Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Nafkah Lahir


__ADS_3

Besok adalah hari dimulainya pembelajaran, Lucia mulai menyiapkan peralatan yang wajib di bawa ke dalam tas.


Buku, pulpen, dan almamater dia masukan tanpa ada yang dilupakan.


Tak lupa juga Lucia mengatur alarm supaya dia tidak kesiangan besok, belum lagi untuk hari pertama Lucia harus lebih pagi berangkat dari biasanya.


Suara bel rumah menandakan kedatangan tamu, tanpa Lucia lihat pun dia sudah tau kalau itu pasti Jihan.


"Lucia?"


Lucia meletakkan ponsel di atas nakas, kemudian keluar dari kamarnya untuk menemui tamu tersebut.


"Ya, Nyonya?"


Jihan tersenyum melihat keberadaan Lucia, paper bag yang dia bawa diletakkan di atas meja tamu.


"Aku bawa makan malam, seperti yang kamu pesan aku beli pizza dan aku inisiatif mampir untuk membeli beberapa keperluan kamu yang sudah habis di minimarket tadi"


Lucia berjalan untuk membuka paper bag tersebut, matanya berbinar begitu aroma pizza menyeruak memasuki lubang hidung Lucia.


"Makasih, Nyonya"


"Makanlah" Jihan mempersilahkan.


Keduanya duduk di ruang tamu, Lucia membuka box pizza dengan air liur yang sudah menetes. Hari ini dia tergiur dengan roti bulat itu, tapi disekitar rumah tak ada yang menjual, sehingga dengan terpaksa Lucia meminta tolong pada Jihan.


Satu gigitan masuk ke dalam mulut, Lucia sangat menikmati makan malamnya kali ini.


Jihan pun mengambil satu lembar pizza itu, ikut melahapnya bersama dengan Lucia.


"Besok jam berapa jadwal kuliah kamu?"


"Jam delapan, tapi aku harus berangkat jam tujuh soalnya ini hari pertama"

__ADS_1


"Nanti aku kasih tau supir"


Lucia mengangguk sambil terus melahap makanan di tangannya.


"Tadi katanya supir ku enggak menjemput kamu, kamu pulang naik apa kalau begitu?" Jihan penasaran, sebab baru kali ini Lucia pulang-pergi tanpa diantar supir selama tinggal di rumah sewa.


Perlahan gigitan Lucia memelan, haruskah ia beritahu kalau diantar teman laki-laki ke rumah? Lucia seperti anak gadis yang kepergok orang tuanya berpacaran.


"Naik ojek online?" Jihan menerka.


"Bukan, aku pulang diantar kakak tingkat" ungkapnya jujur.


Jihan agak menaikkan kedua alis ke atas, cukup kaget Lucia malah dekat dengan kakak tingkatnya, bukan teman sebayanya.


"Perempuan? Atau laki-laki?"


Lucia mengigit bibir bagian dalam, dia jadi merasa di interogasi padahal Jihan cuma bertanya saja.


Barulah Jihan membolakan mata sepenuhnya.


"Laki-laki? Apa kamu kenal dia sebelumya?"


"Belum seminggu" balas Lucia.


Perkenalan antara remaja memang selalu menimbulkan pro-kontra, jangan percaya kalau cuma dibilang teman, apalagi kalau kenalan sama yang bukan sepantaran.


Tapi mungkinkah hal itu berlaku pada perempuan hamil seperti Lucia?


"Oh ya? Gimana ceritanya kamu bisa antar dia?"


"Emm... Gak tau juga, tiba-tiba muncul terus nawarin tumpangan deh" seadanya, kalau diceritakan dari awal akan panjang, lagipula malu kalau mesti diceritakan dengan detail.


"Oh ya? Terus kenapa gak telpon supir aja? Bukan karena sengaja pingin pulang bareng dia?" Goda Jihan, menyembunyikan senyum yang dia tahan.

__ADS_1


Seketika wajah Lucia merona, mengingatnya saja sudah tersipu, jangan buat Lucia semakin berkupu-kupu.


"E-enggak kok!" Elaknya membantah.


Jihan langsung tergelak sesaat, ia pun tak lagi menggodanya. Tak tega melihat semburat kemerahan disekitar pipi Lucia.


"Enggak apa-apa punya kenalan laki-laki, asal tau batasnya juga. Kamu masih berstatus istri sah mas Ghani, dia tau kan kamu sudah memiliki suami?"


"Tau kok" lirih Lucia.


Kalau dibilang punya batas sejak bertemu dengan Fabio pun Lucia selalu memasang jarak aman, tapi justru laki-laki itu yang selalu memangkas.


Fabio selalu muncul dan ada disaat Lucia membutuhkan, walau menyebalkan tapi sosok Fabio adalah orang yang menyenangkan.


Bukan salahnya kan kalau mereka sering bersama? Fabio yang mendekat, Lucia hanya bersikap ramah. Pikir Lucia.


"Syukurlah kalau dia tau, kamu gak menutupi status kamu?"


"Enggak, aku jujur aja kalau ada yang bertanya"


Jihan tersenyum simpul, bukan tak rela Lucia dekat dengan teman lelakinya, tapi semakin dekat dengan lelaki biasanya akan timbul perasaan labil yang Jihan takutkan akan berpengaruh pada janin yang Lucia kandung.


Jihan menghabiskan suapan terakhirnya, kemudian mengambil tas dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal.


"Lucia, ini uang untuk keperluan kamu selama sebulan. Aku memutuskan memberi jatah bulanan saja daripada mingguan, tapi kalau semisalnya masih kurang bilang aja"


Lucia menatap benda itu, sebenarnya uang yang diberi kemarin pun belum habis. Tapi Jihan selalu mengatakan kalau sisa uang itu bisa Lucia tabung.


"Sekali lagi terimakasih, Nyonya"


"Ini uang dari mas Ghani, berhubungan kamu belum punya rekening sendiri, jadi mas Ghani mentransfer lewat aku"


"Jadi jangan berterima kasih padaku, langsung saja ke mas Ghani, kamu punya nomor ponselnya kan?"

__ADS_1


__ADS_2