Love Story'

Love Story'
Berdegup kencang


__ADS_3

"Selama di depan Kakek dan semua orang kamu harus menunjukkan pada semua orang kalau hubungan kita baik-baik saja dan selama kita menjadi suami istri kamu tidak boleh dekat dengan pria lain"


"Baik. Tapi...."


"Tapi apa?" tanya Leo sambil menatap Ellen dengan dalam.


"Aku hanya ingin tahu saja, apa kamu punya pacar?" Leo menatap Ellen dengan mengerutkan keningnya.


"Jangan salah paham, kalau kamu punya pacar apa tidak sebaiknya kamu menceritakan padanya lebih dulu tentang perjanjian kita. Aku tidak ingin saat secara tidak sengaja aku bertemu dengannya, dia akan menarik rambutku dan menghina ku" jelas Ellen langsung, dia tidak ingin Leo salah paham padanya.


Bukannya menjawab, Leo langsung bangkit berdiri dan menatap Ellen yang masih menatapnya dan menunggu jawabannya.


"Lebih baik kita berangkat sekarang" ucap Leo sambil merapikan jasnya.


Karena Leo tidak menjawab pertanyaannya, membuat Ellen langsung berdecak kesal. Dengan terpaksa Ellen mengikuti Leo dari belakang.


"Mulai sekarang setiap berjalan atau pun berdiri kamu harus di sampingku, bukan dibelakang ku. Ingat kamu itu istri dari Leo Rejaksa" ucap Leo sebelum mereka keluar dari ruangan. Mendengar ucapan Leo, Ellen langsung mensejajarkan dirinya dengan Leo.


Saat mereka keluar, Ellen melihat ke arah Tasya yang terus menundukkan kepalanya di depan Leo.


"Sepertinya dia pemimpin yang sangat kejam, sampai-sampai pegawainya tidak berani menatapnya" gumam Ellen sambil melirik kearah Leo.


Sama seperti Tasya, saat mereka keluar dari dalam lift, pegawai yang melihat Leo langsung menundukkan kepalanya dan tidak ada satupun yang berani menatapnya.


Saat mereka keluar dari gedung, Ellen melihat ada dua mobil mewah yang dibelakang mobil Leo, dan didepan mobil beberapa pria yang berjas hitam berdiri tegak.


"Nona silahkan masuk..." ucap Rezza karena Ellen masih saja berdiri di luar, padahal Leo Sudah masuk kedalam mobil.


"Ah... Ia... Terimakasih" ucap Ellen dengan tersenyum.


Leo yang melihat Ellen tersenyum pada asistennya, Leo tampak tidak suka.


"Siapa mereka?" tanya Ellen pada Leo setelah dia duduk di samping Leo.


"Mereka akan mengikuti kita" ucap Leo dengan dingin.


"Oh.... Seperti presiden aja..." celetuk Ellen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Untuk apa kita disini?" tanya Ellen saat mobil mereka berhenti di salah satu toko perhiasan.


"Keluarlah..." perintah Leo.


Saat Leo dan Ellen masuk mereka langsung disambut baik dengan manager nya dan para pegawai toko perhiasan tersebut.


"Silahkan tuan, saya akan mengambilnya..." ucap sang manager pada Leo.

__ADS_1


"Apa kamu ingin beli perhiasan? Apa itu untuk pacar mu sebagai tanda maaf mu padanya?" tanya Ellen dengan berbisik pada Leo.


Belum sempat Leo menjawab, manager toko perhiasan dan pegawai yang lainnya datang sambil membawa kotak-kotak perhiasan untuk mereka


"Silahkan tuan...." ucap sang manager sambil membuka kotak-kotak perhiasan yang dibawanya.


"Pilihlah..." ucap Leo pada Ellen.


"Pilih? Aku yang pilih?" Leo mengangguk kepalanya.


"Baiklah kalau begitu aku pilih..." ucap Ellen dengan tersenyum.


Satu persatu Ellen melihat desain cincin yang ada di ada didepannya. Dari sekian banyak cincin yang ada dihadapannya Ellen lebih tertarik dengan satu cincin yang memiliki hiasan satu permata kecil saja.


"Apa kamu yakin?" tanya Leo karena melihat Ellen tampak sangat suka dengan cincin yang dipegangnya.


