
Didalam ruang kerja Desi, Ellen tampak sangat murung. Desi yang melihat kemurungan sahabatnya itu sangat mengerti, karena dia pernah diposisi Desi.
"Sudah ayok makan dulu, ini ada bakso kesukaan mu..." ucap Desi setelah asistennya membawa pesanannya kedalam ruangannya
Saat Desi mendekatinya, pandangannya menuju perut buncit Desi. Dengan wajah sendu Ellen langsung mengelus perut buncitnya Desi.
"Des, hpl nya berapa lama lagi?"
"Kata dokter dua Minggu lagi..." ucap Desi dengan antusias. Desi sangat tidak sabar, menunggu kelahiran putranya.
"Apa kamu dan kak Rezza langsung menikah setelah kelahirannya?" tanya Ellen yang kini sudah kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
Desi dengan wajah memerah duduk di samping Ellen dan mengangguk kepalanya.
"Tapi aku takut, kalau keputusan ku ini salah El..." ucap Desi.
Dua bulan yang lalu, Rezza menyatakan cintanya dan langsung melamarnya. Dihadapan kedua orangtuanya Rezza melamar Desi untuk menjadi istrinya dan menjadi ayah dari anak yang ada dalam kandungan Desi. Desi tidak langsung menerima lamaran Rezza, karena dia takut suatu saat nanti kalau dia melahirkan anak Rezza, Rezza akan mengabaikan anaknya.
Melihat ketulusan Rezza yang selalu menjaganya dan memenuhi segala keinginan anak dalam kandungannya, hatinya mulai terisi dengan yang namanya Rezza. Desi hanya manusia biasa dan dewasa tentu saja sangat ingin yang namanya kasih sayang dari seorang pria. Tapi Desi tidak ingin egois, dia tidak ingin setelah dia menikah dan melahirkan anak dari pasangan barunya, anaknya akan terabaikan.
Tapi tiga Minggu yang lalu Desi yang melihat begitu tulusnya Rezza dan Rezza juga yang meyakini kalau dia akan selalu menyayangi anaknya meskipun mereka nantinya memiliki anak hasil pernikahan mereka, Desi pun menerima lamaran Rezza. Rezza ingin setelah Desi melahirkan, mereka menikah. Rezza melakukannya karena dia ingin anaknya Desi memiliki status siapa ayahnya.
"Tapi setelah satu bulan aku melahirkan dan mas Rezza yang mengurus semuanya katanya" ucap Desi dengan malu.
"Baguslah. Des, apa aku akan bernasib sama seperti mu?" ucap Ellen dengan sendu menatap Desi.
"Maksudnya?" Desi tampak bingung apa yang dimaksud Ellen.
"Aku takut kalau mas Leo akan pergi ke wanita lain supaya dapat keturunan" ucap Ellen dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tidak..." bukannya Desi yang menjawab tapi Leo yang menjawab pertanyaan istrinya.
Desi dan Ellen langsung menoleh ke pintu dan melihat kehadiran Leo dan Rezza. Sejak Ellen mempertanyakan apakah nasibnya sama dengan Desi, Leo dan Rezza mendengar semuanya.
__ADS_1
Ellen yang melihat kehadiran Leo, membuat air matanya langsung keluar. Leo yang begitu tidak tahan melihat istrinya menangis langsung mempercepat langkahnya untuk memeluk istrinya. Leo sangat mengerti apa yang ditakutkan istrinya.
"Ku mohon tolong jangan berpikir seperti itu sayang, aku tidak akan pernah berpikir seperti itu sedetik pun. Aku hanya ingin kamu lah satu-satunya yang menjadi istriku dan aku ingin kamu lah yang selalu ada di sisi ku sampai maut memisahkan kita. Jika saat ini Tuhan masih belum memberikannya, kita masih bisa mencobanya lagi. Aku menikahi bukan karena keinginan untuk mendapatkan keturunan saja. Tapi aku menikahi mu karena aku sangat mencintaimu dan ingin bersamamu sampai akhir hidup ku" ucap Leo sambil memeluk erat istrinya. Hati Ellen merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Leo.
