
"Kenapa kita harus pakai pesawat pribadi segala sih?" tanya Ellen setelah dirinya dan Leo duduk di pesawat pribadi milik keluarga Rejaksa.
"Aku lebih nyaman memakai pesawat pribadi ku sendiri" ucap Leo santai.
"CK... Oh, ya tujuan kita mau kemana?"
"New Zealand..."
"Oh..." jawab Ellen singkat.
Ellen yang awalnya sibuk dengan membaca buku majalah yang disediakan, kini Ellen sudah terlelap dalam tidurnya. Leo yang selalu memperhatikan gerakan kecil Ellen langsung tersenyum melihat Ellen Yang tertidur.
Karena perjalanan mereka yang memakan waktu yang lama, Leo pelan-pelan menggendong Ellen dan membawanya ke kamar yang tersedia di pesawatnya.
Cup...
Diam-diam Leo mencium kening Ellen lagi dengan penuh perasaan. Tentu saja membuat Ellen sedikit gerakan kecil. Leo langsung bangkit berdiri, dia tidak ingin Ellen Curiga padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ellen tampak sangat terkejut karena hotel tempat mereka menginap sangat indah. Rasa lelahnya karena perjalanan yang cukup panjang terbayarkan dengan suasana yang sangat indah. Tempat penginapan di Huka Lodge membuat rasa penat hilang seketika.
"Apa kamu suka?" tanya Leo yang melihat Ellen tampak sangat suka melihat suasana luar kamar mereka.
"Suka banget. Apa ini hotel pilihan kakek?"
"Hemmm..."
"Wah, kakek sangat pintar memilih tempat yang bagus. Oh, ya aku lapar... Apa kita bisa makan? ini sudah waktunya kita makan malam..." ucap Ellen dengan memanyunkan bibirnya.
Melihat Ellen memanyunkan bibirnya membuat Leo susah menelan ludahnya dan jantungnya berdegup kencang. Leo ingin sekali merasakan bibir mungil Ellen, tapi dia tidak bisa melakukannya meskipun sebenarnya dia sudah berhak dan halal. Tapi dia masih menghargai Ellen dan dia sudah menyusun rencana untuk seminggu ini untuk seminggu ini membuat Ellen jatuh cinta padanya.
"Aku sudah menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan kita. Lebih baik kamu mandi saja dulu. Biar aku menunggu makanan kita..."
"Terimakasih..." ucap Ellen dengan tersenyum bahagia.
Ellen mengambil kopernya untuk mengambil baju yang akan dipakainya. Saat membuka kopernya, Ellen tampak sangat bingung melihat isi kopernya tidak sesuai dengan baju yang dimasukkannya kedalam koper. Tapi alat makeup yang ada dalam koper adalah miliknya.
"Apa jangan-jangan kopernya tertukar? Tapi tidak mungkin, ini koper milik ku dan ini ada tulisan inisial nama ku...." gumam Ellen sambil memeriksa kopernya dan melihat inisial namanya di dalam kopernya.
__ADS_1
Tiba-tiba Ellen teringat saat dia ingin mengambil kopernya dari dalam kamarnya, Chelsea keluar dari dalam kamar mereka.
"Astaga ini pasti ulah Chelsea. Masa aku harus pakai kain tipis ini, kalau aku pakai pasti Leo berpikir kalau aku sedang mencoba menggodanya..." gerutu Ellen.
"Kenapa kamu belum mandi? Apa ada masalah?" tanya Leo yang baru saja dari balkon kamar mereka.
"Ti... Tidak..." ucap Ellen dengan gugup sambil menutup kopernya. Dia tidak ingin Leo melihat isi kopernya.
"Yakin?" Ellen mengangguk kepalanya.
"Baiklah kalau begitu aku keluar sebentar, aku ada urusan penting..."
"Oke..."
Setelah Leo keluar dari dalam kamar, dengan terpaksa Ellen memakai baju tidur yang tipis untuk digunakannya. Karena tidak mungkin dia mengunakan celana jeans atau gaun nya yang akan digunakannya untuk tidur.
Saat masuk kedalam kamar mandi, Ellen sangat senang melihat ada beberapa bathrobe yang tersusun rapi di dalam lemari yang di kamar mandi.
