
Setelah mengakhiri perdebatannya dengan kembaran sang suami, Stevany memutuskan untuk masuk ke kamar. Dia sangat menyadari betul apa yang dikatakan Antony tadi benar adanya, tapi dia tak perduli dan lebih memilih mempertahankan pernikahan semunya itu. Mungkin itulah cara yang dapat dia lakukan untuk menikmati rasa cintanya pada Adrian, meskipun harus terluka tapi harus menikmatinya
Lelah menanti kepulangan sang suami, Stevany tertidur dikamarnya dan tiba-tiba saja Adrian pulang dalam keadaan mabuk berat. Lelaki itu membuka pintu kamar itu dan melihat sang istri yang tertidur lelap ditempat tidur.
Samar-samar dia melihat ke arah wanita itu. Dia mengusap pelan kedua matanya. Dia seakan melihat orang yang begitu dicintainya disana.
"Jenita ... Jenita sayang kau ada disini?" lelaki itu menghampiri wanita yang berada di ranjangnya dan dengan cepat tangannya merangkul wanita yang tengah terlelap itu.
Lelaki itu mengusap pelan rambut wanita yang dirangkulnya, mengecup pelan puncak kepala dan setiap jengkal bagian wajah wanita itu. Stevany yang tengah tertidur perlahan membuka matanya karena merasakan ada yang menindih tubuhnya dan saat membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat sang suami yang tengah memeluk erat tubuhnya dan memperlakukannya penuh kasih sayang. Ada hasrat dan kerinduan didalam manik pria itu, membuat Stevany merasa dirinya menjadi berarti malam itu.
Adrian yang masih dalam keadaan mabuk dan menganggap itu adalah Jenita langsung menarik pakaian wanit yang berada dihadapannya dan dengan sekali tarikan yang cukup kuat dengan mudah dia telah merobek dan membuang ke sembarang tempat pakaian itu. Manik mata yang telah dipenuhi kabut asmara dan penuh hasrat bergairah itu langsung menyusuri tiap bagian dari tubuh wanita yang hanya membiarkannya melakukan semua tanpa perlawanan.
"A ... Adrian, ahh aku ingin keluar," bisik wanita itu saat prianya mulai semakin agredif dengan aktifitasnya dibagian bawah dari tubuhnya. Prianya tidak memperdulikan ucapan si wanita dan terus melakukan aksinya hingga membuat wanitanya harus melakukan pelepasan. Hal itu membuat Adrian semakin bersemangat. Lelaki itu semakin menggila dengan perbuatannya dan tanpa berlama-lama dia menuntaskan hasratnya.
Bahagia dan merasa puas itulah yang dirasakan Stevany saat suaminya menyentuhnya meskipun racauan yang keluar dari mulut pria itu bukanlah namanya, dia tetap merasa bahagia karena suaminya mau menghabiskan malam bersamanya. Mungkin karena lelaki itu dalam keadaan tidak sadar tapi bisa bersama dengan Adrian merupakan hal paling menyenangkan baginya.
***
Pagi hari saat mentari menyingsing menyilaukan mata, Adrian mulai mengerjapkan mata dan membuka matanya perlahan.
"Selamat pagi sayang, apa kau menikmati malammu?" sambut wanita yang berada disisinya.
Wanita itu memeluk hangat tubuh polos sang suami. Meskipun suaminya hanya sedikit terkejut memperhatikan keadaan merekq yang sedang tak berbalut sehelai benangpun saat ini. Dirinya mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi tapi akibat terlalu banyak minum membuatnya tidak bisa mengingat apapun da akhirnya hanya membiarkan wanita itu memeluknya begitu saja.
__ADS_1
"Aku pasti terlalu banyak minum tadi malam. Apa aku memperlakukanmu dengan kasar?" Adrian bertanya seakan tak ingin menyakiti wanitanya.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dan tetap membenamkan kepalanya didada bidang suaminya. Sungguh saat ini dia tak ingin melepaskan pelukan itu. Baginya itu adalah cinta yang diharapkannya meskipun tidak sama halnya dengan yang dirasakan oleh ptia yang berada disisinya saat ini.
Adrian yang memperhatikan sang istri dalam keadaan seperti itu, hanya membiarkan Stevany berada dalam pelukannya lalu mengusap kepala wanita itu dengan lembut, hingga sampai ponselnya bergetar. Ada satu panggilan video masuk. Adrian melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata itu Jenita. Dirinya bergegas menggeser tubuh sang istri darinya.
