
"Maaf Nona, kemungkinan anda hamil semakin kecil, ditambah usia anda yang semakin bertambah membuat tingkat kesuburan menurun" jelas dokter seusai mengecek hasil laporan yang dilakukan pasiennya.
Bukan hal yang baru memang, tapi rasa sedih itu masih terasa ketika mendengar pernyataan dokter yang hasilnya selalu sama.
"Tapi usia saya baru 28 tahun, dok. Bukannya itu usia yang bagus untuk seseorang bisa hamil?"
"Ya, benar. Tapi anda memiliki jumlah sel telur yang terbatas dan kualitasnya yang semakin menurun. Hal ini membuat sel telur tersebut sulit dibuahi atau susah berkembang menjadi janin yang sehat" dokter menuturkan dengan detail.
Sudah berbagai cara ia lakukan agar bisa memiliki keturunan, tapi lagi-lagi Tuhan belum mengizinkannya untuk memiliki seorang anak, padahal usia dan ekonomi sudah sangat matang.
"Apa yang harus saya lakukan dok? Saya sudah hampir putus asa" lirih Jihan dengan suara parau menahan tangisan.
"Tetap berdoa, Nona. Semua ada di tangan Tuhan, banyak wanita yang juga merasakan hal yang sama seperti Anda, lagipula pernikahan tidak semua tentang anak, mungkin belum saatnya saja"
Sudah lima tahun pernikahannya terjalin, tidak sekalipun ia dan sang suami menunda momongan, kehadiran malaikat kecil yang mereka idam-idamkan justru tak datang sampai sekarang.
Kenapa sulit sekali bagi dia? Kenapa justru perempuan yang hamil sebelum menikah dengan mudahnya mendapat kepercayaan untuk mengandung buah hati?? Dunia memang tidak seadil kenyataannya.
"Baik, terimakasih dok"
"Jangan pantang menyerah, Nona. Anda masih terbilang muda sebelum menginjak usia 40 tahun, tetap jaga pola hidup dan jangan terlalu stress"
Jihan mengangguk kecil, meski ia tidak bisa memastikan jika dirinya bisa menjalani hidup dengan baik-baik saja.
"Saya pamit dok"
Jihan keluar dengan langkah gontai, tak ada semangat yang biasanya membuat ia senantiasa berpikir positif, hari ini mood nya berada di tingkah terendah.
Tanpa sepengetahuan Ghani Jihan memeriksakan diri ke dokter, sebab Ghani memang tidak suka jika ia membahas soal anak, karena hal itu akan membuat mereka bercekcok kembali.
Sampai di parkiran rumah sakit Jihan tidak menyadari jika sedari awal ada seseorang yang mengikutinya, dan kini orang itu tengah bersandar di badan mobil milik Jihan.
"Sudah selesai periksanya? Apa yang dokter katakan?"
Deg!
Jihan tersentak begitu mendengar suara itu, ia menaikkan pandangan pada sosok yang baru saja mengagetkannya.
"Vino? Sedang apa kamu disini?!" Sebisa mungkin Jihan menahan emosi melihat wajah pria itu.
Yang ditanya malah tertawa sumbang, "Menurutmu?"
Kedua tangan Jihan mengepal, pria ini selalu saja membuatnya geram.
__ADS_1
"Kamu mengikuti ku?!!"
"Ya, bukankah kamu terharu?" Semakin memancing jiwa emosional Jihan.
"Terharu? Kamu menganggu ku Vino!!"
Sudah ia duga jika Jihan pasti akan marah, namun Vino tak peduli sama sekali, ia tetap berada di dekat wanita ini tanpa berniat untuk pergi.
Vino mendekat, mengangkat satu tangannya bermaksud untuk menyentuh dagu sang lawan bicara.
Tapi Jihan tentu menepisnya dengan kasar.
"Baby, kau kasar sekali" dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.
Jihan ingin muntah rasanya melihat tingkah Vino yang menurutnya amat menjijikan, pria ini selalu membuatnya ada dalam masalah.
"Berhenti mendrama! Waktuku terlalu berharga untuk meladeni orang seperti kamu"
"Tentu sayang, kamu memang berharga untukku sampai saat ini"
"Vino aku sedang tidak mau berdebat, mood ku benar-benar sedang rusak sekarang, tolong kamu pergi dari hadapanku!" Masih berusaha bersabar.
