
Baru saja Rena sampai di pekarangan sekolah, dua anak kecil berhamburan menghampirinya.
"Momy ... " dua bocah kecil itu menghampiri Rena dengan pelukan hangatnya.
Rena langsung memeluk dan menciumi kedua anaknya.
"Malaikat kecilnya mama. Bagaimana tadi sekolahnya?"
"Seru mom, tadi aku dapat nilai bagus," ujar Belvada sambil menunjukkan hasil ujiannya.
"Wah anak mama emang pintar," satu ciuman mendarat dipipi gadis kecil itu dari Rena.
"Abang juga ada berita bagus ma," sahut Dhafi yang tak mau kalah.
"Oh ya, berita bagus apa sayang?" tanya Rena sambil menatap putranya.
"Abang terpilih jadi ketua kelas momy," ucapnya dengan bangga.
"Abang keren ni. Jadi ketua kelas sekarang," Rena mengusap pelan kepala Dhafi dan memeluknya.
Kenan yang memperhatikan pertemua para anak dan ibu itu merasa sangat bahagia. Dirinya tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka.
"Momy, om ini siapa?" Dhafi melirik ke arah Kenan yang berdiri dihadapan mereka.
"Perkenalkan nama om Kenan," tangan Kenan terulur untuk menyambut salam persahabatan dari kedua bocah itu.
Namun, anak-anak itu sedikit takut karena belum mengenalnya dan hanya memperhatikan sang ibu.
"Anak-anak ayo salam sama om Kenan, itu teman mama kalian jangan takut. Om Kenan itu baik."
Para bocah itu masih meragu dan memeluk sang ibu dengan erat, tapi bukan Kenan namanya kalau tidak bisa merebut hati siapapun termasuk para malaikat kecilnya Rena.
"Sebentar, om ada sesuatu untuk kalian," Kenan kembali masuk ke mobilnya dan membawakan sesuatu dari dalam mobilnya.
"Tada... Ayo siapa yang mau hadiah dari om?" bujuk Kenan pada kedua anak manis itu.
Melihat coklat dan mainan yang ditunjukkan Kenan pada mereka. Para bocah kecil itu segera mendekat pada Kenan dan memilih hadiah yang mereka sukai dari tangan Kenan.
"Aku mau Barbie dan coklat," Belvada segera mengambil hadiah yang dia suka.
"Aku mau mobil-mobilan sama marvel," Dhafi tak mau kalah juga langsung memilih mainannya.
"Ken, kau membelikan mainan dan makanan untuk mereka?" Rena cukup terkesan dengan apa yang dilakukan Kenan pada anak-anaknya.
__ADS_1
Tapi sejak kapan Kenan membelinya? Bukannya dia tadi baru dari kantor?
"Tadi aku mampir sebentar untuk membelikan itu untuk anak-anak. Kan kau sendiri yang bilang akan menjemput mereka,"jelas Kenan padanya.
"Jangan memanjakan mereka seperti itu Ken," Rena merasa tak enak hati pada lelaki itu, karena pemberiannya itu cukup mahal.
"Tidak Ren, aku cuma membelikan itu untuk hadiah mereka,"
Rena hanya tersenyum dan sambil menatap anak-anaknya. "Bilang apa sama om Kenan?" Rena mengingatkan
"Terimakasih om," ucap mereka bersamaan.
"Sama-sama sayang," jawab lelaki itu sambil mengusap kepala dua bocah itu.
Kedua bocah itu kini disibukkan dengan mainan mereka, sementara Kenan menyetir mobil dengan disampingnya duduk Rena yang tengah mengedarkan pandangannya keluar.
"Mereka anak-anak yang manis," Kenan membuka pembicaraan sambil memperhatikan anak-anak itu dari kaca depan mobilnya.
"Mereka memang begitu, kalau suka sama seseorang pasti mereka langsung akrab," Rena merasa senang karena anak-anaknya begitu ceria saat bertemu Kenan.
Kenan sendiri sebenarnya sangat menyukai anak-anak, oleh sebab itu setiap kali bertemu anak-anak pasti ada saja hal menarik yang membuat anak-anak betah bersamanya.
Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Kenan telah sampai di restoran mereka segera memesan makanan.
Axelle baru saja membersihkan bar yang telah digunakan para pengunjung agar menjadi rapi. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Kau sudah merapikan semuanya sepagi ini?" seorang wanita yang masih mengenakan pakaian minim mendekatinya.
Sepertinya wanita itu baru saja bangun dari malam panjang yang telah dilaluinya bersama pria yang membookingnya tadi malam.
"Ah, kau sudah bangun Caddereyn?"
Wanita itu hanya tersenyum sambil mengambil segelas air mineral.
