
Hari ini tidak terasa sudah empat hari Leo dan Ellen di New Zealand. Ellen dapat melihat bagaimana ketulusan Leo memperlakukannya. Kalau Ellen ingin sesuatu, Leo selalu saja langsung mengabulkannya dan juga Leo tidak pernah melakukan hal yang tidak diinginkan Ellen. Leo hanya mengecup keningnya dan menggenggam tangannya, tidak lebih dari hal itu. Hal itu membuat Ellen sangat kagum dengan Leo.
"El, apa kamu ingin sesuatu?" tanya Leo saat melihat Ellen asik membuka buku menu restoran dimana mereka makan malam.
"Sama kan saja...." ucap Ellen sambil tersenyum menatap Leo.
"Baiklah..." Leo langsung beberapa menu yang ada di buku menu makanan.
Saat pelayan itu mencatat pesanan Leo, pelayan itu langsung pergi.
"Oh, ya besok kita jadikan ke Matakana? Aku ingin mencicipi kuliner yang disana..." ucap Ellen dengan semangat.
"Istriku ini sangat suka makan tapi tubuhnya tetap saja kecil..." ucap Leo sambil menarik hidung Ellen dengan pelan.
"Sayang, bagaimana setelah ini dari kita jalan-jalan lagi ke negara lain..." wajah Ellen kembali memerah karena Leo memanggilnya dengan sebutan sayang.
Sebenarnya sejak Leo menyatakan perasaannya, Leo mengubah panggilannya dengan sebutan sayang meskipun dia belum membalas perasaan Leo. Tapi setiap Leo memanggilnya sayang, Ellen sangat bahagia dan wajah selalu memerah.
"Kalau kita memperpanjang liburan kita bagaimana dengan pekerjaan mu? Sebenarnya malah aku ingin cepat pulang, aku ingin menemani Desi ke pengadilan. Tadi pagi aku dapat kabar dari Sasa, kalau Desi ingin mempercepat proses perceraiannya dan dua hari lagi akan diadakan persidangan pertamanya" ucap Ellen dengan sendu karena mengingat bagaimana dulu bahagianya Desi saat Dito melamarnya dan pernikahannya.
"Kalau itu yang kamu mau, baik lusa kita akan pulang." Ellen langsung menatap Leo dengan mata membulat.
"Kamu yakin?" Leo mengangguk kepalanya, lalu Leo menarik tangan Ellen untuk digenggamnya.
"Bukannya sudah ku katakan aku akan melakukan apa pun yang membuat mu bahagia" hati Ellen merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Leo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Des..." Desi yang baru saja keluar dari dalam mobilnya, sangat terkejut melihat Dito datang menghampirinya ke boutique nya.
"Mas Dito..." gumam Desi dengan mengerutkan keningnya.
"Apa bisa kita bicara sebentar saja..." pinta Dito dengan wajah memelas.
"Baiklah, kita akan bicara di ruangan ku..." ucap Desi sambil menghela nafasnya.
Dito langsung mengikuti Desi dari belakang. Saat masuk kedalam boutique, para pegawai yang melihat kedatangan Desi dan Dito langsung menyambut dengan tersenyum.
"Wah, mbak Desi diantar dengan suami tercinta..."
"Pengen deh, dapat suami seperti mbak Desi" puji para pegawai Desi, karena tidak ada satupun yang tahu kalau Desi dan Dito sebentar lagi akan berpisah.
Desi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan para pegawainya, sangat berbeda dengan Dito. Dito merasa sedih mendengar ucapan pegawai Desi, wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
"Al, tolong jangan satupun masuk kedalam ruangan saya." ucap Desi dengan tersenyum pada Alya asisten yang sangat dipercayainya.
Sesampainya di dalam ruangan, Desi mempersilahkan Dito untuk duduk.
"Aku tidak banyak waktu, katakan apa yang ingin kamu katakan mas..." ucap Desi lembut. Dito langsung pindah untuk duduk di samping Desi, setelah duduk di samping Desi, Dito menarik tangan Desi untuk digenggamnya.
