
Satu bulan kemudian, seluruh pegawai perusahaan tampak sangat terkejut saat mereka mendapatkan undangan resepsi pernikahan Rezza. Para pegawai wanita yang begitu sangat mengidam-idamkan Rezza langsung patah hati. Apalagi saat mereka mendengar kalau Rezza sudah mempunyai anak.
Saat mereka hadir di acara resepsi pernikahan Rezza, mereka sangat tampak cemburu karena melihat Desi sangat cantik.
"Istrinya pak Rezza cantik juga, tidak kalah cantiknya dengan Bu Ellen" puji salah satu pegawai wanita yang hadir.
"Benar banget..." Mereka tampak terpesona dengan kecantikan Desi.
"Mas, sampai kapan aku kita seperti ini? Aku sangat lelah, dan pasti Dimas nyari aku" bisik Desi yang sudah tampak sangat lelah melayani tamu yang datang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat pada m
Desi benar-benar tidak menyangka kalau tamu dari Rezza sangat banyak. Apalagi rekan-rekan bisnis Rezza dan Leo banyak yang datang.
"Ya, sudah mas antar kamu ke kamar, tapi mas balik ke sini lagi. Tidak enak mas tinggalkan begitu saja." Desi yang mengerti langsung mengangguk kepalanya.
"Kamu tunggu sebentar ya, mas bilang dulu sama Leo dan Ellen" sambung Rezza lagi.
Setelah meminta ijin pada Leo dan Ellen, Rezza membawa Desi ke kamar yang disediakan untuk mereka dan Rezza juga meminta supaya putra mereka diantar ke kamar mereka. Setelah memastikan putranya dan istrinya beristirahat, Rezza kembali ke tempat acara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Enam bulan kemudian
Ini pertama kalinya Desi datang berkunjung ke kantor suaminya. Tapi kali ini dia datang bersama dengan Ellen dan Sasa. Mereka ingin mengajak suami mereka untuk makan siang bersama. Desi dan Sasa juga mengajak anak mereka. Rehan, suaminya Sasa dia satu bulan yang lalu Leo mengangkatnya menjadi manager keuangan. Bukan karena suami dari sahabat istrinya tapi memang karena kinerja Rehan yang sangat bagus.
Berkat ketelitian Rehan, apa yang dilakukan manager keuangan sebelumnya terbongkar. Leo yang sangat sibuk dengan memenuhi keinginan istrinya yang lagi hamil membuat, dia kurang teliti memeriksa laporan.
Berhubung suami mereka masih ada rapat penting, Ellen, Desi dan Sasa memutuskan untuk menunggu suami mereka di kantin perusahaan. Suasana kantin perusahaan tampak sangat ramai karena mereka datang di jam makan siang kantor.
"Ternyata Bu Ellen dan Bu Desi tampak sangat cantik. Meskipun Bu Ellen lagi hamil tapi kecantikannya tidak pernah pudar. Begitu juga dengan Bu Desi."
"Benar banget, sangat berbeda dengan asistennya pak Rezza. Karena pegawai pria di perusahaan ini tergila-gila padanya, dia berpikir bisa mendapatkan pak Leo dan Rezza"
"Aku sangat kesal setiap dia datang menyombongkan dirinya kalau dia bisa dekat dengan pak Leo dan Rezza setiap hari"
"Kalian tahu dia pernah menantang ku, kalau dia bisa mendapatkan posisi penting di hati pak Leo dan Rezza dalam satu tahun ini."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari bahwa istri dari atasan mereka mendengar semuanya. Desi dan Ellen langsung mengepalkan kedua tangannya karena mendengar seorang wanita ingin merebut suami mereka.
"Aku sudah menduga wanita itu tidak ada beresnya. Setiap aku ingin makan malam dengan mas Rezza, pasti dia selalu muncul tiba-tiba." ucap Ellen dengan kesal.
"El, apa kamu pernah melihatnya? Bagaimana tampilannya? Apa dia sangat cantik di bandingkan aku?" tanya Desi yang kuatir.
