
Sepanjang perjalanan pulang, Ellen tampak sangat kesal dengan Leo. Bagaimana tidak sebelum mereka pulang ke rumah mereka, sempat-sempatnya Leo melahapnya lagi. Padahal semalam hampir satu harian mereka melakukannya dengan alasan supaya Ellen cepat hamil. Akhirnya mereka pulang siang harinya bukan pagi lagi.
Melihat istrinya ngambek membuat Leo semakin gemas dengan istrinya. Leo menarik tangan istrinya untuk di genggamnya.
"Ayo dong sayang jangan ngambek lagi...." bujuk Leo.
"Dengan satu syarat..." ucap Ellen sambil menatap tajam suaminya.
"Oke, apa syaratnya? Kamu mau beli tas, sepatu, baju? Aku akan belikan untuk mu..."
"CK... Kamu pikir aku suka dengan barang-barang?" Leo menggeleng kepalanya dengan tersenyum.
"Aku mau besok pagi kita nyusul kakek ke villa. Aku kangen dengan kakek..." ucap Ellen dengan semangat. Sejak Ellen keluar dari rumah sakit, Kakek Bryan pergi ke villa keluarga Leo untuk liburan.
"Baiklah. Kalau kamu mau kita bisa ajak mama dan adik kamu..."
"Benarkah?" Leo mengangguk kepalanya. Melihat istrinya bahagia, Leo juga ikut bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
La...La...La...La...
Desi dengan wajah bahagia bersenandung kecil sambil merapikan dapurnya yang sedikit berserakan.
Ting...Ting...
Saat mendengar suara bel pintu apartemennya, Desi menghentikan kegiatannya.
"Pak Rezza..." gumam Desi saat melihat kedatangan Rezza yang tampil sangat berbeda.
Ini pertama kalinya dia melihat Rezza mengunakan celana jeans pendek dan dipadukan dengan kaos oblong dan jaket kulit.
"Kamu sudah siap?" Desi mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Rezza.
"Siap?" cicit Desi dengan mengerutkan keningnya.
"Kamu lupa kalau hari ini nona Ellen mengadakan acara party kecil di rumahnya?"
"Astaga. Maaf pak saya lupa. Pak Rezza masuk saja dulu, saya mau siap-siap dulu." Desi merutuki dirinya yang lupa kalau ada barbeque dirumah sahabatnya.
__ADS_1
Saat Desi masuk kedalam kamar, Rezza duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Rezza memperhatikan apartemen Desi tampak sangat rapi dan bersih.
"Apa dia yang membersihkannya sendiri?" gumam Rezza yang kuatir karena Desi sedang hamil Muda.
"Maaf pak sudah menunggu lama..." ucap Desi.
Rezza langsung bangkit berdiri sambil menatap Desi dengan terpesona. Rezza merasa kalau Desi semakin cantik dimatanya. Jantungnya berdegup kencang setiap kali Desi menatapnya apalagi tersenyum. Keduanya pun secara bersamaan keluar.
"Pak, apa kita bisa berhenti di depan? Aku mau beli kue dulu..." tanya Desi saat melihat toko kue.
Rezza langsung menepikan mobilnya dan Desi pun langsung keluar. Didalam mobil Rezza memperhatikan Desi yang berbincang dengan seorang pria. Saat melihat siapa teman berbincang dengan Desi, Rezza pun langsung keluar dari dalam mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Desi..." sapa Rio yang juga ingin membeli kue.
"Kak Rio..." gumam Desi dengan dingin. Desi masih sangat kesal dengan Rio, karena Rio pernah meninggalkan sahabatnya begitu saja tanpa penjelasan.
"Kamu sendiri?"
"Tidak, aku dengan pak Rezza. Kami mau buat acara kecil-kecilan untuk merayakan kepulangan Ellen dari rumah sakit"
"Sehat kak..."
"Desi..." Desi menoleh kebelakang dan dia sangat terkejut Rezza sudah berdiri di belakangnya. Sedangkan Rio hanya menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormatnya pada Rezza.
"Apa kamu sudah membeli kuenya?" Desi menggeleng kepalanya.
"Pilih lah. Mereka sudah menunggu kita..." ucap Rezza.
"Oh, iya. Maaf pak, tunggu sebentar..." Desi langsung pergi mencari kue yang ingin dibelinya.
