
Kini Desi, Resa dan mamanya Dito berada di depan ruang kerja Dito.
"Mas, Desi datang...." ucap Resa sambil mengetuk pintu ruang kerja Dito.
Sudah ada satu menit Resa dan mamanya Dito mengetuk pintu ruang kerja Dito, tapi Dito tidak juga membuka pintu. Hal ini membuat mereka kuatir. Desi ingat kalau Dito pernah mengatakan padanya dimana letak kunci serep ruang kerjanya. Dengan cepat Desi ke lantai atas dan masuk kedalam kamar Dito.
Saat masuk kedalam kamar Dito, rasa sakitnya pada Dito semakin besar. Desi akhirnya baru menyadari beberapa bulan yang lalu saat dia dan Dito berkunjung ke rumah mertuanya, Desi yang ingin istirahat ke kamar Dito, Dito langsung mencegahnya. Dengan alasan AC kamarnya rusak, dan Desi disuruh untuk istirahat di kamar tamu. Ternyata kamar Dito sudah berubah jadi kamar Dito dengan Resa.
Air matanya menetes keluar saat melihat foto pernikahan Dito dan Resa terpajang di dalam kamar Dito. Tapi dengan cepat Desi menyandarkan dirinya untuk melupakannya, setelah menghapus air matanya Desi mengambil kunci serap ruang kerja Dito dari laci meja yang dekat dengan kasur Dito.
Setelah mendapatkan kuncinya Desi membuka pintu ruang kerja Dito. Desi dan yang lainnya sangat terkejut melihat Dito sudah tidak sadarkan diri di atas lantai. Ruangan itu baunya sangat menyengat, aroma minuman memenuhi ruang kerja Dito.
Desi dan mamanya Dito bersama-sama untuk membawa Dito ke kamar tamu. Setelah itu mamanya Dito memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dito. Desi sangat kuatir kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Dito, meskipun Dito sangat mengecewakannya, tapi rasa cintanya pada Dito masih ada.
"Bagaimana dok? Apa anak saya perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya mamanya Dito dengan kuatir setelah dokter memeriksa keadaan Dito.
Desi tampak diam-diam saja sambil menatap Dito dengan sedih, tapi rasa kecewanya pada Dito sangat besar. Maka karena itu dia berusaha untuk tidak terpengaruh sat melihat keadaan Dito yang sangat memprihatikan. Sedangkan Resa terus duduk di samping Dito sambil menangis.
"Tidak apa-apa, Bu. Sebentar lagi pak Dito akan bangun. Setelah pak Dito bangun, tolong paksakan pak Dito untuk makan." Desi yang mendengar penjelasan dokter, sedikit lega karena Dito baik-baik saja.
"Baik, dokter."
"Ini ada resep obat untuk pak Dito minum setelah dia bangun. Tapi obat nya diminum setelah pak Dito makan"
"Ia, dokter. Terimakasih."
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu..."
"Saya antar ke depan dokter..."
Saat mamanya Dito dan dokter keluar dari dalam kamar, Desi juga keluar. Desi langsung menunju dapur dan membuat bubur untuk Dito. setelah lima belas menit bubur buatannya masak, Desi membawanya ke kamar.
"Kalau dia sadar, berikan dia bubur ini...." ucap Desi pada Resa dan mamanya Dito yang dari tadi terus duduk di samping Dito.
"Nak, kamu mau kemana?" tanya mamanya Dito saat Desi ingin keluar kamar.
"Tante tenang saja saya tidak akan pergi sebelum putra Tante bangun. Saya hanya akan menunggu di luar" ucap Desi dengan dingin.
Mamanya Dito sangat terkejut mendengar Desi mengubah panggilannya dengannya. Begitu juga dengan Resa, Resa merasa kalau Desi datang bukan karena ingin mengubah keputusannya.
Saat Desi keluar dari dalam kamar tamu, Desi meminta salah satu pelayan membantunya untuk membersihkan ruang kerja Dito.
"Tidak apa-apa..." ucap Desi sambil menghapus air matanya saat melihat fotonya bersama Dito masih terpajang di atas meja kerja Dito.
