Love Story'

Love Story'
Mencari keberadaan Desi


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Desi, Ellen sampai bersamaan dengan Sasa yang mengunakan taksi online. Ellen mengerutkan keningnya melihat Desi sedang memasukkan koper kedalam mobil yang biasa digunakan Desi.


"Des...." Desi yang belum menyadari kehadiran kedua sahabatnya, sangat terkejut melihat kedua sahabatnya ada dihadapannya.


Desi juga terkejut melihat Leo dan seorang pria yang dia tahu dari Ellen kalau pria itu asistennya Leo, suami dari sahabatnya Ellen.


"Kamu mau pergi? Kemana?" tanya Sasa dengan panik.


Sasa dan Ellen berjalan mendekati Desi, dan mereka sangat bingung melihat bukan hanya satu koper saja yang dimasukkan Desi kedalam bagasi mobil, tapi ada tiga koper.


"Non, ini dibuat kemana?" Sasa dan Ellen langsung melihat kearah pintu rumah Desi, dimana salah satu pembantu Desi membawa kotak yang lumayan besar ke keluar.


"Tunggu dulu, apa maksudnya ini Des? Kamu mau kemana? Dimana Dito?" tanya Ellen dengan panik, apalagi dia tidak melihat keberadaan Dito.


"Bisakah kita bicaranya nanti?" ucap Desi sambil tersenyum.


"Baiklah, sekarang katakan kamu mau kemana?" tanya Ellen sekali lagi.


"Ke apartemen milik ku" ucap Desi.


"Apartemen? Sejak kapan kamu punya apartemen?"


"Sejak semalam. Kalian mau ikut apa tidak?"


"Aku ikut dengan mu..." ucap Sasa.


"Aku ikut dari belakang" ucap Ellen sambil melirik ke Leo yang dari terus memperhatikan dirinya.


"Baiklah...." ucap Desi.


Ellen menghampiri Leo dan mengatakan mereka mengikuti Desi dari belakang menuju apartemen milik Desi.


Selama dalam perjalanan menuju apartemen Desi yang memakan waktu satu jam, Ellen tampak sangat sibuk menghubungi Dito.


"Dia tidak akan mengangkat teleponnya. Kita sudah sampai,. turun lah" ucap Lor sambil membuka pintu mobilnya.


"Kenapa kamu turun? Kamu tidak kerja?" tanya Ellen dengan bingung.

__ADS_1


"Tidak, aku mengambil cuti ku..."


"Baguslah kalau begitu kamu dan asisten mu bisa bantu Desi untuk mengangkat barang-barangnya..." ucap Ellen sambil menarik tangan Leo.


Rezza yang mendengar ucapan Ellen merasa tidak terima.


"Tunggu nona, kenapa saya juga terlibat? Saya hanya bertugas menjadi supir nona Ellen dan pak Leo"


"Aku tidak peduli....." Ellen tidak ingin mendengar bantahan dari Rezza.


Dengan kesal, Rezza mengikuti apa yang dikatakan Ellen. Kalau dia ingin membantah Leo langsung menatapnya dengan tajam.


"Maaf aku hanya bisa memberikan minum air putih saja untuk kalian. Belum ada apa-apa di dapur ku" ucap Desi sambil memberikan minuman air putih untuk Ellen dan yang lainnya.


"Sekarang katakan kenapa kamu tinggal di sini? Dimana Dito? Apa kalian sedang ada masalah? Cepat katakan...." ucap Ellen yang tidak sabar.


Dengan santainya Desi mengambil kertas dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Ellen dan Sasa. Ellen dan Sasa bersamaan membaca isi kertas yang diberikan Desi pada mereka.


"Des, katakan kalau ini tidak benar..." ucap Ellen sambil menatap Desi yang matanya mulai berkaca-kaca dan memaksakan dirinya tersenyum.


Sasa dan Ellen berlari memeluk Desi, mereka dua tahu senyuman yang ditunjukkan Desi adalah palsu. Wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui kalau suaminya diam-diam menikah lagi tanpa ijin darinya.


Flash back.


Pagi harinya setelah acara anniversary pernikahannya, Desi sangat terkejut kalau suaminya tidak pulang. Karena suaminya tidak pulang, Desi menghubungi suaminya tapi suaminya tidak mengangkat teleponnya. Tentu saja membuat Desi sangat cemas. Desi juga menghubungi mertuanya, tapi mertuanya juga tidak mengangkat teleponnya.


Desi yang sangat cemas memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya. Sesampainya di sana Desi langsung disapa para tetangga mertuanya.