"Apa kau mau pulang sekarang?" Axelle melirik ke arah gadis itu sambil menyusun kursi ke atas meja.
"Hm, tentu. Aku akan pulang sekarang,"
"Bagaimana semalam? Apa kau melewati semuanya dengan sangat bahagia?" tanya Axelle dengan wajah menyelidik.
"Tentu saja, bermalam bersama lelaki seperti Kenan itu sangat membuat tiap wanita bangga pernah bertemu dengannya," Adriana terlihat begitu bahagia saat mengingat bagaimana dia melewati malam bersama pria tampan itu.
Axelle hanya tersenyum getir mendengar ucapan wanita itu yang seakan tak merasa bersalah dan berdosa sedikitpun. Axelle melanjutkan pekerjaannya tak menggubris wanita itu lagi.
__ADS_1
"Axelle terimakasih ya telah mengenalkanku pada pria tampan itu. Aku pulang dulu," wanita itu mendekatkan dirinya pada Axelle dan mencium pipi lelaki muda itu sebagai ucapan terimakasih.
Axelle hanya tersenyum memperhatikannya. Sebenarnya ada rasa yang ingin disampaikannya pada wanita itu tapi dia mengurungkan niatnya. Mungkin belum waktunya dia mengungkapkannya pada wanita itu.
Semenjak Adriana bekerja di club yang dirinya juga bekerja disana, ada rasa ketertarikan yang menyelinap dalam hati Axelle, tapi dirinya tak mampu mengungkapkannya.
Mata lelaki itu masih mengekori punggung wanita yang baru saja keluar dari club hingga benar-benar menjauh dari pandangannya.
Satu tepukan dipundaknya mendarat begitu saja, "apa yang kau pikirkan? apa kau menyukainya?" seorang lelaki mendekatinya.
"Kau Troy, mengagetkan saja," ujarnya sambil berbalik melihat ke arah lelaki itu.
"Kau menginginkannya bukan? Mengapa kau tidak katakan saja apa yang ada didalam hatimu padanya?" goda Troy sambil menghisap rokoknya.
"Itu bukan urusanmu," jawab Axrlle datar sambil tersenyum simpul.
BRAK!!!
Tiba-tiba saja, suara sesuatu tertabrak dari luar sana.
"Suara apa itu?" Troy tersentak kaget sambil menatap ke arah Axelle.
Axelle yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, langsung bergegas menuju keluar ruangan. Dirinya berlari dengan sangat cepat menuju ke arah suara keras yang baru saja didengarnya. Begitu juga dengan Troy yang merasa penasaran, ikut berlari bersama lelaki itu.
"CEDDEREYN!!!" teriak Axelle yang telah berada ditengah-tengah kerumunan masa yang sedang melihat kecelakaan.
Seorang gadis muda baru saja di tabrak oleh mobil, gadis itu bersimbah darah. Darah mengalir begitu deras dari kepalanya. Axelle yang melihat kejadian itu langsung mendekat ke arah gadis itu dan memeluk tubuh gadis itu.
"Caddereyn, bangunlah. Bertahanlah, buka matamu, buka matamu Adriana," lelaki itu terlihat sangat gelisah.
"Hei kalian, mengapa diam saja? Ayo cepat panggilkan ambulance," pintanya pada orang-orang disekitar sana.
Sementara Troy yang melihat lelaki yang menabarak gadis itu berusaha memundurkan mobilnya dan berusaha kabur, seketika menghadang lelaki itu.
"Hei, berhenti!!! Jangan coba-coba lari," titahnya pada lelaki yang berada didalam mobil itu.
Namun, karena dia sedang melajukan mobilnya lelaki itu bisa meloloskan diri begitu saja.
Troy yang tak mau kehilangan jejak penabrak itu bergegas mengambil mobil yang berada di sekitar lokasi kejadian dan mengejar penabarak tak bertanggung jawab itu, terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka. Namun, sialnya lelaki itu menerobos lampu merah. Saat Troy mencoba mengikutinya ternyata sudah banyak kendaraan menghadang untuk menyebrang sehingga dia harus menghentikan laju mobilnya dan terjebak dilampu merah.
"Aarghhh Dam it !!! " Kesal lelaki itu sambil memukul stir mobilnya.
Dia benar-benar merasa kesal karena kehilangan jejak dari penabarak itu. "Kurang ajar, bisa-bisanya aku terjebak di sini," gerutu lelaki itu sambil mengelakson panjang ke arah pengemudi didepannya. Membuat pengemudi itu menjadi kesal dan menjulurkan kepalanya lalu mengacungkan jari tengahnya pada pria itu.
__ADS_1