
Leo tampak sangat terpesona melihat kecantikan Ellen, padahal Ellen hanya memakai make up nya yang tipis.
"Mas, kenapa kamu tidak pakai dasi?" tanya Ellen saat melihat Leo belum memakai dasi.
"Aku ingin kamu yang pakaikan..." ucap Leo sambil memberikan dasinya pada Ellen.
"Kemari..." Ellen mengambil dasi dari tangan Leo dan langsung memasangnya di leher Leo.
Saat jarak antara mereka hanya beberapa centimeter, Leo dapat mencium aroma parfum Ellen yang sangat disukainya.
"Selesai..." ucap Ellen setelah memasangkan dasinya Ellen.
"CK... Aku tidak menyangka kalau kamu sangat pintar memakaikan nya" ucap Leo saat melihat dasi yang dipasangkan Ellen sangat rapi. Ellen hanya tersenyum menanggapi pujian dari Leo.
"Baguslah kalau kamu suka. Lebih baik sekarang kita turun kebawah, kakek pasti sudah menunggu kita" ucap Ellen.
Bukannya mengikuti apa yang dikatakan Ellen, Leo langsung menarik pinggang Ellen, hingga membuat jarak antara mereka tidak ada lagi.
"A...apa yang kamu lakukan?" tanya Ellen dengan gugup.
"Jawab aku jujur, apa kamu juga pernah memasangnya ke pria itu?" tanya Leo dengan serius.
"Bisakah kita tidak perlu membahas hal itu? Aku tidak suka...." Ellen tahu siapa yang dimaksud Leo.
"Kenapa? Apa kamu belum bisa melupakannya..." tanya Leo.
Ellen yang benar-benar tidak suka membahas masa lalunya, langsung mendorong Leo dengan sekuat tenaga. Setelah lepas dari pelukan Leo, Ellen menatap Leo dengan dingin.
"Aku tidak suka membahas ini, jadi tolong hargai dengan keputusan ku" ucap Ellen, setelah mengatakan hal itu Ellen langsung mengambil tasnya dan keluar dari kamar.
"****..." Leo mengusap wajahnya dengan kasar karena membuat Ellen kesal. Leo langsung mengejar Ellen, dia tidak akan tahan kalau Ellen nantinya tidak mau bicara dengannya.
Saat melihat Ellen ingin turun tangga, Leo langsung menarik tangan Ellen kedalam pelukannya.
"Maaf sayang...." ucap Leo saat Ellen masuk kedalam pelukannya. Ellen tampak diam saja mendengar ucapan permintaan maaf dari Leo, karena dalam hatinya masih ada kesal.
"Sayang kamu mau kan memaafkan aku?" tanya Leo karena belum ada tanggapan dari Ellen. Leo mulai melepaskan pelukannya karena ingin melihat wajah istrinya. Ellen yang melihat kesungguhan Leo meminta maaf, langsung mengangguk kepalanya.
Cup...
__ADS_1
Leo mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Terimakasih..." ucap Leo setelah mendapatkan maaf dari istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seluruh tamu yang hadir tampak sangat terpesona dengan kecantikan Ellen. Banyak yang berbisik kalau Leo sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik dan ada juga yang mengatakan kalau Ellen pasti menjebak Leo supaya dapat menikah dengan Leo.
"Selamat untuk mu Bryan, akhirnya cucu mu menikah" ucap Mr Takamura pada kakek Bryan.
"Hahaha. Terimakasih. Kamu tahu aku sudah lama menunggu hal ini, aku ingin sebelum aku pergi aku dapat melihat cucu-cucu ku menikah dengan orang yang tepat" ucap kakek Bryan dengan bahagia. Kakek Bryan dan Mr Takamura langsung tertawa.
Setelah berbincang, Mr Takamura meminta asistennya membawa mereka ke tempat duduk yang sudah di siapkan untuk mereka.
"Sayang aku ke toilet sebentar..." ucap Ellen pada Leo setelah Leo dan Kakek Bryan duduk.
"Aku temani..."
"Tidak mas, aku sendiri saja..." Ellen langsung mencegah Leo untuk menemaninya.
"Kamu yakin?" Ellen langsung mengangguk kepalanya.
"Ia, mas..."
Saat Ellen pergi ke toilet, seorang wanita datang menghampiri Leo.
"Kakek, Leo..." Leo dan Kakek Bryan langsung menoleh ke dan melihat Clarisa.
