Love Story'

Love Story'
Penyelamatan


__ADS_3

Mendengar ucapan Darent, Leo langsung berjalan mendekati Darent lalu mensejajarkan dirinya pada Darent.


"Katakan apa yang bisa kamu lakukan?"


"Sebenarnya saya kehilangan hp saya yang satu lagi. Sa..ya sangat yakin kalau hp saya jatuh di mobilnya...." ucap Darent dengan gugup.


Leo langsung menatap kearah Rezza, lalu Leo bangun berdiri lagi dan meninggalkan Rezza bersama dengan Darent. kapten


Setelah mendapatkan nomor telepon Darent yang terjatuh, Rezza langsung melakukan tugasnya. Kapten Morgan dan beberapa polisi yang dari tadi terus memperhatikan dari depan pintu, langsung masuk kedalam saat Leo keluar.


Para polisi memperhatikan apa yang dilakukan Rezza melalui laptopnya. Hanya beberapa detik saja, Rezza berhasil menangkap sinyal handphonenya Darent. Setelah mengetahui titik keberadaan hp Darent, kapten Morgan kembali keluar menghampirinya seluruh keluarga Hodgson yang ada di ruang tamu.


"Maaf tuan Rio, apa keluarga anda memiliki rumah yang ada di daerah x?" tanya kapten Morgan.


"Tidak pak!" jawab Rio cepat.


"Tunggu, kenapa anda mempertanyakan hal ini?" tanya ayahnya Rio dengan mengerutkan keningnya saat mendengar kapten Morgan mempertanyakan apakah mereka memiliki villa di alamat x.


"Hp milik tuan Darent kemungkinan tertinggal di mobil milik nona Clarisa. Dari hasil pencarian, sinyal hp tuan Darent berada di alamat tersebut" jelas kapten Morgan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ellen, Desi dan Kartika menatap kearah pintu ruangan dimana mereka disekap. Mereka mendengar suara sepatu yang sedang menuju ke arah mereka.


"Halo semuanya...." Ellen langsung tersenyum saat melihat siapa yang telah menculiknya. Sedangkan Desi dan Kartika tampak mengerutkan keningnya, karena dalang penculikan mereka seorang wanita.


"CK... Ternyata dugaan ku benar...." ucap Ellen dengan tersenyum.


"Kakak apa kakak mengenalnya?" tanya Kartika.


"Tentu saja. Kalian tahu wanita ini adalah wanita gila yang masih saja ingin menjadikan Leo adalah miliknya..." Desi dan Kartika menatap Ellen dengan terkejut.


"Hahaha... Akhirnya kita ketemu lagi..." ucap Clarisa dengan bahagia.

__ADS_1


Clarisa berjalan mendekati Ellen lalu saat berdiri di hadapan Ellen, wajah senyum Clarisa langsung menghilang. Kini Clarisa menatap Ellen dengan tatapan tajam, bukannya takut Ellen malah tersenyum.


Plak...


Plak...


"Ellen..."


"Kakak..." teriak Desi dan Kartika bersamaan saat Clarisa menampar Ellen dengan sangat keras.


Ellen yang sudah ujung bibirnya berdarah, malah tersenyum menatap Clarisa. Clarisa yang melihat Ellen masih bisa tersenyum, berjalan mendekati Desi dan Kartika.


Plak...


Plak...


"Hei..." teriak Ellen dan Desi bersamaan karena Clarisa menampar pipi Kartika.


"Jangan sentuh adik, ku...." teriak Ellen dengan emosi. Apalagi Kartika menangis karena kini Clarisa menjambak rambutnya kebelakang.


"Kenapa? Kau mulai takut?" tanya Clarisa dengan bangga karena Ellen tampak sangat kuatir.


"Bagaimana kalau kita melakukan yang paling ekstrim pada adik kesayangan mu ini? Sepertinya akan sangat menyenangkan..." ucap Clarisa dengan senyum.


"Tidak... Tidak... Ku mohon tolong jangan lakukan apapun padanya. Mereka tidak terlibat dalam hal ini, kau bisa menyiksaku dengan sepuasnya. Tapi tolong jangan sakiti mereka" pinta Ellen yang semakin kuatir pada adiknya.


"Hahaha......." ketawa Clarisa menggelegar di seluruh ruangan. Dia tampak sangat bahagia karena Ellen memohon padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ayahnya Rio mengatakan kalau dulu orang tua kandung Clarisa, adik kandungnya memiliki pabrik di alamat x. Sejak meninggalnya papanya Clarisa pabrik itu dinyatakan bangkrut. Pabrik itu ditutup untuk membayar utang ayahnya Clarisa di Bank.


