
Karena kakinya yang cedera membuat Kartika terpaksa harus terbaring di tempat tidurnya. Kartika menatap langit-langit kamarnya dengan menangis. Kartika tidak menyangka kalau dia dikhianati dan lebih parahnya lagi wanita itu sepupu kandungnya sendiri yang paling tidak suka dengannya sejak kecil.
Drt....Drt...Drt...
Kartika menatap hp nya yang berdering di sampingnya, dengan malas Kartika mengambil hp nya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Saat nama Faisal yang tertera di layar hp nya, Kartika langsung mematikan hp nya.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk...." ucap Kartika dari dalam saat ada yang mengetok pintu kamarnya, dengan cepat Kartika menghapus air matanya. Dia tidak ingin ada yang tahu kalau dia habis menangis
"Pak Dion..." Kartika sangat terkejut, Dion yang datang.
"Maaf mengganggu mu, tante Nia tadi minta tolong hantarkan ini untuk mu..." ucap Dion sambil meletakan minuman yang dia bawa ke atas meja yang ada di samping Kartika.
"Terima kasih, pak..." ucap Kartika dengan menundukkan wajahnya.. Melihat Dion, Kartika ingat apa yang dilakukannya tadi. Tiba-tiba dia memeluk Dion dan menangis dalam pelukan Dion.
"Bagaimana dengan kaki mu? Apa sudah membaik?" Kartika menegakkan kepalanya dan menatap Dion.
"Sudah mendingan pak..." jawab Kartika.
"Baguslah, kalau begitu saya keluar dulu." Kartika hanya mengangguk kepalanya.
Saat Dion keluar dari dalam kamarnya, Kartika menatap punggung Dion. Punggung yang tadi mengendong tubuhnya yang berat.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Leo tampak sangat serius mengajarkan putranya cara menunggangi kuda.
"Mom, apa Syakira bisa belajar naik kuda seperti kakak?" tanya Syakira dengan suara cadal nya. Syakira sangat cemburu melihat kakaknya naik kuda bersama Daddy nya.
"Tentu saja sayang, selesai kakak Syakira boleh naik kuda bersama Daddy" ucap Ellen dengan tersenyum.
Setelah satu jam, Leo mengajak putranya untuk beristirahat. Melihat ayahnya yang mau turun dari kuda, Syakira langsung mencegahnya.
"Stop..."
"Daddy tidak boleh turun! Daddy harus mengajari Syakira juga..." ucap Syakira sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
Prima yang melihat adiknya seperti itu langsung tersenyum dan berlari menuju adiknya.
"Apa kamu yakin mau naik kuda? Kamu tidak takut lagi?" Tanya Prima dengan lembut.
__ADS_1
Sewaktu mereka sampai di peternakan kuda, Syakira tampak sangat takut dan apalagi saat kudanya bersuara membuat Syakira langsung menangis.
"Tidak. Syakira tidak mau kalah dengan Nesya..." ucap Syakira sambil menunjuk ke arah Nesya sedang naik kuda bersama Desi.
"Baiklah kalau kamu tidak takut lagi. Ayok..." Prima mengulurkan tangannya pada Syakira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kemana semua orang?" Kartika tampak bingung melihat suasana villa tampak sangat sepi. Karena tidak melihat satu orang pun, Kartika memutuskan untuk pergi ke taman belakang.
"Pak Dion..." gumam Kartika saat melihat Dion yang sangat fokus dengan laptopnya.
Dion yang mendengar suara Kartika langsung menoleh kearah Kartika. Melihat Kartika berjalan dengan tergopoh-gopoh Dion langsung bangkit berdiri untuk membantu Kartika berjalan.
Tanpa bertanya pada Kartika Dion langsung mengendong Kartika dengan style bridal. Kartika yang takut jatuh langsung mengalungkan tangannya di leher Dion. Kartika yang merasa malu, memilih menundukkan kepalanya.
Dion meletakkan Kartika dengan hati-hati di sofa yang dia tempati tadi. Setelah Kartika duduk, Dion mengambil minyak yang ada di meja belakangnya. Lalu Dion jongkok di hadapan Kartika dan tanpa bicara Dion menarik kaki Kartika yang keseleo.
"A...apa yang bapak lakukan?" tanya Kartika dengan gugup sambil menahan tangan Dion.
