
Ellen tampak sangat bersyukur karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi pada Kartika. Awalnya Kartika sempat menjerit saat membuka matanya tapi setelah Ellen menenangkan Kartika, Kartika langsung tenang.
Ellen menceritakan pada Kartika kalau semuanya sudah ditangkap polisi begitu juga dengan Clarisa. Meskipun Kartika sangat takut kalau tinggal sendiri, tapi itu hal yang sangat wajar kata dokter.
"Kak, aku tidak suka dengan makanan rumah sakit ini. Ayolah aku ingin makan bakso..." rengek Kartika.
"Tidak bisa! Kamu ini sakit, jadi ikuti saja makanan apa yang disediakan rumah sakit."
"Dasar pelit..." pertengkaran kecil antara Ellen dan Kartika langsung berhenti saat Rio masuk kedalam ruangan Kartika.
"Kak Rio, silahkan masuk..." Ellen mempersilahkan Rio masuk dengan ramah.
Sedangkan Kartika malah menatap Rio dengan tatapan benci. Saat Kartika tahu kalau Clarisa saudara Rio, membuat Kartika sangat membenci yang berhubungan keluarga dengan Clarisa. Setiap Rio datang, Kartika memilih diam dan setiap Rio mengajaknya bicara pasti Kartika menjawabnya dengan ketus.
"Kenapa sih, dia datang terus?" ucap Kartika tanpa memperdulikan Rio tersinggung apa tidak nantinya.
"Kar..." Ellen menegur sikap Kartika.
"Kenapa? Apa aku salah? Ini kamar ku kak, aku berhak menerima siapa saja yang datang ke sini" ucap Kartika kesal.
"Kamu ini..." Ellen langsung menepuk pundak Kartika dengan pelan. Ellen tahu kalau adiknya pasti tidak suka dengan Rio karena Clarisa saudara Rio.
"Tidak apa-apa, El..." ucap Rio yang sangat mengerti apa yang dilakukan Kartika padanya.
"Leo mana, El?" tanya Rio yang tidak melihat keberadaan Leo.
"Mas Leo tadi ada urusan penting katanya. Mungkin sebentar lagi dia datang..." ucap Ellen.
"Hai, Kar... Bagaimana keadaan mu?" tanya Rio yang sudah berdiri di hadapan Kartika.
"Kak Rio lihat bagaimana?" Ucap Kartika dengan ketus. Bukannya tersinggung, Rio malah tersenyum. Sedangkan Ellen langsung memukuli pundak Kartika karena adiknya bicara dengan ketus pada Rio.
"Maaf ya kak..." Ellen lah yang meminta maaf pada Rio karena sikap Kartika.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku balik dulu, ya. Soalnya aku ada kerjaan yang penting..." ucap Rio.
"Oke kak. Terimakasih sudah datang menjenguk Kartika, kak...."
"Sama-sama. Kar, semoga cepat sembuh ya...." Bukannya tersenyum, Kartika malah menatap Rio dengan dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Ma, ku mohon tolong bebaskan aku dari sini. Aku tidak bisa tidur nyenyak di sini ma, makanannya juga tidak enak..." rengek Clarisa saat kedua orangtuanya Rio dan kakeknya Rio datang mengunjungi Clarisa di kantor polisi. Mendengar keluhan Clarisa, Mamanya Rio langsung memeluk Clarisa dengan rasa bersalah.
"Mas, apa kita tidak bisa membuat jaminan lagi?" tanya mamanya Rio pada suaminya.
"Tidak bisa!" bukannya suaminya yang menjawab, tapi kakeknya Rio menjawab dengan tegas.
"Papa..."
"Kakek..." gumam mamanya Rio dan Clarisa bersamaan.
"Sekarang kita lebih baik pulang. Ini hukuman yang cocok untuknya. Lebih baik sekarang kita pulang!" ucap kakek.
"Tidak... Tidak..." Clarisa langsung berlari dan berlutut di hadapan kakek nya dengan ketakutan.
"Kakek ku mohon tolong bantu aku. Aku tidak bisa tinggal di sini... Aku janji tidak akan melakukannya lagi..." ucap Clarisa sambil menggenggam tangan kakek.
"Seharusnya sebelum kamu melakukannya, kamu berpikir dua kali. Kamu tahu sendiri bagaimana keluarga Rejaksa! Kemarin kamu sudah mendapatkan hasil apa yang kamu lakukan pada menantu keluarga Rejaksa, sekarang kamu kembali melakukannya lagi. Apalagi kamu ingin membunuh menantu mereka dan membuat hal yang paling keji pada adik dari menantu keluarga Rejaksa" ucap kakek dengan emosi.