Setelah setengah jam lebih merilekskan otot-ototnya dengan berendam di air hangat, Ellen tampak sangat segar. Dengan wajah yang segar, Ellen keluar dari dalam kamar mandi dan dia melihat Leo sedang sibuk dengan laptopnya.
"Kamu tidak mandi?" tanya Ellen sambil mengeringkan rambutnya dengan handuknya.
"Kenapa kamu memakai itu? Biasanya kalau kamu tidur pakai baju tidur yang celananya panjang..."
"Oh, itu.... Aku terpaksa menggunakan ini. Ini semua karena adik mu..." ucap Ellen kesal.
"Chelsea?" Ellen mengangguk kepalanya.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Leo sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, sudahlah. Lupakan saja! Sekarang kamu mandi dulu, biar kita makan. Aku sudah sangat lapar..." ucap Ellen.
Leo langsung meletakkan laptopnya diatas tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Setelah setengah jam Leo keluar dari dalam kamar mandi hanya mengunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Ellen langsung mendongakkan kepalanya dan jantungnya berdegup kencang. Apa tidak terkejut Ellen saat melihat roti sobek Leo. Ini pertama kalinya Ellen melihat roti sobek Leo yang sangat keren di mata Ellen. Dia tidak menyangka kalau Leo memiliki roti sobek yang membuat jiwanya meronta-ronta, Ellen sangat ingin menyentuh roti sobek suaminya.
"Sadar Ellen, itu bukan milik mu... Itu milik wanita lain..." gumam Ellen dalam hatinya.
Kerena tidak tahan lagi melihat roti sobek Leo, Ellen memutuskan untuk ke balkon kamar mereka. Dengan menikmati suasana luar kamar mereka, pasti pikirannya langsung jernih.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya leo yang melihat Ellen ingin pergi.
"A... aku mau keluar sebentar..." ucap Ellen dengan gugup.
Saat Ellen melewati Leo, Leo langsung menarik tangan Ellen. Karena Leo tiba-tiba menariknya membuat Ellen memeluk Leo. Jantungnya Ellen langsung berlomba cepat karena jarak antara mereka tidak ada lagi.
"Kenapa kamu gugup?" bisik Leo ditelinga Ellen sambil tersenyum kemenangan karena berhasil menggoda Ellen.
Karena bisikan Leo membuat Ellen langsung mendorong Leo. Wajah tampak sangat memerah karena mendengar ucapan Leo.
"Ti... Tidak... Kamu sengaja kan?" tanya Ellen dengan gugup.
Mendengar wajah Ellen yang sangat memerah membuat Leo semangat menggoda Ellen. Leo langsung mendekati wajahnya dengan Ellen. Jantungnya Ellen semakin bertambah kencang debarannya.
"Cantik...." puji Leo sambil tersenyum.
Mendengar pujian yang pertama kalinya dari mulut Leo dan melihat senyum Leo membuat Ellen jadi salah tingkah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rezza yang baru saja pulang dari kantor tanpa sengaja bertemu dengan Desi di depan lift yang baru saja pulang sambil membawa barang-barang belanjanya.
Rezza yang mendapatkan tugas tambahan dari Leo langsung membantu Desi membawa bungkusan belanjaannya tanpa bertanya lebih dulu dengan Desi.
"Kamu..." cicit Desi dengan mengerutkan keningnya saat melihat Rezza ada di hadapannya.
"Saya tinggal di lantai atas nona..." ucap Rezza.
"Oh... Terimakasih..." ucap Desi karena Rezza membantunya membawa belanjaannya masuk kedalam lift.
"Sama-sama nona..."Rezza terus memperhatikan Desi saat mereka masuk kedalam lift. Rezza dapat melihat jelas pandangan Desi sangat kosong, tidak ada senyum seperti saat bersama dengan Ellen dan Sasa.
Ting...
Rezza yang lebih dulu keluar dari dalam lift sambil membawa belanjaan Desi. Saat dia ingin melangkahkan kakinya, Rezza menoleh kebelakang dan melihat Desi tampak diam saja.
"Nona Desi..." Desi yang lagi termenung langsung tersentak mendengar namanya dipanggil.
"Ah, maafkan saya..." ucap Desi sambil memaksakan dirinya tersenyum.
__ADS_1
...****************...