"Maaf, ada panggilan masuk aku harus segera mengangkatnya," tukas lelaki itu pada wanitanya. Sang wanita hanya menurut dan segera beranjak dari tubuh lelaki itu.
Adrian membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya lalu mengenakan boxernya dan meninggalkan kamarnya. Dia segera merapikan dirinya kemudian mengangkat panggilan masuk itu.
"Halo sayang, tumben pagi-pagi sekali kamu menelponku," Adrian begitu bahagia saat menerima telponnya.
Terlihat wajah seseorang yang dirindukannya dalam video call itu. Senyuman indah dengan bola mata yang indah membuat gadis didalam layar itu begitu cantik.
"Maaf sayang, aku lupa. Setelah sampai disini aku dijejali dengan banyak pekerjaan sampai-sampai aku lupa memberi tahumu kalau aku sudah sampai," lelaki itu menyesali perbuatannya dan menunjukkan wajah sedihnya.
Memang dia sangat sibuk setelah sampai di London. Hampir dua minggu meninggalkan perusahaan banyak tugas yang telah menumpuk disana yang harus diselesaikannya, tapi bukan itu alasan utamanya hingga dia harus mengabaikan wanita yang dicintainya itu. Semenjak kepulangannya Stevany tidak mau melepaskannya bahkan selalu memata-matainya dengan menyuruh orang suruhannya mngikuti kemanapun Adrian pergi. Supaya aman dan Jenita tidak terusik lelaki itu sengaja tidak menghubunginya.
"Hm, baiklah aku pikir kau telah melupakanku dan menemukan gadis baru disana," rajuk wanita itu padanya."
"Tidak sayang. Aku tidak mungkin bisa mencintai wanita lain selain dirimu," bujuk lelaki itu padanya.
"Baiklah kalau begitu aku percaya padamu, tapi janji ya kau akan menghubungiku lagi," ujar gadis itu dengan manjanya.
__ADS_1
"Iya sayang," pungkas lelaki itu sambil mengusap kepala gadis yang berada dilayar ponselnya. Setelahnya panggilan itu berakhir.
Dari balik dinding kamar, ternyata Stefany sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
Kau tidak pernah berubah Adrian, setelah bertahun-tahun lamanya berpisah dari mantan kekasihmu itu kau masih saja berhubungan dengannya bahkan kau masih mencintainya! Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi. Kau milikku Adrian dan tidak satupun boleh mendapatkanmu, lirihnya dalam hati. Stevany merasa sangat yakin Adrian pasti bisa belajar mencintainya. Meskipun dari awal mereka menikah Adrian tidak pernah menganggapnya ada dihatinya tapi Stevany sangat yakin jika waktu akan mengubah segalanya.
Stevany memang tergila-gila pada Adrian. Baginya dirinya ditakdirkan untuk Adrian begitu juga sebaliknya Adrian hanya miliknya, pernikahan karena jebakan itupun bukanlah kesalahan baginya. Benar, Stevany mengancam akan melakukan bunuh diri jika Adrian meninggalkannya. Padahal rasa yang ditunjukkan Adrian padanya hanya sebatas rasa sayang sebagai seorang teman karena mereka sedari kecil selalu bersama, tapi Stevany dengan segala keegoisannya dan obsesinya untuk tetap bersama Adrian, rela menjalani pernikahan tanpa cinta meski harus menyakiti satu sama lain.
"Adrian, kau masih berhubungan dengan gadis itu?" Stevany menghampiri suaminya.
"Ya aku memang masih berhubungan dengannya," ucap lelaki itu jujur tanpa memperdulikan perasaan istrinya.
"Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja? Aku ini istrimu dan aku berhak atas dirimu," tuntut wanita itu padanya.
"Aku pernah bilang padamu Stevy. Kau bisa mendapatkan ragaku tapi kau takkan bisa memiliki hatiku. Karena aku tidak bisa mencintaimu," tegas lelaki itu padanya.
"Kalau kau tidak mencintaiku kenapa tidak biarkan saja aku mati saat itu?" sela wanita itu lagi padanya.
"Kau tahu aku hanya merasa kasihan padamu dan aku tidak ingin kau melakukan hal konyol untuk dirimi!" ucap lelaki itu dengan nada meninggi.
Sakit itu yang dirasakan Stevany mendengar ucapan lelaki itu tapi dia tidak bisa melepaskan lelaki itu dari hidupnya. Baginya Adrisn adalah segalanya untuknya. Meskipun harus terluka dia tidak perduli.
Stevy hanya menangis mendengar ucapan Adrian padanya sedsngksn lelaki itu tek menggubrisnya sama sekali.
__ADS_1