
Setelah pertemuannya dengan Axelle, Troy jadi berpikir ulang untuk membantu Kenan menyelidiki gadis yang bernama Jesica. Dirinya takut kalau nantinya Jesica malah menyukai Kenan.
"Hei, lagi memikirkan apa? Sepertinya serius sekali," suara seorang gadis menyentakkannya dari lamunan.
"Jesica," lelaki itu membalikkan tubuhnya memperhatikan Jesica yang berada dihadapannya.
Jesica tersenyum sambil mendekati Troy. "Kenapa Troy? Kau terlihat sangat terkejut,"
"Ah tidak, kau sedang apa disini?" Troy melihat Jesica yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Aku sedang menunggu adikku, tadi dia memintaku menemaninya jalan-jalan di taman," jelas Jesica padanya.
Adik? Jesica punya adik? Troy merasa penasaran. Siapa adik Jesica?
Selang berapa lama mereka menunggu, muncul seseorang yang begitu mirip dengan Jesica.
"Hai, apa kau lama menungguku?" sapa gadis itu pada Jesica.
"Tidak, aku menunggumu bersama Troy. Troy kenalkan ini adikku Jenita," Jesica memperkenalkan adiknya dengan Troy.
Sejenak dirinya terpana dengan sosok gadis cantik yang berada dihadapannya. Gadis yang bernama Jenita itu terlihat sangat mirip dengan Jesica.
"Ka ... kalian kembar?" tunjuk Troy memperhatikan kedua gadis itu.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Jesica memiliki saudara kembar. Hatinyapun mulai bertanya-tanya apa bos Kenan tidak tahu bahwa Jesica memiliki kembaran.
"Troy kami pulang dulu ya, lain kali kita bertemu lagi, " tukas wanita itu sambil tersenyum.
"Eh, tunggu. Aku antar kalian pulang," pinta Troy.
Bukan tanpa alasan Troy mengajak mereka pulang bersamanya, justru karena dia penasaran dengan dua gadis kembar ini.
"Tidak perlu Troy, nanti akan merepotkanmu. kami pulang sendiri saja,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sekaliam saja. Kebetulan aku juga ingin pulang. Kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal dekat sini juga," ujar Troy sambil membukakan pintu mobilnya.
Merasa tak enak hati, Jesica dan Jenita mengikuti keinginan Troy. Merekapun meninggalkan taman.
Diperjalanan Jenita banyak bertanya tentang Troy dan keluarnya. Gadis itu sangat lincah dan memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi.
berbeda sekali dengan kembarannya, Jesica yang terlihat lebih anggung dan tidak banyak bicara. Sungguh kepribadian yang sangat kontras perbedaan diantara mereka.
Sesampainya di tempat tujuan, Jesica dan Jenita keluar dari mobil, dengan ramah Jesica mengajak Troy untuk mampir.
"Troy, apa kau ingin minum kopi bersama kami?" Jesica berbasa basi pada Troy.
"Tidak Jes, lain kali saja. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus.
"Ayolah Brother in law kau belum mencoba kopi buatan kakakku. Dia sangat pandai membuat kopi kau pasti suka," ucap Jenita dengan ceplas ceplos.
Sembarangan sekali gadis ini, seenaknya dia bilang brother in law pada Troy.
Troy hanya tersenyum, hatinya sedikit tergelitik dengan kata-kata brother in law yang baru saja diucapkan Jenita. Andai saja itu benar terjadi mungkin Troy akan merasa bahagia sekali tapi sayangnya harapan itu sangat tipis baginya.
"Lain kali saja. Aku akan mampir untuk mencoba kopi buatanmu Jes," senyum manis terukir dari wajah Troy.
Jesica dan Jenita tersenyum memperhatikan Troy dan merekapun berpisah setelah Troy melambaikan tangannya untuk berpamitan.
***
Kenan baru saja kembali ke rumahnya. Hari ini Kenan ingin membuktikan keeseriusannya pada Rena. Sengaja saat mengajak Rena makan siang bersama ke restoran itlia , tujuannya adalah untuk menunjukkan pada ibu dan saudaranya bahwa dirinya tidak ingin menikah jika tidak dengan Rena.
