Love Story'

Love Story'
Resepsi pernikahan


__ADS_3

"Beautiful..." puji Chelsea saat melihat tampilan Ellen yang sangat memukau.


Hari ini hari dimana acara resepsi pernikahan Leo dan Ellen. Chelsea dan Kartika diberikan tanggung jawab untuk memantau riasan Ellen.


"Benarkah?" tanya Ellen yang tidak percaya dengan dirinya sendiri.


"Kak, apa yang dikatakan kak Chelsea itu benar. Kakak tampak sangat cantik..." puji Kartika.


"Baiklah.... Kar, dimana mama?"


"Mama bersama kakek Bryan menyambut para tamu."


"Chel, apa kamu lihat kakak mu?" tanya Ellen yang dari tadi tidak melihat Leo.


Cklek...


Chelsea yang melihat kehadiran Leo, langsung menarik tangan Kartika untuk mengikutinya keluar.


"Kak Leo ada dibelakang kakak..." bisik Chelsea sebelum keluar.


Mendengar Leo ada dibelakangnya, Ellen langsung bangkit berdiri dan menoleh kebelakang.


"Bagaimana? Cantik kan?" bisik Chelsea saat berpapasan dengan Leo yang berdiri mematung menatap Ellen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat pintu terbuka, Leo terus menggandeng tangan Ellen memasuki ruangan. Para tamu yang hadir tampak sangat terpesona melihat sepasang suami istri yang tampak sangat serasi dimata mereka.


"Apa kamu gugup?" tanya Leo sambil menatap lurus ke depan.


"Tentu saja! Aku tidak menyangka kalau tamu undangannya sebanyak ini" ucap Ellen.


"Aku tahu kalau kamu pasti tidak akan nyaman, tapi Kakek yang melakukannya."


"Tidak apa-apa. Tapi aku agak kuatir..."


"Kuatir apa?"


"Tentu saja dengan pacar mu, pasti dia sangat kesal" Mendengar itu Leo langsung tersenyum karena Ellen masih saja berpikir kalau dirinya memiliki kekasih.


Sesampainya mereka di depan panggung acara pun dimulai. Kakek Bryan mengatakan pada semua tamu kalau cucunya Leo Rejaksa telah menikah beberapa waktu yang lalu. Kakek Bryan juga memperkenalkan Ellen sebagai cucu menantunya dengan bangga.


Para gadis yang hadir dalam acara resepsi pernikahan Leo dan Ellen sangat cemburu karena Ellen berhasil menikah dengan pria yang selama ini mereka incar.


Disudut ruangan dua perempuan yang berbeda generasi tampak sangat kesal karena Ellen menikah dengan pria muda yang tampan dan sangat kaya.

__ADS_1


"CK... Ini semua karena mama, kalau mama tidak memaksa Ellen untuk menikah dengan pria yang dibawanya ke rumahnya, ini tidak akan terjadi" ucap gadis itu dengan kesal, gadis itu tidak lain sepupunya Ellen, Putri dari pamannya di kampung.


"Diamlah, mama aku kalau mama salah ambil langkah. Jangan pasang wajah kusutmu itu seperti itu. Sekarang yang perlu kita pikirkan bagaimana caranya supaya nenek mu itu tidak kembali berpihak pada mereka. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat nenek mu itu?" ucap bibi sambil melirik ibu mertuanya yang dari tadi bicara dengan lembut pada mamanya Ellen.


Padahal biasanya neneknya Ellen tidak pernah sekalipun bicara lembut dengan mamanya Ellen karena mamanya Ellen sejak dari sangat menentang keras pernikahan mamanya Ellen dengan ayahnya Ellen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat untuk mu sayang...." ucap Sasa sambil memeluk Ellen.


"Terimakasih, Sa.... Desi mana?" tanya Ellen yang dari tadi tidak melihat Desi dari tadi.


"Aku juga tidak tahu, aku mencoba menghubunginya tadi tapi hp nya tidak aktif." ucap Sasa yang sangat kuatir.


Mendengar itu Ellen langsung mengambil hp nya dari tasnya. Sama seperti yang dikatakan Sasa, Hp nya Desi tidak aktif.


"Apa kamu sudah menghubungi Dito?" tanya Ellen yang mulai cemas.


"Sudah, tapi Dito tidak mau mengangkat teleponnya. Sudah tenanglah El, kita coba berpikir yang positif saja. Setelah selesai dari sini, aku dan Raka akan melihat kerumahnya" ucap Sasa untuk menenangkan Ellen.