"Bagaimana dengan ini? Aku sangat yakin pacar mu pasti suka dengan ini? Ya, meskipun desainnya sangat simpel tapi sangat elegan." ucap Ellen dengan tersenyum.


"Kami pilih yang ini. Bagaimana dengan permintaan ku yang kemarin?" ucap Leo. Ellen langsung menyerahkan cincin yang dipegangnya ke pada sang manager.


"Sudah kami siapkan pak..."


"Baiklah, antar ke rumah saya." ucap Leo sambil bangkit berdiri.


"Baik, pak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sekarang kita kemana lagi? Aku sangat lapar...." keluh Ellen saat mereka masuk kedalam mobil.


"Apa kamu belum makan?" tanya Leo dengan mengerutkan keningnya.


"Sudah, tapi karena lelah membuat ku jadi lapar. Kita makan dulu ya..." ucap Ellen sambil membuat wajah sendunya.


"Rez, cari tempat makanan yang ada di dekat sini" perintah Leo pada Rezza.


Mendengar itu tanpa sadar Ellen memeluk Leo dengan tersenyum bahagia. Tentu saja membuat Leo langsung menegang dan jantungnya berdegup kencang. Rezza yang melihat hal itu menahan dirinya tidak tersenyum.


"Terimakasih." ucap Ellen yang masih memeluk Leo. Setelah mengucapkan terima kasih, barulah Ellen melepaskan pelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leo dan Rezza tercengang melihat porsi makanan Ellen yang sangat besar, padahal tubuhnya Ellen kecil tidak sesuai dengan porsi makanannya.


Leo yang melihat ujung bibirnya Ellen ada sisa makanan, Leo mengambil tissue dan membersihkan mulutnya Ellen.


"Terimakasih...." ucap Ellen dengan tersenyum.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya, tidak akan ada yang merebut makanan mu disini" ucap Leo.


"Terimakasih" ucap Ellen dengan gugup.


"Apa kamu mau pesan lagi?" Ellen menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aku sudah kenyang. Aku ke toilet dulu sebentar" Ellen langsung pergi ke toilet, tanpa menunggu jawaban dari Leo.


Sesampainya di dalam toilet Ellen menyandarkan tubuhnya ke pintu toilet sambil memegangi dadanya terus berdetak kencang sejak Leo membantunya membersihkan mulutnya dari sisa makanannya.


"Kenapa jantungku seperti ini?" gumam Ellen sambil memegang bagian dadanya.


Huf....


Ellen menghela nafasnya dengan dalam sambil berekspresi. Setelah itu jantungnya kembali normal, barulah Ellen keluar dari toilet.


"Sekarang kita kemana lagi?" tanya Ellen sambil mengambil tasnya.


"Kamu sudah selesai?" Ellen mengangguk kepalanya untuk menjawab pertanyaan Leo.


Leo langsung bangkit berdiri dan disusul Rezza. Saat mereka kembali masuk ke dalam mobil detak jantungnya Ellen kembali berdegup kencang saat dirinya dan Leo duduk tanpa jarak.


"Aish... Kenapa kembali berdegup kencang lagi?" gerutu Ellen lagi.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Leo yang samar-samar kalau Ellen berbicara sesuatu.


"AH... Tidak apa-apa..." ucap Ellen dengan gugup.


"Rez, kita ketempat boutique yang dikatakan kakek..." ucap Leo pada Rezza.


"Baik, pak."


Ting...


Ellen yang asik menikmati suasana luar jendela, langsung mengambil hp nya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya. Ternyata yang mengirimkan pesan untuknya sahabatnya Desi.


📨 El, bagaimana? Apa kamu masih bersama suami mu? Kamu baik-baik saja, kan?


"Ya... Aku baik-baik saja, jangan kuatir. Aku akan menghubungi mu lagi kalau aku sudah selesai." Balas pesan Ellen pada Desi.


"Setelah dari boutique, apa kita langsung pulang?" tanya Ellen pada Leo yang masih fokus pada handphonenya.


"Apa kamu punya janji dengan orang lain?"


"Tidak. Hanya saja aku ingin mengambil baju ku dirumah ku, untuk ku pakai kerja"


"Rezza apa kamu mendengar?" Ellen mengerutkan keningnya karena Leo memberikan pertanyaan pada Rezza.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2