
Sepanjang perjalanan menuju kota J, Kartika tampak sangat gelisah dan menetaskan air matanya. Dion yang duduk di sampingnya terus memperhatikan Kartika.
Karena jalan yang sangat macet membuat mereka berjam-jam sampai di kota J. Sesampainya di rumah sakit dimana sahabatnya dirawat, Kartika langsung keluar dengan tergesa-gesa. Kartika langsung bertanya pada perawat keberadaan sahabatnya dan keadaan sahabatnya.
Betapa shock nya Kartika saat mendengar dari dokter bahwa suami dari sahabatnya sudah meninggal beberapa menit yang lalu, sedangkan sahabatnya dan anaknya sedang dalam keadaan kritis.
Kartika langsung memeluk Dion sambil menangis. Kartika sangat sedih karena sahabat nya itulah yang selalu ada bersamanya sejak dia masuk kuliah. Dion selalu menemani Kartika untuk menjaga sahabatnya Kartika.
"Makanlah, tadi pagi kamu tidak sarapan." ucap Dion sambil memberikan makanan yang dibelinya. Dengan lemas Kartika menggeleng kepalanya.
Dion yang tidak ingin Kartika sakit langsung berlutut di hadapan Kartika, lalu diam menggenggam tangan Kartika. Kartika yang merasakan genggaman tangan Dion langsung menoleh ke arah Dion dengan wajah sendu.
"Aku tahu kamu tidak selera makan, tapi kalau kamu tidak makan siapa yang menjaga mereka? Aku juga tidak ingin melihat mu sakit" ucap Dion dengan lembut. Kata-kata Dion membuat Kartika menangis karena tersentuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah satu hari menunggu perkembangan sahabatnya, ternyata Tuhan berkehendak lain. Sahabat dan anaknya yang masih baby tidak lagi bertahan besok paginya.
Dengan bantuan Dion, Kartika dapat mengurus jenazah sahabatnya dan keluarga kecil sahabatnya dengan lancar.
"Kamu mau pulang ke rumah atau ke rumah Leo?" tanya Dion setelah mereka dari pemakaman.
"Aku pulang ke rumah saya saja pak." ucap Kartika dengan lemah.
Karena yang dilaluinya sangat menguras tenaga dan pikirannya, Kartika memilih untuk memejamkan matanya langsung.
Dion yang melihat Kartika mulai memejamkan matanya, Dion langsung membuka jaketnya untuk menjadi menyelimuti Kartika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Dion dan Kartika berada di depan rumah Kartika. Dion melihat suasana rumah Kartika tampak seperti tidak ada orang. Dion pun memutuskan untuk menghubungi Leo, bertanya keberadaan mereka di mana.
Setelah mengetahui kalau Leo dan yang lainnya masih terjebak dalam kemacetan yang cukup besar membuat Dion bingung. Dion menatap Kartika yang sangat pulang tidur dan kepalanya bersandar di atas bahu Dion. Dengan terpaksa Dion harus membangunkan Kartika dari pada menunggu mamanya Kartika yang belum tahu jam berapa sampainya.
__ADS_1
Saat Dion ingin membangunkan Kartika, Kartika membuka matanya. Saat Kartika membuka matanya, kedua mata mereka saling bertemu. Setelah beberapa menit barulah sadar dan mereka langsung menegakkan tubuh mereka. Mereka pun tampak sangat canggung karena tatapan mata mereka saling bertemu tadi.
"Maaf, tadi saya berniat membangun kamu" ucap Dion dengan gugup.
Kartika hanya mengangguk kepalanya dengan gugup dan detak jantungnya berdegup kencang. Kartika juga merasa malu karena saat dia tidur, kepalanya bersandar di bahu Dion.
"Astaga Kar...Kar... Kenapa bisa pula kepalamu bersandar di bahunya? Tunggu, tadi aku tidak mendengkur kan? Atau air liur ku?" gumam Kartika dalam hatinya dengan kuatir. Kartika langsung mengarahkan pandangannya ke arah jendela untuk memeriksa mulutnya.
"Huff... Syukurlah..." tidak ada bekas air liurnya barulah Kartika merasa lega.
"Oh, ya tadi aku sudah menghubungi Leo, kalau mereka sedang terjebak macet. Kamu tidak apa-apa sendiri dirumah?" tanya Dion.
