
"Minumlah..." Rio memberikan minuman wine pada Dion yang dari tadi diam sambil menatap hamparan bunga di taman belakang villa kakek Bryan.
"Terimakasih, tuan..."
"Sudah ku bilang kalau diluar kantor kamu jangan panggil aku tuan!" ucap Rio dengan memukul pundak Dion.
Selang beberapa menit Rezza, Leo dan Rehan datang membawa minuman mereka masing-masing. Sedangkan para wanita sibuk menyiapkan makanan untuk mereka semua dan anak-anak mereka bermain-main dengan kakek Bryan.
"Ma, ayolah untuk sekali saja... Kalau Faisal pulang, mama mau kan bertemu dengannya?" bujuk Kartika sambil memeluk lengan mama Nia.
Mama Nia memang tidak pernah bertemu dengan Faisal, tapi saat Kartika menunjukkan foto Faisal dua tahun yang lalu, mama Nia langsung tidak setuju dan menolak untuk dipertemukan dengan Faisal.
"Mama kan sudah bilang, nak. Mama tidak suka dengannya..."
"Kenapa? Faisal itu orangnya baik loh ma..." Mama Nia langsung menatap Kartika dengan sedih. Melihat tatapan mamanya yang sedih, Kartika langsung melepaskannya.
"Baiklah kalau mama belum setuju, Tika akan menunggu persetujuan mama saja..." ucap Kartika sebelum pergi ke kamarnya.
"Kenapa tidak mama kasih tahu saja siapa Faisal sebenarnya?" ucap Ellen sambil memotong sayuran.
"Memangnya kenapa dengan Faisal, kak?" tanya Chelsea yang sangat penasaran.
"Sebenarnya sewaktu mama pulang kampung mama melihat Raya, sepupu kami di kampung jalan sama cowok. Tetangga yang disana langsung cerita kalau pria yang bersama sepupu kami tunangannya. Pria itu mirip dengan Faisal dan nama mereka juga sama" ucap Ellen dengan menghela nafasnya.
"Kalau begitu kenapa Tante tidak langsung cerita pada Tika?" tanya Chelsea dengan bingung.
"Benar Tante, lebih baik Tika tahu sekarang...." sambung Sasa.
"Aku malah tidak setuju..." sambung Desi, semuanya pun langsung menatap ke ..arah Desi.
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Lebih baik dia mengetahuinya secara langsung. Kalau kalian di posisi Tika, apa kalian langsung percaya dengan apa dikatakan orang tentang pacar kalian? Apalagi dia sangat tahu kalau kalian tidak setuju dengan hubungan mereka." jelas Desi.
"Benar juga..." ucap Ellen yang mengerti apa yang dikatakan Desi.
"Benar juga apa kak?" semuanya langsung menoleh dan terkejut melihat Kartika berdiri di hadapan mereka.
"Emm..."
"Tidak apa-apa. Sekarang kamu bantu bawa makanan yang sudah masak ke luar" ucap Ellen dengan tersenyum. Kartika pun langsung mengikuti apa yang dikatakan Ellen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan siang bersama, Leo mengajak semuanya untuk ke kebun teh milik keluarganya. Semuanya tampak sangat menikmati suasana kebun teh yang sangat sejuk.
Leo memeluk istrinya dari belakang sambil memperhatikan putra dan putrinya yang tampak sangat asyik main kejar-kejaran.
__ADS_1
"Mas, apa kamu yakin kalau mereka sedang liburan di sini?" tanya Ellen tanpa mengalihkan pandangannya memperhatikan putra dan putrinya.
"Iya sayang..."
"Baru saja mereka mengirim pesan sama mas. Kenapa? Kamu kuatir?" Ellen mengangguk kepalanya.
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja..." Ellen tampak diam saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"AW..." Kartika yang tidak melihat jalan langsung jatuh.
Saat Kartika ingin bangkit berdiri tapi kakinya malah terasa sakit.
Kartika langsung melihat sekelilingnya dan tidak melihat siapapun yang ada di dekatnya. Suasana yang sangat sepi membuat Kartika jadi takut.
"Sepertinya aku terlalu jauh berjalan..." gumam Kartika.
"Tapi kenapa tempat ini sangat sepi...." gumam Kartika lagi.
Karena takut, Kartika memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Setelah berhasil berdiri, Kartika berjalan dengan kaki yang pincang.
Saat dia mencari keberadaan keluarganya, Kartika melihat sepupunya yang tidak pernah suka dengannya dan keluarganya.
"CK... Kenapa dia disini?" gumam Kartika dengan tidak suka karena bertemu dengan sepupunya.
