
Ellen yang sudah menyiapkan barang-barangnya untuk dibawa menemui kakek Bryan di villa harus tertunda. Karena Leo dan Rezza harus pergi ke Bandung melihat proyek mereka yang sedang bermasalah.
"Sayang ayok lah jangan ngambek lagi. Aku janji setelah pulang dari Bandung kita akan liburan menemui kakek" bujuk Leo karena istrinya terus diam saat dia mengatakan kalau dia harus pergi ke Bandung.
"Aku ngantuk. Mas pergilah...." ucap Ellen dengan jutek sambil berjalan kearah tempat tidur mereka. Leo yang benar-benar tidak sanggup melihat istrinya mendiamkannya, langsung memeluk istrinya dari belakang.
Tok... Tok...
"Pak, sudah waktunya kita berangkat..." Teriak Rezza dari luar kamar mereka.
"Pergilah, Rezza sudah memanggil..." ucap Ellen. Leo membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya. Leo dapat melihat jelas kalau istrinya tampak sangat kesal.
Cup...
Leo mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Maaf sayang, aku janji Setelah aku kembali kita akan pergi. Aku pergi dulu, i love you..." sekali lagi Leo meminta maaf pada istrinya dan mengucapkan kata-kata manis untuk istrinya.
Saat Leo mengucapkan kata cinta padanya, Ellen yang tadi masih cemberut langsung tersenyum. Ellen akan kembali luluh setiap Leo mengucapkan kata cinta padanya.
Cup...
Melihat istrinya kembali tersenyum, Leo kembali mengecup bibir manis istrinya yang menjadi kecanduannya.
"Aku janji akan mempercepat pekerjaan ku disana" Ellen mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Aku antar mas, sampai ke depan..."
Keduanya pun bersamaan keluar dari dalam kamar. Ellen terus memeluk lengan Leo sampai depan pintu. Sebelum suaminya masuk kedalam mobil, Ellen lebih dulu mencium tangan suaminya.
"Hati-hati ya mas..."
"Ia, sayang...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana? Apa semuanya beres?" tanya Clarisa pada seseorang melalui sambungan teleponnya.
"Beres bos.... Semuanya sesuai dengan rencana..."
"Bagus. Kalian tetap awasi, jangan sampai ada yang tahu!"
"Baik, bos!"
Clarisa tampak sangat senang karena rencananya berhasil.
__ADS_1
"Aku akan membuat mu menghilang dari kehidupan kak Leo selamanya...." ucap Clarisa sambil tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena tidak jadi pergi, Ellen mengajak Chelsea, Kartika dan Desi nonton film di bioskop. Sedangkan Sasa ingin menikmati waktunya bersama suami dan anaknya.
"Kak Desi dan kakak ipar tunggu disini, biar aku dan Kartika yang beli tiketnya" ucap Chelsea.
"Jangan lupa beli popcorn dan minuman nya juga dibeli" ucap Ellen.
"Oke..." ucap Chelsea sambil mengangkat jempolnya.
"El, pak Rezza juga ikut?" tanya Desi setelah Chelsea dan Kartika pergi.
"Hemm... Mereka berangkat semalam jam 8 malam"
"Apa ada masalah?"
"Kata mas Leo ada proyek mereka yang di Bandung lagi ada masalah, makanya mereka berangkat malam ini. Cie yang tanya pak Rezza..." wajah Desi langsung memerah karena di goda Ellen.
"Des...." Ellen menatap Desi dengan serius.
"Hemm... Kenapa?"
Mendengar pertanyaan Ellen, Desi tampak diam. Desi tidak tahu apa kah dia bisa membuka hatinya lagi dengan pria lain. Memang belakangan ini Desi tampak sangat nyaman setiap dekat dengan Rezza. Apalagi Rezza tampak sangat perhatian dengannya dan selalu ada di setiap lagi membutuhkan pertolongan.
"Kenapa? Apa kamu masih mencintainya?" Desi menatap Ellen dan langsung menggeleng kepalanya. Desi tahu siapa yang dimaksud Ellen.
"Jadi?"
