Love Story'

Love Story'
Prima Aditya Rejaksa (The End)


__ADS_3

Kartika yang sangat kesal memutuskan untuk pulang. Kartika merasa hari ini adalah hari sialnya. Apalagi baru saja dia keluar dengan mengunakan sepeda motornya dari parkiran cafe, hujan deras turun.


Karena tidak membawa mantel hujan, dengan terpaksa Kartika berteduh di halte yang tidak jauh dari cafe tempat dia makan bersama teman-temannya.


"Kenapa sekarang sih, hujannya turun..." gerutu Kartika.


Awalnya Kartika tidak takut menunggu hujan reda di depan halte, karena banyak orang yang juga berteduh. Tapi setelah dua jam menunggu, lama-lama keadaan halte mulai sepi. Kartika yang masih ada trauma dengan kejadian dimana dia diculik membuat dirinya takut.


"Lebih baik aku gerak saja, kalau sakit tinggal minum obat saja..." ucap Kartika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak terasa waktu berlalu, usia kehamilan Ellen sudah masuk sembilan bulan. Leo sudah mempersiapkan segala keperluan untuk bayi mereka saat lahir.


"Mas, astaga kenapa banyak begini mainannya?" Ellen kaget melihat suaminya pulang membawa mainan anak-anak, padahal semalam suaminya baru pulang dari luar kota juga membawa mainan.


Cup...


Sebelum menjawab pertanyaan istrinya, Leo mengecup bibir manis istrinya.


"Tidak apa-apa sayang...."


"Kamu ini... Oh ya, kata kakek besok kakek pulang..." ucap Ellen sambil mengikuti suaminya menuju kamar baby mereka setelah lahir.


"Besok aku akan minta supir menjemput kakek dari bandara...."


Saat masuk kedalam kamar untuk bayi mereka, Ellen tampak geleng-geleng kepala melihat seluruh isi kamar bayi mereka. Banyak mainan anak-anak yang tersusun rapi.


Setelah menyusun mainan yang dibelinya, Leo mengendong istrinya dan Ellen langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Sekarang kita ke kamar kita..." ucap Leo sambil tersenyum bahagia.


Ellen sangat mengerti apa yang diinginkan suaminya, dengan ikhlas dia melayani keinginan suaminya. Apalagi setelah dia melahirkan pastinya suaminya akan puasa yang sangat lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang kamu baik-baik saja?" Leo tampak kuatir melihat wajah istrinya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tampak sangat pucat.


Leo langsung membantu istrinya untuk duduk di sofa. Baru saja duduk, Ellen merasakan seperti ada yang mengalir di kakinya. Dengan panik Ellen langsung memeriksa dan ternyata air ketubannya pecah.


"Mas, bawa aku ke rumah sakit sekarang. Kertuban nya pecah..." ucap Ellen dengan panik.


Dengan sigap Leo langsung menggendong istrinya. Mama Nia yang melihat putrinya di gendong, langsung kaget.

__ADS_1


"Nak, kenapa dengan istri mu?"


"Ellen mau melahirkan ma..."


Mama Nia yang mendengar putrinya akan melahirkan langsung membantu Leo. Mama Nia duduk di belakang menemani Ellen, karena Leo yang mengemudikan mobilnya.


Karena jarak antara rumah mereka dan rumah sakit membuat mereka sampai dengan tepat waktu. Ellen langsung ditangani dengan dokter, dan Leo ikut bersama masuk karena Ellen ingin Leo ada disisinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seluruh keluarga dan Sahabat Leo dan Ellen kini berada di ruang rawat Ellen. Satu persatu berebut untuk mengendong calon penerus keluarga Rejaksa.


"Kak, nama keponakan ku ini apa?" tanya Chelsea sambil menggendong keponakannya.


"Prima Aditya Rejaksa..." ucap Leo sambil menggenggam tangan istrinya.


"Kakek yakin cucu buyut ku nanti jadi anak yang pintar dan bijaksana, seperti arti namanya" ucap kakek Bryan dengan bangga.