"Des, apa kamu tidak bisa mengubah keputusan mu? Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta, kalau kamu ingin kembali dengan ku..." ucap Dito sambil menggenggam tangan Desi.
"Mas..." gumam Desi sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Dito. Saat Dito menggemgam tangannya, Desi mulai merasa risih.
"Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta, tapi aku mohon tolong berikan aku kesempatan..." ucap Dito sekali lagi.
__ADS_1
"Mas, kamu yakin?" Dito langsung mengangguk kepalanya.
"Baiklah, hanya satu yang ku minta..."
"Apa itu?" Desi menghela nafasnya sambil menatap Dito dengan serius. Dia ingin apakah Dito akan melakukan apa pun yang dikatakannya atau tidak.
"Aku ingin kamu menceraikan wanita itu, bagaimana?" bak disambar petir Dito mendengar permintaan Desi.
Matanya langsung membulat dan dia merasa aliran darahnya seperti berhenti. Dia tidak pernah membayangkan kalau Desi memintanya untuk menceraikan Resa.
"Kenapa? Kamu tidak bisa, mas?" tanya Desi sambil menatap Dito dengan serius karena melihat Dito yang langsung terdiam saat mendengar ucapannya.
Dito terus diam saja, dia sangat berat untuk menyetujui permintaan Desi. Karena sebenarnya di hati Dito, nama Resa sudah mulai terisi sejak Resa dinyatakan positif hamil.
"CK... Aku sudah tahu jawabannya. Sebenarnya aku tidak berniat untuk hal itu, karena aku bukanlah wanita yang egois. Aku sadar diri, aku bukanlah wanita yang layak untuk dipertahankan karena aku bukanlah wanita yang sempurna..." hati Dito merasa tercubit saat mendengar ucapan Desi.
"Sayang itu tidak benar sekali, aku benar-benar sangat mencintai mu dan aku ingin kita selalu bersama..." ucap Dito.
"Kamu tidak benar-benar mencintai ku, mas. Kalau kamu sangat mencintai ku kamu tidak akan menghancurkan kepercayaan ku dan menerima kekurangan ku. Jika kamu ingin punya anak, kita bisa masih bisa berusaha. Kita bisa mengadopsi anak, jika kamu hanya ingin anak dari benih mu kita bisa mencoba bayi tabung. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah memilih untuk menikah lagi. Kamu bisa mengatakan kalau kamu akan menerima kekurangan ku, tapi bagaimana dengan kedepannya? Saat anak mu lahir pasti kamu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak mu dan wanita itu. Itu berarti aku kamu akan meminta pengertian ku kalau kamu ingin menghabiskan waktu mu untuk mereka. Aku tidak masalah dengan kamu akan menghabiskan waktu dengan anak mu tapi aku tidak akan bisa menahan diri ku melihat suami ku juga akan menghabiskan waktu dengan wanita lain. Seperti yang kukatakan aku bukanlah wanita yang berhati malaikat." ucap Desi dengan panjang lebar sambil meneteskan air matanya.
"Sayang..." Dito merasa terpukul dengan apa yang dikatakan Desi, dia mulai merutuki dirinya sendiri karena dia telah menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya dan sangat bodoh karena tidak memikirkan apa yang dikatakan Desi.
Kalau saja terlintas dipikirannya apa yang dikatakan Desi, mungkin mereka masih bersama sampai sekarang.
"Kamu tahu hal apa yang apa membuat ku tidak mengubah keputusan ku?" Dito hanya diam saja saat mendengar pertanyaan Desi.
"Kamu ingat beberapa Minggu yang lalu seharusnya kita merayakan ulang tahun pernikahan kita. Aku sudah meminta mu untuk pulang lebih awal. Tapi apa? Kamu malah lebih memilih bersamanya...." Dito langsung ingat saat itu sebenarnya dia ingin pulang cepat karena janjinya pada Desi, tapi saat dia ingin pulang Resa menghubunginya.
__ADS_1
Resa yang saat itu ingin makan bakso kesukaannya yang tidak jauh dari kantor Dito. Tanpa pikir panjang Dito langsung membeli pesanan Resa, dia melupakan kalau Desi tengah menunggunya.
...****************...