
Rena tertegun setelah keluar dari mansion. Didalam mobil tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Rena hanya menatap kepada dua malaikat kecilnya yang tertidur pulas dari kaca depan mobil. Tidak dapat Rena bayangkan jika harus berpisah dari anak-anaknya. Sungguh pilihan yang rumit, apakah dia harus memilih cintanya atau haru memilih anak-anaknya?
Wajah cantik yang penuh keceriaan itu, seketika menyendu. Kenan yang memperhatikan Rena semenjak tadi, memberhentikan mobilnya ketika sampai di taman kota.
"Kenapa berhenti disini? Kitakan belum sampai di apartemen," Rena merasa heran.
"Maafkan atas sikap momy padamu, aku tahu momy tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Jangan berpikir kalau momy ingin melukai perasaanmu," Kenan menggenggam tangan Rena sambil menatap dalam manik kecoklatan milik wanita itu.
"Aku bisa mengerti Ken, apa yang dikatakan mamamu benar. Kamu harus bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku," lirih Rena menatap sayu pada Kenan.
"Sssttt, aku tidak suka kamu bicara seperti itu. Kita sudah berkomitmen Rena dan aku tidak akan mundur hanya karena ucapan momy, aku pasti bisa membuat momy mengerti," Kenan begitu optimis dengan ucapannya.
"Tapi Ken, bagaimana jika momy tetap tidak setuju?" Rena sedikit ragu dan mulai putus asa.
"Kalau memang tidak ada jalan lain, aku akan membawamu dan anak-anak pergi dari sini, jangan takut aku bersamamu Rena," tegas Kenan padanya.
Rena hanya menghela nafas. Entah kapan penderitaannya akan berakhir.
***
"Jadi bos Kenan benar akan mrnikahi nyonya Rena?" tanya Troy yang sedang bersiap-siap keluar dari rumah sakit.
"Iya, aku dengar begitu dan rencana pernikahan mereka akan diadakan dalam waktu dekat," jelas Axelle yang ikut membantu Troy berbenah.
"Sepertinya kau bahagia, lihatlah wajahnya begitu bersemangat sekali sekarang," goda Cedereyn yang melihat raut kebahagiaan dalam mata pria itu.
"Oh ya, bagaimana denganmu dan Jesica?" selidik Axelle padanya, yang sukses membuat Troy salah tingkah.
Axelle dan Cedereyn yang memperhatikan sikap Troy saling menatap dan tersenyum penuh makna. Disela-sela percakapan mereka, seseorang mengetuk pintu ruang rawat Troy.
"Masuklah," sahut Troy didalam.
Saat pintu dibuka semua mata tertuju pada orang yang masuk ke dalam ruangan itu. "Selamat siang Troy, bagaimana keadaanmu?" sapa gadis itu dengan senyuman indah diwajah cantiknya.
"Ya seperti yang kau lihat, karena kau yang merawatku aku telah sembuh sekarang," goda Troy pada wanita itu.
"Ini semua bukan karena aku, tapi Tuhan yang masih memberi kesempatan untukmu dan juga dirimu yang berusaha untuk tetap bertahan," jelas Jesica padanya.
__ADS_1
"Jika boleh memilih, aku lebih suka sakit saja supaya aku tetap bisa disini bersamamu," pungkasnya sambil menatap Jesica.
Astaga, lelaki ini sedang apa? Mengapa dia malah merayu Jesica dalam keadaan seperti ini?
"Kau itu, sudah berapa banyak wanita yang sudah kau jebak dengan rayuan murahanmu itu?" ejek Jesica padanya sambil mengganti perban Troy.
"Baru kau, karena aku hanya ingin merayumu saja bukan wanita lain," Troy menggenggam tangan Jesica dan memperhatikannya dengan serius.
Untung saja Axelle dan Cedereyn telqh keluar dari kamar itu saat ini. Jika tidak wajah Jesica pasti sudah seperti kepiting rebus karena diperhatikan mereka.
"Apa yang kau lakukan Troy? lepaskan tanganku, jika ada yang melihat kita bagaimana?" Jesica cukup kaget dengan sikap Troy.