"Amin..." ucapan serentak semua ada yang dalam ruangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan kemudian


"Rezza, kamu yang handel untuk pertemuan nanti sore dengan Rio. Aku ada urusan penting..." ucap Leo setelah keluar dari ruangan rapat.


Sejak putranya lahir, Leo selalu saja mempercepat dirinya pulang ke rumah dan urusan perusahaan Leo akan menyerahkannya pada Rezza. Leo selalu merindukan putranya dan istrinya setiap waktu. Apalagi dia ingin juga menikmati waktu bersama putranya.


Setelah memastikan tidak ada lagi berkas yang harus ditandatanganinya, Leo memutuskan untuk pulang. Para karyawan wanita tampak kagum dengan Leo dan menurut mereka Leo adalah suami yang sangat sempurna karena Leo mau ikut adil menjaga putranya.


Sesampainya di rumah, Leo bertanya keberadaan istrinya dan putranya pada pembantunya.


"Bi, dimana mereka?"


"Nyonya muda dan tuan muda ada di kamar tuan muda, tuan..."


"Ya, sudah. Terimakasih ya bi..."


Leo langsung ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Setelah itu Leo ke kamar putranya untuk melihat istrinya dan putranya. Saat masuk kedalam kamar, Leo melihat istrinya dan putranya tertidur. Dengan wajah bahagia Leo mengecup pipi istrinya dan mengecup pipi putranya yang sangat menggemaskan. Leo pun langsung membaringkan tubuhnya di samping putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Ellen membuka matanya dia melihat suaminya sudah berbaring di samping putra mereka. Ellen langsung tersenyum bahagia karena saat dia membuka matanya dia melihat suaminya sudah ada di sampingnya dan putra mereka.

__ADS_1


Ellen yang mengerti kalau suaminya sangat lelah, dengan hati-hati Ellen bangun dari tidurnya. Dia tidak ingin karena gerakannya yang grasak-grusuk membuat suami dan putra mereka terbangun.


Saat dia ingin bangkit berdiri, Leo yang dari tadi sudah bangun langsung menangkap tangan istrinya.


"Mas..." Gumam Ellen sambil menatap suaminya dengan mengerutkan keningnya.


"Mau kemana?" tanya Leo.


"Mau mandi, mas..."


"Kita mandi bareng..." ucap Leo sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan putra kita?"


"Panggil baby sister nya untuk menjaganya sebentar..."


"Baiklah... Tunggu sebentar aku panggil dia dulu" Leo mengangguk kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa semuanya beres?" Dion datang menghampiri Kartika yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Belum, pak. Sebentar lagi semuanya selesai..."


"Baiklah, setelah selesai antar ke ruangan saya..."


"Baik, pak...."


Setelah satu jam akhirnya pekerjaan Kartika selesai, dan sesuai dengan apa yang dikatakan Dion, Kartika langsung mengantarkannya ke ruangan Dion.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk..." Mendengar Dion mempersilahkannya masuk, Kartika langsung masuk.


"Ini pak..." ucap Kartika sambil menyerahkan berkas yang dikerjakannya.


"Terimakasih. Pulanglah, tapi besok pagi jam lima saya akan menjemputmu. Saya harap saat saya sampai, kita langsung berangkat" ucap Dion tanpa menatap Kartika.


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu..."


Setelah keluar dari ruangan Dion, Kartika tampak menggerutu karena Dion setiap bicara dengannya tampak dingin dan tidak pernah menatapnya setiap bicara.


"Dasar manusia es..." gumam Kartika dengan kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai.

__ADS_1


Sedangkan Dion, saat Kartika keluar Dion yang tampak sangat serius mengerjakan pekerjaannya langsung menyandarkan tubuhnya di kursinya. Dion menatap Kartika dari luar jendela ruangannya yang tampak menghentakkan kakinya. Melihat Kartika seperti itu, Dion tampak tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2