"Sebelum Tante Nia pergi tante Nia minta tolong untuk mengoleskan minyak ini ke kaki mu. Kaki mu masih tampak bengkak, apalagi barusan kamu berjalan dari kamar mu sampai kesini sendiri." ucap Dion sambil menatap Kartika yang sudah memerah wajahnya.
"Tapi...."
Kartika pun tidak lagi menghalangi Dion lagi, setelah melihat tatapan Dion. Melihat tatapan Dion padanya membuat jantungnya berdegup kencang.
"Apa masih sakit?" tanya Dion sambil mengurut kaki Kartika dengan lembut. Kartika hanya menggeleng kepalanya.
Setelah beberapa menit Dion selesai mengurut kaki Kartika dan Dion menatap Kartika yang dari tadi terus menatapnya.
"Terimakasih pak..." ucap Kartika dengan tulus.
Bukannya menjawab Dion malah mengelus pipi Kartika sambil menatap Kartika. Saat Dion mengelus pipinya mata Kartika langsung membulat sempurna dan jantungnya semakin berlomba.
"Aku lebih suka melihat mu berbicara terus dan tersenyum di bandingkan kamu menangis" ucap Dion sambil menatap Kartika dengan dalam. Lagi-lagi Kartika sangat terkejut mendengarnya.
"Bisakah kamu tidak menangis lagi karenanya?" tanya Dion.
"Pak Dion..." gumam Kartika dengan terkejut karena pertanyaan Dion padanya.
Beberapa menit Kartika dan Dion hanya saling menatap saja. Karena Kartika tidak juga menjawab pertanyaannya Dion langsung bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kalau kamu perlu sesuatu kamu bisa mengatakannya pada ku..." ucap Dion.
Dion kembali duduk di sofa yang ada di samping Kartika. Kartika masih tampak diam saja. Dia masih mencerna dengan pertanyaan Dion padanya tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya semuanya memutuskan untuk memanggang di taman belakang villa. Semuanya tampak sangat bahagia, dari antara mereka semuanya hanya Kartika dan Dion saja yang terus diam.
"Tika, kenapa diam saja nak? Apa kaki kamu masih sakit lagi?" tanya mama Nia dengan kuatir.
"Tidak ma, sakit nya sudah mulai menghilang" ucap Kartika dengan memaksakan dirinya tersenyum.
Drt...
Hp mama Mama Nia berdering dan melihat notifikasi pesan masuk.
Saat mama Nia melihat nama yang mengirimkan pesan untuknya, mama Nia langsung menatap Kartika.
"Siapa ma?" tanya Kartika dengan tersenyum.
"Paman mu..."
"Kenapa? Untuk apa paman mengirimkan pesan?"
"Katanya sepupu kalian akan menikah lusa, jadi dia mengharapkan kedatangan kita." ucap mama Nia dengan ragu.
Mendengar itu Kartika tampak sangat terkejut tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan pada mamanya.
"Kalau begitu kita pergi saja, ma. Mumpung kita tidak jauh dari kampung" ucap Kartika.
"Ah.. Tidak perlu nak, mama saja yang datang. Kalian tetap saja disini" ucap mama Nia dengan cepat. Mama Nia sangat kuatir kalau Kartika mengetahui siapa pria yang akan menjadi suami sepupunya sendiri.
"Tidak, kami akan ikut." ucap Kartika dengan tegas. Kartika ingin melihat bagaimana reaksi Faisal saat melihat kedatangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semuanya tampak kuatir karena Kartika memaksakan dirinya untuk ikut ke acara pernikahan sepupunya. Mereka tidak sanggup bagaimana terkejut Kartika nanti melihat siapa calon mempelai pria nya.
Mereka tidak tahu kalau Kartika sebenarnya sudah mengetahui mengetahui apa yang dilakukan Faisal di belakang Kartika. Saat Kartika memutuskan untuk tetap ikut, Dion terus menatap Kartika.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dion sebelum Kartika masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Dion menarik Kartika supaya untuk mengikutinya. Ellen yang melihat hal itu ingin mengikuti Dion dan Kartika. Tapi Leo langsung mencegahnya, Leo meminta istrinya biarkan mereka bicara. Dengan terpaksa Ellen mengikuti apa yang dikatakan Leo.
...****************...