Bukannya melepaskan tangan Jesica, Troy malah menariknya ke dalam pelukannya, "katakan padaku Jes, jika kita berada sedekat ini apa yang kau rasakan?"
Jesica tersentak saat dirinya berada dalam pelukan Troy, gadis itu tidak berontak malah dia membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan lelaki itu, apa dia sengaja memancing?
"Apa yang kau inginkan Troy?" Jesica balik bertanya padanya.
"Aku hanya ingin tahu apa kau mempunyai perasaan yang sama denganku atau tidak?"
Wajah mungil Jesica kini dorangkup dalam satu genggaman oleh Troy dan dia mengusap pelan bibir merah muda itu.
Merasa tertantang, Troy hanya menjawab dengan mendaratkan ciuman dibibir Jesica. Tidak ada perlawanan, malahan gadis itu menikmatinya. Hingga terdengar suara pintu terbuka.
"Hm..." seseorang mendehem dari balik pintu.
Troy dan Jesica yang terkejut dengan suara itu segera melepaskan ciuman mereka dan membenarkan posisi mereka masing-masing.
"Apa kehadiranku mengganggu kalian?" tanya seorang wanita pada mereka.
"Jenita? sejak kapan kau ada disini?" Jesica merasa kaget saat saudara kembarnya menghampirinya.
"sejak kalian berciuman tadi," jawab Jenita dengan pasti.
Gadis ini memang sangat to the point sekali dia selalu berbicara dengan sangat lugas.
Mendengar jawaban Jenita Troy menjadi tidak enak hati pada Jesica.
__ADS_1
"Ikut denganku, mau apa kau kesini?" Jesica menarik lengan Jenita mengajaknya keluar.
"Eh tunggu dulu, aku mau menyapa kakak ipar, hai," gadis itu menoleh ke arah Troy sambil melambaikan tangannya pada Troy dan pria itu hanya membalas dengan senyuman.
"Ayo cepat katakan ada apa menemuiku disini?" Jesica mendesaknya.
"Kakak, aku dari tadi mencarimu karena aku butuh bantuanmu,"
"Memangnya kau mau aku membantumu bagaimana?"
"Aku mau kakak datang ke acara seni ku besok malam," jelas gadis itu padanya.
"Oh ternyata itu, kenapa tidak menelponku saja?" Jesica menghelas nafas.
"Aku sudah menelpon kakak dari tadi, tapi kakak tidak mengangkat telponku. Coba lihat ponsel kakak,"
Jesica mencari ponsel di sakunya tapi tidak ada. Dia lupa kalau ponselnya dia taruh diruang kerjanya.
"Astaga, aku lupa ternyata ponselku tertinggal diruang kerjaku," ucapnya sambil menepuk keningnya pelan.
"Hufh pantas saja, aku telpon dari tadi tidak diangkat ternyata ketinggalan. Ya sudah kalau begitu aku balik dulu, jangan lupa datan ke pameran seniku. Salam buat pacarmu ya," godanya pada sang kakak.
Jesica hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan konyol adik kembarnya.
"Sudah sana pergi," Jesica menyuruh adik tengilnya pergi.
Sementara itu Axelle dan Cedereyn telah berada dibelakangnya dengan membawa Troy dikursi roda.
"Dokter, kami mau izin pulang, karena Troy sudah baikan kami akan membawanya kembali ke apartemen," jelas Axelle pada dokter muda itu.
"Terimakasih, telah membantuku selama aku dirawat di rumah sakit ini. Jangan lupa ya, dengan perjanjian kita," goda Troy padanya.
Jesica hanya tersenyum mengerti maksud Troy. Dia masih mengingat kejadian di kamar rumah sakit tadi.
"Perjanjian apa? Kalian membuat kesepakatan apa?" selidik Axelle dengan wajah ingin tahunya.
Troy dan Jesica hanya tersenyum penuh arti menatap Axelle yang kebingungan.
__ADS_1
"Hei sudahlah, biarkan mereka menemukan kebahagiaan mereka," tukas Cedereyn yang mengerti akan maksud dari Troy dan Jesica dari tatapan matanya yang mereka tunjukkan.