
Leo melihat Ellen menatap yang tampak tidak semangat sejak pulang dari apartemen Desi. Ellen lebih memilih memandang luar jendela.
"Apa aku bisa ke rumah mama ku? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mama" ucap Ellen sambil menatap keluar jendela.
"Baiklah, tapi aku tetap ikut" Ellen hanya mengangguk kepalanya saja.
Leo pun langsung meminta Rezza untuk mengantarkan mereka ke rumah Ellen. Setelah satu jam lebih mereka sampai di rumah Ellen. Ellen dan Leo secara bersamaan masuk kedalam rumah, tapi saat mereka ingin masuk mereka mendengar suara pertengkaran dari dalam.
"Kamu itu menantu pembawa sial. Sejak menikah dengan mu, putra ku itu berubah" Ellen sangat mengenal suara yang menghina ibunya itu.
"Sudah ma, lebih baik kita pulang saja ke desa. Kan sudah aku bilang dengan kalian semua, kalau kak Nia itu pasti jadi orang yang sombong. Dia sombong karena putrinya itu bisa menikah dengan orang kaya"
"Cukup. Nenek dan bibi sudah cukup menghina mama seperti itu. Dari awal aku sudah curiga kenapa nenek ingin bermalam di rumah kami. CK... Aku tidak menyangka kalau nenek ingin minta uang dengan mama. Apa nenek pikir mama itu bank?" ucap Kartika dengan emosi.
"Tika, jaga batasan mu..." bentak mama Nia pada putrinya.
"Kamu itu benar-benar seorang istri dan ibu yang gagal. Kamu tidak bisa membuat suami mu untuk selalu dijalan yang benar dan putri-putri mu tidak memiliki sopan santun" sekali lagi nenek menghina mama Nia dengan emosi.
"Untung saja selama hidup putra ku, memiliki satu perbuatan yang benar. Aku yakin cucu ku yang dibesarkan Tere, tidak memiliki sifat seperti putri-putri mu ini" sambung nenek lagi.
"Cucu? Tere? Siapa maksud nenek?" tanya Kartika dengan mengerutkan keningnya. Setahu Kartika, dalam keluarga ayahnya tidak ada yang bernama Tere.
"Ma, please tolong jangan katakan apapun. Bukannya mama sudah janji?" Mama Nia berusaha untuk menghentikan nenek untuk tidak menjawab pertanyaan putrinya.
Ellen yang mendengar ucapan nenek juga sangat penasaran dengan siapa Tere yang dimaksud neneknya. Ellen yang ingin masuk langsung ditahan Leo.
"Kenapa kamu menahan ku? Aku ingin tahu siapa yang dimaksud nenek" ucap Ellen dengan suara pelan.
"Kamu akan tahu nanti, dengar saja dari sini" ucap Leo. Ellen pun langsung mengikuti apa yang dikatakan Leo padanya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan janji ku. Dengarkan aku, apa kalian berpikir bahwa hanya kalian anak dari ayah kalian? Tidak, ayah kalian punya seorang putra dari istrinya yang lain. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya pada mama kalian"
Ellen yang mendengar penjelasan neneknya, langsung menghempaskan tangan Leo yang menahannya tidak masuk. Ellen membuka pintu rumahnya dengan keras, sehingga membuat semuanya sangat terkejut.
"Ma, jawab apa yang dikatakan nenek itu tidak benar" ucap Ellen sambil melangkah kakinya berjalan mendekati mamanya yang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Bukannya menjawab Mama Nia menangis, hal ini membuat Kartika dan Ellen mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan nenek mereka adalah benar.
"CK... Apa nenek bangga karena putra nenek menikah lagi dan mendapatkan cucu laki-laki?" tanya Ellen dengan dingin menatap nenek.
"Jaga bicaramu" ucap nenek yang emosi karena merasa sikap Ellen yang tidak sopan.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku? Asalkan nenek tahu, aku tidak pernah sekalipun bangga menjadi putri dari putra nenek. Tak ada satupun contoh yang baik bisa kami ambil dari ayah yang sepertinya" ucap Ellen.
