Love Story'

Love Story'
Bertarung


__ADS_3

Ellen sangat terkejut melihat waktu yang sudah menjelang sore. Dia tidak menyangka kalau sudah shopping membuat lupa waktu. Ellen juga tidak menyangka kalau begitu banyak yang dibelinya. Bukan hanya membeli baju untuk Leo, tapi dia juga membeli baju untuknya dan yang paling membuat dia geleng-geleng kepala adalah saat adik iparnya memaksanya untuk membeli lingerie yang harus dipakai nya saat bersama suaminya.


Tidak hanya satu, adik iparnya mengambil tujuh untuk dipakainya. Dengan alasan supaya dia dapat memakainya ganti-gantian.


"Aku sangat yakin kalau kakak mu pasti sudah mendapatkan pesan kalau uang nya sudah banyak keluar" ucap Ellen sambil memasukkan paper bag belanjaannya masuk kedalam bagasi mobil.


"Hahaha. Biarkan saja kak, kak Leo pasti mengerti..."


"Huff... Kita lihat saja nanti..." Ellen sudah pasrah kalau Leo marah karena banyaknya pengeluaran yang dilakukannya dalam satu hari.


Saat dalam perjalanan menuju apartemen Desi, tiba-tiba mobil mereka dihadang tiga mobil. Ellen yang mengemudikan mobil tampak sangat terkejut.


"Siapa mereka? Kenapa mereka menghadang kita?" tanya Ellen.


"Jangan keluar kak, kita tetap di dalam saja..." ucap Chelsea.


"Astaga kemana mereka?" gumam Chelsea.


Prang...


Ah....


Ellen dan yang lainnya langsung menjerit dan menundukkan kepalanya ke bawah karena para preman itu langsung memecahkan kaca mobil depan yang disamping Desi.


Pria itu pun langsung membuka paksa pintu mobilnya dan menarik Desi keluar.


"Lepaskan aku..." teriak Desi.


"Hei lepaskan dia..." jerit Ellen yang kuatir karena pria itu menarik Desi dengan sangat kasar, apalagi situasinya Desi sedang hamil muda.


"Kak Desi..." teriak Chelsea dan Kartika bersamaan.


Ellen yang tidak tahan melihat sahabatnya diperlakukan kasar langsung keluar, begitu juga dengan Chelsea.


"Kar, kamu tetap di dalam jangan keluar. Tetap sembunyi..." perintah Chelsea pada Kartika saat Kartika ingin keluar.


"Tapi kak..."


"Tidak ada tapi-tapian. Tetap di dalam..." ucap Chelsea dengan tegas.

__ADS_1


Chelsea langsung berlari menghampiri Ellen yang sudah berdiri tegak menatap para preman yang sedang menyandera Desi.


"Lepaskan dia..." ucap Ellen dengan dingin.


"Hahaha.... Kami akan melepaskan wanita ini kalau nona mau ikut dengan kami baik-baik." ucap pemimpin dari preman itu.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Chelsea dengan dingin.


"CK... Tidak perlu tahu! Hei nona bagaimana? Mau ikut dengan kami baik-baik atau wanita ini akan kami bunuh?" Ancam pria itu sambil tersenyum puas karena melihat Ellen yang mulai kuatir.


Tiba-tiba saja beberapa pria datang dari belakang para preman itu dan memberikan pukulan pada para preman yang dari belakang. Ellen dan Chelsea yang melihat itu ikut juga bertarung. Akhirnya terjadi lah pertarungan antara delapan orang melawan dua puluh orang.


Chelsea sangat terkejut melihat Ellen yang sangat pintar ahli beladiri. Begitu juga dengan Ellen, Ellen tidak menyangka kalau Chelsea dapat bertarung. Salah satu preman itu menghampiri Kartika yang sembunyi di dalam mobil. Preman itu menarik Kartika dengan paksa keluar dari dalam mobil dan membawa Kartika untuk masuk kedalam mobil mereka. Begitu juga dengan Desi, Desi dipaksakan untuk masuk kedalam mobil dengan tangan yang diikat.


Karena jumlah yang banyak membuat Ellen, Chelsea dan pengawal yang dikirimkan Leo kewalahan. Para preman itu pun juga tampak sangat lelah karena Ellen dan Chelsea tampak sangat kuat.


