
Ellen lebih dulu bangun, saat dia membuka matanya wajah tampan suaminya yang dilihatnya. Ellen teringat dengan apa yang dilakukannya semalam, dan wajah langsung memerah.
"Aku tahu kalau aku tampan, jangan terus menatap ku seperti itu sayang..." Ellen sangat terkejut karena terpergok Leo sedang menatapnya.
Ternyata Leo lebih dulu bangun, tapi dia sangat enggan untuk membangunkan istrinya. Dia tahu kalau istrinya pasti sangat lelah karena ulahnya. Leo berhenti saat jam empat subuh tadi dan pastinya istrinya sangat lelah.
"Mas kamu sudah bangun?" Leo membuka matanya dan menatap istrinya tersenyum.
Cup...
"Selamat pagi istri ku..." ucap Leo setelah mengecup bibir manis istrinya.
Wajah Ellen kembali memerah karena malu dan jantungnya berdetak kencang. Hal inilah yang membuat Leo sangat suka dari Ellen, Ellen akan selalu tampak malu-malu kalau dia menggodanya. Setelah mengucapkan selamat pagi pada istrinya, Leo menarik istrinya kembali ke dalam pelukannya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Tidak ada waktunya untuk tidur kembali..." ucap Ellen.
"Untuk hari ini kita akan tetap disini. Besok pagi kita akan pulang..." Ellen langsung mendongakkan kepalanya menatap Leo dengan mengerutkan keningnya.
"Besok? Kenapa, mas?"
"Karena aku ingin menghabiskan waktu hanya bersamamu saja." ucap Leo sambil menatap Ellen dengan penuh arti.
Pagi itu Leo kembali menerkam istrinya, tubuh istrinya menjadi candu yang baru untuknya. Setiap dia menyelesaikan ritualnya, Leo selalu mengelus perut istrinya yang masih rata sambil berdoa dalam hati supaya istrinya cepat hamil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Desi yang ingin membuat sarapan pagi untuknya, langsung mual saat mencium aroma bawang. Desi pun langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan cairan dari mulutnya. Wajah Desi tampak sangat pucat karena muntah dan apalagi dia belum makan apapun.
Ting...Ting...
Desi yang baru saja keluar dari kamar mandi memaksakan dirinya yang lemas untuk membuka pintu apartemennya.
"Pak Rezza..." gumam Desi saat melihat Rezza berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kamu sakit?" tanya Rezza panik karena wajah Desi yang tampak pucat. Desi meletakkan tangannya sambil di keningnya Desi untuk memeriksa keadaan Desi. Saat tangan Rezza menyentuh keningnya, membuat jantung Desi berdegup kencang.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus ke rumah sakit" ucap Rezza dengan panik. Saat Rezza menariknya untuk mengikuti Rezza, Ellen langsung menahannya.
"Tidak perlu pak. Saya baru saja mual, tadi saya lagi mengupas bawang tapi aromanya sangat menyengat di hidung saya makanya saya mual. Setelah saya minum obat, rasa mual nya pasti hilang." ucap Desi.
"Kamu sudah sarapan?" Desi menggeleng kepalanya dengan tersenyum.
"Apa boleh saya masuk?" tanya Rezza karena dari tadi Desi belum mempersilahkannya masuk kedalam.
"Oh, ya maaf pak. Silahkan masuk pak..." Ucap Desi dengan malu karena lupa mempersilahkan Rezza masuk.
Saat masuk kedalam apartemen Desi, Rezza melihat ke arah dapur Desi yang masih sedikit berserakan.
"Aku akan membuat mu sarapan, jadi aku pakai dapur kamu sebentar..." Rezza langsung pergi ke dapur tanpa menunggu persetujuan dari Desi.
Desi yang sangat terkejut kalau Rezza ingin memasakkan makanan untuknya. Desi mengekori Rezza dari belakang.
"Kamu ingin makan apa sekarang?" tanya Rezza sambil memutarkan tubuhnya menghadap Desi.
