Love Betrayal

Love Betrayal
Surprise


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Manaf terasa sangat berbeda. Berada pada satu meja makan bersama dengan orang yang pernah sama-sama menjalin hubungan dengannya membuat Rena sedikit jantung.


 


“Rena, ayo dimakan makanannya nak jangan dianggurin aja,” tukas Diandra yang memperhatikan Rena yang telah menghidangkan makanan tapi belum menyentuh makanan yang berada dipiringnya.


 


Sementara itu Alvian memperhatikan Rena yang canggung dengan senyum smirknya. Dirinya tahu persis wanita itu tidak akan mungkin bisa nyaman saat duduk bersama seperti ini.


 


Kenan yang memahami kondisi yang tidak kondusif mencoba menenangkan dan membujuk Rena.


“Sayang, ayo makan apa mau aku suapin?” Kenan dengan cepat mengambil piring makan Rena kemudian menyuapi istrinya.


Mau tidak mau akhirnya Rena harus membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya. Hal itu pula yang sukses membuat Alvian menjadi kesal.


 


“Mom, kayaknya aku harus segera ke kantor karena masih ada urusan yang mesti aku selesaikan,” lelaki itu sedikit menghempaskan sendok dan garpu kemudian meninggalkan makanannya.


 


“Alvian, habiskan makanannya dulu nak,” pinta sang ibu yang melihat makanan Alvian masih tersisa separoh.


 


Alvian tidak menggubris ucapan sang ibu dan berlalu begitu saja. “Sudahlah mom, palingan mas Alvian lagi buru-buru,” pungkas Kenan sambil tersenyum.


 


Dirinya cukup merasa senang karena Alvian tidak bisa membuat Rena merasa terintimidasi. Kenan merangkul Rena dan melanjutkan makannya.


 


“Eh iya, anak-anak dady kok makannya belum diabisin ayo buruan dihabiskan kan mau berangkat sekolah juga,” Kenan memperhatikan Belvana dan Dhafi yang masih terpaku melihat Alvian berlalu dari hadapan mereka.


 


Rena ikut membujuk anak-anaknya, “ayo sayang makan ya. Apa mau mama suapin?” tanyanya sambil memperhatikan dua malaikat kecilnya.


Dengan cepat mereka menganggukkan kepala dan Rena segera menyuapi mereka.


 


***


Adrian baru saja sampai di rumah Jenita, hari ini rencananya dia ingin mengajak wanita itu jalan bersamanya.


“Selamat pagi Jeni, aku punya hadiah terindah untuk wanita terindah,”


 


Adrian baru saja sampai di depan rumaha dan saat pintu rumah itu dibuka dirinya memberikan sebuah buket bunga kepada Jenita.


 

__ADS_1


Jenita yang melihat sosok lelaki tampan yang ada dihadapannya dengan bunga ditangan sang pria sungguh membuat wanita itu terpukau.


“Adrian? Tumben datang ke sini tidak menelpon dulu?” Jenita benar-benar terkejut dengan kehadiran Adrian yang begitu tiba-tiba.


 


“Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu. Semoga waktunya tidak salah,” lelaki itu tampak sumringah menatap mata Jenita.


 


Jujur, saat ini rasa cinta itu masih ada dihati Adrian dan semakin bertambah dalam, tapi mengapa begitu sulit baginya untuk mengungkapkannya pada gadis yang ada dihadapannya itu?


 


“Jeni, kau bicara dengan siapa?” Jesica yang baru keluar dari kamar memperhatikan ke arah pintu rumah mereka.


 


“Hai Jes,” sapa Adrian dari luar sambil melambaikan tangannya kepada Jesica.


Gadis itu tersenyum sambil membalas lambaian tangan lelaki tampan berparas ala opa-opa korea itu.


 


“Mengapa kalian hanya di depan pintu saja, ayo ajak Adrian masuk Jeni,” tukasnya pada saudara kembarnya.


 


“Tidak perlu Jes, aku ke sini untuk berpamitan pada kalian hari ini aku akan kembali ke Inggris,” jujur Adrian pada kedua wanita kembar itu.


 


“Kenapa mendadak sekali perginya? “ Jenita terlihat murung menatap pria itu.


