
Saat Ellen keluar dari dalam lift, Ellen sangat terkejut melihat seorang wanita yang tampak sangat cantik yang baru saja keluar dari ruangan suaminya.
"Maaf nona, mau bertemu dengan siapa?" tanya wanita yang baru saja keluar dari ruangan Leo.
"Saya ingin bertemu dengan suami saya. Apa suami saya ada di dalam?" jawab Ellen dengan lembut.
"Maaf Bu, saya tidak tahu kalau ibu istri pak Leo" wanita itu sangat terkejut karena Ellen adalah istri atasannya.
"Tidak apa-apa. Kamu baru bekerja di sini?"
"Benar bu, saya bekerja di bawah kepemimpinan pak Rezza."
"Oh, kalau begitu saya permisi masuk kedalam ya..." Wanita itu hanya mengangguk kepalanya.
"Iya, Bu..."
Saat Ellen masuk kedalam ruangan Leo, wanita itu menatap Ellen dari bawah sampai ke atas. Melihat gaya pakaian Ellen, wanita itu langsung tersenyum penuh arti.
"Mas, kamu sibuk?" Leo langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara istrinya. Melihat istrinya berada di balik pintu ruangannya, Leo meminta istrinya untuk masuk dan duduk di pangkuannya.
Leo yang tadinya sudah tidak bersemangat lagi melakukan pekerjaannya, karena menguras tenaga dan pikirannya kembali semangat saat melihat kedatangan istrinya.
Saat Ellen masuk keruangan suaminya, Ellen lebih memilih duduk di sofa. Melihat istrinya malah duduk di sofa, Leo datang menghampiri istrinya dan yang paling membuat Ellen terkejut karena Leo langsung merebahkan tubuhnya dan paha nya menjadi bantalan suaminya.
Leo memeluk pinggang istrinya dan mengecup perut istrinya yang masih rata. Ellen langsung tersenyum dan mengelus kepala suaminya dengan lembut.
"Terimakasih sayang..." ucap Leo sambil menatap istrinya dengan tersenyum.
"Untuk?"
"Karena kamu datang ke kantor ku. Aku sangat lelah dengan semua pekerjaan ku hari ini. Karena Rezza cuti untuk beberapa hari ini, pekerjaan ku sangat banyak. Tapi melihat mu disini, membuat rasa lelah ku hilang" ucap Leo sambil menatap mata Ellen dengan penuh kerinduan.
Cup...
Ellen mengecup kening Leo.
"Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Ellen dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu ingin bertanya apa?"
"Apa wanita itu yang akan menggantikan kak Rezza selama kak Rezza cuti atau dia akan menjadi asisten kak Rezza seterusnya?" Leo langsung bangkit duduk dan menatap istrinya dengan tersenyum.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"CK.. Siapa yang cemburu?" Ellen tampak sangat kesal karena Leo bukannya menjawab malah menggodanya. Mendengar bantahan dari istrinya Leo malah tersenyum.
"Baiklah istriku tidak cemburu...." ucap Leo sambil mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.
"Wanita itu Asistennya Rezza, tentu saja dia akan seterusnya bekerja di sini jadi Asistennya Rezza. Kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa, mas. Mas, sudah selesai pekerjaannya? Kalau sudah, kita pulang yuk...."
"Kamu tunggu sebentar lagi ya, aku akan menyelesaikannya dengan cepat..." Ellen langsung mengangguk kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang apa kamu begitu nyaman di gendongan papa Rezza?" Desi teringat bagaimana tadi Sore putranya yang begitu rewel di gendongannya, tapi saat Rezza mengambil ahli menggendong baby boy nya langsung diam dan malah tersenyum.
Baby boy yang mendengar celotehan Desi langsung tersenyum seakan dia mengerti apa yang dikatakan Desi. Melihat senyum baby boy, Desi teringat dengan senyum Dito. Wajah putranya pun begitu mirip dengan Dito.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Desi dipersilahkan pulang. Apalagi Desi dan bayi nya tampak sangat sehat.
