Love Story'

Love Story'
Ajak makan siang bersama


__ADS_3

Ellen langsung mencubit perut Leo dengan kuat. Karena cubitan Ellen sangat kuat membuat Leo melepaskan pelukannya sambil meringis kesakitan.


"Itu akibatnya karena pikirannya mesum..." ucap Ellen dengan kesal.


"Sama istri tidak apa-apa dong, sayang. Kamu mau aku mesum dengan wanita lain?" ucap Leo sambil menggoda istrinya.


"Sempat saja kamu lakukan itu, aku akan kebiri kamu langsung..." ucap Ellen dengan kesal.


Mendengar kata kebiri sebenarnya Leo sangat merinding mendengarnya, tapi ada rasa bahagia dalam hatinya. Itu berarti istrinya mulai cemburu.


"Kalau kamu kebiri aku, bagaimana kamu akan hamil sayang?" sekali lagi Leo menggoda istrinya.


"Makanya jangan sampai kamu mesum, kalau kamu sempat lakukan itu aku tidak akan segan-segan langsung memotongnya dengan tangan ku sendiri. Ah, sudah aku mau mandi dulu..." ucap Ellen dengan kesal.


Hatinya Leo semakin bahagia karena mendengar ucapan istrinya, Leo menganggap apa yang dikatakan istrinya mau hamil dari benihnya dan sudah menerima pernikahan mereka. Karena rasa bahagianya, Leo memeluk erat istrinya yang lagi berjalan ke Walk-in closed untuk mengambil baju mereka.


"Sayang apa itu berarti kamu sudah menerima pernikahan kita dan kamu bersedia untuk hamil?" tanya Leo sambil menyadarkan kepalanya di bahu Istrinya.


Mendengar itu membuat wajah Ellen langsung memerah, dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri karena keceplosan ngomong. Sebenarnya dihari terakhir mereka jalan-jalan, Ellen dapat merasakan dan melihat bagaimana kesungguhan Leo menunjukkan cintanya padanya. Leo dengan sabar selalu menuruti permintaannya dan tidak pernah memaksanya untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.


Hal itu Ellen sadari saat mereka tidur, Ellen dapat merasakan saat Leo memeluknya dari belakang dari bagian bawah Leo ada yang mengeras. Leo hanya memintanya untuk diam saja dan membiarkannya untuk tetap memeluknya. Karena itu Ellen merasa tersentuh dan ada rasa bersalahnya pada Leo. Seharusnya dia melayani suaminya karena mereka sudah Sah secara hukum dan agama. Tapi karena rasa takutnya masih menyelimuti hatinya membuatnya belum mau menyerahkan dirinya sepenuhnya pada suaminya. Ellen masih ingat melihat sampai mana Leo dapat bertahan, dia tidak ingin dengan mudahnya langsung menyerahkan dirinya karena perlakuan Leo yang sangat baik padanya.


Ellen menarik tangan Leo yang melingkar di pinggangnya lalu memutarkan tubuhnya menghadap Leo.


"Sebenarnya ada hal yang ingin ku katakan pada mu, tentang hubungan kita. Tapi..." Ellen menatap Leo dengan sangat gugup karena tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Leo. Leo yang menyadari kalau saat ini Ellen tampak gugup, Leo menarik tangan Ellen untuk digenggamannya dan tangan sebelah kanannya berada di pipi Ellen.


"Katakanlah, aku akan siap mendengarnya. Asalkan kamu jangan meminta untuk berpisah, aku tidak akan siap..." ucap Leo dengan lembut. Ellen menatap mata Leo dengan lembut.

__ADS_1


"Tenang saja aku tidak mengatakan hal itu..." Leo yang tadi tampak sangat tegang, kini langsung tersenyum karena ucapan Istrinya.


"Sebenarnya aku sudah mulai menerima pernikahan ini. Hanya saja aku tidak tahu apakah aku mulai mencintaimu dan aku takut kalau kamu sama dengan mereka...." Leo yang tadinya tersenyum semakin merekah saat mendengar kalau istrinya sudah menerima pernikahan mereka, senyumnya langsung hilang di saat istrinya takut kalau dirinya sama dengan mereka. Leo tidak mengerti mereka siapa yang dimaksud istrinya.