Sedangkan Rezza menatap Rio dengan dingin. Rezza sangat cemburu melihat Rio yang berbicara dengan Desi. Sedangkan Rio tampak sangat gugup karena Rezza terus menatapnya. Setelah beberapa menit Desi datang menghampiri mereka.
"Selesai?" tanya Rezza saat Desi dihadapannya. Desi hanya mengangguk kepalanya.
"Kita pergi sekarang..." ucap Rezza.
"Maaf kak, kami duluan..." ucap Desi pada Rio.
__ADS_1
Saat Desi ingin pergi, Rio menarik tangan Desi. Rezza yang melihat itu langsung menatap Rio dengan tajam.
"Apa aku bisa ikut? Aku ingin bertemu dengannya..." Desi tidak langsung menjawab, tapi dia menatap kearah Rezza. Dia ingin Rezza lah yang membantunya untuk menjawab.
"Nona Ellen sudah hidup bahagia dengan suaminya. Jadi saya harap tuan Rio tidak menggangu kehidupan nona Ellen lagi" ucap Rezza dengan dingin. Rezza sangat tahu siapa yang ingin ditemui Rio.
"Maaf kak, kak Rio tahu sendiri kalau Ellen tidak ingin bertemu dengan kak Rio. Apa yang dikatakan pak Rezza sangat benar, kalau Ellen sudah sangat bahagia. Tolong jangan ganggu kehidupan rumah tangga Ellen..." Sambung Desi.
"Apa kak Rio tahu bagaimana tanggapan semua orang dan keluarga besarnya saat kak Rio pergi begitu saja tanpa penjelasan. Padahal semua tetangganya dan keluarga besarnya sudah mengetahui tentang rencana pernikahan kalian. Ellen sudah menemukan pria yang begitu mencintainya dan kekurangannya. Aku berharap kak Rio dapat move on dari Ellen" ucap Desi.
"Sekali lagi maaf kak, aku tidak bisa membawa kak Rio untuk bertemu dengan Ellen. Kami duluan kak..." sambung Desi sekali lagi sebelum dia pergi.
Setelah mengatakan isi hatinya, Desi langsung menarik tangan Rezza untuk pergi. Karena Desi menggandeng tangan Rezza, Rezza tampak sangat terkejut. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia merasa sangat bahagia karena Desi mengandeng tangannya.
Sesampainya di depan mobil, Desi yang baru menyadari kalau dia mengandeng tangan Rezza langsung melepaskannya.
"Astaga... Maaf pak saya tidak sengaja..." ucap Desi sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Saat Desi menundukkan kepalanya, dengan tersenyum bahagia Rezza mengelus kepala Ellen. Tentu saja membuat Ellen sangat terkejut, Ellen langsung mendongakkan kepalanya menatap Rezza yang tengah tersenyum menatapnya.
Setelah mengelus kepala Ellen, Rezza membuka pintu mobilnya untuk Desi. Ellen mengerutkan keningnya karena Rezza tidak tampak marah dan malah tersenyum.
"Masuklah..." perintah Rezza pada Desi. Desi yang masih tampak bingung, terus berdiri dengan menatap Rezza. Karena Desi berdiri terus, Rezza mendekatkan wajahnya ke wajah Desi.
Kini jarak wajah Desi dan Rezza hanya tinggal beberapa jengkal. Wajah Desi tampak langsung memerah saat Rezza berdiri di hadapannya dan mensejajarkan wajahnya dengan dirinya.
"Apa mau ku gendong untuk masuk kedalam mobil?" ucap Rezza dengan suara lembut sambil menatap Desi dengan tersenyum.
Desi yang mendengar pertanyaan Rezza langsung Sadar. Desi yang sangat malu, langsung mempercepat langkahnya masuk kedalam mobil.
Rezza tampak sangat geli melihat tingkah Desi yang seperti itu. Rezza teringat bagaimana awalnya dia bertemu dengan Desi saat dia pergi ke toko Ellen untuk menyampaikan pesan Leo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah Leo, Rezza dan Desi bersamaan keluar dari dalam mobil. Desi yang masih tampak sangat malu karena tindakannya tadi berusaha untuk mempercepat langkahnya supaya tidak jalannya tidak sejajar dengan Rezza.
Rezza yang benar-benar sudah sangat tertarik dengan Desi, juga ikut mempercepat langkahnya supaya jalan mereka berdampingan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1