"Sekarang fokus dengan acara kalian saja..." sambung Sasa lagi. Ellen hanya mengangguk kepalanya saja.


"Selamat untuk mu El..." ucap Raka, setelah itu Raka memberikan selamat juga pada Leo.


"Terimakasih. Silahkan menikmati acaranya" Raka hanya mengangguk kepalanya.


Setelah Raka dan Sasa turun dari panggung, Leo memperhatikan Ellen yang sesekali melirik ke layar kecil yang dari tadi terus digenggamnya.


"Kalau kamu sangat kuatir, setelah ini kita akan kesana" Ellen langsung mendongakkan kepalanya menatap Leo.


"Apa kamu yakin? Apa kakek akan mengijinkannya?"


"Biar itu menjadi urusan ku..."


"Terimakasih..."


"Apa kamu lelah?" Ellen mengangguk kepalanya.


"Duduk lah, biarkan aku saja yang mengurus tamu..."


"Tidak apa-apa, aku masih bisa bertahan. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Bisakah aku membuka sepatu ku? Kaki sangat Sakit memakainya..." keluh Ellen dengan manja.

__ADS_1


Leo langsung menarik tangan Ellen untuk duduk, setelah itu tanpa diduga Ellen, Leo menunduk dan menarik kakinya.


"A...apa yang kamu lakukan?" tanya Ellen dengan gugup sambil menarik kakinya.


Bukannya menjawab, Leo melepaskan sepatu heels Ellen lalu mengurut kakinya Ellen dengan lembut. Semua para tamu yang hadir tampak sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Leo.


Sedangkan kakek Bryan malah ketawa bahagia melihat apa yang dilakukan Leo. Begitu juga dengan Mamanya Ellen, mamanya Ellen dapat melihat jelas kalau Leo memiliki perasaan pada putrinya.


"Bagaimana, apa masih sakit?" Ellen menggelengkan kepalanya sambil menatap Leo dengan gugup.


"Duduklah, biar aku saja yang mengurus tamu" ucap Leo sambil bangkit berdiri.


Ellen terus melirik Leo yang tampak sangat sibuk menghubungi seseorang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, aku ingin pulang..." ucap bibinya Ellen dengan kesal karena melihat Leo yang tampak sangat perhatian pada Ellen.


"Kalau kita pulang sekarang, bagaimana dengan mama?" tanya paman sambil melirik ibunya yang dari tadi terus menerus mencari perhatian pada kakek Bryan dan adik iparnya, mamanya Ellen.


"Tentu saja ikut pulang dengan kita"


"Kalau begitu kamu yang katakan pada mama kalau kita pulang"


"Tidak mau! Kamu saja..."


"Baiklah, kamu tunggu sebentar..." bibi hanya mengangguk kepalanya.


Seperti yang diduga Paman kalau nenek tidak ingin ikut pulang bersama mereka. Nenek mengatakan kalau dia ingin tinggal di rumah kakak iparnya.


"Tapi, ma...."


"Tidak apa-apa, untuk malam ini ibu biar tinggal di rumah kami saja. Besok aku akan meminta Kartika mengantarkan ibu ke tempat kalian menginap" ucap mamanya Ellen dengan menghela nafasnya.


"Nenek tinggal dengan kita? Tumben... Ada angin apa nenek mau tinggal di rumah kami" sindir Kartika.


"Tika..." tegur mamanya. Karena ditegur, dengan kesal Kartika langsung bangkit berdiri dan pergi ke luar.


"Itu akibat karena kamu terlalu memanjakannya, jadi dia tidak memiliki sopan santun" ucap nenek yang merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Kartika padanya.


"Hahaha. Nak, Nia jangan marahi Putri mu, hal itu sangat wajar. Apa yang dilakukan putri mu pasti ada penyebabnya dia memperlakukan neneknya seperti itu. Bagaimana nyonya Hardani apakah yang saya katakan salah? Karena dari yang saya perhatikan kedua Putri dari keluarga Hardani sangat baik dan memiliki sopan santun" ucap Kakek Bryan sambil tertawa.


Nenek yang mendengar ucapan kakek Bryan langsung memanyunkan bibirnya dengan kesal. Dia merasa malu karena kakek Bryan lebih memihak pada Kartika, cucunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2