
Saat membuka pintu kamarnya, Leo tidak melihat istrinya ada di kasurnya. Leo langsung mencari keberadaan istrinya di dalam kamar, tapi dia tidak melihat istrinya.
"Mas..." Leo langsung menoleh kebelakang saat mendengar suara istrinya.
"Sayang...." Ucap Leo sambil berjalan mendekati istrinya. Leo langsung menarik Ellen kedalam pelukannya. Leo mencium aroma tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya.
"Kamu membuat ku kuatir karena tidak melihat mu didalam kamar" ucap Leo.
"Aku tidak akan kemana-mana. Sebenarnya aku dari tadi memanggil mu saat kamu ingin naik keatas, tapi kamu tidak mendengarkan ku..." Leo melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang sangat dirindukannya.
"Maaf, sayang. Kamu kenapa belum tidur?"
"Aku kuatir kalau kamu belum makan malam, jadi aku menunggumu"
"Maaf ya sayang aku membuat mu menunggu lama." Ellen mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Mas, kamu sudah makan apa belum?"
"Belum. Tadi aku tidak sempat untuk makan, pikiran ku hanya ke pekerjaan ku saja. Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ku, supaya aku besok-besoknya aku tidak akan lembur lagi"
"Ya, sudah aku temani kamu makan. Aku sudah memanaskan makanan nya..."
Keduanya pun secara bersamaan keluar dari kamar mereka dengan bergandengan tangan. Leo sangat bahagia karena istrinya masih menunggunya pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Desi yang baru saja sampai di boutique nya, tampak sangat terkejut melihat kedatangan pengacara Dito.
"Selamat pagi Nona Desi...."
"Pagi, pak. Maaf bapak ingin bertemu dengan saya?"
"Benar nona, saya ingin memberikan titipan dari pak Dito, klien saya." pengacaranya Dito memberikan amplop coklat pada Desi.
"Maaf kalau boleh saya tahu ini apa?"
"Saya tidak tahu nona. Saya hanya menyampaikan titipan klien saya saja. Karena nona sudah menerimanya, saya permisi dulu..." Desi mengangguk kepalanya.
Setelah Desi masuk kedalam ruangannya, Desi langsung membuka amplop yang diberikan padanya. Saat melihat isinya surat rumah yang dia tempati dulu bersama Dito sudah atas namanya, Desi langsung memasukkannya kembali. Dengan diam Desi pergi lagi sambil membawa amplop coklat.
Desi melajukan mobilnya menuju kediaman mantan mertuanya dengan tatapan dingin. Saat dia sampai, Desi meminta satpam rumah mertuanya untuk memanggil Dito.
"Nyonya...." seorang pembantu yang lagi menyapu halaman sangat bahagia melihat kedatangan Desi.
"Bibi..."
__ADS_1
"Nyonya apa kabar?"
"Kabar baik, bi. Oh ya bi, apa mas Dito ada dirumah?"
"Maaf nyonya, tuan Dito tidak ada dirumah."
"Kalau begitu siapa yang ada dirumah?"
"Tidak ada nyonya. Semuanya sudah pergi jam enam pagi tadi."
"Kemana?"
"Mereka ke Singapura semua, karena nyonya Resa ingin melahirkan di Singapura dekat dengan orangtuanya" jawab bibi dengan menundukkan kepalanya.
Tentu saja membuat Desi sangat terkejut mendengarnya. Desi kembali menatap amplop coklat yang ada di tangannya.
"Baiklah, bi. Aku permisi dulu ya bi..."
"Ia, nyonya..."
Didalam mobil Desi mengelus perutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak boleh nangis, kenapa aku harus menangis? Dengan begini aku tidak akan melihatnya lagi. Maaf kan mama ya sayang, mama janji tidak akan pernah menangis lagi" ucap Desi.
Walaupun dirinya sangat membenci Dito, tapi Desi tidak bisa memungkiri kalau masih ada rasa cintanya pada mantan suaminya. Tidak ada satupun yang tahu kalau Desi setiap malam pasti selalu menangis di dalam kamarnya. Keluarga dan sahabatnya melihat kalau Desi tidak pernah lagi meratapi hancurnya rumah tangganya. Karena Dito pergi, Desi memutuskan untuk pergi ke kantor pengacara Dito.