"Mereka?" cicit Leo sambil mengerutkan keningnya.


"Hemm... Kamu kan sudah mendengar bukan kalau papa ku menikah lagi dengan wanita lain hanya karena mama ku tidak bisa memberikannya anak laki-laki. Dito diam-diam menikah lagi karena Desi belum memberinya anak. Hanya karena alasan anak, mereka memilih untuk menikah lagi dan mengabaikan wanita yang mereka cintai dan kamu pasti sudah tahu bagaimana kisah cintaku. Aku takut saat aku menyerahkan hidup ku, kamu malah jatuh hati lagi dengan wanita lain" ucap Ellen dengan sendu.


Leo menarik Ellen kedalam pelukannya, Leo sangat mengerti apa yang ditakutkan istrinya saat ini. Leo berkali-kali mengecup puncak kepala Ellen.


"Aku tahu apa yang kamu takutkan, maka karena itu aku tidak akan memaksa mu. Aku akan selalu membuktikan pada mu kalau hanya kamu lah yang akan selalu menjadi pilihan ku sampai maut memisahkan kita." hatinya Ellen sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan Leo dan Ellen merasakan kenyamanan saat Leo memeluknya. Ellen membalas pelukannya Leo dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejak Ellen menyatakan bahwa dia sudah menerima pernikahan mereka, Ellen dan Leo memutuskan tidur bersama dengan satu kasur. Hari ini hari pertama Leo mengantarkan Ellen ke toko sebelum ke kantor.


"Sayang ingat nanti siang kita makan bareng, aku akan menjemputmu." ucap Leo sebelum Ellen keluar dari dalam mobilnya.


"Sampai jumpa nanti, ya mas" Leo mengangguk kepalanya.


"Oh, ya terimakasih ya pak Rezza" ucap Ellen pada Rezza yang mengemudikan mobil.


"Sama-sama nona..." ucap Rezza sambil melirik Ellen dari kaca spion.


Leo terus memperhatikan Ellen sampai masuk kedalam toko, barulah dia meminta Rezza melanjutkan perjalanan mereka.


"Wah, sepertinya sudah ada kemajuan." ucap Rezza sambil melirik Leo yang dari tadi terus menatap layar ponselnya sejak mereka mulai meninggalkan toko Ellen.

__ADS_1


"Rezza, apa kamu tahu dimana toko bunga yang sangat bagus?" bukannya menjawab pertanyaan Rezza, Leo malah bertanya dimana toko bunga.


"Untuk apa?"


"Diamlah, cari tiket bunga yang bagus sekarang" perintah Leo dengan tegas.


"Baiklah. Sepertinya kamu sudah tampak bucin..." ledek Rezza pada Leo.


Bukannya marah, Leo malah tersenyum mendengar ledekan Rezza. Rezza tampak sangat bahagia melihat sahabatnya sangat berbeda setelah pulang dari liburan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sibuk, Bu?" Ellen lagi fokus dengan pekerjaannya langsung menoleh ke arah pintu ruangannya.


"Sa..." Cicit Ellen saat melihat kedatangan Sasa.


"Maaf aku datang tidak mengabarinya..." ucap Sasa sambil tersenyum menatap Ellen.


"Tidak apa-apa. Kamu baru pulang antar Giant sekolah?" tanya Ellen sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Ya, begitulah. Siang ini kita makan siang dengan Desi yuk..." Ellen langsung mengehentikan kegiatannya dan menatap Sasa dengan tersenyum kikuk.


"Sorry hari ini suami ku ajak makan siang bareng. Gimana kalau kalian juga ikut"


"Eits tunggu dulu tadi kamu bilang apa? suami? Sepertinya aku dan Desi melewatkan sesuatu" ucap Sasa sambil mengerutkan keningnya.


"Ceritanya panjang, aku akan cerita nanti. Sekarang katakan setuju apa tidak?"

__ADS_1


"Setuju apa nih?" Ellen dan Sasa langsung menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang Ellen langsung bangkit berdiri dan berlari memeluk Desi.


...****************...


__ADS_2