"Sebenarnya aku ingin makan omelette, tapi apa pak Rezza bisa?" Desi tampak sangat ragu kalau Rezza bisa masak.
Saat Rezza mengiris bawang, Desi tampak sangat terkejut melihat Rezza melakukannya dengan cepat. Tidak hanya itu saja Rezza juga sangat cepat dan telaten memotong sayuran.
Setelah lima belas menit akhirnya Rezza selesai memasak omelette untuk Desi. Melihat hasil omelette Rezza yang tampak sangat cantik dan aromanya sangat harum membuat Desi tidak sabar untuk merasakannya.
"Silahkan coba...". Rezza memberikan hasil masakannya pada Desi dengan tersenyum.
Dengan semangat Desi mencoba masakan Rezza. Matanya Desi langsung membulat sempurna dan terkejut saat merasakan masakan Rezza. Desi tidak menyangka kalau masakan Rezza lebih lezat di bandingkan masakannya.
"Wah, pak Rezza sangat pintar masak. Saya tidak menyangka pak, masakan pak Rezza lebih lezat di bandingkan masakan saya." ucap Desi sambil menikmati omelette yang dibuat Rezza.
"Saya hidup sendiri karena itu saya harus bisa mengurus diri saya sendiri" ucap Rezza sambil menatap Desi. Desi hanya mengangguk kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kamu yakin mereka di sana?" tanya Clarisa pada orang yang sedang menghubunginya. Saat mendengar jawaban dari orang yang menghubunginya membuat Clarisa langsung menghancurkan barang-barang yang ada di meja riasnya.
__ADS_1
"Sial.... Apa lagi yang harus ku lakukan? Lagian kenapa kak Rio membantu wanita itu? Tapi aku merasa ada hal yang di sembunyikan kak Rio dari ku" gumam Clarisa.
"Apa kak Rio mengenali wanita itu? Lebih baik aku cari tahu dulu!"
Karena tidak ingin terlalu lama, Clarisa pun langsung bergegas mencari informasi tentang kakaknya dengan Ellen. Clarisa sangat yakin kalau kakaknya mengenal Ellen.
"Mau kemana kamu?" tanya Rio pada Clarisa yang ingin pergi begitu saja tanpa sarapan.
"Ke kantor kak, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan dengan cepat. Soalnya besok aku dan sahabatku pergi liburan ke luar kota, jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu" ucap Clarisa dengan berbohong.
"Tadi mama dan papa menelepon, mereka meminta kamu untuk mengikuti mereka tinggal di Jerman. Supaya perusahaan yang disana kamu yang urus" ucap Rio.
"Tidak mau! Aku lebih suka tinggal di Indonesia, kak Rio saja yang ke sana! Aku pergi dulu!"
Clarisa pergi dengan kesal karena orangtuanya ingin dia tinggal di Jerman. Kalau dia kembali lagi ke Jerman, dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Leo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membersihkan diri Leo dan Ellen berdiri di balkon kamar mereka sambil menikmati udara segar. Leo terus memeluk Ellen dari belakang.
"Sayang kamu tunggu sebentar disini..." ucap Leo yang baru teringat dengan hadiah yang dipersiapkannya kalau Ellen sudah membalas cintanya.
"Kamu mau kemana mas?"
"Aku ingin mengambil sesuatu sebentar..." Ellen mengangguk kepalanya.
Setelah beberapa menit Ellen sangat terkejut Leo mengalungkan sebuah kalung yang sangat indah di leher Ellen. Ellen sangat terkejut saat Leo mengalungkannya ke lehernya. Setelah terpasang, Ellen memutarkan tubuhnya menghadap Leo.
"Aku ingin kamu memakainya selalu. Apa kamu suka?" ucap Leo dengan tersenyum. Ellen hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja sambil tersenyum.
Melihat senyum manis istrinya, Leo kembali melahap bi*** istrinya. Ellen pun membalas ciuman suaminya, dan kedua tangannya dikalungkan ke leher Leo.
Visual Ellen Hardani
__ADS_1
...****************...