Love Story'

Love Story'
Memberikan kado


__ADS_3

Ellen memberikan kotak kecil yang dipegangnya pada Leo. Leo mengernyitkan keningnya saat menerima kotak kecil yang diberikan istrinya.


"Maaf terlambat mengucapkannya, selamat untuk tahun untuk mu mas. Itu kado yang sudah ku siapkan untuk mu. Seharusnya semalam aku memberikannya, tapi..." awalnya Ellen bicara dengan tersenyum tapi di ucapan terakhirnya mimik wajahnya sudah berubah dengan wajah sendu.


Leo yang melihat perubahan istrinya langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Terimakasih sayang..." bisik Leo ditelinga istrinya. Karena Leo berbicara di telinganya membuat Ellen menegang dan jantungnya berdegup kencang.


Deg...


Matanya Ellen kembali membulat sempurna, tiba-tiba Leo kembali mencium bi*** nya. Kali ini bukan hanya sebatas kecupan singkat tapi Leo seperti melahap bi*** nya.


Setelah beberapa menit menikmati bi*** manis istrinya, Leo melepaskannya dan melihat wajah istrinya yang sudah merah padam.


Cup


Leo mengecup pipi istrinya dengan gemas.


"Aku sangat suka melihat mu seperti ini..." ucap Leo setelah mengecup pipi istrinya.


"Apa aku bisa membukanya?" Dengan malu-malu Ellen mengangguk kepalanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Ellen saat melihat Leo tampak diam melihat isi kado yang diberikannya.


Cup


Leo mengecup kening Ellen dengan lembut.


"Terimakasih. Aku sangat suka, tapi..."


"Tapi apa?"


"Aku ingin mulai sekarang kamu yang akan memakaikan dasi ku setiap hari..." Ellen mengangguk kepalanya dengan tersenyum bahagia karena Leo sangat suka dengan dasi pemberiannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat keluarganya dan Mertuanya datang melihat istrinya, Leo meminta mereka untuk menjaga istrinya sebentar.


Kini Leo berada di ruang kerjanya bersama Rezza. Leo tampak sangat serius melihat hasil rekaman video dari mobil yang digunakan istrinya saat kecelakaan.


"Pria itu melakukannya saat pak Herman meninggalkan mobil. Aku sudah menyuruh orang-orang kita mencari pria itu." ucap Rezza.

__ADS_1


"Dimana mereka?"


Rezza langsung menghubungi seseorang, setelah beberapa detik tiga orang pria masuk kedalam ruangan Leo.


Leo yang melihat kehadiran mereka langsung bangkit berdiri dan menampar ketiga pipi pria itu dengan keras. Tak ada satupun yang berani menatap Leo, apalagi saat ini tatapan tajam Leo seperti ingin menerkam mereka.


"Aku tidak ingin ada kesalahan lagi, jaga perketat istri ku. Jika sekali lagi dia terluka, aku akan melenyapkan kalian dengan tangan ku sendiri" ucap Leo dengan dingin.


Mendengar ancaman dari Leo membuat ketiga pria itu sangat ketakutan dan sulit menelan ludah mereka sendiri.


"Keluar dari sini, lakukan tugas kalian dengan benar"


"Baik tuan..." ketiganya langsung pergi setelah mendapat perintah dari Leo.


Setelah ketiga pria itu pergi, Leo dan Rezza pun juga pergi. Mereka kembali ke rumah sakit lagi. Leo tidak ingin membuat istrinya menunggunya terlalu lama.


"Leo kamu kemana saja? Dari tadi kakak ipar mencari kakak, kakak ipar juga terus meminta untuk pulang hari ini. Kami sudah membujuknya untuk tetap di rawat di rumah sakit. Tapi kakak ipar tidak mau mendengar ucapan kami" ucap Chelsea dengan kesal karena kakaknya sangat lama kembali.


Leo yang mendengar kalau istrinya memaksa minta pulang, langsung menghampiri istrinya yang menatapnya dengan sendu.


"Sayang, apa benar kata Chelsea?" tanya Leo saat Leo duduk duduk di samping istrinya.


"Aku akan mengijinkan mu pulang kalau dokter sudah mengijinkannya. Semuanya untuk kebaikan mu, sayang..."


"Baiklah, tapi..."


"Tapi apa?"


"Aku ingin menghirup udara segar keluar bolehkan?"


"Boleh, tapi aku yang akan menemanimu..." Ellen langsung tersenyum karena Leo mengijinkannya jalan-jalan keluar ruangan.