Saat melihat kedatangan Clarisa, raut wajah Kakek Bryan yang tadinya tampak bahagia kini langsung berubah dengan dingin. Begitu juga dengan Leo, Rezza dan om Rudi tampak tidak suka dengan kehadiran Clarisa.
"Lama kita tidak bertemu kita, kek. Kakek apa kabar?" tanya Clarisa dengan lembut.
"Apa kamu tidak lihat aku sehat? Tidak perlu basa basi menyapa ku..." ucap kakek Bryan dengan ketus.
Mendengar jawaban Kakek Bryan yang sangat ketus membuat Clarisa langsung diam. Tapi setelah beberapa detik Clarisa kembali menampilkan senyumnya.
"Le, Apa aku boleh bergabung duduk di sini?" tanya Clarisa pada Leo yang tampak diam saja dari tadi.
"Apa tidak bisa kamu mencari tempat duduk yang lain? Itu bangku untuk cucu menantu ku..." Kakek Bryan yang menjawab Clarisa.
__ADS_1
"Leo..." cicit Clarisa sambil menatap Leo dengan wajah sendu. Clarisa berharap apa yang dikatakan kakek Bryan salah, Clarisa masih belum percaya kalau Leo sudah menikah.
"Kakek, aku menyusul istri ku dulu..." ucap Leo yang secara tidak langsung memberitahukan pada Clarisa kalau itu kursi kosong yang di sampingnya tempat istrinya.
"Baiklah..." ucap Kakek Bryan langsung tersenyum.
Clarisa menatap punggung Leo yang pergi meninggalkannya begitu saja. Clarisa yang masih belum percaya memutuskan untuk mengikuti Leo dari belakang.
"Mas, kamu mau kemana?" Leo yang tadi ingin menyusul istrinya ke toilet langsung mengehentikan langkahnya saat melihat istrinya depan pintu.
"Aku ingin menyusul mu tadi..." ucap Leo sambil berjalan menghampiri istrinya, setelah itu Leo langsung melingkari tangannya di pinggang istrinya.
Tentu saja hal itu membuat langkah Clara langsung berhenti. Clarisa menatap Ellen dengan penuh kebencian, dia tidak suka melihat Ellen dipeluk Leo.
"Kamu ini, aku tadi sudah bilang kalau aku bisa sendiri..." ucap Ellen dengan tersenyum bahagia karena Leo ingin menyusulnya.
"Aku tidak bisa tahan berjauhan dengan mu, sayang..." ucap Leo.
Apa yang dikatakan Leo dapat didengar oleh Clara, karena Leo sengaja sedikit menguatkan volume suaranya supaya didengar Clara.
Clarisa menatap Leo yang pergi membawa Ellen masuk kedalam ruangan acara tanpa memperhatikan dirinya. Rasa kebencian Clarisa terhadap Ellen semakin besar. Bertahun-tahun Clarisa berusaha untuk membuat Leo jatuh cinta padanya tapi, Leo sama sekali tidak pernah sekalipun menatapnya.
"Kakek dimana?" tanya Ellen saat melihat kursi Kakek Bryan kosong. Leo langsung mengedarkan pandangannya dan melihat kakek Bryan bersama om Rudi sedang berbicara dengan para pembisnis yang hadir.
"Kakek bersama om Rudi sedang mengobrol dengan kolega bisnisnya..." ucap Leo sambil menunjuk ke arah kakek Bryan dan om Rudi.
"Oh..."
"Kamu tunggu sebentar disini, aku akan mengambil minuman dan makanan untuk kita..." ucap Leo.
Saat Leo pergi, Clarisa yang melihat hal itu mengambil kesempatan untuk mendekati Ellen. Clarisa yang melihat ada pelayan yang berjalan kearah Ellen sambil membawa minuman, dengan cepat melangkah Clarisa dengan sengaja menyenggol pelayan itu. Karena perbuatan Clarisa membuat minuman yang dibawa pelayan itu jatuh mengenai Ellen.
"Maaf kan saya nona, saya tidak sengaja..." ucap pelayan itu dengan takut sambil mengambil tissue untuk membersihkan baju Ellen yang sedikit basah karena kena tumpahan minuman.
"Tidak apa-apa, biarkan saya saja..." Ellen menghentikan pelayan itu yang berusaha untuk membersihkan bajunya.
Pelayan itu terus membungkuk tubuhnya sampai berkali-kali sambil mengucapkan kata maaf pada Ellen. Karena hal itu membuat membuat para tamu yang ada didekat mereka memperhatikan mereka.
...****************...
__ADS_1