
"Maaf tuan, nona, anda berdua dipanggil tuan besar." asisten kakek Bryan menghampiri Leo dan Ellen yang baru saja istirahat.
"Baik, om. Terimakasih" ucap Ellen dengan sopan pada Om Rudi asisten pribadi kakek Bryan, Om Rudi orang kepercayaan kakek Bryan sejak kakek Bryan membangun perusahaannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Leo karena Ellen ingin bangkit berdiri.
"Tentu saja mau menemui kakek. Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan om Rudi?"
Bukannya menjawab Leo mengambil hpnya dan menghubungi Rezza, asistennya.
"Kenapa lama sekali? Dimana?"
"....."
"Hemm.... Cepatlah, aku ingin Lima menit kau sudah disini" ucap Leo sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah lima menit, Ellen mengerutkan keningnya saat Rezza datang membawa paper bag dengan tergesa-gesa.
"Maaf pak, ini yang anda minta..." ucap Rezza sambil memberikan bawaannya pada Leo.
"Kamu...." cicit Ellen saat melihat sepatu Flat yang dikeluarkan Leo dari dalam paper bag yang dibawa Rezza.
"Pakailah... Kaki mu tidak akan sanggup lagi memakai sepatu mu itu" ucap Leo sambil memainkan sepatu Ellen.
Setelah melihat sepatu yang diberikannya cocok di kaki Ellen, Leo langsung bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Ellen. Ellen tampak bingung dengan sikap Leo padanya. Karena Ellen tampak diam saja, Leo langsung menarik tangan Ellen. Ellen dapat merasakan kalau saat ini jantungnya berdegup kencang karena mendapat sikap manis Leo padanya.
Saat mereka menghampiri Kakek Bryan, kakek Bryan langsung memperkenalkan Ellen pada semua orang yang tidak Ellen kenal sama sekali. Ellen dapat memastikan orang-orang yang dikenal kan kakek Bryan padanya semuanya orang-orang yang sangat penting.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu persatu para tamu mulai pulang, Mamanya Ellen dan Kartika lebih dulu pulang. Ellen lah yang menyuruh orangtuanya dan adiknya untuk pulang lebih dulu karena melihat mamanya yang tampak sangat lelah.
"Akhirnya kita pulang juga..." gumam Ellen saat dirinya dan Leo masuk kedalam mobil.
"Maaf aku tidak bisa hentikan kakek untuk tidak mengundang banyak orang" ucap Leo sambil mengelus kepala Ellen. Tentu saja membuat pipi Ellen memerah karena Leo lagi-lagi bersikap manis padanya.
"Tidak apa-apa..." ucap Ellen.
"Apa kita jadi kerumah sahabat mu malam ini?" tanya Leo sambil memperhatikan arlojinya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ellen langsung menghela nafasnya dan menatap kearah Leo dengan sendu.
"Tidak perlu, besok pagi aku akan kesana. Aku merasa kalau saat ini Desi sedang ada masalah." ucap Ellen.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu..."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi..." Ellen hanya mengangguk kepalanya dengan manyun. Karena jalan yang sangat lenggang membuat mereka sampai dalam waktu setengah jam.
Saat mobil mereka berhenti, Leo melihat Ellen masih saja tidur dengan pulas di sandaran bahunya. Dengan pelan-pelan Leo menggendong Ellen, Leo tidak ingin membuat Ellen terbangun dari tidurnya.
Sesampainya mereka di kamar, Leo meletakkan Ellen di atas kasurnya. Dengan penuh perhatian Leo melepaskan sepatu Ellen, setelah itu Leo menarik selimut untuk menutupi tubuh Ellen.
Setelah memastikan Ellen tampak sangat nyaman dalam tidurnya, Leo membersihkan tubuhnya yang sudah tampak sangat gerah.
Saat Leo keluar dari dalam kamar mandi, Leo melihat Ellen masih tidur di atas kasurnya. Leo duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap wajah cantik istrinya.
Cup...
Leo kembali mengecup kening Ellen dengan penuh perasaan.
"Good night My Wife..." ucap Leo dengan suara pelan.