Mendengar ucapan Ellen yang sudah menghina putranya membuat nenek ingin menampar Ellen. Tapi dia langsung kesal karena seseorang menahan tangannya di udara. Saat dia ingin melihat siapa yang menghalanginya, nenek sangat terkejut melihat Leo lah yang melakukannya.
"Meskipun anda nenek dari istri ku, aku tidak bisa berbuat kasar dengan anda nyonya. Saya akan menghormati anda kalau anda bisa menjaga perilaku anda. Tapi dari apa yang saya perhatikan dari tadi, anda tidak layak mendapatkan rasa hormat ku pada anda" ucap Leo dengan dingin.
Nenek dan bibi sebenarnya ingin melawan tapi paman yang dari tadi diam, langsung menghentikan nenek dan bibi. Paman mengingatkan pada mereka siapa Leo sebenarnya. Tentu saja membuat nenek dan bibi langsung mengikuti apa yang dikatakan Leo.
Setelah keluarga ayahnya pergi Ellen dan Kartika langsung duduk di samping mama Nia. Sedangkan Leo memilih duduk di tempat yang lain.
"Sejak kapan mama mengetahui hal ini?" Ellen membuka suara lebih dulu. Mama Nia menghapus air matanya, setelah itu menatap kedua putrinya dengan sendu.
"Itu semua salah mama sayang, kalau saja mama bisa memberikan anak laki-laki untuk ayah mu pasti ayah mu tidak akan menikah lagi" ucap mama Nia dengan sendu.
"Jadi hanya karena itu, ayah memilih menikah lagi? Mama setuju begitu saja?" Mama Nia kembali meneteskan air matanya saat mendengar pertanyaan Kartika.
Melihat mamanya kembali menangis, Kartika dan Ellen memeluk mamanya. Mereka sangat tahu bagaimana perasaan mamanya. Tidak mungkin mamanya bisa menerima begitu saja, tapi apalah daya mamanya hanya bisa bertahan saja.
__ADS_1
Setelah satu jam berlalu kesedihan mama Nia menghilang karena kedua putrinya membuat cerita lucu pada mama Nia. Untuk menghilangkan rasa sedih mereka, mereka bertiga memutuskan untuk masak kue di dapur. Setelah melihat mamanya kembali tersenyum, Ellen menceritakan tujuannya datang.
"Jadi kalian akan bulan madu?" tanya mama Nia sambil mengolah adonan.
"Ya, begitulah ma. Ma, untuk sementara toko ku aku serahkan pada mama dan Kartika untuk mengawasinya ya." ucap Ellen dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Cie yang bulan madu... Itu berarti Tika bentar lagi punya keponakan dong...." goda Kartika pada Ellen, kakaknya.
Plak..
Ellen memukul kepala Kartika dengan sendok yang ada ditangannya.
"Sakit tahu, kak..."
"Biarkan..." ucap Ellen sambil mengulurkan lidahnya pada Kartika.
Leo yang tadi ingin mengambil minum ke dapur melihat tingkah lucu istrinya.
"Nak, Leo... Apa kamu perlu sesuatu?" tanya mama Nia yang menyadari kehadiran Leo. Kartika yang tadi saling mengejek langsung menghentikannya dan melihat kearah Leo.
Ellen merasa malu karena Leo melihat tingkahnya yang seperti anak-anak dan wajahnya kini memerah saat Leo menatapnya dengan tersenyum.
"Maaf ma, saya hanya ingin ambil air minum saja" ucap Leo.
"Kamu duduk di sana saja, aku akan mengantarkannya" ucap Ellen dengan sedikit gugup.
"Baiklah, aku kembali ke ruang tengah" ucap Leo dengan tersenyum.
Setelah Leo pergi, Kartika kembali menggoda kakaknya dengan menyenggol lengan Ellen sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
...****************...