Saat pulang ke rumah, Desi tampak sangat terkejut melihat rumah orangtuanya sudah dihiasi. Desi melihat sahabatnya Sasa tampak sangat sibuk mengatur para pekerja untuk mendekorasi rumah orangtuanya.
"Desi sayang ku..." Sasa langsung memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.
"Kamu yang mengatur semuanya ini?"
"Tentu saja, kamu tahulah bagaimana posesif nya pak Leo pada Ellen setelah mengetahui Ellen hamil" ucap Sasa dengan tersenyum geli karena mendengar cerita Ellen yang mengeluh karena posesif nya Leo.
"Hahaha. Benar juga..."
"Ya, sudah kamu dan keponakan ku yang tampan ini istirahat dulu.... Besok pasti hari yang sangat melelahkan untuk mu..."
__ADS_1
Desi pun masuk kedalam dan langsung ke kamarnya. Mamanya Desi langsung membantu Sasa.
Keesokan harinya Desi sudah dirias dengan sangat cantik. Ellen lah yang menemani Desi dirias, sedangkan Sasa melakukan tugas yang lainnya.
Desi tampak sangat gugup, dia tidak menyangka kalau dia akan menikah lagi dengan secepat ini. Padahal dia sempat berpikir Sete dia bercerai dari Dito, dia akan sulit menerima kehadiran pria lain di hatinya. Tapi kini, Rezza dengan mudahnya bisa mengisi dihatinya yang kosong.
"Sempurna..." ucap Ellen saat melihat hasil riasan Desi.
"El, aku gugup..." ucap Desi.
"Tidak apa-apa, Des... Itu hal yang lumrah dialami seorang pengantin" Desi mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Putra ku dimana?" tanya Desi karena dari tadi pagi dia belum melihat keberadaan putranya.
"Dia sama Kartika dan Chelsea. Kamu tenang saja..." mendengar itu Desi langsung tenang.
"Apa semuanya sudah siap?" Desi dan Ellen langsung menoleh kebelakang dan melihat mamanya Sasa.
"Wah, Sempurna banget..." Sasa tampak sangat bahagia melihat Desi yang tampak sangat cantik.
"Aku sangat yakin kalau kak Rezza tahu calon istrinya sangat cantik, pasti dia tidak sabar untuk menerkamnya..." Mereka bertiga pun langsung tertawa mendengar ucapan Sasa.
"Tapi sayang, kak Rezza harus puasa satu bulan lebih..." sambung Ellen lagi. Ketiganya pun kembali tertawa.
"Ya, sudah... Sekarang waktunya pengantin wanita keluar, acara sudah dimulai..." ucap Sasa.
Ellen dan Sasa lah yang membawa Desi keluar dari dalam kamar menuju ruangan dimana Rezza dan yang lainnya menunggunya.
Rezza tampak sangat susah menelan ludahnya saat melihat kedatangan calon istrinya. Dia sangat terpesona dengan kecantikan Desi yang begitu sangat natural.
Saat Desi duduk di sampingnya, jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka kalau dia dan Desi kini duduk di hadapan penghulu.
"Baiklah, apa kita bisa memulainya?" mendengar pertanyaan penghulu membuat Rezza langsung menyadarkan dirinya.
"Bisa, pak..." jawab papanya Desi yang sudah siap menikahkan putrinya dengan Rezza.
Papanya Desi sangat yakin kalau Rezza adalah pria yang akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi putrinya dan cucunya. Sangat berbeda saat dia ingin menikahi putrinya dengan Dito. Saat itu papanya Desi ada sedikit keraguan, tapi melihat bagaimana cinta putrinya dan Dito saling mencintai dan menjalin hubungan dengan sangat lama pada Dito, papanya Desi menepis rasa keraguannya.
__ADS_1
Acara pernikahan Desi dan Rezza berlangsung denganpenuh hikmat. Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Para undangan yang hadir tampak memberikan ucapan doa untuk mereka dengan tulus.
...****************...