"Aku tidak tahu, El. Saat ini aku hanya ingin fokus dengan kehamilan ku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak ini..." Ellen langsung memeluk erat Desi karena melihat wajah Desi yang mulai berkaca-kaca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sehabis menonton, Ellen dan yang lainnya memilih belanja bahan membuat kue karena Ellen ingin membuat kue.
"Kak, kenapa dua pria itu terus mengikuti kita?" bisik Kartika pada Chelsea yang tampak sangat asik memilih cemilan untuknya.
Sejak mereka masuk kedalam bioskop, keluar dari bioskop dan belanja Kartika memperhatikan ada dua pria yang tampak seperti preman mengikuti mereka. Mendengar ucapan Kartika, Chelsea langsung menoleh ke arah yang yang ditunjuk Kartika.
"Kakak ipar dimana?" tanya Chelsea setelah melihat dua pria yang ditunjuk Kartika sangat mencurigakan.
"Sama dengan kak Desi..."
"Kita kesana sekarang..." Kartika mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Chelsea dan Kartika secara bersamaan mencari keberadaan Ellen dan Desi. Saat melihat Ellen dan Desi tampak baik-baik saja, Chelsea menoleh kebelakang dan melihat dua pria yang dibelakang mereka juga masih ada.
Chelsea langsung menghampiri kedua pria itu dengan tatapan tajam. Kedua pria itu pun langsung memberi hormat pada Chelsea dan Kartika. Tentu saja membuat mereka langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa kalian mengikuti kami?" tanya Chelsea dengan dingin.
"Maaf nona, kami ditugaskan untuk menjaga nona dan nona Ellen..." Mendengar itu Chelsea langsung mengerti siapa yang memerintahkan mereka.
"Kar, biarkan mereka melakukan tugas mereka. Sekarang kita lanjutkan belanjaan kita..." ucap Chelsea dengan tersenyum sambil menarik tangan Kartika untuk mengikutinya.
"Mereka siapa kak?"
"Mereka suruhan kak Leo, untuk menjaga kita. Sudah tenang saja. Jangan kasih tau dengan kakak ipar, nanti kakak ipar pasti menolak untuk hal yang seperti itu" Kartika hanya mengangguk kepalanya.
Setelah mendapatkan bahan kue yang ingin dibelinya, Ellen dan Desi mencari keberadaan Chelsea dan Kartika.
"Apa kalian masih lama?" Chelsea dan Kartika langsung menoleh kebelakang dan melihat Desi dan Ellen sudah dibelakang mereka.
"Kakak ipar sudah selesai?" tanya Chelsea.
"Sudah. Kalian?"
"Sudah juga...."
"Ya, sudah kita ke kasir langsung. Hari ini biar kakak saja yang bayar, kita akan memanfaatkan kartu yang diberikan kakak mu..." ucap Ellen sambil mengedipkan matanya dan menunjukkan kartu yang berwarna hitam.
Sebenarnya kartu itu sudah lama diberikan Leo padanya, sejak mereka menikah. Tapi Ellen tidak pernah menggunakannya karena belum ada perasaan cinta pada suaminya. Ellen tidak ingin Leo berpikir kalau dia wanita yang materialistis.
"Wah... Kalau begitu kita bisa shopping kak..." ucap Chelsea dengan semangat.
"Kamu ini... Kamu kan juga punya kartu seperti ini..."
"CK... Tidak, kartu itu hanya kak Leo yang punya. Kakek saja tidak ada..." Ellen tampak sangat terkejut mendengar kalau Chelsea dan kakek Bryan tidak memiliki kartu seperti miliknya.
"Baiklah, tapi sebelum itu temani kakak memilih baju untuk kakak mu..."
"Oke..." ucap Chelsea dengan semangat.
"Kalian dua juga boleh memilih barang yang ingin kalian beli..." ucap Chelsea sambil menunjuk ke arah Desi dan Kartika.
"Ah... Kakak sangat baik, deh..." jerit Kartika sambil memeluk Ellen.
Keempatnya pun langsung masuk kedalam salah satu toko yang ada di mall. Dengan ditemani Desi dan yang lainnya Ellen memilih beberapa kemeja yang cocok untuk suaminya. Ellen juga memilih kaos pasangan untuknya dan Leo.
...****************...
__ADS_1