
"Tunggu dulu, apa kamu akan ikut dengan ku?" tanya Ellen dengan mengerutkan keningnya.
"Hem... Aku ingin berkunjung ke rumah mertuaku, apa aku salah?" Ellen menggelengkan kepalanya dengan cemberut.
Tidak terasa kini mereka sampai di boutique langganan keluarga Rejaksa. Ellen sangat tahu kalau boutique yang mereka datangi hanya orang kaya saja yang bisa membelinya. Harganya sangat fantastis karena didesain oleh perancang ternama dari luar negeri.
"Selamat datang tuan muda Leo. Saya tidak menyangka kalau anda akan berkunjung ke tempat ku dengan membawa istri mu" sambut sang manager boutique dengan tersenyum.
"Apa kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Leo dengan dingin.
"Tentu saja. Silahkan tuan muda dan nona..."
"Ellen..." ucap Ellen dengan tersenyum pada Jason, manager boutique itu. Leo yang melihat itu tampak sangat kesal karena Ellen memberikan senyum manisnya pada pria lain. Meskipun Jason memiliki sedikit gaya kemayu nya, tapi Leo tetap tidak suka.
"Nona Ellen... Anda sangat cantik dan imut" puji Jason pada Ellen.
"Terimakasih atas pujiannya" ucap Ellen yang sudah menghilangkan senyumannya karena mendengar pujian Jason.
"Kenapa anda tidak tersenyum lagi nona? Padahal anda akan sangat menggemaskan kalau anda tersenyum" lagi-lagi Jason menggoda Ellen.
Karena Jason menggodanya, Ellen langsung memeluk lengan Leo.
"Apa tidak bisa kita mencari tempat yang lain? Aku merasa tidak nyaman disini" bisik Ellen pada Leo. Leo langsung mengerutkan keningnya karena mendengar ucapan Ellen dan apalagi saat ini Leo merasakan tangan Ellen sangat dingin.
"Bisakah kamu melakukan pekerjaan mu?" tanya Leo dengan dingin.
"Baiklah tuan muda Leo, kamu ini tidak pernah sabar. Kamu antar mereka ke ruangan yang saya katakan tadi..." perintah Jason pada pegawai wanita yang dari tadi terus berdiri di sampingnya.
"Mari silahkan ikuti saya tuan muda, nona " ucap wanita itu dengan ramah.
Ellen sangat terpukau dengan model gaun yang sudah dipersiapkan untuk dicobanya.
"Ini adalah model gaun yang terbaru di boutique ini nona, semuanya dipersiapkan untuk nona" ucap pegawai wanita itu dengan tersenyum.
"Apa kamu tidak suka dengan modelnya?" tanya Leo karena melihat Ellen tampak bingung memilih gaun yang dipersiapkan untuk dicoba.
"Suka, tapi aku tidak akan sanggup untuk mencoba semuanya. Apa bisa aku memilih yang ingin ku coba saja?" tanya Ellen dengan polos.
"Kamu pilih saja yang mana ingin kamu coba" ucap Leo.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu setelah aku memakainya, kamu yang akan menilainya" Leo hanya mengangguk kepalanya.
Sudah ada tujuh gaun yang dicoba Ellen, tapi Leo selalu memberikan nilai rendah dengan alasan tidak cocok dengan Ellen.
"Hei Tuan Leo Rejaksa, apa kamu pikir aku manekin baju? Aku sangat lelah..."
"Kamu coba yang ini..." ucap Leo sambil menyerahkan gaun yang dipilihnya.
Dengan kesal Ellen mengambil dari tangan Leo, bukannya merasa bersalah Leo malah tersenyum melihat Ellen yang kesal karenanya. Saat Ellen masuk kedalam ruangan yang khusus, Leo pergi untuk menerima telepon dari kakek Bryan.
"Ternyata tuan muda sangat pintar memilih baju untuk nona. Baju ini sangat cantik di tubuh nona" puji pegawai wanita itu setelah Ellen selesai..
"Benarkah? Lihat saja kalau dia tidak suka lagi, aku tidak ingin mencobanya lagi" ucap Ellen yang masih kesal pada Leo.
"Kemana dia?" gumam Ellen karena tidak melihat Leo.