"Eh, nak Desi sudah lama tidak lihat. Bagaimana madu suaminya? Apa baik-baik saja? Saya kaget semalam malam tiba-tiba suaminya dan mertua kamu panik."


"Madu? Maksudnya ibu? Madu siapa Bu?"


"OPS, jangan bilang kalau nak Desi tidak tahu kalau suaminya menikah lagi..."


Jedar......


Tentu saja Desi sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan ibu itu padanya. Tapi dia berusaha untuk tidak percaya begitu saja, dia sangat yakin kalau suaminya tidak mungkin menghancurkan kepercayaannya.

__ADS_1


"Maaf Bu, kalau boleh tahu mereka pergi ke rumah sakit mana ya?"


"Kalau tidak salah di rumah sakit Medika yang ada didekat sini" ucap ibu itu lagi.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, terimakasih informasinya" ucap Desi dengan memaksakan dirinya tersenyum.


Desi dengan kecepatan tinggi melajukan mobilnya menuju rumah sakit Medica. Sesampainya di sana, Desi yang baru saja keluar dari dalam mobil melihat asisten suaminya. Desi pun langsung memutuskan untuk mengikuti asisten suaminya dari belakang.


Saat melihat asisten suaminya masuk kedalam ruangan VIP, Desi bukan langsung masuk. Perasaannya mulai tidak tenang, dia takut kalau apa yang dikatakan tetangga mertuanya benar.


Karena belum siap menerima kenyataan bahwa suaminya menikah lagi, Desi memutuskan untuk memantau dari luar.


Desi, melihat seorang wanita yang perutnya membesar terbaring di atas tempat tidur. Ibu mertuanya mengelupas kulit apel lalu memberikannya pada suaminya. Setelah itu dia melihat suaminya menyuapi wanita itu dengan penuh perhatian.


Dengan perasaan yang kecewa Desi memutuskan untuk pergi, dia belum sanggup melihat kalau suaminya menikah lagi. Karena hatinya yang hancur Desi memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Desi menceritakan semuanya apa yang dikatakan tetangga mertuanya dan apa yang dilihatnya.


"Sekarang kamu mau bagaimana nak? Mama dan ayah akan mendukung keputusan mu..." ucap mamanya yang mengerti perasaan Desi.


"Ini tidak benar, papa harus menemui suami mu itu..." ucap sang ayah tidak terima putrinya disakiti.


"Jangan pa..." Desi berusaha untuk mencegah ayahnya, Desi sangat mengenal bagaimana sifat ayahnya. Ayahnya yang seorang tentara tentu saja memiliki watak yang sangat keras dan tegas.


"Jangan kenapa? Ayah tidak terima apa yang sudah mereka lakukan pada mu. Apa karena sampai sekarang kamu belum juga hamil, sampai dia melakukan hal itu pada mu?" ucap Ayah dengan emosi.


" Ya, please... Untuk kali ini tolong... Ini salah aku juga, sampai sekarang aku belum bisa memberikan keturunan pada suami ku. Aku wanita yang tidak sempurna ayah, aku wanita yang cacat...." ucap Desi sambil menangis.


Mendengar ucapan Desi Ayahnya langsung memeluk erat putrinya dengan perasaan. Ayahnya tahu kalau saat ini putrinya hanya butuh dukungan saja.


Akhirnya selama dua hari Desi memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui kenyataan bahwa suaminya menikah lagi. Apalagi selama dua hari ini suaminya hanya mengabarinya dengan mengirimkan pesan bahwa dia sedang di luar kota dan ada rapat penting. Hal ini membuat Desi memilih untuk berpisah. Desi meminta pengacaranya untuk membantunya mendaftarkan perceraian di pengadilan agama. Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Desi mendapatkan surat perceraian yang harus ditandatanganinya dan suaminya.


Desi meminta dukungan kedua orangtuanya dan dia memutuskan untuk mencari apartemen untuk tempat dia tinggal. Karena setelah dia bercerai nantinya, dia tidak ingin kembali tinggal di rumah orangtuanya, dia ingin lebih mandiri. Setelah mendapatkan apartemen yang cukup dengan tabungannya.


Desi meminta dia sendiri yang akan memberikan surat perceraiannya pada suaminya ke rumah mertuanya setelah memindahkan barang-barangnya. Desi sudah mendapatkan kabar kalau istri kedua suaminya keluar dari rumah sakit hati ini


Flash back End


...****************...

__ADS_1


__ADS_2