Tapi Vino tak berhenti sampai disitu, kali ini ia memainkan helaian rambut Jihan dengan jari-jarinya.
"Apa mau mu sebenarnya Vino?!!"
"Kamu sudah tau jawabannya, aku menginginkan kamu"
"Apa yang kamu mau dariku?? Aku wanita tidak berguna asal kamu tau!"
Percikan emosi Jihan mulai meletup-letup, padahal ia berusaha untuk tidak mengeluarkan namun kemunculan Vino membuat Jihan tidak tahan.
"Hey, apa maksud mu sayang? Jangan berbicara begitu" dengan lembut Vino menangkup wajah wanita pujaannya.
Jihan yang dikuasai kesedihan tanpa sadar melampiaskannya pada Vino.
"Aku wanita tidak berguna, Vino! Percuma kamu mau menjadikan ku milikmu karena pada kenyataannya aku tidak bisa memberikan pasanganku keturunan, termasuk kamu!!!"
"AKU MANDUL, VINO!! APA KAMU MASIH BELUM MENGERTI JUGA, HAH?!!"
Dan pertahanan Jihan pun runtuh, air mata yang sedari tadi menggenang lolos berjatuhan membasahi kedua pipinya dengan deras.
Jihan memukul-mukul pria di depannya, rasa kecewa pada diri sendiri membuatnya tidak bisa mengontrol emosi.
__ADS_1
"Ssshhhh sayang.... Kendalikan dirimu"
Vino yang mendapat serangan langsung mendekap tubuh Jihan dengan erat, perlahan Jihan yang memberontak berangsur diam, terisak di pelukannya dengan tangis yang terdengar pilu.
"Hiksss..... Aku bodoh, tidak berguna!!" Jihan merutuki dirinya.
"Jangan katakan itu Jihan, kau membuat ku sedih"
"Aku tidak bisa memberikan keturunan, aku istri yang gagal"
Vino membiarkan Jihan mencerca dan memaki diri sendiri, berharap setelah ini Jihan kembali dalam keadaan baik.
"Kamu sempurna Jihan, buktinya aku masih bertahan untuk memperjuangkan kamu. Kamu tidak ada kurangnya, percayalah...."
Dirasa Jihan sudah berangsur tenang, Vino menguraikan pelukan tersebut dan menatap dalam-dalam wanita yang dicintainya itu.
"Kamu selalu terlihat kacau jika membahas seputar anak, apa karena Ghani menuntut mu secara berlebihan?"
"Sudah aku bilang lepaslah darinya, aku ada disini untuk kamu Jihan. Aku tidak menuntut apapun dari kamu termasuk soal anak"
"Kamu tidak tau apa-apa"
"Oh ya? Tapi aku tulus mencintai kamu"
Sayangnya ucapan Vino tidak bisa membuat Jihan luluh, apalagi cara Vino ingin merebutnya dari Ghani sangatlah salah.
"Kamu hanya terobsesi padaku"
Vino hanya tersenyum tipis, mau apapun itu yang ia inginkan hanyalah Jihan. Ketika ia kembali ke tanah air rasa cinta yang belum terbalaskan semenjak SMA tumbuh kembali, Vino jatuh cinta lagi pada orang yang sama, tapi sayangnya Jihan sudah menikah.
Tapi ketika pernikahan Jihan dilanda masalah terkait anak disitulah Vino mengambil kesempatan. Dirinya mulai bertekad mengambil Jihan dari suaminya, Vino bahkan pernah menjebak Jihan seolah mereka pernah tidur bersama, dan hal itu diketahui oleh Ghani.
Sesuai rencananya, Ghani percaya hingga membuat pria itu menghamili seorang gadis untuk membalaskan dendamnya.
Tapi meski demikian, Jihan masih belum mau melepaskan Ghani, cinta wanita itu terhadap suaminya sangat-sangat besar.
"Aku tidak peduli Jihan, yang aku mau cuma kamu"
"Aku tidak mau membahasnya sekarang Vino, aku mau pulang. menyingkir lah" Jihan mendorong Vino agar memberinya akses jalan.
Kali ini Vino tidak mencegah, setitik rasa iba membuat ia membiarkan Jihan masuk ke dalam mobil.
"Aku belum menyerah Jihan" Kalimat terakhir yang diucapkan Vino sebelum Jihan berlalu dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Jihan hanya menganggap ucapan itu angin lalu, ia terus melajukan kendaraan menuju rumah.