"Tumben sekali, lo datang ke rumah. Biasanya kalau ga ditelpon mama suruh pulang lo ga bakalan pulang," Alvian melihat Kenan yang baru saja pulang.
Ini suatu pemandangan yang aneh baginya. Alvian mengawasi dengan intens apa sebenarnya tujuan Kenan datang ke rumah.
__ADS_1
"Mom ... Momy aku ingin menunjukkan sesuatu sama momy," Kenan memanggil-manggil sang ibu tanpa menggubris pertanyaan Alvian.
Sang ibu yang mendengar teriakannya segera menghampirinya.
"Kenan, mengapa kau berteriak seperti itu nak?"
"Mom, aku pernah bilang pada momy bahwa momy tidak perlu menjodohkanku dengan orang lain karena aku sudah punya pasangan yang tepat untukku. Sekarang aku mau buktikan pada momy dan juga mas Alvian, kalau aku telah melamar wanita itu dan dia menerimaku," jelas Kenan dengan penuh keyakinan.
"Apa? maksudmu kau melamar Rena?" Alvian yang terkejut dengan ucapan Kenan langsung masuk kedalam pembicaraan mereka.
Dia sungguh-sungguh panik, jika sampai Rena mau menerima Kenan.
"Kenapa mas? Mukanya kayak ga rela banget aku melamar Rena?" pancing Kenan pada kakaknya.
Alvian merasa kesal dengan ucapan Kenan membuat wajahnya menegang dan telinganya memerah tapi dia tetap berusaha setenang mungkin menghadapi Kenan.
"Kenan! Apa yang kau katakan? Momy sudah bilang, momy tidak akan setuju jika kau menikah dengan wanita itu. Jika kau bersikeras untuk mempertahankan hubunganmu dengannya, sebaiknya kau pergi dari rumah ini," sang ibu begitu marah dengan sikap Kenan.
"Baiklah momy, jika itu yang momy mau akan kulakukan. Aku akan pergi dari rumah ini dan pastinya aku akan membawa Rena bersamaku," tukas Kenan pada sang momy sambil menatap penuh kemenangan pada Alvian.
Bukankah itu akan menjadi sangat menguntungkan bagi Kenan. Dengan dirinya menjauh dari rumah pastinya dia akan hidup bahagia bersama Rena dan hal itu pula yang akan membuat Alvian meradang.
Mendengar ucapan sang ibu dan pemberontakan dari Kenan membuat Alvian murka.
"Apa yang momy katakan, momy menyuruhnya pergi dari rumah? Tidak mom. Itu tidak boleh terjadi. Jika itu terjadi Kenan akan merasa senang mom, itu yang dia inginkan pergi menjauh dari kita dan hidup bersama Rena," sesal Alvian pada sang ibu.
Melihat Kenan tersenyum dengan wajah berseri membuat Alvian kesal, mengapa sang ibu sangat gegabah mengambil keputusan.
"Kenan, momy tidak mau tahu. Pokoknya tinggalkan perempuan itu dan menikah dengan Jesica," pungkas sang ibu kemudian meninggalkan perdebatan merek.
Kini hanya tinggal Alvian dan Kenan diruangan itu. Alvian menatap tajam pada sang adik. "Kau pikir kau sudah menang Ken? Ini baru permulaan, kau lihat saja aku tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan menghancurkan hubunganmu dengan Rena," ancam Alvian pada Kenan.
"Silakan mas. Aku tunggu saat itu tiba dan aku pasti akan membawa Rena menjauh darimu untuk selamanya," sahut Kenan tak mau kalah.
__ADS_1
Dirinya benar-benar sudah muak dengan sikap Alvian yang selalu melibatkan sang ibu dalam setiap permasalahan mereka. Alvian memang selalu memanfaatkan kesempatan itu, karena dia tahu sang ibu pasti akan selalu berpihak padanya karena sang ibu sangat menyayangi Alvian dibandingkan Kenan. Maka dari disetiap kesempatan Alvian akan selalu mencari alasan dengan meminta keputusan sang ibu dalam setiap permasalahannya dengan Kenan.
Kenan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dirinya tidak memperdulikan lagi dengan perjodohan itu karena urusannya sudah selesai. Dia telah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Urusan diterima atau tidak dia tidak mau perduli. Baginya kebahagiaannya adalah saat bersama Rena.