Leo yang merasakan kalau istrinya mulai tenang, Leo mulai mengendurkan pelukannya dan ingin melihat wajah istrinya yang selalu ada dalam pikirannya setiap waktu.
Cup... Cup...
Leo mengecup kedua mata istrinya.
"Aku tidak akan pernah sanggup melihat mata mu menangis. Aku hanya ingin melihat senyum mu setiap hari, sayang. Lagian jika saat ini kamu belum juga hamil itu berarti kita harus mengadonnya setiap malam. Jika perlu setiap jam.." ucap Leo dengan Menggoda istrinya
"AW..." Jerit Leo meringis kesakitan karena istrinya mencubit perutnya.
"Itu karena ucapan mas yang tidak tahu tempat!" ucap Ellen yang sudah malu karena Desi dan Rezza mendengar apa yang dikatakan Leo padanya tadi.
"CK... Tidak perlu malu kali, El..." ucap Desi yang tahu kalau kini Ellen pasti tengah malu sama nya dan Rezza.
Keempatnya memutuskan untuk makan siang bersama di restoran yang menyajikan pecel lele. Entah kenapa tiba-tiba Ellen sangat ingin makan pecel lele, padahal dari dulu dia tidak suka dengan yang namanya lele."
"Tentu saja, mas. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa..." ucap Leo dengan tersenyum.
Leo, Rezza dan Desi tampak sangat terkejut begitu lahapnya Ellen memakan makanannya. Sampai-sampai Ellen sudah dua porsi memakannya.
"Huff... Akhirnya kenyang juga..." ucap Ellen.
"Mas, setelah ini kita makan eskrim ya..." ucap Ellen yang tiba-tiba muncul keinginannya makan eskrim. Tentu saja membuat Leo dan yang lainnya terkejut.
"Sayang apa kamu belum kenyang?"
"Kenyang, sih. Tapi nggak tahu kenapa aku ingin makan eskrim. Boleh kan?" ucap Ellen dengan menampilkan senyumnya yang manis pada suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi cukup hanya satu..." Ellen langsung mengangguk kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas apa aku tampak kegemukan?" tanya Ellen saat berkaca dan memperhatikannya wajahnya yang sedikit berisi. Leo yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat istrinya masih mengunakan jubah mandi langsung memeluk erat istrinya dan mencium leher istrinya dari belakang.
"Tidak sayang..." ucap Leo dengan suara berat.
Leo yang benar-benar tidak tahan lagi, langsung mengendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur mereka. Ellen yang yang tahu tujuan suaminya langsung mengikuti permainan suaminya.
Keesokan paginya Leo lebih dulu bangun dan melihat wajah istrinya yang tampak sangat pucat. Leo langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang. Untung saja setelah berolahraga panas dengan istrinya, Leo dan Ellen langsung membersihkan tubuh mereka.
"Sayang..." Leo berusaha membangun istrinya yang masih terus memejamkan matanya.
"Hemm... Lima menit lagi, mas. Kepala ku terasa sangat sakit dan aku sangat aku merasa lemas" ucap Ellen dengan suara yang lemah.
"Bertahanlah sayang, sebentar lagi dokter datang..." ucap Leo sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.
Setelah satu jam, kakek Bryan dan Chelsea yang lagi sarapan sangat terkejut melihat kedatangan dokter.
"Dokter Jack..." sapa Chelsea.
"Pagi tuan besar, nona Chelsea" sapa dokter Jack.
"Bukannya jadwal periksa ku dua hari lagi?" tanya Kakek Bryan dengan mengerutkan keningnya.
"Aku yang memanggilnya, kek. Dokter silahkan ikuti saya..." Kakek Bryan dan Chelsea langsung menoleh kebelakang mereka dimana sudah ada Leo berdiri di atas tangga.
"Kak apa kakak Ipar sakit apa?" tanya Chelsea.
"Aku tidak tahu, tapi wajahnya sangat pucat dari tadi" ucap Leo.
Kakek Bryan dan Chelsea langsung menghentikan sarapan mereka. Mereka memilih untuk naik keatas, mereka ingin melihat keadaan Ellen saat ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...