Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Wanita Seribu Kisah


__ADS_3

Dicari cuek, mendadak muncul ngajak naek.


Siapa sih yang tidak kesal melihat kelakuan laki-laki satu ini, sudah dibikin terbang lalu dijatuhkan, sekarang seolah menolongnya yang sudah jatuh ke jurang.


Wanita mana yang tidak ingin melampiaskan rasa jengkelnya? Apalagi untuk yang hamil seperti Lucia ini perasaannya gampang naik-turun tak menentu.


"Makasih, kak. Aku lagi pesen ojol" tolak Lucia masih bersikap sopan.


"Batalin, aku yang anter gratis!" Titah Fabio.


"Gak usah kak, kakak duluan aja" bersikeras menolak tumpangan dari kakak tingkatnya.


"Bahaya naik ojol, belum tentu motornya aman buat ibu hamil. Liat motor aku, besar dan nyaman juga, gak bakalan bahaya" memperlihatkan jok belakangnya yang lebar.


"Aku pesen taksi online aja kalau gitu" menyalakan ponsel untuk memesan.


Fabio merebut benda tersebut dari Lucia, memasukkan ke dalam saku jaketnya.


"Kak! Balikin ponsel aku"


"Nanti aku balikin kalau udah nyampe rumah kamu, sekarang naik!"


"Aku bilang gak mau!!" Lucia ngotot, menghentakkan kakinya di atas tanah.


Fabio menghela nafas berat, baru kali ini ia melihat Lucia yang begitu marah.


"Kenapa? Kamu marah karena kejadian di kantin tadi?" Mencoba menebak alasan Lucia selalu menolak tawarannya.


Lucia memalingkan muka, dia komat-kamit di dalam hati. Tadinya ia ingin sok tidak kenal saja dengan Fabio, tapi karena lelaki ini pemaksa sehingga kekesalan yang Lucia tahan pun meluap.


"Maaf, biar aku jelasin nanti"


"Gak usah! Aku tau kok kakak malu kan nyapa aku didepan temen-temen kakak?"


"Enggak gitu..."


"Udahlah, sini balikin handphone aku. Aku mau pulang sekarang" mengulurkan tangan kanan, menagih ponselnya yang disembunyikan.


"Ya ayo kalau mau pulang, aku anterin" tetap berusaha bersikap tenang.


"Kak, jangan bikin aku tambah kesel! Kakak tau kan perempuan hamil kayak aku ini harus dijaga suasana hatinya"


"Tau, kok. Harus dijaga juga keamanannya, makanya buruan naik ke motor"


Lucia tetap belum mau mengalah, sampai sebuah angkutan umum lewat, Lucia sontak melambaikan tangan.


"Aku naik angkot aja, hp nya besok aku ambil" ketus Lucia, ia masuk ke dalam mobil. Fabio tak mencegah ataupun membujuk Lucia, membiarkan begitu saja perempuan itu masuk ke dalam sana.


Bahkan sebelum mobil itu melaju keduanya sempat bersitatap cukup lama, sampai dimana angkot tersebut berjalan Fabio kembali memakai helm dan turut menyalakan mesin motor.

__ADS_1


"Dasar cewek ngambekan" ujar Fabio.


Entah kenapa ia semakin gemar menggodanya, Lucia tampak semakin lucu dengan perut yang menggelembung itu.


Fabio akui, dia memang salah saat di kantin tadi. Tapi ketika melihat Lucia yang langsung pergi, disaat itu juga dia merasa tidak rela, dan tiba-tiba saja menyusulnya.


Lucia menekuk wajah sepanjang perjalanan, ia sedikit merasa kekanak-kanakan, tapi hatinya terlanjur mengeras, Lucia tak mau menunjukkan sisi lemahnya, dia harus membuktikan kalau memang Fabio ingin menghindar, maka ia juga bisa menjauh.


Saat melihat pemandangan ke belakang, Lucia melihat Fabio yang berkendaraan di belakang angkot yang ia tumpangi, apa mungkin arah mereka sama?


Tapi setelah beberapa belokan terlewat Fabio juga tetap berada disana, mengendarai motornya, padahal bisa saja dia menyalip agar lebih cepat.


Tunggu! Apa mungkin Fabio sengaja membuntutinya?!!


Lucia baru sadar akan hal itu!


Buru-buru ia memberhentikan angkutan umum tersebut.


