Love Story'

Love Story'
Ancaman Ellen


__ADS_3

Tapi Leo tidak juga berhenti mendengar ancaman dari pria itu. Hal itu membuat pria itu ketakutan. Saat Leo yang semakin dekat dengannya, pria itu langsung mengarahkan senjatanya ke Leo.


Dengan cepat Leo langsung mengambil senjata pria itu dan melintir tangan pria itu kebelakang. Dengan tanpa pikir panjang Leo mematahkan tangan pria itu.


"Ah...." jerit pria itu dengan kesakitan. Setelah itu Leo langsung mendorong pria itu ke arah polisi.


Lalu Leo menatap kearah istrinya yang terus menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Leo berjalan mendekati istrinya dan mengarahkan tangannya ke ujung bibir istrinya.


"Maaf..." ucap Leo dengan suara pelan.


Mendengar kata maaf dari Leo, Ellen langsung memeluk Leo dan langsung menangis didalam pelukan Leo.


Rio dan Rezza langsung berlari ke arah ruangan yang ada di belakang Leo. Mereka melihat Desi dan Kartika masih terikat di kursi. Mereka berdua pun langsung berlari untuk melepaskan ikatan Desi dan Kartika.


"Des, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu keringatan begini? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak... Perut ku terasa sakit..." ucap Desi dengan lemah.


Mendengar itu Rezza langsung menggendong Desi keluar. Sedangkan Rio masih berusaha untuk menyadarkan Kartika. Saat Kartika mulai membuka matanya, Rio melihat wajah Kartika mulai memerah.


"Panas..." ucap Kartika dengan lemah.


"Kak Rio sebaiknya kita harus membawa Kartika ke rumah sakit secepatnya. Tadi Clarisa menyuntikkan cairan ke tubuh Kartika. Hiks hiks... Tolong adik ku.." ucap Ellen dengan panik.


Mendengar kalau Clarisa menyuntikkan cairan ke tubuh Kartika dan tadi Kartika merintih kepanasan, Rio langsung membulatkan matanya.


"Sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit, kalau tidak akan bahaya padanya..." ucap Rio dengan panik. Rio langsung menggendong Kartika untuk dibawa ke rumah sakit. Leo dan Ellen mengikuti Rio dari belakang.


Saat mereka keluar, Ellen melihat Mamanya Rio terus menangis dan memohon pada polisi untuk melepaskan Clarisa. Bayangan apa yang dilakukan Clarisa padanya, Sahab dan adiknya membuat Ellen mengepalkan tangannya. Dengan tatapan dingin, Ellen menarik tangannya dari genggaman tangan Leo. Ellen mempercepat langkahnya dan dia langsung menarik Clarisa untuk menghadapnya.


"Aku sudah katakan saat aku berhasil lepas dari ikatan ku, aku tidak akan membalasnya."


Plak...


Plak...


Plak..


Dengan keras Ellen menampar pipi Clarisa tiga kali. Saat Ellen ingin menampar Clarisa lagi, mamanya Rio menangkis tangannya. Lalu mamanya Leo menjadikan dirinya menjadi tameng Clarisa.

__ADS_1


"Hahaha... Apa anda pikir kalau anda menjadi tameng putri anda aku tidak bisa menyakitinya?" ucap Ellen dengan menatap mamanya Rio dengan dingin.


"Dengar kan aku, aku akan membuat putri anda ini menerima hukuman yang berat." ucap Ellen dengan tegas.


"Satu hal lagi, jika sesuatu terjadi yang buruk pada adik ku dan janin yang ada dalam kandungan sahabat ku, aku tidak akan pernah tinggal diam." ancam Ellen lagi sebelum pergi menyusul Rio.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Leo, Ellen, Rezza dan Rio tampak sangat kuatir menunggu dokter keluar dari ruangan dimana Desi dan Kartika ditangani.


"Dokter bagaimana?" tanya Rezza dengan cepat bangkit saat dokter baru saja keluar.


"Maaf, siapa suami dari nona Desi?" tanya dokter itu sambil menatap Rezza.