"Non, bagaimana dengan minuman ini?"
"Bawa ke gudang saja, Bi..."
"Baik, non...."
Setelah lima belas menit akhir ruangan kerja Dito sudah bersih dan aroma minuman tidak tercium lagi. Saat dia ingin keluar dari ruang kerja Dito, Desi sangat terkejut melihat Dito sudah berdiri di depan pintu. Wajah pucat Dito masih tampak terlihat.
__ADS_1
Tanpa bicara Dito berlari memeluk erat Desi sambil menangis. Desi dapat merasakan kalau saat ini bajunya basah dengan air matanya Dito.
"Tolong jangan pergi... Hiks hiks hiks...." ucap Dito sambil memeluk erat Desi. Desi tampak diam saja, tak ada niatnya membalas pelukan Dito. Entah kenapa dia merasa merasa jijik saat Dito memeluknya. Tapi Desi membiarkan Dito memeluknya sampai Dito tenang.
Setelah Dito tenang, Desi menarik Dito untuk melepaskan pelukannya. Tapi Dito semakin erat memeluknya. Tentu saja membuat Desi sangat kesal, dengan sekuat tenaga mendorong Dito untuk melepaskan pelukannya. Karena tenaga Dito belum pulih benar, membuat Desi berhasil membuat Dito melepaskan pelukannya.
"Sayang...." cicit Dito sambil menatap Desi dengan sendu.
"Aku datang bukan karena keinginan ku. Aku hanya merasa kasihan dengan istri mu yang lagi hamil besar dan ibu yang terus menerus memohon untuk datang melihat mu. Karena kamu tampak baik-baik saja, aku permisi dulu" ucap Desi dengan dingin.
"Tidak sayang, jangan pergi" Dito menarik kedua tangan Desi, lalu bersujud di hadapan Desi.
"Tolong maafkan aku, ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa mu..." Mendengar ucapan Dito membuat Desi merasa lucu dengan apa yang dikatakan Dito.
"CK... Kamu lucu sekali. Kamu mengatakan kalau kamu tidak bisa hidup tanpa ku? Saat kamu mengambil keputusan untuk menikah lagi, kamu pasti sudah tahu konsekuensinya bukan? Kamu tahu kalau aku tidak suka dibohongi dan penghianatan. Tapi kamu tetap melakukannya, itu berarti kamu sudah siap menerima konsekuensinya." ucap Desi dengan mengeluarkan isi hatinya.
"Maaf sayang, ku mohon tolong maafkan aku. A.. aku mohon berikan aku kesempatan"
"Untuk orang yang sudah menghianati ku, tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Ku mohon tolong lepaskan aku, supaya aku bisa melupakan rasa sakit yang kamu dan keluargamu berikan pada ku." ucap Desi dengan lirih. Desi menarik tangannya dari genggaman tangan Dito.
"Ku mohon tolong jangan membuat ku semakin membenci mu. Besok aku berharap, aku dapat kabar kalau kamu sudah menandatangani suratnya. Oh, ya cukup hanya hati ku yang kamu sakiti, jangan sampai kamu menyakiti hati istri mu yang sedang mengandung anak mu. Pikirkan bagaimana perasaannya, saat melihat suaminya yang seperti tidak mengharapkan kehadirannya. " ucap Desi sebelum pergi meninggalkan Dito yang masih terus menangis.
Desi melihat Resa dan mamanya Dito yang menangis di depan pintu. Meskipun hatinya sangat sakit hati dengan Resa, tapi Desi masih memiliki hati. Dia tidak ingin Resa yang lagi hamil jadi stress karena ulah Dito.
"Maaf terlambat untuk mengucapkannya, selamat untuk kehamilan mu. Aku berharap anak kalian dan kamu sehat selalu sampai hari H dan selamat untuk Tante sebentar lagi Tante jadi seorang nenek. Saya permisi dulu." ucap Desi sambil sedikit menunduk kepalanya saat meminta ijin pergi.
__ADS_1
...****************...