Setelah itu Leo menyusul Ellen untuk istirahat. Malam ini Leo sangat senang karena bisa tidur bareng dengan istrinya di tempat tidur mereka.
Keesokan paginya Ellen lebih dulu bangun dan saat dia membuka matanya, Ellen sangat terkejut jarak antara wajahnya dengan Leo sangat dekat.
Karena jarak dengan Leo sangat dekat membuat jantungnya Ellen olahraga pagi dan wajah memerah. Ellen yang tidak ingin membuat Leo salah paham langsung bangun dan berlari ke walk in closet yang sudah disulap menjadi kamarnya.
Sesampainya di dalam walk in closet Ellen menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memegang dadanya yang masih berpacu dengan cepat.
"Ini salah, El... Ingat jangan sampai kamu mengalaminya lagi..." gumam Ellen yang masih saja mengingatkan dirinya untuk tidak jatuh cinta lagi.
Setelah detak jantungnya mulai normal, Ellen memutuskan untuk membersihkan dirinya. Apalagi semalam dirinya tidak bersih-bersih karena ketiduran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh, ya mulai besok kalian berdua harus mengosongkan waktu kalian selama seminggu" ucap kakek Bryan saat mereka sarapan.
"Kenapa kek? Apa ada acara?" tanya Ellen yang tampak bingung.
"Tentu saja. Kakek sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk kalian."
"Hadiah?"
__ADS_1
"Leo, kamu mengerti maksud Kakek kan?" tanya Kakek Bryan pada Leo yang dari tadi tampak diam saja.
"Aku tidak bisa! Ada rapat penting di perusahaan" ucap Leo sambil menikmati sarapannya.
"Kakek sudah bicarakan dengan Rezza, selama seminggu ini Rezza yang akan mengambil ahli pekerjaan mu. Kamu dan Ellen fokus dengan bulan madu kalian"
Huk...huk...huk...
Ellen yang lagi minum air langsung batuk-batuk karena mendengar ucapan kakek Bryan. Leo yang melihat Ellen batuk-batuk langsung mengambil tissue dan membersihkan mulutnya Ellen.
"Minumlah...." Leo memberikan minuman pada Ellen dengan sedikit panik.
Setelah Ellen meminum air putih yang diberikan Leo, Ellen menatap Leo. Ellen dapat melihat jelas kalau Leo kuatir padanya.
"Kamu baik-baik saja?" Ellen mengangguk kepalanya dengan gugup.
"Nak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kakek Bryan untuk memastikan kalau Ellen benar-benar baik saja.
"Baik, kek. Maaf aku membuat kalian cemas... Tapi..."
"Tapi apa, nak?" tanya Kakek Bryan dengan cepat.
"Apa yang maksud Kakek katakan tadi?"
"Yang mana nak?" Kakek Bryan mengerutkan keningnya untuk berpikir dengan apa yang dimaksud Ellen.
"Astaga, jangan bilang kalau kakak ipar tersedak karena mendengar kalau kalian akan bulan madu..." tebak Chelsea sambil tertawa.
Mendengar ucapan Chelsea membuat kakek Bryan juga ikut tertawa. Sedangkan Ellen langsung menginjak kaki Leo karena kesal.
"AW..." cicit Leo karena Ellen menginjak kakinya dengan keras.
"Itu akibat karena kamu tidak membicarakannya dengan ku" bisik Ellen pada Leo dengan pelan.
"Dengarkan kakek, kakek tidak ingin mendengar bantahan dari kalian. Kakek sudah mempersiapkan semuanya untuk kalian. Kalian hanya membawa tubuh kalian saja dan baju yang akan kalian pakai" ucap kakek Bryan dengan tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sarapan pagi, Ellen memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatnya Desi. Dia masih kuatir dengan sahabatnya itu karena dari semalam sampai sekarang Desi tidak juga bisa dihubungi, begitu juga dengan Dito suami Desi.
"Kamu yakin mau mengantarkan ku? Apa tidak terganggu dengan pekerjaan mu?" tanya Ellen saat dirinya dan Leo masuk kedalam mobil.
__ADS_1
...****************...