 


Baru saja bertemu mereka harus berpisah lagi? Apa-apaan ini?. Jenita terlihat murung takut jika mereka harus berpisah lagi.


 


“Jangan sedih, aku akan kembali,” bujuk Adrian padanya sambil memeluk Jenita.


 


“Kau akan pergi ke Inggris lagi? Apa kau yakin akan kembali untukku?” Jenita nampak khawatir.


Ternyata perpisahan yang pernah terjadi cukup membuat Jenita takut akan kehilangan lagi.


 


“Aku pasti kembali. Kali ini aku janji aku tidak akan menghilang darimu lagi,” Adrian mencoba meyakinkan gadis itu.


 


Sementara itu, Jesica mengusap lengan sang adik kembarnya untuk menenangkannya. Jenita hanya menghela nafas berat.


 

__ADS_1


“Percayalah padaku kali ini aku tidak akan meninggalkanmu karena aku bawakan ini untukmu,” Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil kemudian memperlihatkan sebuah cincin emas putih pada Jenita


 


“Apa ini?” lirih wanita itu padanya.


“Aku hanya ingin kita membuat kesepakatan. Jika kau percaya padaku dan akan menungguku terimalah cincin ini. Jika tidak kau boleh diam dan tak perlu menjawab,” tukas lelaki itu padanya.


 


Jenita bingung harus bagaimana, disatu sisi dia masih merasakan cinta kepada Adrian dan disisi lain dia takut Adrian tidak akan bersamanya lagi.


 


“Kau yakin akan tidak akan meninggalkanku?” tanya gadis itu lagi.


“Tentu sayang, “ Adrian mengangguk mantap.


“Baiklah aku ambil cincin ini dan berjanjilah jangan terlalu lama disana,” pungkas gadis itu padanya.


Adrian tersenyum sambil mengangguk. Kemudian menyematkan cinci itu ke jari manis Jenita.


"Terimakasih Adrian," gadis itu memeluk erat Adrian. Sungguh dia tak ingin jauh lagi dari lelaki itu.


"Bagaimana sebelum kamu pergi kalian buat acara untuk memberikan momen terindah kebersamaan kalian?" Jesica mencoba memberi usulan pada kedua orang yang sedang bermelow ria itu.


"Ide bagus Jes. Aku mau siang ini kita jalan-jalan terus menikmati waktu bersama sebelum aku kembali?" ajak lelaki itu pada Jenita yang tampak lesu.


Hampir saja Adrian lupa dengan tujuan awalnya untuk mengajak Jenita pergi menghabiskan waktu bersama, karena melihat Jenita yang berubah menjadi pendiam.


"Iya Jeni kalian harus pergi bersama," bujuk Jesica pada saudara kembarnya.


Jesica mengangguk pelan. Dia masih bingung karena Adrian mendadak saja harus kembali ke Inggris karena ada urusan penting yang harus dikerjakannya. Jesica cukup lama termenung memikirkan tentang hubungan mereka, akhirnya berkat bujukan Jesica. Gadis itu mau mengikuti sarannya dan segera mengganti pakaiannya untuk bersiap-siap pergi bersama Adrian.


***


Di kantor, Alvian merasa kesal dengan sikap Kenan saat sarapan.


"Beraninya dia mengumbar kemesraan dihadapanku bersama Rena," kesal lelaki itu.


Alvian sangat terbakar cemburu saat ini. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk.


"Maaf pak, hari ini akan ada pertemuan dengan perusahaan asing yang akan diadakan jam sepuluh nanti, mengenai proyek jalan tol di kota Surabaya " seorang sekretarisnya menghampirinya dan menyebutkan agenda rapat.


"Baiklah kamu persiapkan dokumennya. Biar nanti saya yang akan bertemu dengan mereka," titah lelaki itu padanya.


"Baik pak," ujar sekretarisnya dan mengakhiri percakapan mereka.


"Hari ini Kenan tidak masuk kerja karena dia masih cuti untuk acara pernikahannya. untuk itu seluruh pekerjaannya akan aku handel, jelas lelaki itu pada sekretarisnya.


Alvian sedang merencakan suatu hal saat ini. Sepertinya dia tak akan pernah berhenti untuk menganggu kebahagiaan Kenan dan Rena. Entah apalagi yang ingin dilakukannya pada kedua orang itu.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2