"Tika..." Kartika yang berniat ingin pergi ke arah lain langsung mengurungkan niatnya karena sepupunya itu sudah melihat keberadaannya.
Kartika menolehkan pandangannya menatap sepupunya dengan dingin. Kartika melihat sepupunya berjalan ke arahnya dengan wajah tersenyum bahagia.
"Kamu disini?" tanya Raya sambil menatap Kartika dengan memandang rendah.
"Tidak...." jawab Kartika dengan jutek.
"CK... Kamu ini masih saja jutek dengan sepupu mu. Apa kamu datang sendiri?"
"Tidak...."
"Jadi?"
"Tidak perlu kamu tahu. Urus saja urusan mu..."
"CK... Kamu ini tidak berubah juga. Oh, ya karena kamu disini, aku ingin mengenalkan tunangan ku..." ucap Raya dengan sombong.
"Tunangan?" Kartika terkejut mendengar kalau Raya sudah memiliki tunangan.
"Hemm... Kenapa? Kamu tidak percaya?"
__ADS_1
"Apa ada pria yang mau tunangan dengan wanita cerewet seperti mu?" tanya Kartika dengan mengejek.
"Kamu ini... Tunggu sebentar, tunangan ku lagi beli ambil minuman untuk ku..." ucap Raya dengan kesal.
"Tidak perlu, tidak penting dengan ku apa kamu datang dengan tunangan mu atau tidak. Aku pergi dulu..."
Kartika yang sangat malas melihat tunangan Raya memutuskan untuk pergi. Baru beberapa langkah suara yang tidak asing dengannya memanggil nama sepupunya.
"Faisal..." gumam Kartika saat mendengar suara seorang pria memanggil sepupunya.
Kartika langsung menoleh kebelakang dan melihat betapa terkejutnya dia melihat Faisal sedang menghapus keringat Raya yang di dahinya.
Kartika mengepalkan kedua tangannya dan menatap Faisal dengan tatapan penuh kebencian. Setelah mengetahui kalau Faisal telah mengkhianati nya memutuskan untuk mempercantik langkahnya untuk pergi menjauh. Kartika tidak mempedulikan lagi rasa sakit kakinya yang dia inginkan hanya ingin menjauh dari pandangan Raya dan Faisal.
Karena dirinya dipenuhi kemarahan, Kartika tidak lagi memperhatikan langkahnya. Kartika kembali jatuh untuk kedua kalinya dan saat dia sudah pasrah kalau dia akan jatuh lagi tapi seseorang menangkap menangkap tangannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dion dengan kuatir setelah melepaskan tangan Kartika dari genggamannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Dion, Kartika malah memeluk Dion sambil menangis. Tentu saja Dion sangat terkejut karena Kartika menangis.
"Kar, katakan apa ada yang sakit?" tanya Dion dengan kuatir.
Kartika terus menangis dalam pelukan Dion. Karena Kartika terus menangis, Dion pun lebih memilih diam. Dia akan bertanya lagi setelah Kartika tenang.
Setelah lima belas menit, Kartika mulai tenang dan Dion merasakan kalau bajunya sudah basah karena ulah Kartika. Kartika yang mulai tenang mulai melepaskan pelukannya dan melihat baju Dion basah.
"Maaf pak, bajunya jadi basah..." ucap Kartika dengan rasa bersalah.
Kartika tidak berani menatap Dion, dia merasa malu karena dia main peluk Dion begitu saja dan menangis sampai membuat baju Dion basah.
"Apa kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit sampai kamu menangis?" tanya Dion dengan lembut.
Mendengar pertanyaan Dion, Kartika mendongakkan kepalanya dan menatap Dion dengan sendu.
Dion yang melihat tatapan sedih di mata Kartika dan air mata Kartika, Dion mengarahkan tangannya untuk menghapus air mata Kartika.
"Kenapa? Katakan apa yang sakit?" tanya Dion sekali lagi.
Kartika hanya menggeleng kepalanya saja. Dia menangis bukan karena rasa sakit di kakinya tapi hatinya. Dia tidak menyangka kalau Faisal tega mengkhianatinya.
"Baiklah kalau kamu tidak ada yang sakit. Sekarang lebih baik kita kembali, semuanya mencari mu dari tadi..." Kartika hanya mengangguk kepalanya saja.
Saat Kartika ingin melangkahkan kakinya, Dion melihat kalau jalan Kartika pincang. Tanpa bertanya Dion langsung menangkap tangan Kartika. Kartika mengerutkan keningnya karena Dion menggemgam tangannya.
Setelah Kartika menghentikan langkahnya Dion langsung jongkok dihadapan Kartika dengan membelakangi.
"Naiklah..." perintah Dion pada Kartika untuk naik ke punggungnya.
__ADS_1
...****************...