, aku mau jika aku membantumu, bantu aku buat mendapatkan lelaki itu untukku juga,” jelas wanita itu padanya.
“Baiklah, tapi kau harus pastikan Rena tidak akan mempercayainya lagi,” pinta lelaki itu padanya kembali.
“Tentu, aku akan membuat mereka berpisah untuk selamanya,” senyum licik muncul diwajah Anastasya.
***
Di mansion, seorang wanita tengah duduk dikursi santainya.
“Apa nyonya lelah? Mau aku buatkan minuman hangat?” salah seorang asisten rumah tangga menghampirinya.
__ADS_1
Nilam, itu nama wanita yang telah bekerja sebagai asisten rumah tangganya itu. Dia mengabdikan dirinya semenjak Alvian dan Kenan semenjak kecil, tentunya Nilam sangat mengenal karakter mereka.
“Tidak Nilam, aku tidak haus,” wanita paruh baya itu hanya menghela nafas.
“Aku pijat saja ya, nyonya pasti lelah. Nyonya paling suka kan dengan pijatanku,” ujar ART itu lagi.
Dia paling bisa membuat nyonya besarnya itu merasa nyaman. Dengan lincah jemarinya kini memijat pelan bahu sang nyonya. Dan wanita itu juga merasakan perlahan rasa penatnya mulai menghilang. Ternyata pijatan ART nya itu cukup ampuh.
“Nah, benarkan kalau sudah dipijat nyonya pasti akan merasa lebih baik,” pungkas wanita itu padanya.
“Terimakasih Nilam, kau paling memahami diriku. Kemarilah Nilam aku ingin bicara sebentar denganmu,” tukasnya pada ART itu untuk duduk didekatnya.
ART itu duduk didekatnya, “iya nyonya Diandra, nyonya mau bicara apa?”
“Apa menurutmu aku bersikap buruk pada Kenan?” tanyanya pada Nilam.
“Kenapa nyonya berkata seperti itu?” ART itu merasa bingung untuk menjawab.
“Aku hanya ingin kau menilaiku, katakan sejujurnya apa perlakuanku pada Alvian dan Kenan ada yang salah?” tanyanya lagi pada ART itu.
“Aku tidak bisa menilai apapun dari anda nyonya, hanya saja sebagai orang yang telah lama mengurus anggota keluarga di mansion ini, aku hanya bisa mengatakan sebagai seorang ibu anda lebih berpengalaman daripada aku, tapi jika aku boleh menyarankan ada baiknya anda lebih memperhatikan tuan Kenan, maaf jika perkataanku ini salah nyonya,” ujar ART itu dengan sangat sopan.
Dia tak ingin membuat majikannya itu tersinggung, hanya saja yang dikatakannya itu benar. Sejauh ini Diandra hanya memperdulikan Alvian dibanding Kenan. Sekiranya dengan perkataan yang baru dijelaskan Nilam, dia bisa menyadari sikapnya selama ini.
“Aku mengerti, aku terlalu menekan anak itu. Satu lagi, menurutmu apa jika Kenan menikahi Rena itu akan lebih baik baginya?” tanya wanita paruh baya itu lagi.
Kali ini dia sungguh-sungguh ingin mendengarkan pendapat wanita itu tentang Rena.
“Maaf nyonya saya tidak bisa menilai lebih jauh. Hanya saja selama saya mengenalnya, nyonya Rena adalah perempuan yang baik dan sangat perhatian pada keluarga. Jadi jika tuan muda Kenan menikah dengannya saya rasa tidak ada salahnya,” jelas ART itu lagi.
Diandra hanya mengangguk mendengar pernyataan ART nya itu. Memang yang dikatakan ARTnya itu benar adanya. Sejauh dirinya mengenal Rena selama masih menjadi istri Alvian dulu, wanita itu juga menunjukkan sikap baiknya sebagai wanita yang dicintai anaknya. Lantas alasan apa yang membuatnya menolak Rena untuk bersama dengan Kenan jika itu bisa membuat anaknya menjadi lebih baik lagi?
Mungkin ada baiknya jika dirinya mencoba membuka diri dan menerima Rena menjadi bagian dari keluarganya kembali.
__ADS_1