"Pak kiri pak!"


"Disini dek?"


"Iya, disini aja" Lucia menyodorkan lembaran uang lalu turun dari sana.


Dan benar saja, Fabio juga ikut menepikan kendaraan.


"Kenapa turun?"


"Ya... Refleks aja"


Lucia memutar bola mata malas, jawaban Fabio sangatlah masuk akal untuk alasan yang mengada-ada. Jelas berhenti, sebab dia tengah membuntuti.


Tanpa banyak bicara Lucia naik ke atas jok penumpang, sambil melipat kedua tangan di atas dada.


"Pegangan"


Lucia menurut, ia mengapit jaket Fabio namun tetap menjauhkan tubuhnya.


Fabio berdecak, diraihnya kedua lengan Lucia dan dilingkarinya di perut Fabio dengan erat.


"Pegang yang kuat, aku gak mau kamu jatuh"


Tak ditanggapinya seruan itu, Lucia mendadak jadi gadis penurut yang tak banyak membantah. Untuk pertama kalinya dia memeluk Fabio dari belakang, meski tak seratus persen mendekap karena perutnya yang menonjol tak mampu ditekan.


"Udah siap?" Sedikit menoleh, tapi tak ada sahutan apapun yang Fabio terima.


Lelaki itu kembali menyalakan motor dan melaju menuju kediaman Lucia.


"Diem aja, nanti kalau tersesat gimana? Aku kan gak tau letak rumah kamu" seru Fabio sedikit mengeraskan suara agar bisa didengar Lucia.

__ADS_1


"Di depan belok kanan"


"Depan mana?"


"Depan rumah makan ayam bakar"


Fabio berbelok sesuai arahan, rupanya rumah yang Lucia tempati menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya mereka tiba.


Lucia turun dengan hati-hati, menyodorkan tangannya ke arah Fabio. Lelaki itu spontan menerima uluran tangan.


"Ihh... Bukan tangan kakak!" Menarik lagi lengannya sendiri.


"Kirain mau salim, terus apa dong?"


"Handphone ku!"


"Oh iya, hampir aja aku lupa" sesuai janji, Fabio memberikan kembali ponsel Lucia sesampainya mereka tiba di kediaman wanita itu.


"Nih"


Lucia langsung merebut gawai tersebut dan ia masukkan ke dalam tasnya. Waspada kalau-kalau Fabio mengambilnya lagi.


"Makasih, udah anter aku" tetap dengan nada ketus yang tak ramah.


"Sama-sama, kamu tinggal sama siapa di rumah ini?" sembari mengamati rumah berlantai satu di depannya.


"Sendiri"


"Hah??? Sendiri?!!" Terkejut bukan main, mana mungkin seorang wanita hamil dibiarkan tinggal sendiri selama ini, bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya?


"Ih jangan bohong deh kamu, kemarin aja kamu bilang periksa kandungan sama suami kok" tidak dengan mudah mempercayai.


"Kakak tuh gak akan ngerti! Aku emang tinggal sendiri disini, soal suami...... Dia tinggal sama istri pertamanya"


"APA???"


"Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa, lho! Sebenarnya aku gak mau ngasih tau tentang ini, tapi terlanjur soalnya kakak pemaksa kalau gak dikasih tau" Lucia mencebik.


Lelucon apa lagi ini?! Jadi Lucia itu istri kedua? T-tapi kenapa? Mendadak pandangan Fabio berkunang-kunang, terlalu berat mencerna semua fakta ini.


Kenapa sangat plot twist sekali? Sungguh-sungguh tidak tertebak dalam isi pikirannya.


"Lucia..... Jujur..... Jujur aku gak bisa berkata apa-apa"


"Aku tau kakak pasti kaget, tapi aku harap kakak enggak berpikir yang aneh-aneh"


"Ada alasan kuat dibalik semua ini?" Masih berusaha menormalkan detak jantungnya.


Lucia mengiyakan, firasat yang membuat ia yakin kalau Fabio tak akan menyebar luaskan kisah hidupnya.

__ADS_1


Fabio termenung beberapa menit, wanita yang ia kagumi rupanya memiliki ribuan cerita tersembunyi.


Dipandanginya wajah mungil yang menatap harap padanya, raut kerisauan yang timbul seusai mengakui seutas kisah yang amat mengguncangkan.


__ADS_2