Mendengar itu membuat Leo dan polisi menuju ke sana langsung, Leo sangat yakin kalau saat ini istrinya sedang berada di sana. Rio dan keluarganya memaksa untuk ikut, dan ibunya Rio memohon untuk tidak membunuh putrinya.

__ADS_1


Sedangkan di pabrik tempat dimana Ellen dan yang lainnya disekap, Ellen terus memohon pada Clarisa untuk melepaskan adiknya dan sahabatnya. Apalagi saat melihat sahabatnya tampak keringat dingin dan merasakan perutnya seperti keram.


"Aku mohon padamu... Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau..." ucap Ellen dengan panik. Ellen melihat salah satu pria anak buahnya Clarisa membawa suntik dan mendekati adiknya.


"Hahaha.... Aku sangat suka dengan adegan ini.... Tapi maaf aku tidak akan mengabulkannya. Aku akan menunjukkan hal yang paling menyakitkan hati mu, itu adalah pembalasan dendam ku karena mu, aku harus mendekam di penjara beberapa hari."


"Hiks hiks hiks... Kakak aku takut..." ucap Kartika dengan menangis.


"Tidak... Tidak... Jangan lakukan itu..." pinta Ellen yang semakin panik saat pria itu mulai mulai menyuntikkan cairan yang tidak tahu apa isinya pada Kartika.


"AH...." jerit Kartika saat jarum menembus kulitnya.


Mendengar jeritan adiknya membuat Ellen menangis. Ellen melihat adiknya mulai terasa lemas dan menatapnya dengan sayu. Melihat hal itu membuat Ellen langsung menatap Clarisa dengan tajam.


"Kau... Aku akan membalas apa yang kamu lakukan. Saat aku berhasil lepas, jangan harap aku akan melepaskan mu..." ucap Ellen dengan dingin.


"Baiklah, aku akan menantinya. Sebelum kau berhasil terlepas, aku akan melenyapkan mu. Tapi sebelum aku akan melenyapkan mu, aku akan memberikan pertunjukan yang akan sangat menyenangkan. Kita akan lihat satu jam lagi, apa yang terjadi pada adik mu..." ucap Clarisa dengan bahagia.


Setelah mengatakannya pada Ellen, Clarisa memutuskan untuk kembali tempat istirahatnya di lantai atas. Baru saja Clarisa ingin naik, Clarisa sangat terkejut saat beberapa anak buahnya terlempar dekat kakinya dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Clarisa menoleh ke arah pintu dan melihat Leo, Rezza dan Rio ada di hadapannya. Bodyguard Leo yang juga ikut serta, berdiri dibelakang Leo, Rezza dan Rio. Bukannya takut, Clarisa malah tertawa. Dengan santainya Clarisa menyuruh anak buahnya untuk menyerang Leo dan yang lainnya.


Saat anak buahnya ingin menyerang Leo dan yang lainnya, polisi datang dan mengarahkan senjatanya ke arah pada ank buahnya Clarisa. Tentu saja membuat Clarisa takut. Clarisa langsung berlari ke atas untuk kabur, kapten Morgan yang melihat itu langsung mengejar Clarisa.


Leo, Rezza dan Rio langsung mencari keberadaan Ellen dan yang lainnya. Saat mereka ingin masuk kedalam ruangan kecil yang ada di dekat mereka, salah satu pria keluar dan menodongkan pistol di kepala Ellen. Rezza dan Rio tampak sangat terkejut melihatnya dan berhenti di belakang Leo.


Leo yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya dan apalagi dia melihat ada darah diujung bibir istrinya.


"Mas..." gumam Ellen dengan lirih sambil tersenyum menatap Leo.


Leo yang mendengar suara lirih istrinya, membuatnya tidak tahan lagi. Leo menatap lawannya dengan tajam dan berjalan mendekati lawannya. Melihat Leo yang tampak tidak takut dan apalagi melihat tatapan Leo yang sangat tajam membuat pria itu jadi gugup.


"Ji...ka kau mendekat lagi... A..aku akan membunuh wanita ini..." ucap pria itu dengan gugup.

__ADS_1


Tapi Leo tidak juga berhenti mendengar ancaman dari pria itu. Hal itu membuat pria itu ketakutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2