"Saya hanya ingin mengembalikan ini. Saya tidak ingin menerima apapun darinya. Saya masih bisa memenuhi kebutuhan saya dan saya sanggup membeli rumah untuk saya sendiri" ucap Desi.
"Tapi nona..."
"Itu sudah keputusan saya. Maaf, saya permisi dulu..."
Desi langsung pergi sebelum mendengar ucapan pengacara Dito. Pengacaranya Dito hanya bisa diam saja melihat kepergian Desi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kakak ipar mau kemana?" tanya Chelsea saat melihat Ellen yang baru saja turun bersama Leo sudah tampak sangat rapi.
"Dia akan ikut dengan ku..." ucap Leo sambil memeluk pinggang Ellen.
"Benarkah? Kalau begitu kakak ipar bisa menemani ku makan siang di kantor nanti..." ucap Chelsea dengan semangat.
"Enak saja, tentu saja istri ku menemani ku makan siang. Aku adalah suaminya..." Leo tampak sangat kesal karena Chelsea ingin merebut istrinya.
"Aku adik iparnya..."ucap Chelsea yang tidak mau kalah dengan kakaknya.
__ADS_1
"Begini saja, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Kalau ramai-ramai kan lebih seru, sekalian aku mengajak Desi..." ucap Ellen.
"Kak Desi? Aku setuju..." Chelsea langsung cepat menyetujui Saran dari Ellen. Sedangkan Leo dengan terpaksa mengiyakan usulan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat jam makan siang, Chelsea menuju lantai atas untuk menemui Leo dan kakak iparnya.
"Kak Rezza dimana? Apa dia tidak ikut?" tanya Chelsea karena tidak melihat keberadaan Rezza.
"Tidak, katanya dia ingin makan di kantin kantor" jawab Leo.
"Kenapa begitu? Sekarang dimana kak Rezza?" yang tidak setuju kalau Rezza tidak ikut.
"Masih di ruangannya..." jawab Leo singkat.
Chelsea langsung pergi menuju ruangan Rezza. Saat sampai di depan ruangan Rezza, Chelsea langsung masuk begitu saja tanpa permisi.
"Kenapa?" tanya Rezza sambil menatap Chelsea yang berjalan mendekatinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin permisi kalau kami akan makan siang bersama dengan kak Desi. Kami pergi dulu ya kak..." ucap Desi sambil tersenyum penuh arti pada Rezza.
Rezza yang mendengar nama Desi langsung bangkit berdiri. Dengan cepat Rezza memakai jasnya dan merapikan dasinya.
"Kenapa kamu permisi? Aku juga ikut bersama dengan kalian!" ucap Rezza.
Desi langsung tersenyum mendengar kalau Rezza ikut makan siang bersama dengan mereka.
"Oh, ya... Kalau begitu kita gerak sekarang..." ucap Chelsea sambil menarik tangan Rezza.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di restoran, Chelsea langsung menarik kursi yang di samping Leo untuk dia duduki. Chelsea sengaja melakukannya karena dia ingin Rezza duduk di samping Desi.
"Apa kamu sudah lama menunggu, Des?" tanya Tanya Ellen sambil menatap wajah sahabatnya yang tampak berbeda dari biasanya.
"Tidak, lima menit yang lalu..." ucap Desi dengan tersenyum.
Setelah beberapa menit beberapa pelayan restoran datang membawa makanan. Dua jam lalu saat Chelsea memboking restoran, Chelsea sekalian memesan makanan untuk mereka.
Desi yang tadinya tampak tidak selera makan, melihat ikan kakap gulai membuat seleranya kembali. Pandangannya terus menerus ke arah ikan kakap gulai yang ada di tengah-tengah meja. Hal itu tidak lepas dari pandangan Rezza. Rezza yang melihat Desi yang sangat tergiur dengan ikan kakap gulai, langsung mengambilkannya dan mendekatkannya pada Desi.
"Terimakasih..." ucap Desi dengan malu karena Rezza yang dari tadi terus memperhatikannya.
"Apa kamu ingin yang lain?" tanya Rezza dengan penuh perhatian pada Desi.
__ADS_1
Leo dan Ellen mengerutkan keningnya saat melihat Rezza yang tampak perhatian dengan Desi. Sedangkan Chelsea tampak sangat senang karena Rezza memperhatikan Desi.
...****************...