Pria yang tampan seperti pemimpin kelompok preman itu menarik kembali Desi dan Kartika keluar dan menodongkan pisau ke leher Desi dan Kartika. Tentu saja membuat Desi dan Kartika menangis ketakutan.


"Lepaskan mereka bre*****!" Teriak Ellen dengan cemas.


"Ikut dengan kami, jangan sampai pisau ini menggores leher mereka..." ucap pria itu dengan tegas.


"Tidak... Baik, aku akan ikut dengan kalian. Tapi jangan lakukan apapun pada mereka" ucap Ellen dengan cepat. Ellen langsung mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Kakak ipar, apa yang kamu lakukan?" tanya Chelsea dengan gugup.


"Dengar kalian harus cepat pergi dari sini. Kalau kalian juga kena tangkap, tidak ada satupun nanti yang akan memberitahu pada polisi" bisik Ellen.


"Nona, kami tidak akan meninggalkan anda sendiri. Tuan Leo pasti akan sangat murka pada kami..." Ellen langsung menatap pria yang ada di sampingnya. Ellen akhirnya mengetahui siapa pria-pria yang tiba-tiba datang dan membantu mereka.


"Ternyata mas Leo yang mengirimkan kalian. Dengarkan aku, bawa Chelsea pergi dari tempat ini cepat. Kalau kita semua kena tangkap, tidak ada yang dapat membantu kita" ucap Ellen.


"Tapi nona..."


"Aku bilang cepat bawa Chelsea pergi!" ucap Ellen dengan dingin.


"Kakak ipar, aku tidak bisa..."


"Chel ku mohon tolong ikuti apa yang ku katakan." pinta Ellen dengan memohon.

__ADS_1


Akhirnya Chelsea langsung berlari masuk kedalam mobil nya dan diikuti bodyguard Ellen. Para preman yang melihat Chelsea dan yang lainnya kabur mereka langsung langsung berlari untuk menghalangi mereka kabur. Tapi pria itu langsung menancapkan gas mobilnya, dan menabrak para preman yang menghalangi mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ah, sial.... Ini pasti ulah wanita gila itu!" ucap Leo dengan emosi saat tahu mendapat telepon dari Chelsea apa yang terjadi pada istrinya.


"Hubungi Rio, tanya dimana keberadaan adiknya itu!" perintah Leo pada Rezza.


"Tunggu sebentar..." Rezza langsung menghubungi Rio.


Rezza juga tampak sangat cemas karena kata Chelsea kalau Desi juga ikut ditawan. Dengan kecepatan tinggi Rezza melajukan mobilnya menuju bandara. Sesampainya di Bandara, Rezza menghubungi saudaranya yang bekerja di kepolisian. Rezza dan Leo tampak sedikit lega, karena Rio mau di ajak ikut bekerja sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bibi yakin kalau Clarisa belum pulang dari semalam?" tanya Rio dengan mengintrogasi salah satu pembantu yang sangat dekat dengan Clarisa.


"Benar, tuan..."


"Kenapa bibi tidak kasih tahu dengan saya?" teriak Rio dengan emosi.


"Rio, tenang dulu nak. Mama sangat yakin kalau adik kamu tidak mungkin melakukan hal itu..." ucap mamanya Rio yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rio padanya.


"Ma, tolong jangan membela nya lagi! Papa dan kakek apa juga tidak percaya?" tanya Rio dengan menatap Kakek dan papanya yang tampak diam


"Sekarang dimana tuan Leo?" tanya papanya Rio yang mulai kuatir.


"Mereka sedang menuju ke sini..." ucap Rio dingin.


"Sebelum mereka datang, ma kamu hubungi Clarisa sekarang. Tanya dimana dia sekarang..." perintah papanya Rio.


"Ia, pa..."


"Bibi, apa selama ini Clarisa tampak berbeda?" Rio kembali mengintrogasi pembantunya.


"Tidak tuan... Hanya saja semalam sore saya mendengar kalau nona Clarisa mengatakan "Aku akan membuat mu menghilang dari kehidupan kak Leo selamanya...." setelah selesai bicara dengan seseorang di telepon..." ucap pembantu itu dengan gugup.


"Bi, jangan asal bicara kamu..." teriak mamanya Rio karena mendengar ucapan pembantunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2