"Tidak apa-apa, pak. Terimakasih sudah membantu dan menemani saya mengurus pemakaman sahabat saya" ucap Kartika dengan tulus.
"Sama-sama."
Setelah mengucapkan terima kasih Kartika keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Dion. Dion membantu Kartika mengeluarkan koper miliknya dari dalam bagasi mobil dan Dion juga membantu Kartika membawanya masuk kedalam rumah.
"Sekali lagi terimakasih pak" ucap Kartika setelah Dion meletakkan koper miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kar, cepat! Kasihan nak Dion menunggu mu dari tadi" teriak Mama Nia sambil memberikan minuman untuk Dion yang tampak sangat rapi.
Dion dan Kartika diminta Leo untuk mewakili perusahaan untuk hadir dalam acara ulang tahun salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan mereka.
Saat Kartika keluar Dion yang melihat Kartika yang begitu sangat cantik langsung bangkit berdiri dan jantungnya berdegup kencang. Mama Nia yang melihat Dion bangkit berdiri langsung mengikuti pandangannya Dion.
Mama Nia langsung tersenyum karena Dion yang begitu terpesona dengan putrinya. Mama Nia yang tidak ingin mengganggu memilih untuk kembali ke dapur.
"Maaf pak saya membuat pak Dion menunggu lama" ucap Kartika yang tampak gugup karena Dion terus menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti.
"Lebih baik kita berangkat sekarang" ucap Dion dengan dingin.
__ADS_1
Dion dan Kartika pun langsung permisi pada Mama Nia untuk pergi.
Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat acara dilaksanakan, Dion dan Kartika tidak ada bicara sedikitpun.
Sesampainya di depan hotel, Dion langsung keluar dari dalam mobil. Dion meminta Kartika untuk menunggu sebentar. Ternyata Dion ingin membuka pintu untuk Kartika dan mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh Kartika.
Awalnya Kartika ragu, tapi melihat Dion terus mengulurkan tangannya, Kartika pun langsung menggemgam tangan Dion.
"Selama acara tetaplah di samping ku" bisik Dion di telinga Kartika.
Saat Dion bicara di dekat telinga Kartika, Kartika dapat merasakan hembusan nafas Dion. Dengan seketika Kartika merasakan kalau darahnya sepertinya berhenti dan jantungnya berdegup kencang. Apalagi Dion terus menggemgam tangannya.
Saat mereka masuk kedalam ruangan acara, banyak para tamu yang datang terkejut melihat kedatangan Dion bersama seorang wanita. Apalagi mereka melihat Dion menggemgam tangan Kartika. Mereka sangat mengenal bagaimana sifat Dion, ya tidak jauh berbeda dengan Leo. Dion akan selalu tampak dingin pada setiap wanita. Tapi kali ini mereka melihat Dion tampak sangat hangat pada Kartika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam acara, Kartika terus disamping Dion karena Dion terus menggemgam tangannya. Setiap kali ada pria yang ingin berjabat tangan dengan Kartika, Dion langsung menghalanginya.
"Apa kamu lelah?" bisik Dion pada Kartika. Kartika hanya mengangguk kepalanya.
Karena Kartika yang tampak sangat lelah berdiri, Dion mengajak Kartika untuk duduk. Sebelum Kartika duduk, Dion membuka jasnya lalu memasangkannya ke Kartika. Kartika langsung menatap Dion dengan mengerutkan keningnya. Setelah memasangkan jasnya ke Kartika, Dion menarik bangku untuk Kartika.
"Kamu tunggu sebentar, saya akan mengambil makanan untuk kita" ucap Dion setelah Kartika duduk.
"Saya ikut bersama dengan pak Dion saja" ucap Kartika dengan cepat.
"Tidak apa-apa, kamu disini saja" ucap Dion.
Saat Dion pergi, Kartika tampak sangat terkejut Faisal ada dihadapannya. Tapi dengan cepat Kartika langsung cuek saja, karena dia tidak ingin berurusan lagi dengan Faisal.
Faisal yang dari awal sangat cemburu melihat Dion terus menggemgam tangan Kartika, tampak sangat kesal karena Kartika tampak sangat cuek padanya. Tanpa pikir panjang, Faisal langsung menarik Kartika untuk mengikutinya.
Kartika yang tidak ingin jadi pusat perhatian hanya bisa mengikuti Faisal dari belakang dengan penuh kesal.
__ADS_1
...****************...