"Kalau kalian ingin tetap disini, jangan kembali masuk kedalam rumah!" ucap kakek pada kedua orangtuanya Rio. Setelah mengatakan itu kakek langsung keluar dan mengabaikan Clarisa yang terus memohon padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"A... aku bisa sendiri pak..." ucap Desi saat Rezza ingin menyuapkan makanan untuknya.
Desi benar-benar sangat bingung karena sikap Rezza padanya. Apalagi kemarin saat dia sadar, Rezza langsung memeluknya dengan erat dan selalu mengatakan kata maaf padanya.
Saat kedua orangtuanya belum datang untuk menjaganya, Rezza lah yang membantunya kalau dia ingin ke kamar mandi, Rezza menggendongnya dengan style bridal.
"Apa pak Rezza tidak kerja?" tanya Desi karena pagi-pagi Rezza datang untuk menjaganya, saat mamanya pergi untuk istirahat.
"Tidak... Saya bisa bekerja dari sini. Bagaimana keadaan mu? Apa masih ada rasa sakitnya lagi?" Desi menggeleng kepalanya.
"Syukurlah, sekarang kamu harus minum obat kamu dulu..." Rezza memberikan obat yang diresepkan dokter untuk Desi.
"Terimakasih pak..." Setelah Desi meminum obatnya, Rezza menyuruh Desi untuk kembali tidur.
Saat Desi kembali membaringkan tubuhnya, Desi teringat dengan apa yang dikatakan Ellen padanya. Orang yang membawanya ke rumah sakit adalah Rezza. Desi juga menceritakan bagaimana paniknya Rezza saat dirinya mengeluh rasa sakit.
"Tidurlah, aku ke ruangan nona Kartika sebentar" ucap Rezza setelah membenahi selimut Desi. Desi hanya mengangguk kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Bagaimana? Apa semuanya beres?" tanya Leo saat Rezza datang menghampirinya.
"Semuanya sesuai dengan rencana pak."
"Dengar aku tidak mau dia sampai bebas lagi."
"Tuan besar Hodgson sudah mengambil keputusan untuk tidak membela nona Clarisa lagi dan memberikan peringatan pada kedua orangtuanya pak Rio."
"Bagus. Dia harus menerima hukuman yang berat, begitu juga dengan anak buahnya" ucap Leo sambil melihat ke arah istrinya yang tertidur pulas di samping adik iparnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah seminggu Kartika dan Desi di rumah sakit. Di hari yang sama keduanya dipersilahkan dokter untuk pulang. Rezza meminta ijin pada kedua orangtuanya Desi kalau dirinya yang akan menjemput Desi dari rumah sakit.
Kedua orangtuanya Desi yang melihat beberapa hari ini kalau Rezza sangat perhatian pada putrinya dan yang telah menyelamatkan putri dan calon cucunya yang masih dalam kandungan putrinya langsung menyetujui permintaan Rezza.
Kedua orangtuanya Desi tampak sangat senang karena ada seorang pria yang menaruh perhatian pada putrinya dan calon cucunya.
"Pak Rezza ingat jangan ngebut. Aku titip Desi dan antar dia sampai ke rumahnya dengan selamat" ucap Ellen setelah Desi masuk kedalam mobil Rezza.
"Baik, nona..."
"Des, kabari aku kalau sudah sampai..." Desi hanya mengangguk kepalanya.
Setelah itu Leo mengajak istrinya untuk masuk kedalam mobil. Mereka menggunakan mobil Rio, karena Rezza mengantarkan Desi ke rumah orangtuanya Desi dengan mengunakan mobil Leo. Apalagi dia di suruh duduk di depan, samping Rio.
Didalam mobil Rio, Kartika tampak sangat kesal karena kakak dan kakak iparnya setuju dengan Rio, kalau Rio yang akan mengantarkan mereka pulang.
"Tidak perlu menatap ku..." ucap Kartika dengan jutek pada Rio yang sesekali melirik Kartika yang duduk di sampingnya.
"Hahaha. Memang ada larangan untuk menatap orang lain?" ucap Rio sambil tertawa karena Kartika yang selalu jutek padanya.
"Ada! Kak Rio tidak diperbolehkan untuk menatap ku..."
"Oh, ya? Aku baru tahu..."
"Ah... Bisa tidak sih kak Rio diam saja?" Kartika semakin kesal karena Rio selalu saja menjawabnya.
"Sepertinya dari tadi aku diam, tapi kamu yang mengajak ku ngobrol..." Kartika langsung menatap tajam Rio.
Karena tatapan Kartika yang tajam membuat Rio merasa sangat gemas dengan Kartika, karena gemas melihat tingkah Kartika Rio mengacak rambut Kartika.
__ADS_1
Rio tidak sadar saat dia mengacak rambut Kartika, Leo dan Ellen masuk kedalam mobilnya. Ellen yang melihat Rio mengacak rambut adiknya dengan tersenyum membuat Ellen tersenyum.
...****************...