Karena tidak ada Leo, Ellen meminta pegawai wanita yang membantunya tadi untuk memfotonya. Karena asyik berfoto membuat Ellen tidak sadar kalau Leo memperhatikannya.
"Tuan muda...." cicit wanita itu dengan gugup karena Leo berdiri sambil menatap Ellen. Ellen yang mendengar ucapan wanita itu langsung menoleh kebelakang.
"Dari mana saja kamu? Bagaimana apa ini cocok? Tunggu dulu, kalau kamu mengatakan kalau ini jelek, aku tidak ingin mencoba yang lainnya lagi. Aku akan memilih ini" ucap Ellen dengan ketus.
"Ke...Kenapa kamu diam saja? Katakan..." ucap Ellen dengan gugup. Tapi Leo tidak juga menjawab, Leo terus menatap Ellen dengan dalam.
"Ah, sudah lah... Aku akan ganti bajunya" ucap Ellen tambah semakin kesal karena Leo tidak juga menjawab.
"Cantik...." Mata Ellen langsung membulat dan pipinya merona karena Leo tiba-tiba mengatakannya Cantik.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan mencoba baju ku" sambung Leo.
Setelah beberapa menit Leo keluar dengan memakai style yang senada dengan gaun yang dipakai Ellen. Leo berjalan mendekati Ellen dengan tersenyum hangat pada Ellen. Tentu saja membuat Ellen tampak sangat terpesona dengan Leo, dia merasa kalau Leo tampak sangat berbeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana nak Nia? Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Kakek Bryan pada mamanya Ellen.
Kakek Bryan meminta mamanya Ellen dan Kartika untuk menemuinya untuk membicarakan desain interior acara resepsi pernikahan Leo dan Ellen.
"Tidak, kek. Saya rasa sudah cukup...."
__ADS_1
"Baiklah. Berapa orang yang akan kamu undang nanti?"
"Tidak banyak kek, tapi saya tidak tahu apa mereka akan datang" ucap Nia dengan sendu.
"Baiklah, tidak apa-apa" ucap kakek Bryan. Kakek Bryan sudah mengetahui latar belakang Ellen, makanya Kakek Bryan tidak ingin melanjutkannya pertanyaannya.
"Malam ini kita akan makan malam bersama di rumah saya. Saya sangat yakin cucu menantu saya akan sangat bahagia melihat kehadiran kalian."
"Baik, kek."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menentukan pakaian yang akan mereka pakai di acara resepsi pernikahan mereka, Leo mengajak Ellen untuk langsung pulang karena perintah dari kakeknya.
"Jadi bagaimana dengan baju ku?" tanya Ellen dengan memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, kita akan mengambilnya sebentar saja. Ambil saja beberapa"
"Oke...."
Kini mereka berdua berada di rumah Ellen, Ellen sangat terkejut mamanya dan adiknya tidak ada dalam rumah.
"Kamu tunggu sebentar disini saja..." ucap Ellen sambil berlari kecil menuju kamarnya.
Leo melihat sekeliling rumah Ellen yang sangat sepi. Foto-foto yang terpajang di dinding dan di lemari kaca yang di ruang tamu hanya ada foto Ellen bersama mamanya dan Kartika, tidak ada foto bersama ayahnya.
Dari sekian banyak foto yang terpajang Leo sangat tertarik dengan satu foto dimana Ellen yang masih polos, foto yang sama dia lihat di kamar Ellen dikampung.
"Tidak perlu melihatnya begitu juga kali. Heran deh, tidak dikampung dan disini kenapa harus lihat foto ku yang itu" Leo menolehkan kepalanya ke belakang dimana Ellen sudah berdiri sambil membawa tas yang cukup besar.
"Bukannya sudah ku bilang bawa beberapa baju mu saja. Aku bisa belikan baju untuk mu besok." ucap Leo.
"Tidak perlu, aku ingin memakai baju milik ku saja. Buang-buang uang begitu namanya. Sudah ayok pergi, kakek pasti sudah menunggu kita" ucap Ellen.
Saat Ellen ingin melangkahkan kakinya, Leo mengambil tas Ellen. Ellen sempat menahannya tapi tenaganya lebih kecil dari pada Leo.
"Biar aku saja..." ucap Leo dengan dingin.
"Baiklah kalau itu mau mu.... Terimakasih" ucap Ellen sambil tersenyum.
__ADS_1
...****************...