"Kamu sudah makan?" Ellen mengangguk kepalanya.


Mama Nia dan keluarganya Leo langsung lega karena Ellen mendengar apa yang dikatakan Leo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini jadwal Desi untuk memeriksa kandungannya. Saat Desi ingin keluar dari mobilnya, Desi melihat Dito bersama Ressa yang baru saja keluar dari rumah sakit. Desi melihat Dito memeluk pinggang Ressa dan tangan satunya lagi mengelus perut buncitnya Ressa. Melihat itu, Desi mengelus perutnya yang masih rata.


"Sayang mama janji kamu tidak akan pernah kurang kasih sayang, pasti akan dapat melalui semuanya ini" gumam Desi.

__ADS_1


Sebenarnya Desi sangat cemburu karena Ressa melalui masa kehamilannya dengan seorang suami, sedangkan dia hanya melaluinya dengan sendiri. Setelah memastikan Dito dan Resa pergi, barulah Desi keluar dari dalam mobilnya.


Saat Desi sampai di bagian dokter kandungan, Desi melihat wanita hamil datang bersama suami mereka masing-masing. Hanya dia lah yang datang memeriksa kandungannya dengan seorang diri.


"Suaminya mana mbak?" seorang wanita yang berada di samping Desi bertanya pada Desi dengan tersenyum.


"Suami saya lagi diluar kota Mbak..." jawab Desi sambil memaksakan dirinya tersenyum.


"Anak ke berapa mbak?"


"Pertama..."


"Kalau saya ini anak kedua kami. Saya waktu hamil anak pertama saya juga sering memeriksa kandungan saya sendiri, karena suami saya sering keluar kota kerja. Sebenarnya saya sering sedih karena melihat wanita-wanita lain datang bersama suaminya, tapi demi kesehatan calon anak saya, saya selalu membawanya dengan tersenyum. Saya sangat yakin kalau Mbak pasti bisa melaluinya..."


"Terimakasih ya Mbak..." ucap Desi dengan tulus.


"Nona Desi..." Desi langsung bangkit berdiri saat mendengar namanya dipanggil.


"Saya duluan ya, Mba, mas... " Wanita itu dan suaminya hanya mengangguk kepalanya dengan tersenyum.


Saat Dokter memeriksa kandungannya, Desi sangat gugup. Desi sangat takut kalau janinnya mengalami masalah.


"Bagaimana Dok?" tanya Desi saat dokter telah memeriksanya.


"Pertumbuhannya sangat bagus, tidak ada masalah. Tapi ingat tetap makan makanan yang sehat dan vitamin yang saya kasih harus tetap diminum, karena usia kandungan anda masih muda"


"Baik, dokter. Terimakasih ya dok..." ucap Desi setelah dokter memberikan resep vitamin untuknya dan hasil USG nya.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya dok..." sambung Desi.


Setelah memeriksa kandungannya, Desi memutuskan ke supermarket untuk membeli susu hamilnya. Sesampainya di supermarket, Desi merasa dunia ini terlalu sangat sempit.


"Mbak Desi..." sapa Resa dengan tersenyum.


Sedangkan Dito hanya diam saja menatap Desi dengan penuh kerinduan. Dito ingin sekali memeluk Desi, wanita yang masih dicintainya sampai saat ini. Tapi Dito tidak bisa lagi melakukannya karena dia sangat tahu dari tatapan Desi, kalau Desi seperti orang yang tidak ingin mengenalnya lagi. Desi hanya melewati Resa dan Dito begitu saja, seperti orang yang tidak mengenal.


Karena Desi melewati mereka begitu saja, Resa menatap kearah Dito yang tampak sangat sedih. Resa tahu kalau Dito masih belum bisa melupakan Desi, tapi Resa sangat yakin kalau dia bisa membuat suaminya hanya mencintainya saja.


"Mas aku tahu meskipun kamu tidak pernah lagi menyebutkan nama mbak Desi selama ini, aku dapat melihat jelas dari mata tadi. Kamu masih sangat mencintainya dan merindukannya. Saat mbak Desi memutuskan untuk bercerai dengan mu, maaf sebenarnya aku merasa senang. Aku merasa aku mempunyai kesempatan untuk memiliki mu seutuhnya dan aku tidak akan menjadi istri sirih mu lagi. Aku bisa menjadi istri mu yang sah." gumam Resa dalam hatinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2