Love Story'

Love Story'
Menerima


__ADS_3

Saat Desi dan Rezza sampai di kediaman orangtuanya Des, kedua orangtuanya Desi meminta Rezza untuk makan siang bersama mereka.


"Silahkan makan nak Rezza, ibu tidak tahu apa makanan kesukaan nak Rezza. Semoga nak Rezza suka, ini semua makanan kesukaan Desi..." ucap ibu nya Desi.


"Tidak apa-apa Bu, saya tidak memilih makanan..." ucap Rezza dengan tersenyum. Rezza tampak sangat merindukan suasana seperti ini.


Sejak kepergian kedua orangtuanya saat dia duduk di bangku SMA Rezza belajar hidup mandiri. Untuk makan, Rezza harus masak sendiri.


"Silahkan makan nak..." ucap papanya Desi.


"Iya, pak..." Rezza langsung mencicipi masakan mamanya Desi. Saat dia makan, Desi dan kedua orangtuanya terus memperhatikan Rezza. Mereka kuatir kalau masakan ibunya Desi, Rezza tidak suka.


"Bagaimana? Apa rasanya kurang nak?" tanya ibunya Desi dengan gugup.


"Tidak, Bu! Masakan ibu sangat lezat..." ucap Rezza dengan antusias.


"Syukurlah... Kalau nak Rezza ambil saja..." ucap ibunya Desi.


Suasana meja makan di kediaman orangtuanya Desi tampak sangat berbeda. Desi teringat dulu saat dia dan Dito masih pacaran, papanya tampak diam saja saat mereka makan bersama. Begitu juga saat mereka sudah menikah, papanya selalu diam dan Dito juga tampak diam. Tak ada yang memulai percakapan diantara mereka. Tapi kini papanya selalu saja mengajak Rezza mengobrol dan sesekali papanya selalu menceritakan masa kecilnya pada Rezza.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa muka nya di tekuk begitu?" tanya Ellen setelah mengantarkan adiknya masuk kedalam kamar.


"Aku tidak suka dengan sikap Rio yang sok akrab dengan ku!" ucap Kartika dengan kesal.


"Hahaha. Bukannya dulu kalian memang akrab? Kemarin saja saat acara party di rumah kakak, kamu masih tampak akrab ngobrol dengan kak Rio..." ucap Ellen dengan tersenyum.


"CK... Itu karena aku tidak tahu kalau kak Rio itu kakaknya wanita gila itu" ucap Kartika.

__ADS_1


"Hahaha. Jadi kamu jutek dengan kak Rio karena dia kakaknya Clarisa?" Kartika mengangguk kepalanya.


"Sebenarnya Clarisa itu bukanlah adik kandung dari kak Rio. Clarisa anak dari pamannya kak Rio, kedua orangtuanya kak Rio mengadopsinya saat kedua orangtuanya Clarisa meninggal" matanya Kartika langsung membulat saat mendengar apa yang dikatakan kakaknya.


"Dengar kak Rio tampak sangat berbeda dengan Clarisa. Kak Rio itu sangat baik. Buktinya dia juga ikut membantu kita dan tidak memihak pada Clarisa" sambung Ellen. Kartika tampak merenung dengan apa yang dikatakan kakaknya.


"Sekarang kamu istirahat lah... Kakak pulang dulu, kakek Bryan dan Chelsea pasti sudah menunggu"


"Terimakasih kak. Sampaikan juga pada kak Rio, terimakasih" ucap Kartika.


"Iya..."


Ellen langsung keluar setelah pamit pada adiknya. Setelah pamit pada adiknya, Ellen juga pamit pada mamanya. Rio mengantarkan Ellen dan Leo sampai di rumah. Saat mereka masuk kedalam parkiran rumah Leo, Rio melihat mobil orangtuanya.


"Untuk apa mereka kesini?" gumam Rio sambil menatap mobil orangtuanya.


"Kenapa kak?" tanya Ellen yang mendengar ucapan Rio.


Ketiganya pun masuk bersamaan kedalam rumah Leo. Saat mereka masuk, mereka melihat mamanya Rio dengan pengacara keluarganya Rio duduk di hadapan kakek Bryan dan Chelsea.


"Untuk apa mama kesini?" mamanya Rio tampak sangat terkejut melihat Rio datang bersama dengan Ellen dan Leo.