"Saya..." dengan cepat Rezza langsung menjawab. Leo dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Rezza. Mereka sangat terkejut karena Rezza langsung cepat menjawab dan mengakui dirinya sebagai suami dari Desi.


"Untung tuan membawa istri tuan cepat ke rumah sakit. Kalau tidak janin yang dikandungnya tidak bisa selamat. Saat ini janin yang ada dalam kandungan istri tuan sangat lemah, jadi untuk beberapa hari ini istri anda tidak boleh turun dari tempat tidur. Istri anda harus banyak istirahat." Rezza dan yang lainnya langsung lega mendengar hasil pemeriksaan dokter.


"Apa saya bisa menemuinya?"


"Tentu saja tuan, tapi setelah istri tuan di pindahkan ke ruangan"


"Sama-sama, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu..." Rezza dan dokter itu pun saling berjabat tangan.


Setelah dokter pergi, dokter yang menangani Kartika keluar.


"Dokter bagaimana dengan adik saya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Ellen dengan panik.


"Adik nona baik-baik saja. Untung saja obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya belum menyebar ke seluruh darahnya dan cepat dibawa ke sini. Kami sudah memberikan obat penawarnya."


"Sekarang apa adik saya sudah sadar?"


"Saat ini adik nona sedang tidur karena obat bius yang kami berikan. Soalnya saat dia sadar tadi, adik nona menjerit histeris"


"Apa maksud dokter?"


"Mungkin karena efek dari apa yang terjadi pada adik nona membuat adik nona histeris. Makanya kami langsung memberikan obat penenang pada adik nona"


"Apa saya bisa menemui adik saya?"

__ADS_1


"Bisa nona, saat ini adik nona lagi di pindahkan ke ruangan. Kalau begitu saya permisi dulu..."


"Terimakasih Dok..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan kamar Desi dan Kartika bersebelahan. Yang menjaga Desi di dalam kamar adalah Rezza. Sedangkan ruangan Kartika, Ellen, Leo dan Rio. Ellen duduk di sebelah adiknya dan terus menggemgam tangan adiknya.


"Aku akan cari minuman untuk kita dulu" ucap Rio pada Leo yang duduk di sampingnya.


"Hemm..." ucap Leo singkat.


Setelah Rio pergi, Leo berjalan mendekati istrinya. Setelah Leo berdiri di samping Ellen, Ellen langsung memeluk pinggang Leo.


"Mas, aku takut kalau saat Tika membuka matanya, Tika akan kembali histeris seperti yang dikatakan dokter tadi" ucap Ellen dengan menatap wajah pucat adiknya.


"Yakin lah, kalau dia akan baik-baik saja..." ucap Leo.


"Mas, apa mama dan kakek sudah tahu?" tanya Ellen sambil mendongakkan kepalanya menatap Leo.


Cup...


Leo mengecup bi*** istrinya.


"Mereka sedang menuju ke sini..." ucap Leo sambil mengelus ujung bibir istrinya yang luka.


"Apa Chelsea baik-baik saja?" Leo mengangguk kepalanya.


"Apa ini sakit?" tanya Leo sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Tidak..." ucap Ellen dengan tersenyum.


"Maaf... Kalau saja kita jadi pergi liburan ke tempat kakek, mungkin ini tidak akan terjadi..." ucap Leo dengan rasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf mas. Kita manusia biasa, kita tidak tahu apa yang terjadi di depan kita. Mungkin saja ini semua tidak akan terjadi kalau kita jadi pergi, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kita pulang liburan" sambung Ellen. Leo hanya tersenyum saja mendengar kata bijak dari istrinya.


"Sejak kapan kamu pintar bela diri?" tanya Leo dengan tersenyum. Leo sangat terkejut mendengar dari adiknya kalau istrinya sangat pintar beladiri. Apalagi adiknya mengatakan kalau istrinya selalu menang melawan lawannya.


"Hahaha... Sejak SD, ayah ingin aku harus pintar beladiri. Meskipun aku seorang wanita kata ayah aku harus pintar beladiri supaya aku bisa menjaga diri. Ayah juga dulu ingin aku mengikuti jejaknya menjadi seorang polisi" ucap Ellen dengan tersenyum.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2