Mendengar cerita pegawai tadi, membuat Desi teringat dengan masa lalunya. Masa lalu yang membuat dia takut sampai sekarang. Dia selalu merasa minder setiap ada gadis yang suka dengan Rezza.
"CK.... Tentu saja tidak! Dia cantik karena makeup nya yang tebal. Dari awal melihatnya aku tidak suka dengannya" ucap Ellen dengan tekanan.
"Ah, aku jadi ingat waktu aku menjemput mas Rehan kemarin ada wanita yang minta numpang dengan kak Leo dan kak Rezza" sambung Sasa.
"Apa yang harus kita lakukan, aku tidak ingin suami ku direbut wanita lain lagi" ucap Desi.
"Kita harus buat wanita itu melihat suami kita hanya menatap kita saja" ucap Ellen.
"Benar juga, kalau begitu kita ke ruangan suami kita saja sekarang..." Ellen mengangguk kepalanya sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan Desi.
"Kalau begitu aku juga ke ruangan suami ku" sambung Sasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada di sebelah kanan..." ucap Ellen.
"Tolong jaga putra ku, aku ke toilet sebentar...." ucap Desi.
"Oke, aku akan bawa dia ke ruangan suami ku." ucap Ellen sambil menunjukkan arah dimana ruangan suaminya"
"Thanks..." Ellen hanya mengangguk kepalanya.
Saat Desi masuk kedalam kamar mandi, Desi mendengar suara yang tidak seharusnya ada di dalam toilet kantor apalagi ini masih siang.
Saat Desi sampai di mana depan toilet, Desi teringat bahwa dilantai paling atas ini hanya ada ruangan suaminya dan suaminya sahabatnya membuat Desi jantungnya berdegup kencang. Desi yang ingin melihat siapa yang yang sedang bercumbu langsung diurungkannya. Dia takut kalau yang ada didalam toilet itu suaminya dan asistennya.
Dengan cepat Desi melangkahkan kakinya menuju ruangan Leo. Dia ingin mengambil putranya dari Ellen untuk dibawa pulang.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, El..." ucap Desi sambil mendorong kereta bayinya.
"Tunggu dulu, kenapa pulang? Bukannya kamu ingin kasih kejutan untuk suami mu?" Ellen sangat terkejut mendengar ucapan Desi.
"A... aku..."
"Sayang..." Belum juga Desi menjawab, mereka mendengar suara suami mereka memanggil mereka.
"Mas Rezza..."
"Mas Leo..." gumam Desi dan Ellen bersamaan.
Leo yang benar-benar sangat bahagia karena kedatangan istrinya, langsung memeluk erat istrinya lalu dia mengecup perut besar istrinya. Sedangkan Rezza lebih dulu menyapa putranya.
"Jagoan papa ternyata datang..." ucap Rezza setelah mencium pipi putranya yang sangat menggemaskan.
"Mas, kamu..." Rezza langsung bangkit berdiri dan langsung memeluk istrinya dengan tersenyum bahagia.
"Kenapa kamu tidak katakan kalau mau datang?" tanya Rezza sambil memeluk istrinya. Bukannya menjawab Desi mendorong suaminya untuk mengecek leher suaminya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rezza dengan bingung. Begitu juga dengan Leo dan Ellen.
"Kamu baru datang bersamaan dengan kak Leo?" Rezza mengangguk kepalanya.
"Kalau begitu siapa yang ada di dalam toilet?" cicit Desi dengan mengerutkan keningnya.
"Toilet?" cicit Rezza.
"Ya, tadi aku mendengar suara aneh di dalam toilet..." ucap Desi dengan sedikit gugup.
Rezza dan Leo langsung saling menatap, lalu mereka langsung pergi ke luar menuju toilet. Seperti apa yang dikatakan Desi, mereka juga mendengar suara yang begitu sangat menjijikkan dari dalam toilet.
Rezza langsung mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. Dalam sekejap suara yang menjijikkan itu langsung hilang.
"Keluarlah! Kalau kalian tidak keluar dari dalam hitungan sepuluh aku akan mendobrak pintunya" ucap Rezza.
__ADS_1
...****************...