"Apa kakek dan papa tahu mama kesini?" tanya Rio dengan tatapan dingin pada mamanya.


"Rio..." mamanya langsung gugup saat mendengar pertanyaan putranya.


"Kak Rio, tolong bawa mama kak Rio dari rumah kami. Kasih tahu mama kakak kami tidak akan mencabut tuntutan kami. Kami akan memastikan apa yang dilakukan Clarisa dia akan menerima hukuman yang setimpal" ucap Chelsea sambil menatap tajam mamanya Rio.


Kedatangan mamanya Rio datang untuk memohon pada Ellen supaya mencabut tuntutannya. Tapi dia datang ke rumah Rio tanpa sepengetahuan mertuanya dan suaminya. Karena mertuanya dan suaminya tidak lagi memperdulikan Clarisa lagi.

__ADS_1


"Astaga! Apa mama tidak mendengar keputusan kakek? Apa mama ingin membuat kakek murka?" Teriak Rio dengan kesal pada mamanya. Rio sangat heran kenapa mamanya begitu sangat mencintai Clarisa dibandingkan dengan dirinya.


Dari sejak Clarisa masuk kedalam keluarganya, mamanya lebih peduli dan sayang pada Clarisa dibandingkan dirinya. Apapun yang diinginkan Clarisa, mamanya selalu menurutinya.


"Sekarang kita pulang, atau aku menghubungi kakek?" Rio memberikan pilihan pada mamanya.


"Tidak! Mama tidak ingin pulang sebelum mereka mencabut tuntutan mereka pada adik kamu. Kasihan adik kamu didalam penjara, dia tampak sangat kurus sekarang" ucap mamanya Rio dengan sedih.


"Sekarang katakan bagaimana jika mama di posisi mereka. Jika ada seseorang mencoba untuk membunuh Putri mama dan mencoba untuk menodainya apa yang akan mama lakukan? Apa mama mau melepaskan mereka begitu saja?" mamanya Rio tampak merenung dengan apa yang dikatakan Rio.


"Ma, please... Untuk saat ini biarkan Clarisa merenung kesalahannya disana. Jika kita dengan mudahnya melepaskannya, dia tidak akan pernah menghargai orang lain lagi. Ini semua untuk kebaikannya, ma..." sambung Rio dengan suara yang mulai lembut.


Mamanya Rio langsung menangis, dia merasa bersalah karena telah memanjakan Clarisa membuat Clarisa jadi seorang wanita yang sangat kejam. Rasa bersalahnya ditujukan pada adik iparnya yang sangat berharap agar menjaga Clarisa sampai menjadi gadis yang cantik dan berhasil.


Melihat mamanya menangis, Rio mendekati mamanya dan bersimpuh di hadapan mamanya. Rio memeluk mamanya, Rio dapat merasakan rasa kesedihan mamanya saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mamanya Rio tenang, mamanya Rio sadar bahwa dia tidak boleh hanya mementingkan kepentingan putrinya saja. Mamanya Rio meminta maaf pada Ellen dan Chelsea, karena dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Ellen dan Chelsea saat putrinya menyuruh orang lain untuk menyakiti mereka.


Ellen dan Chelsea dengan lapang dada menerima permintaan maafnya mamanya Rio. Rio juga tampak sangat lega karena mamanya sudah menerima apapun yang diberikan hakim untuk hukuman Clarisa nantinya.


Leo yang begitu sangat merindukan istrinya mengajak istrinya untuk olahraga di kamar. Awalnya Ellen menolaknya karena masih siang, tapi Leo membujuknya dengan alasan supaya Ellen cepat hamil, tentu saja Ellen langsung mau.


Ellen juga sangat ingin malaikat kecil mengisi kehidupan mereka saat ini. Apalagi Kakek Bryan ingin sekali melihat anaknya dan Leo lahir.


Leo yang begitu sangat merindukan istrinya, sampai sore barulah Leo berhenti. Apalagi dia melihat istrinya tampak sangat lelah, Leo benar-benar tidak tega melihat istrinya nanti kalau sampai tidak bisa jalan.


Setelah olahraga Leo dan Ellen terlelap dalam tidurnya sampai jam tujuh malam. Kalau bukan karena Chelsea berteriak memanggil mereka, dapat dipastikan mereka akan melewati makan malam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2